RENUNGAN EDISI 25 JANUARI 2026 - JPA CHANNEL

JPA CHANNEL

JPA VISION 2026 " Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang "

MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

Breaking News


Cari Blog Ini

Sabtu, 24 Januari 2026

RENUNGAN EDISI 25 JANUARI 2026

 RENUNGAN HARIAN 



RENUNGAN SENIN

Bacaan: 2 SAMUEL 21:15-22

Bacaan Setahun: Keluaran 4-6

Nas: Keempat orang itu termasuk keturunan manusia raksasa di Gat. Mereka tewas di tangan Daud dan di tangan orang-orangnya. (2 Samuel 21:22)


Tidak Hanya Satu

Terdengar sorak-sorai dari pihak orang Israel setelah Daud mengalahkan Goliat. Terlihat manusia raksasa setinggi enam hasta sejengkal telah terkapar dengan kepala terpenggal (1Sam. 17:49-52). Di kemudian hari, sosok manusia raksasa muncul lagi. Asalnya juga dari Gat. Namanya Yisbi-Benob dengan senjata berupa tombak seberat 300 syikal tembaga (ay. 16). Disusul Saf, lalu Goliat yang gagang tombaknya seperti balok penggulung kain tenun (ay. 18-19). Lalu ada juga "si jari enam" (ay. 20).

Kemunculan Yisbi-Benob dan rekan-rekan seperawakannya menunjukkan bahwa tidak hanya ada satu manusia raksasa. Tidak cukup satu kali Daud menghadapi pertempuran. Demikian halnya manusia raksasa dalam kehidupan kita yang dirupakan dalam bentuk persoalan besar, jumlahnya tidak hanya satu. Tidak cukup satu kali kita berjuang dalam iman. Masih banyak tantangan atau kesukaran lain menanti di depan mata. Namun, kenyataan ini jangan membuat hati kita gentar. Alkitab mencatat keempat raksasa itu semuanya tewas (ay. 22). Artinya, kita pun akan mampu menangani seluruh persoalan di kehidupan ini.

Mungkin saat ini terpikir oleh kita, "Bagaimana caraku menangani?" Kembali persoalan besar muncul dan kita merasa tidak berdaya. Sampai di sini jangan dulu kita menyerah. Ingatlah situasi dialami Daud saat keempat raksasa muncul. Ia tidak lagi muda dan tangkas. Abisai, Sibkhai, Elhanan, dan Yonatan, orang-orangnya yang gagah perkasa maju menewaskan raksasa-raksasa itu. Demikian Tuhan dapat menggunakan tangan saudara-saudara kita seiman untuk menolong kita. Dari mereka, mungkin kita mendapatkan alternatif pemecahan masalah. Atau kita menjadi kuat karena mereka memberikan semangat dan dukungan doa. --LIN/www.renunganharian.net

* * *
PASTI KITA DIMAMPUKAN MENYELESAIKAN PERSOALAN BESAR YANG KEMBALI
MENGADANG KARENA TUHAN SENANTIASA MEMBERIKAN PERTOLONGAN.

* * *




RENUNGAN SELASA

Bacaan: MAZMUR 121

Bacaan Setahun: Keluaran 7-9

Nas: Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi. (Mazmur 121:2)


Bukan Sekadar Pengakuan

Tak sedikit seniman menulis karya tulisan atau lagu yang dilatarbelakangi oleh pengalaman hidup. Dari setiap deret kalimat yang tertulis, si pembaca atau pendengarnya dapat menangkap, bahkan merasakan apa yang dialami oleh penulisnya. Pesan-pesan sukacita dan juga dukacita yang tertulis dapat memengaruhi hati si pembaca atau pendengarnya.

Saat kita membaca dan merenungkan tulisan pemazmur hari ini kita terbawa dalam suasana pedih saat pemazmur sedang bergumul dengan tantangan hidup yang begitu berat. Dalam keputusasaannya ia bertanya, "Dari manakah akan datang pertolonganku?" Ya, tidak ada seorang pun yang datang menolongnya. Namun, dalam kesesakan itu ia berucap, "Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi." Inilah pengakuan iman! Pengakuan yang menunjukkan kepercayaannya bahwa Tuhan adalah Pencipta sempurna yang tidak sebatas mencipta, tetapi juga memelihara umat-Nya (ay. 2). Tuhan tidak pernah tertidur, Ia melindungi umat-Nya dari kuasa si jahat, Ia menjaga orang percaya terhadap segala kecelakaan (ay. 7).

Seperti pemazmur, dalam keputusasaan kita mengaduh dan mengerang pedih karena tidak kunjung melihat datangnya pertolongan. Orang-orang mendatangi kita bukan untuk menghibur, tapi justru menyudutkan kita. Menghadapi tekanan seperti ini, sejujurnya meski berat, akankah hati dan mulut kita mampu mengucap syukur dan mengakui datangnya pertolongan Tuhan? --SYS/www.renunganharian.net

* * *
PENGAKUAN KITA AKAN PERTOLONGAN TUHAN KIRANYA LAHIR DARI HATI
YANG TULUS DAN BUKAN SEKADAR BERUCAP TANPA KEYAKINAN.

* * *



RENUNGAN RABU

Bacaan: 2 TAWARIKH 12

Bacaan Setahun: Keluaran 10-12

Nas: Lalu pemimpin-pemimpin Israel dan raja merendahkan diri dan berkata, "Tuhanlah yang benar!" (2 Tawarikh 12:6)


Mengakui untuk Berubah

Bagi sebagian orang, mengakui sebuah kesalahan dirasa sangat berat. Keengganan untuk mengakui kesalahan tersebut salah satunya disebabkan oleh karena harga diri yang begitu mereka jaga. Oleh karenanya, mereka akan merasa sangat malu bila kesalahan terungkap. Namun, sikap demikian tentu tidak akan membawa perubahan dan perkembangan dalam hidup kita. Sebab kita tidak pernah mau belajar dari kesalahan kita.

Rehabeam memerintah bangsa Israel dan membawa kerajaan Israel menjadi kokoh dan teguh. Namun, dalam pemerintahannya itu pula bangsa Israel mengalami ancaman kehancuran karena mereka meninggalkan hukum Tuhan. Berbagai bangsa menyerang mereka, bahkan berhasil merebut kota-kota benteng Yehuda dan mendekati Yerusalem. Akan tetapi, Rehabeam dan para pemimpin bangsa Israel tidak malu ketika Nabi Semaya menegur mereka. Mereka justru menerima teguran itu dan berani merendahkan diri untuk mengakui kesalahan mereka, dengan mengakui bahwa Tuhanlah yang benar. Artinya, mereka menunjukkan bahwa kesalahan ada bukan untuk disembunyikan, tetapi untuk diperbaiki dengan merubah sikap hidup mereka. Dengan sikap demikianlah maka Tuhan memberikan kehidupan bagi mereka (ay. 12-13).

Kesalahan bukan hal yang memalukan untuk diakui karena tidak ada manusia yang tidak membuat kesalahan. Dengan mengakui kesalahan, kita akan terdorong untuk selalu memperbaiki diri dan menjadi lebih baik. Hidup kita pun dapat semakin berkembang, sebab Tuhan sendirilah yang menuntun. --ZDP/www.renunganharian.net

* * *
KESALAHAN ADA BUKAN UNTUK DISEMBUNYIKAN, 
TETAPI SUPAYA KITA DAPAT BELAJAR UNTUK MENJADI LEBIH BAIK.

* * *



RENUNGAN KAMIS

Bacaan: MATIUS 5:38-42

Bacaan Setahun: Keluaran 13-15

Nas: "Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil." (Matius 5:41)


Membersamai Sesama

Hidup adalah sebuah perjalanan, dan mengasihi sesama adalah membersamai sesama dalam perjalanan itu. Dengan kiasan, Tuhan bersabda, "Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil." Apa yang Tuhan hendak katakan di sana?

Tentang mengasihi sesama.

Pertama, kasih itu tidak membeda-bedakan. Jika seseorang memerlukan pertolongan, dan kita memang mempunyai hal yang dia perlukan, kita dipanggil untuk menolong, siapa pun orang itu. Ya, siapa pun orang itu. Identitas seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk tidak menolong.

Kedua, kasih itu murah hati. Ia tidak memikirkan untung rugi, tidak menghitung berapa banyak telah memberi atau berapa akan didapat. Hati yang mengasihi hanya memikirkan bagaimana kasih dapat diwujudkan. Ia tak hanya memberi dengan sukacita, tetapi bahkan memberi lebih banyak daripada yang diminta. Bermurahhatilah. Jika orang memintamu menyertainya berjalan satu mil, sertailah dia dua mil. Jika seorang nenek tua memintamu menolongnya menyeberang jalan, jangan hanya kaugandeng dan kauseberangkan dia, tetapi bawakan juga barang-barang belanjaannya.

Dan akhirnya, mengasihi sesama adalah berjalan membersamai sesama, yakni secara nyata bertindak untuk menolong sesama, terutama dalam saat berat kehidupannya: menemani yang sendirian, membalut hati yang luka, menopang yang berbeban berat, dan sebagainya. Mengasihi sesama adalah membersamai sesama dalam pasang dan surut kehidupannya, terutama manakala jalanan licin dan hujan deras menerpa. --EE/www.renunganharian.net

* * *
SEJAUH LANGKAH KITA MEMBERSAMAI SESAMA, 
SEPANJANG ITULAH KASIH KITA KEPADA MEREKA.

* * *



RENUNGAN JUMAT

Bacaan: YOHANES 4:39-42

Bacaan Setahun: Keluaran 16-18

Nas: Dan mereka berkata kepada perempuan itu, "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu bahwa Dia benar-benar Juruselamat dunia." (Yohanes 4:42)


Efek Domino

Efek domino adalah reaksi berantai yang terjadi ketika satu peristiwa memicu serangkaian peristiwa lainnya. Dalam hal iman, kita juga bisa melihat sebuah efek domino bisa terjadi dan memicu hal yang lebih besar lagi.

Hal tersebut dapat kita baca dalam perjumpaan Tuhan Yesus dengan seorang wanita Samaria di tepi sumur Yakub. Perjumpaan dan percakapan dengan Tuhan Yesus menolong wanita itu untuk mendapatkan apa yang selama ini dia dambakan, yaitu keselamatan. Tuhan menjamah hatinya sehingga wanita itu kemudian percaya kepada Tuhan Yesus. Ia menyadari keberdosaannya sekaligus mendapatkan pertolongan dan keselamatan yang selama ini dicarinya. Saat wanita tersebut percaya maka ia meninggalkan tempayannya dan kembali ke kota. Apa yang dilakukannya? Ia bersaksi kepada banyak orang di kota tersebut tentang pengalaman dan perjumpaan dengan Yesus yang mengubah hidupnya. Siapa menduga, kesaksian yang diberitakannya membawa dampak besar. Akibat kesaksiannya, banyak orang yang kemudian mencari Tuhan Yesus, berjumpa dengan-Nya lalu menjadi percaya.

Itulah efek domino yang ditimbulkan dari sebuah kesaksian dan perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang mengubah hidup. Sadarkah kita bahwa sebuah kesaksian yang lahir dari perjumpaan dengan Tuhan Yesus, ketika hal itu disampaikan kepada orang lain, akan membawa sebuah efek domino. Tidakkah kisah ini mendorong kita untuk mulai bersaksi kepada orang lain bahwa Dialah benar-benar Juru Selamat dunia? Tidak pernah ada kata terlambat untuk mulai bersaksi kepada orang-orang di sekitar kita. --DSK/www.renunganharian.net

* * *
KESAKSIAN KITA TENTANG YESUS SANG JURU SELAMAT
KEPADA ORANG LAIN AKAN MEMBAWA DAMPAK BESAR.

* * *



RENUNGAN SABTU

Bacaan: FILIPI 4:10-20

Bacaan Setahun: Keluaran 19-21

Nas: Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. (Filipi 4:16)


Kekuatan dari Kepedulian

Saya terkejut membuka kiriman foto berisi setruk pengiriman uang dengan nominal sepuluh juta lebih, yang dilakukan oleh komunitas kami untuk membantu Heni, saudara seiman yang sedang membutuhkan dukungan biaya pengobatan. Sekitar tiga hari sebelumnya informasi mengenai kesehatan Heni disampaikan, mengetuk hati banyak orang yang mengenalnya untuk ikut berdonasi. Ada pula yang menyediakan waktu untuk menjenguk, guna memberi penguatan secara langsung agar Heni tidak merasa berjuang sendirian.

Dunia ini tampak sedang bergerak ke arah sikap mementingkan diri sendiri. Kepedulian mulai terkikis, bahkan ketika mengetahui ada orang yang sedang membutuhkan bantuan secara nyata, sedikit tangan yang terulur untuk membantu. Kesibukan dan rutinitas kerja juga tak jarang menjadi alasan sehingga sekadar menjenguk atau menyapa lewat pesan singkat atau telepon pun mungkin jarang dilakukan. Namun, dari kisah pengalaman Paulus hari ini kita dapat belajar arti kepedulian yang sejati. Umat Tuhan bersehati mendukung pelayanan Paulus dengan mengirimkan bantuan, yang diakui Paulus sebagai tindakan "mengambil bagian dalam kesusahan" (ay. 14) dan suatu korban yang disebutnya: persembahan yang harum di hadapan Allah (ay. 18).

Sesungguhnya orang percaya tak pernah dipanggil untuk hidup mementingkan diri sendiri. Setiap kebaikan Tuhan yang pernah dialami, mulai dari pengampunan dosa hingga berkat dalam segala bentuk, kiranya bertumbuh menjadi kepedulian kepada sesama, terutama kepada mereka yang sedang membutuhkan. --GHJ/www.renunganharian.net

* * *
DALAM HATI YANG DIPENUHI KASIH ALLAH
ADA KEPEDULIAN YANG DIGERAKKAN OLEH KASIH ITU.

* * *




MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
&
JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Suatu Umat Yang Layak Bagi-Nya "
( LUKAS 1:17c )


JPA VISION 2026 : "Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang " | Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

#KeluargaJPA​​​ #TuhanBekerja​​​ #JPABerdampak​​​ #GPdI​​​ #GPdIJPA​​​ #Praise​​​ #Renungan2026 #DalamTerangmukamimelihatterang #JPAVision #multimediaJPA




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WARTA EDISI 22 MARET 2026

 JADWAL SEPEKAN 

Post Bottom Ad

Halaman