RENUNGAN HARIAN
Bacaan Setahun: Yeremia 46-48
Nas: "Aku tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini seorang diri, sebab hal itu terlalu berat bagiku." (Bilangan 11:14)
Mengelola Diri
Setiap orang tentu memiliki masalah masing-masing dalam hidupnya. Dengan masalah tersebut, terkadang kita mengeluhkan beratnya hidup yang harus kita jalani, bahkan juga membanding-bandingkan hidup dengan orang lain. Tanpa disadari, kita menjadi sangat memikirkan masalah tersebut. Oleh karenanya, maka kita menjadi sangat sensitif terhadap berbagai sesuatu hingga membuat kita merasa berjalan sendiri dalam hidup.
Hal itu juga dialami oleh Musa ketika memimpin perjalanan bangsa Israel. Musa merasakan begitu beratnya beban yang ditanggungnya karena ia tahu betul kasih Allah yang sangat nyata bagi bangsa Israel; tetapi bangsa Israel justru tidak mau melihatnya, bahkan mengeraskan hati dengan menangis setiap malam di depan pintu kemah mereka. Musa sendiri menjadi sangat sensitif oleh karena masalah tersebut hingga ia meluapkan amarahnya kepada Allah karena merasa berjalan sendirian. Musa hanya melihat emosinya sendiri sehingga tidak bisa merasakan kasih dan dukungan yang Allah beri kepadanya. Meski begitu, Allah semakin menyatakan penyertaan-Nya kepadanya. Ia memberikan jalan keluar kepadanya dengan memintanya mengumpulkan para tua-tua Israel supaya mereka membantunya memimpin bangsa Israel.
Dalam menghadapi setiap permasalahan hidup, marilah kita tidak hanya melihat masalah tersebut dan tenggelam di dalamnya supaya kita dapat selalu membuka hati dan menyadari bahwa kita tidak berjalan seorang diri. Sebab Allah senantiasa menyertai kita, dan mendukung kita. --ZDP/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Yeremia 49-50
Nas: Dengan setahu istrinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lagi dibawa dan diletakkannya di depan kaki para rasul. (Kisah Para Rasul 5:2)
Sepakat Berujung Maut
Terdorong untuk memberi sejumlah uang hasil penjualan tanah yang dilakukan oleh Yusuf, Ananias dan istrinya, Safira, pun ingin melakukan hal yang sama. Ananias dan Safira telah bersepakat untuk menjual sebidang tanah miliknya dan bermaksud menyerahkan semua hasil penjualan itu kepada rasul-rasul. Akan tetapi, setelah tanah itu benar-benar terjual, motivasi pun mulai berubah. Ananias menahan sebagian hasil penjualan itu dan menyerahkan yang sebagian lagi kepada rasul-rasul. Bukannya menegur dan mengingatkan, Safira rupanya menyetujui niat suaminya itu. Tak hanya ingkar janji, suami istri itu juga bersepakat untuk berucap dusta di hadapan Tuhan. Mereka pun menanggung akibatnya.
Harta memang bisa membutakan mata. Harta pun bisa menggoda hati untuk menyimpang dari kebenaran. Niat awal yang baik pun berakhir buruk karena dibutakan harta. Kita pun berandai-andai, seandainya Safira berteguh hati dan berani menghentikan niat jahat itu. Namun, nyatanya hati Safira turut hanyut dalam kilauan harta. Bukannya menjadi penolong, Safira pun ikut binasa dalam kejahatan sang suami.
Sebagaimana rancangan awal penciptaan, Tuhan menjadikan laki-laki dan perempuan sebagai pasangan yang dapat saling menolong, melengkapi, dan membangun dalam perkara-perkara yang baik. Kesepakatan yang dibangun untuk melakukan kehendak Tuhan tentu akan mendatangkan damai sejahtera dan berkat dari Tuhan. Sebaliknya, kesepakatan yang dibangun untuk melawan kehendak Tuhan pasti akan berujung pada kehancuran. Sebab itu, kisah Ananias dan Safira ditulis untuk mengingatkan kita betapa mengerikannya kesepakatan yang dibangun di luar kehendak Tuhan. --SYS/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Yeremia 51-52
Nas: Lalu Elisa berkata, "Pergilah, pinjamlah bejana-bejana dari luar, dari semua tetanggamu, bejana bejana kosong, tetapi jangan sedikit." (2 Raja-raja 4:3)
Berkat Bertetangga
Beberapa kali berpindah rumah membuat saya punya banyak pengalaman dengan para tetangga yang tentunya memiliki beragam karakter. Salah satu enaknya bertetangga ialah mereka sering kali menjadi orang terdekat yang kehadirannya bisa diharapkan ketika kita memerlukan bantuan. Contoh kecilnya ialah ketika butuh bumbu dapur dalam jumlah kecil, saling meminjam kepada tetangga adalah praktik yang biasa terjadi. Bertetangga dengan akur adalah salah satu berkat yang sangat perlu dipelihara.
Ibu janda dalam 2 Raja-raja 4 ini juga terlepas dari utang berkat relasinya yang baik dengan para tetangganya. Setelah suaminya meninggal, ibu janda ini terlilit utang sehingga kedua anaknya terancam dijadikan budak oleh penagih utang. Ia pun mengadukan masalahnya kepada Nabi Elisa, serta mengakui bahwa satu-satunya harta yang masih ia miliki hanyalah sebuah buli-buli berisi minyak. Sang nabi pun menyuruhnya meminjam bejana-bejana dari semua tetangganya. Ya, semua tetangganya! Bayangkanlah apa yang terjadi jika ia tidak akur dengan mereka. Hasilnya, sesuai perintah sang nabi, ibu janda ini menuangkan minyak dari buli-buli ke dalam semua bejana itu hingga penuh. Ia pun mampu membayar semua utangnya, serta memiliki tabungan yang cukup untuk kelanjutan hidupnya bersama anak-anaknya.
Tetangga kita bisa saja merupakan para kerabat kita, tetapi bisa juga merupakan orang-orang asing dengan latar belakang profesi, suku, atau agama yang berbeda. Bisa juga kita berbeda pandangan dalam banyak hal. Namun, kita hendaknya berusaha menjaga relasi yang harmonis dengan mereka, serta memancarkan kasih Allah yang telah kita terima kepada mereka. --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Ratapan 1-2
Nas: Milikilah cara hidup yang baik di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai pelaku kejahatan, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. (1 Petus 2:12)
Menghadirkan Yesus
Sebelum naik ke surga, Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil. Karena itu, menjadi pemberita Injil adalah tanggung jawab setiap orang percaya. Namun demikian, mengemban tugas ini bukanlah perkara yang mudah. Kadang, alih-alih menerima dengan sukacita, orang justru semakin membenci kekristenan ketika diinjili.
Bagaimana hal ini mungkin terjadi? Ketika kita memberitakan Injil dengan cara menghakimi. Ketika kita membujuk dan bahkan memaksa orang untuk datang kepada Yesus, menjadi orang Kristen. Ketika memenangkan jiwa menjadi fokus, tujuan, dan tolok ukur keberhasilan pewartaan Injil. Lagi pula, apa artinya menjadi Kristen jika tanpa iman? Karena itu, tanggung jawab pemberita Injil tidak berhenti hanya sampai pada berhasil mengkristenkan orang. Harus ada tindak lanjut (pemuridan) guna membimbing mereka (merawat dan menumbuhkan iman) supaya bertumbuh dan berbuah.
Petrus mengajarkan bahwa mewartakan Injil tidak melulu berbicara tentang menjangkau jiwa-jiwa baru. Lebih daripada itu, mewartakan Injil harus dilakukan melalui perkataan dan perbuatan, melalui kesaksian hidup kita. Membagikan Injil bukan hanya menyampaikan firman Tuhan, melainkan juga mengasihi sesama. Hidup kita ibarat Injil terbuka, yang dapat dibaca setiap orang. Sehingga diharapkan, melalui tutur kata, tingkah laku, dan sikap hidup kita, orang dapat melihat gambaran tentang Yesus yang kudus dan kasih. Dengan kata lain, mewartakan Injil bukan hanya membawa orang kepada Yesus, melainkan menghadirkan Yesus bagi sesama. --EBL/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Ratapan 3-5
Nas: Kata Yesus kepadanya, "Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6)
Satu-satunya Jalan
Pagi hari seorang ayah mengantar putrinya berangkat ke sekolah naik mobil. Di tengah jalan ia menghentikan mobilnya. Ada pemberitahuan bahwa jalan ditutup karena ada kegiatan perbaikan jalan. "Ayah, aku tidak bisa sekolah, " kata putrinya dengan sedih. "Tenang, Nak!" ayahnya tersenyum, "Kita bisa lewat jalan lain."
Terkadang kita menemukan hambatan pada jalan menuju tempat tujuan. Mungkin kemacetan lalu lintas atau kegiatan perbaikan jalan. Solusinya, kita melewati jalan lain. Sebab jalan menuju tempat tujuan (biasanya) bukan satu-satunya jalan. Ada beberapa jalan lain, dan selama ini kita memilih salah satu. Mungkin karena jaraknya lebih dekat atau lebih nyaman berkendara atau (berjalan kaki) di sana. Yesus berkata, "Akulah jalan, kebenaran, dan hidup" (ay. 6a). Dia menyatakan Diri-Nya sebagai jalan menuju kekekalan. Yang menarik ialah kata-kata-Nya berikutnya, "Tidak seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (ay. 6b). Artinya hanya ada satu jalan. Seseorang bukan lagi dapat memilih salah satu, tetapi satu-satunya. Jika hendak tiba di kekekalan, ia harus percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.
Terlihat banyak orang sedang menempuh perjalanan. Mereka berkata hendak menuju kekekalan. Masalahnya, mereka bukan melalui Yesus sebagai jalan. Jelas mereka melakukan kekeliruan. Amsal 14:12 mengingatkan bahwa ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut. Disangka oleh mereka jalan itu menuju kekekalan, padahal kebinasaan. Tugas kita ialah memberitahu mereka kebenaran akan satu-satunya jalan. Jangan biarkan mereka tersesat, lalu binasa. Mari kita tunjukkan jalan yang tepat. Mari memperkenalkan mereka kepada Yesus, Tuhan dan Juru Selamat. --LIN/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Yehezkiel 1-4
Nas: "Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup melanggar titah Tuhan dengan berbuat baik atau jahat atas kemauanku sendiri. Apa yang akan difirmankan Tuhan, itulah yang akan kukatakan." (Bilangan 24:13)
Tak Mempan Suap
Pernahkah Anda mendengar slogan "Hanya donatur yang boleh mengatur"? Maksud dari kalimat ini bahwa hanya orang-orang yang memberikan sumbangan dana saja yang boleh ikut memberi usul, saran, atau masukan. Donatur dipandang sebagai orang yang kompeten dan berkuasa. Dengan kata lain, jika ada masukan-sebagus apa pun itu-kalau asalnya dari orang yang tidak turut mendanai, tidak perlu didengar. Slogan ini mirip dengan pepatah "Ada uang abang disayang, tak ada uang abang dibuang".
Sejalan dengan prinsip ini maka Balak berusaha meminta Bileam mengutuk Israel dengan menjanjikan upah setinggi-tingginya. Ketika Bileam menolak, Balak bahkan mengulang kembali permintaannya berkali-kali. Namun demikian, Bileam menegaskan bahwa dirinya tidak akan mengkhianati Tuhan. Godaan harta tidak mengalahkan integritas Bileam. Bahkan emas dan perak seistana penuh pun tidak menggoyahkan pendirian Bileam. Sebagai seorang yang dipakai Tuhan, Bileam memilih untuk berbicara sesuai kehendak Tuhan, bukan keinginan sendiri atau keinginan orang lain.
Bagaimana dengan kita, sebagai pribadi maupun dalam kelompok dan organisasi termasuk dalam gereja? Adakah kita mengedepankan prinsip hidup yang Tuhan ajarkan meski terasa tidak menyenangkan? Atau kita memilih untuk mengabaikan kebenaran dan kekudusan demi mencari keuntungan? Kiranya kita senantiasa dimampukan untuk tetap berdiri dalam kesalehan, bergantung hanya kepada berkat Tuhan. Bukan semata-mata mencari keuntungan dan pencapaian sampai rela mengabaikan prinsip iman. --EBL/www.renunganharian.net
* * *
MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar