RENUNGAN HARIAN
Bacaan Setahun: Kejadian 35-37
Nas: "Janganlah engkau mempersembahkan bagi Tuhan, Allahmu, lembu atau domba yang ada cacatnya, atau sesuatu yang buruk, sebab yang demikian adalah hal yang menjijikkan bagi Tuhan, Allahmu." (Ulangan 17:1)
Nilai Hormat
Dewasa ini, barang bekas menjadi pemberitaan dalam dunia jual-beli yang dikenal dengan istilah thrifting. Ya, impor pakaian bekas dan menjualnya kembali. Pakaian bekas yang dimaksud adalah pakaian bekas layak pakai, yang mana masih memiliki nilai untuk dijual. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam sebuah nilai, juga terdapat rasa hormat.
Allah memberikan dasar hidup bagi umat-Nya dengan mengajarkan bagaimana mereka harus menghaturkan persembahan kepada-Nya. Allah melarang umat-Nya untuk mempersembahkan hewan yang cacat atau buruk, bahkan menganggapnya sebagai suatu kekejian. Tentunya bukan tanpa alasan Allah melarang hal tersebut, sebab kecacatan atau keburukan merupakan perwujudan dari nilai. Hewan yang cacat atau sesuatu yang buruk menunjukkan bahwa hewan tersebut sudah tidak memiliki nilai. Allah tidak menghendaki umat-Nya untuk mempersembahkan sesuatu yang tidak berguna atau bernilai, karena dengan demikian berarti manusia tidak menghormati Allah. Itu sebabnya Allah mengatakan hal tersebut sebagai kekejian. Allah menghendaki umat-Nya untuk menjadikan-Nya sebagai prioritas, dan memberikan yang terbaik bagi Allah. Sebab, bagi Allah hidup manusia sangatlah berharga maka Allah pun juga menghendaki sikap yang sama dari umat-Nya.
Nilai yang Allah kehendaki dari persembahan umat-Nya bukanlah sesuatu yang mahal atau mewah. Allah menghendaki umat-Nya memberikan yang terbaik, yakni yang dilakukan dengan penuh hormat, sebagaimana persembahan adalah wujud ucapan syukur kepada-Nya. --ZDP/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Kejadian 38-40
Nas: "Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya." (Matius 16:18)
Pengakuan Iman Petrus
Di daerah Kaisarea Filipi, Yesus bertanya kepada para murid-Nya, "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" (ay. 15). Tempat itu dikenal sebagai pusat penyembahan dewa-dewa kafir, penuh kuil dan simbol-simbol kekuasaan dunia. Di tengah arus keyakinan yang beragam dan kebingungan identitas rohani, Yesus memilih tempat itu untuk menanyakan identitas diri-Nya dan meletakkan fondasi gereja-Nya. Ini sebuah pilihan yang mengejutkan. Jelas, Yesus ingin menegaskan bahwa Gereja akan berdiri kokoh di tengah dunia yang goyah.
Ketika itu, Petrus menjawab dengan penuh keyakinan, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (ay. 16). Jawaban ini tidak lahir dari pemahaman manusiawi semata, melainkan dari pewahyuan Allah. Dan, di atas pengakuan iman inilah, Yesus mendirikan jemaat-Nya-bukan di atas pribadi Petrus, tetapi di atas dasar iman sejati yang diungkapkan Petrus. Di sinilah kita belajar bahwa fondasi rohani yang kuat tidak dibangun di atas popularitas, fasilitas, atau tradisi, melainkan di atas pengenalan pribadi secara mendalam akan Kristus yang hidup.
Membangun kehidupan rohani bukanlah memperkuat penampilan, melainkan memperdalam dasar iman. Seseorang bisa saja rajin melayani, aktif di gereja, atau memiliki aneka jabatan penting dalam organisasi kekristenan. Namun, jika ia tidak mengenal Kristus secara pribadi, semuanya itu akan rapuh. Maka, memeriksa fondasi kehidupan iman itu penting. Sudahkah iman kita dibangun di atas batu karang pengenalan pribadi yang mendalam akan Yesus? --SAP/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: YESAYA 10:20-27
Bacaan Setahun: Kejadian 41-42
Nas: Namun, pada waktu itu sisa orang Israel dan orang yang terluput di antara keturunan Yakub, tidak akan bersandar lagi pada bangsa yang mengalahkannya, tetapi akan bersandar pada Tuhan, Yang Maha Kudus, Allah Israel, dengan setia. (Yesaya 10:20)
Salmon Run
Saya memperhatikan tayangan National Geography yang tengah meliput perjuangan ikan salmon. Pada waktu-waktu tertentu ikan salmon akan berenang melawan arus yang deras. Mereka melakukan hal tersebut untuk dapat bertelur di lokasi yang tepat. Memang tidak mudah untuk berenang melawan arus yang deras. Lebih mudah bagi ikan salmon untuk berenang mengikuti arus air. Namun, mereka memilih melawan arus deras demi satu tujuan: meneruskan keturunan mereka. Fenomena itu dikenal dengan istilah "salmon run".
Nabi Yesaya tengah menubuatkan kehancuran Israel di tangan bangsa Asyur karena dosa penyembahan berhala yang mereka lakukan. Meski awalnya mereka digambarkan begitu banyak seperti pasir di laut (ay. 22), tetapi hanya sedikit yang akan bertahan, yaitu mereka yang bertahan melawan arus penyembahan berhala dan memilih untuk beriman kepada Allah. Tuhan berkenan kepada mereka yang tersisa, yang terluput dari keturunan Yakub; yang tetap setia dan sungguh bersandar kepada Tuhan bukan kepada berhala (ay. 20). Mereka tetap bertahan dalam iman dan tidak membiarkan diri terhanyut di dalam arus ketidaksetiaan yang melanda Israel masa itu. Mereka percaya dan tetap setia kepada Tuhan. Karena itu, Tuhan menghibur dan menguatkan sisa Israel. Ia berjanji akan bertindak membela dan menolong mereka.
Memang tidak mudah untuk berdiri sendirian melawan arus kehidupan yang menjauhkan kita dari Allah, di saat orang-orang di sekitar kita justru mengikuti arus. Mungkin kita akan mengalami penderitaan karena memegang teguh iman kita kepada Allah di saat orang-orang lain menyerah dan hidup di dalam dosa. Akan tetapi, Allah tidak pernah meninggalkan kita dan akan terus menyertai serta menjaga kita. Oleh karena itu, jangan menyerah, tetaplah bersandar dan setialah kepada Kristus. --DSK/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Kejadian 43-45
Nas: Sebab kami telah berniat untuk datang kepada kamu-aku, Paulus, malahan lebih dari sekali-tetapi Iblis telah mencegah kami. (1 Tesalonika 2:18)
Ketika Satu Pintu Ditutup
Lama saya mencoba memahami komentar Paulus bahwa Iblis telah mencegah niatnya untuk mengunjungi jemaat Tesalonika. Dan nyatanya niat kunjungan itu pun gagal! Saya berpikir jika seseorang memiliki niat baik, apalagi kerinduan besar untuk memberitakan Injil, bukankah Tuhan akan menyertainya? Namun, mengapa tidak jarang banyak penghalang yang berupaya menggagalkan pelayanan mulia itu?
Kerinduan yang besar dari Rasul Paulus dan teman-temannya untuk mengunjungi dan melayani jemaat di Tesalonika ternyata dihambat dan digagalkan oleh Iblis. Sejak awal pun Paulus menyadari bahwa Iblis akan terus menghalangi karya pelayanan orang-orang percaya. Iblis jelas tidak pernah suka jika orang-orang mendengar karya keselamatan Kristus. Itu sebabnya, Iblis memakai beberapa orang untuk melontarkan ancaman dan menganiaya, demi menghentikan usaha Paulus. Ya, Paulus memang gagal hadir di Tesalonika, tetapi ia bisa menulis sepucuk surat untuk jemaat. Dan, surat itu telah menjadi sumber berkat dan penghiburan tidak hanya bagi jemaat Tesalonika, tetapi juga bagi orang-orang percaya dari masa ke masa!
Apakah upaya kita dalam memberitakan Injil banyak menghadapi upaya penggagalan? Kegagalan kunjungan Paulus memberikan pemahaman kepada kita bahwa Iblis akan terus berperang untuk mencegah orang-orang mendengar kabar baik. Namun, kita pun diyakinkan bahwa Tuhan akan membalikkan siasat Iblis ini menjadi jalan kebaikan bagi kerajaan-Nya. Ketika satu pintu ditutup, Tuhan sanggup membuka pintu-pintu lain terbuka. --SYS/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Kejadian 46-47
Nas: Apakah mereka pelayan Kristus? -aku berkata seperti orang gila-aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; menanggung pukulan di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. (2 Korintus 11:23)
Kesaksian Sejati
Sampai hari ini, saya sudah mendengar banyak kesaksian yang disampaikan oleh mereka yang mengalami kasih, pertolongan, kuasa, penguatan, berkat, hingga penghiburan yang berasal dari Tuhan. Namun, saya mengamati bahwa jenis kesaksian yang paling terasa mendalam, bahkan membangkitkan semangat, iman, dan pengharapan justru bukan jenis kesaksian mengenai berkat materi, melainkan kisah keteguhan hati, perjuangan melawan penyakit, ketegaran menghadapi masa sukar, atau penguatan ketika mengalami kedukaan.
Rentetan kisah berisi pergumulan, tantangan, bahkan perjuangan sebagai penginjil yang disampaikan Paulus adalah bukti sahih akan campur tangan Allah dalam kehidupan rasul yang dahulu bernama Saulus itu. Tanpa campur tangan Allah, tidak mungkin Paulus bisa bertahan, berpengharapan, tetap beriman, dan teguh berjuang dalam pemberitaan Injil. Dalam satu ayat saja (ay. 23), kita dapat memahami betapa berartinya campur tangan Allah dalam menopang kehidupan Paulus demi menjalankan panggilannya sebagai rasul Kristus.
Kesaksian sejati adalah bagaimana kehidupan orang percaya mengalami campur tangan Tuhan secara nyata, lalu orang lain dapat melihat, menyadari, bahkan mengakui adanya peristiwa adikodrati dalam kehidupan orang percaya. Kemampuan Allah dalam memberkati umat-Nya secara materi memang dapat mengundang decak kagum, tetapi hendaknya kita tidak mengesampingkan jenis pengalaman lain, yang tak jarang justru "berbicara lebih kuat" hingga membuat orang di luar Kristus tertarik untuk mengenal Dia. --GHJ/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: GALATIA 6:1-10
Bacaan Setahun: Kejadian 48-50
Nas: Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6:2)
Harap Tenang, Ada Ujian
Saat saya sekolah, ada sebuah kebiasaan yang khas setiap kali ujian berlangsung. Sebuah tulisan "HARAP TENANG, ADA UJIAN!" Tulisan yang sengaja ditulis dengan huruf kapital semua ini dipasang di depan ruang kelas, juga di depan sekolah. Tujuannya tidak lain untuk mengingatkan setiap pembacanya agar turut berempati, menjaga suasana tetap tenang. Dengan demikian situasi tetap kondusif. Para siswa yang sedang mengikuti ujian pun tidak terganggu konsentrasinya.
Terhadap mereka yang sedang dalam ujian hidup (pergumulan) Paulus mengajar para murid untuk memiliki empati, saling peka dan peduli. Turut hadir, mendengarkan dan menopang penderitaan sesama. Bertolong-tolongan dalam menanggung beban, sebab demikianlah cara memenuhi hukum Kristus. Namun demikian, bukan berarti bahwa terhadap mereka yang tengah bergumul kita harus berlaku seperti kecenderungan sebagian orang. Banyak memberi wejangan/nasihat, banyak-banyak membacakan ayat Alkitab.
Kepedulian juga dapat dinyatakan dengan menjaga ketenangan. Tenang di sini bukan berarti hanya sekadar diam (acuh tak acuh dan mengabaikan). Melainkan mampu mengendalikan lidah untuk tidak menghujani mereka dengan penghakiman. Komentar, sindiran, ejekan, atau pun mengumbar berita negatif tentang mereka. Sebab, penderitaan dan kejatuhan orang lain bukan kesempatan bagi umat untuk bermegah atau merasa diri lebih rohani. Bukankah kualitas kekristenan sejati harus nampak dalam sikap tidak menghakimi sesama yang terjatuh, melainkan mengampuni dan mengangkatnya? --EBL/www.renunganharian.net
* * *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar