RENUNGAN HARIAN
Bacaan Setahun: Kejadian 16-18
Nas: "... Bukankah kamu telah menangis di hadapan Tuhan sambil berkata: Siapakah yang akan memberi kami makan daging? Begitu baik keadaan kita di Mesir. Sebab itu, Tuhan akan memberi kamu daging untuk dimakan." (Bilangan 11:18)
Amnesia Rohani
Padang gurun bukanlah tempat yang nyaman untuk ditinggali, apalagi untuk waktu yang lama. Tempat itu sunyi, kering, dan tandus. Suhunya sangat panas di siang hari dan sangat dingin di malam hari. Beberapa spesies hewan berbisa juga ada di sana. Itulah kondisi yang dihadapi bangsa Israel setelah keluar dari perbudakan Mesir. Situasi sulit itu membuat mereka abai pada janji Tuhan bahwa tempat itu bukanlah tujuan mereka, melainkan proses menuju Tanah Perjanjian.
Mereka lalu membual tentang betapa indahnya hidup mereka sebelumnya di tanah Mesir, bahkan katanya berlimpah madu dan susunya (bdk. Bil. 16:13). Mereka teringat betapa nikmatnya makanan dengan beragam olahan bumbunya yang katanya mereka peroleh di sana secara gratis. Mereka pun menangis karena ingin makan daging. Mereka bahkan menghina manna, makanan yang Allah sediakan setiap hari untuk mereka nikmati. Padahal nyatanya, di Mesir mereka hidup sebagai budak. Ditindas penguasa dan hidup serba menderita (Kel. 1). Mereka memutarbalikkan fakta akibat tidak mampu bersyukur atas pemberian dan pemeliharaan Allah. Mereka seperti dilanda amnesia, penyakit lupa ingatan atas kebaikan Tuhan.
Mereka lupa bahwa Allah telah menyediakan keperluan mereka dengan cara-Nya yang ajaib. Mereka juga telah mengalami berbagai mukjizat-Nya: luput dari berbagai tulah di Mesir serta menyeberangi Laut Teberau. Jika mereka menginginkan sesuatu, seharusnya mereka dapat memintanya kepada Allah dengan penuh hormat, terlebih kehadiran-Nya dapat mereka saksikan melalui tiang awan dan tiang api, setiap saat. Amnesia rohani ini membuat mereka ditimpa murka Allah. Kiranya kita menjauhi tabiat yang demikian! --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Kejadian 19-21
Nas: Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, terlebih lagi sementara kamu melihat hari Tuhan mendekat. (Ibrani 10:25)
Komitmen Bertumbuh Bersama
Pada zaman jemaat mula-mula, menjadi pengikut Kristus bukan sekadar soal kepercayaan, tetapi juga keberanian. Sebab, tekanan dari komunitas Yahudi dan intimidasi dari pemerintahan Romawi selalu membayangi kehidupan sesehari. Dalam situasi seperti itu, sebagian orang Kristen memilih menjauhi komunitas. Mereka memilih menyendiri agar mendapatkan kekuatan rohani. Namun, penulis surat Ibrani mengingatkan bahwa justru dalam persekutuanlah kekuatan rohani ditemukan.
Ibrani 10 mengajarkan bahwa iman Kristen bukan pengalaman individual semata. Iman yang sejati tumbuh dalam kebersamaan, dalam relasi yang saling membangun. Kita dipanggil untuk "saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam perbuatan baik" (ay. 24). Persekutuan bukan hanya soal rutinitas ibadah, tetapi ranah di mana kasih diteguhkan, pengharapan dipulihkan, dan iman disegarkan.
Di era digital yang kian sibuk, banyak orang merasa cukup dengan ibadah daring atau devosi pribadi. Namun, kita diingatkan oleh bacaan hari ini untuk tidak meninggalkan "pertemuan-pertemuan ibadah". Kehadiran secara fisik, jiwa, maupun hati dalam pertemuan tersebut menunjukkan komitmen kita untuk bertumbuh bersama.
Pertemuan-pertemuan ibadah bukanlah beban, melainkan anugerah. Di situlah Tuhan bekerja melalui sesama. Ketika bersedia hadir, kita bukan hanya diberkati, tetapi juga menjadi berkat. Mari kita setia menghadiri "pertemuan-pertemuan ibadah". Di situlah kita semua akan bertumbuh bersama dalam iman. --SAP/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Kejadian 22-24
Nas: Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri. Tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. (2 Korintus 3:5)
Pekerjaan Allah
Ada yang merasa bisa, lantas menjadi sombong dengan keahliannya. Berusaha menunjukkan prestasinya kepada semua orang demi mendapat pengakuan. Namun, ada pula yang merasa tidak bisa melakukan apa-apa, sampai-sampai selalu menolak setiap kali dipercaya melakukan sesuatu.
Terhadap kesaksiannya yang terkesan memuji diri sendiri, Paulus memberikan pembelaan. Ia bermaksud menyatakan ketulusan hatinya kepada jemaat Korintus karena ada beberapa orang yang ingin menghancurkan nama baiknya. Paulus menegaskan bahwa ia tidak mengharapkan pujian dari jemaat, pun kesaksian tertulis seperti yang dikehendaki oleh rasul-rasul dan guru-guru palsu. Alih-alih pujian, tidak ada hal yang lebih menyenangkan daripada keberhasilan pelayanan yang nyata dalam semangat dan kehidupan orang-orang yang dilayaninya. Paulus juga mengatakan bahwa kesanggupannya adalah pekerjaan Allah. Artinya, Paulus mengakui bahwa selalu ada pertolongan Allah di setiap hal yang mampu ia lakukan.
Dengan mengingat bahwa Tuhan senantiasa turut bekerja, tak pantaslah kita menjadi sombong saat mampu melakukan hal yang tampak besar. Mengingat bahwa pekerjaan Tuhanlah di balik setiap keberhasilan kita, sudah semestinya kita menjauhkan diri dari keinginan untuk mencari pengakuan dan sanjungan. Demikian pula, tak pantas kita memiliki rasa rendah diri yang berlebihan saat dipercaya melakukan tugas panggilan melayani Tuhan. Karena ketika kita mau menyediakan diri, Tuhan pasti memberkati. Demikianlah kita memberikan kemuliaan bagi nama Tuhan. --EBL/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Kejadian 25-26
Nas: YESAYA 40:21-26 "Allah membentangkan langit utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan." Dialah yang bertakhta di atas lingkaran bumi yang penduduknya seperti belalang. (Ayub 26:7; Yesaya 40:22)
Menakjubkannya Alkitab
Kapankah kitab Ayub ditulis? Menurut penafsiran yang lebih tradisional, kitab Ayub diperkirakan ditulis pada tahun 1400 SM. Itu zaman yang sangat tua. Jauh sekali jarak waktunya sebelum adanya penemuan hukum gravitasi Isaac Newton yang hidup pada abad ketujuh belas dan delapan belas masehi. Ataupun Copernicus, astronom yang menemukan teori mengenai matahari sebagai pusat tata surya dan planet-planet mengelilinginya, pada abad kelimabelas masehi. Namun, Ayub sudah menyebutkan bahwa "bumi bergantung pada kehampaan" jauh sebelum adanya teleskop, apalagi satelit.
Kitab Yesaya tak kalah menakjubkan. Ditulis pada sekitar 740-701 SM, menyebutkan bahwa bumi berbentuk lingkaran. Ini jauh sebelum Christopher Columbus menemukan benua Amerika pada abad kelimabelas masehi. Penemuan Columbus membuktikan bahwa bumi itu bulat. Meskipun demikian, baik kitab Ayub maupun Yesaya tidak berhenti pada pengetahuan umum saja. Mereka langsung mengaitkannya dengan Allah. Dialah pencipta dan penguasa langit dan bumi.
Kita tidak boleh memperlakukan Alkitab sebagai buku teks ilmu pengetahuan (sains). Tugas manusialah yang mencari dan menemukan rahasia alam ciptaan Tuhan (Ams. 25:2). Dengan demikian, sains dibutuhkan untuk mengungkap rahasia alam. Juga sebagai dasar penemuan ciptaan manusia dalam bentuk pengetahuan dan teknologi. Sedangkan Alkitab adalah firman Allah yang luar biasa. Dua kutipan ayat di atas sekadar membuktikan bahwa Alkitab bukan kumpulan dongeng. Tidak ada alasan kita untuk tidak memercayai Alkitab. --HEM/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Kejadian 27-29
Nas: Akan tetapi, sesudah beberapa waktu, wadi itu mengering, sebab hujan tidak turun di negeri itu. (1 Raja-raja 17:7)
Wadi Kerit Mengering
Ahab, raja Israel, melakukan kejahatan di mata Tuhan. Ia beribadah kepada Ba'al. Elia, sang nabi, mengancamkan bahwa tidak akan ada embun atau hujan turun. Kemudian oleh petunjuk Tuhan, Elia tinggal bersembunyi di tepi Wadi Kerit di sebelah timur Sungai Yordan. Dari wadi itu, Elia minum. Pada pagi dan petang, burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya (lih. 1Raj. 17:1-6).
Selang beberapa waktu, wadi kerit mengering (ay. 7). Pada saat itu mungkin juga burung-burung gagak berhenti datang membawa makanan. Kembali Elia mendengar petunjuk Tuhan. Ia harus berangkat ke Sarfat di wilayah Sidon dan tinggal di sana. Nanti ada seorang janda yang memberinya makan (ay. 8-9). Faktanya, Tuhan itu Maha Kuasa! Dia dapat mengkhususkan Wadi Kerit. Dia dapat membuat air di dalamnya terus mengalir. Namun, jika demikian sang nabi akan terlena dan berpikir Wadi Keritlah yang menyokong kehidupannya, juga burung-burung gagak. Maka, Tuhan membiarkan wadi itu dalam keadaan sebagaimana mestinya. Tuhan ingin Elia mengingat bahwa Dialah yang memberinya minum dan makanan, atau dengan kata lain Dialah Sang Sumber Kehidupan.
Serupa terjadi pada kita. Adakalanya Tuhan mengizinkan "Wadi Kerit" kehidupan kita mengering. Segala sesuatu tidak berjalan dengan lancar, malahan muncul berbagai kesukaran. Maka, kita yang tadinya terlena sekarang memandang kepada Tuhan. Kita yang tadinya mengira keberhasilan yang selama ini dinikmati ialah karena kemampuan diri sendiri, menjadi paham bahwa semuanya itu dikarenakan Tuhan. Dialah yang memberi penyertaan serta perlindungan. Dialah yang memberkati, menyokong, dan menolong, atau tepatnya Dialah Sang Sumber Kehidupan. --LIN/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Kejadian 30-31
Nas: Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya. (Mazmur 19:1)
Mengagumi Alam Semesta
Banyak orang berwisata untuk melihat matahari terbit di Gunung Bromo. Mereka tidak memedulikan jarak yang jauh dari tempat tinggal mereka. Lalu naik mobil sewaan yang sering tidak nyaman buat penumpang. Cuaca dingin diantisipasi dengan membawa jaket tebal, syal, sarung tangan, kaos kaki tebal, dan sepatu. Tak lupa membawa pula masker untuk menghadapi debu yang terbawa oleh embusan angin dingin. Pengorbanan itu kecil artinya dibanding saat melihat pemandangan alam yang luar biasa indah di sana.
Bagi pemazmur, alam semesta berkisah tentang karya Allah yang luar biasa tanpa kata-kata. Langit dan cakrawala memberitakan tentang karya Tuhan. Pengetahuan juga disampaikan oleh malam hari. Matahari digambarkan bagaikan pengantin laki-laki yang bersukacita, juga pahlawan yang gagah berani. Tidak ada yang terbebas dari panas teriknya. Gambaran ini memberi kita pengetahuan yang sama sekali bertentangan dengan teori modern tentang asal mula alam semesta, dan juga teori evolusi. Tidaklah mungkin bintang dan planet yang tidak terhitung jumlahnya ini tiba-tiba muncul dengan sendirinya. Keragaman hayati juga terjadi lewat penciptaan Allah yang tidak habisnya diselidiki oleh para ahli.
Jika kita dapat menikmati alam semesta setiap hari, niscaya kita akan mengagumi Allah pencipta segala sesuatu. Kita akan turut memelihara dan tidak mencemari lingkungan kita. Kita perlu turut mendorong agar masyarakat sekitar juga melakukan upaya yang sama. --HEM/www.renunganharian.net
* * *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar