RENUNGAN EDISI 17 AGUSTUS 2025 - JPA CHANNEL

JPA CHANNEL

JPA VISION 2026 " Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang "

MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

Breaking News


Cari Blog Ini

Sabtu, 16 Agustus 2025

RENUNGAN EDISI 17 AGUSTUS 2025

 RENUNGAN HARIAN




RENUNGAN SENIN
Bacaan: RUT 2:1-17

Bacaan Setahun: Yesaya 64-66

Nas: "Begitulah ia datang dan terus bekerja dari pagi sampai sekarang, dan beristirahat sebentar saja." (Rut 2:7)


Ingat Kegigihan Rut

Saya mengagumi ketekunan Aloy, seorang teman yang masih terlihat bekerja sampai malam, padahal pagi sampai sorenya ia bekerja kantoran. Tak jarang pula, tak lama setelah matahari terbit, Aloy dan istrinya terlihat sudah berada di kebun untuk mengolah tanah, menanam, dan menuai hasil perkebunan yang lantas mereka jual, juga sebagian diolah untuk dijadikan makanan yang dikemas dalam plastik.

Melihat ketekunan dan kerja keras mereka yang luar biasa mengingatkan saya akan kegigihan Rut dalam bekerja. Para pegawai Boas menjadi saksi betapa wanita Moab itu bekerja keras nyaris tanpa henti dalam memungut jelai di ladang milik Boas. Ketika Boas datang dan menanyakan keberadaan Rut, wanita itu sedang bekerja. Lalu, setelah sejenak berhenti karena terlibat percakapan dengan Boas, Rut melanjutkan pekerjaannya sampai petang, lalu mengirik hasil jelainya sebelum pulang menemui Naomi, mertuanya (ay. 17). Melengkapi kisah pengabdian Rut terhadap Naomi (ay. 11-12), tampaknya Rut berhasil memberi kesan yang sangat positif kepada Boas, pria yang kelak menjadi suaminya atas kehendak Allah itu.

Hukum alam berkata bahwa orang yang tekun bekerja akan menuai upah dari ketekunannya. Bagi kita orang percaya, ada Allah yang menilai dan siap memberi upah atas ketekunan dan kesungguhan kita dalam bekerja, apa pun jenis pekerjaan yang kita tekuni. Kisah hidup Rut telah membuktikan kesetiaan Allah terhadap orang yang rajin, kini giliran kita bertekun, seraya meyakini ada berkat yang sama Allah sediakan bagi kita. --GHJ/www.renunganharian.net

* * *
ALLAH TIDAK BERKENAN DENGAN PEMALAS,
TETAPI ORANG YANG RAJIN AKAN DIBERKATI-NYA.

* * *






RENUNGAN SELASA
Bacaan: MAZMUR 130

Bacaan Setahun: Yeremia 1-3

Nas: Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih daripada pengawal mengharapkan pagi, daripada pengawal mengharapkan pagi. (Mazmur 130:6)


Dalam Kegelapan

Banyak orang takut berada dalam kegelapan. Kemampuan penglihatan kita sangat terbatas dalam gelap. Bahkan jika gelap semakin pekat, kita bisa buta arah. Kita bisa membentur benda-benda, terperosok ke lubang, atau bertemu makhluk-makhluk berbahaya. Kita mengalami ketakutan serta tanpa perlindungan. Yang bisa kita lakukan hanyalah berteriak sekuat tenaga, berharap ada seseorang yang akan mendengar, lalu membawa penerangan untuk menolong kita.

Sang pemazmur bahkan menggambarkan hidup yang dijalaninya lebih menakutkan lagi. Ia terperangkap dalam kegelapan serta terjerumus ke dalam jurang yang dalam. Itu terjadi akibat kesalahan serta dosanya. Lalu ia mengambil langkah iman, yakni berbalik kepada Tuhan. Ia berseru-seru kepada Tuhan serta memohon pengampunan-Nya, berharap Dia mendengar serta bertindak. Ia menantikan Tuhan dengan sepenuh daya dan upaya, melebihi seorang petugas jaga malam yang mengharapkan fajar segera menyingsing. Sebab ia tahu bahwa Allah yang disembahnya ialah Allah yang setia, yang telah terbukti menyatakan kasih serta pengampunan-Nya kepada umat-Nya.

Bagaimanakah hidup yang sedang Anda jalani saat ini? Apakah sedang berjalan dalam terang Tuhan, serta hidup menaati Dia? Ataukah sedang terperosok dalam jurang yang dalam akibat dosa, kesalahan, atau ketidaktaatan? Syukurnya, ada kabar baik! Seberapa pekat pun kegelapan yang melingkupi kita, Allah tidak meninggalkan kita. Dia hadir di sana, sedia merengkuh kita dalam rentang tangan kasih-Nya. Kita hanya perlu berbalik dan kembali kepada Dia. Sepenuh hati. Saat kita menaruh pengharapan kepada-Nya, Dia takkan kecewakan kita. --HT/www.renunganharian.net

* * *
MENARUH PENGHARAPAN KEPADA TUHAN
ADALAH SUMBER KEKUATAN ORANG BERIMAN.

* * *





RENUNGAN RABU
Bacaan: 2 KORINTUS 1:3-11

Bacaan Setahun: Yeremia 4-6

Nas: Yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. (2 Korintus 1:4)


Estafet Penghiburan

Sekalipun tiada manusia yang sempurna, kita akui pelayanan Paulus memang luar biasa. Bermula dari pertobatannya yang radikal, panggilan Tuhan membuat tujuan hidup Paulus menjadi jelas. Paulus rela mengorbankan kenyamanan pribadinya demi misi Tuhan. Ia memberikan penghiburan bagi banyak umat Tuhan di berbagai tempat, termasuk kepada kita saat ini melalui kesaksian Alkitab.

Paulus bersaksi bahwa penghiburan Tuhanlah yang memampukannya menjadi penghibur. Ibarat pelari estafet, Paulus melanjutkan penghiburan yang dari Tuhan kepada jemaat. Paulus belajar melalui banyak kesukaran yang ia alami sendiri. Pengalaman rohaninya menunjukkan bahwa tidak ada penderitaan-sedahsyat apa pun itu-yang dapat memisahkan orang percaya dari belas kasih Allah. Justru penderitaan dipakai Tuhan untuk menyatakan penghiburan. Penderitaan bukan alasan bagi orang percaya untuk meninggalkan Tuhan, melainkan untuk semakin mendekat, menerima berkat, dan menyaksikannya.

Penderitaan karena iman kepada Kristus adalah cara Tuhan memurnikan umat, sekaligus mempersiapkan umat untuk tugas besarnya: melayani Tuhan. Sebab penghiburan sejati dari Tuhan tidak hanya berguna bagi diri sendiri. Tuhan rindu kita pun menghibur sesama yang tengah menderita. Melalui penderitaan yang pernah kita alami dan penghiburan dari Tuhan yang boleh kita rasakan, tentu kita dapat lebih mudah memahami, berempati, dan menguatkan sesama. Sehingga sebagai sesama anggota keluarga kerajaan Allah kita saling menopang dan mendukung di dalam iman. --EBL/www.renunganharian.net

* * *
PENDERITAAN ADALAH SARANA BAGI KITA UNTUK MENGALAMI PENGHIBURAN ALLAH
AGAR KITA PUN DAPAT MENJADI PENGHIBUR BAGI SESAMA.

* * *






RENUNGAN KAMIS
Bacaan: MATIUS 20:20-28

Bacaan Setahun: Yeremia 7-9

Nas: "Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:28)


Bersikap sebagai Pelayan

Kita sering menyaksikan, sewaktu seseorang memperoleh jabatan atau naik jabatan, perilakunya langsung berubah. Tadinya begitu merendah dan mau diminta melakukan apa saja. Sejak menduduki jabatan, menyapa teman lama pun enggan. Nada kata-katanya terkesan memberi perintah. Bawahan mungkin disuruh bekerja melebihi batas kemampuannya. Yang bersangkutan juga suka memandang rendah, bahkan menista orang lain.

Perilaku orang percaya tidak seharusnya demikian. Ketika dua orang murid beserta ibunda mereka memohon Yesus untuk menjadikan keduanya orang kedua di dalam kerajaan Allah, Yesus mengajarkan prinsip yang berkebalikan dengan itu. Bukannya menjanjikan jabatan, melainkan mengatakan bahwa mereka harus meminum cawan pahit. Kedua murid-Nya langsung menyanggupinya tanpa mengetahui sepahit apakah cawan yang Yesus maksudkan. Yang menjadi fokus mereka adalah betapa nikmatnya jabatan itu. Yesus bahkan menambahkan bahwa yang hendak jadi terkemuka haruslah menjadi hamba dari semuanya.

Yesus sendiri sudah menjadi teladan. Orang-orang yang meminta tolong kepada-Nya selalu Ia layani dengan penuh belas kasih dan rendah hati. Bahkan Ia rela mendatangi orang-orang itu. Termasuk yang tidak meminta tolong pada-Nya. Itu juga yang Tuhan harapkan dari setiap orang yang mengikuti-Nya. Fokus kita bukanlah jabatan, melainkan menjadi hamba yang melayani orang lain dengan segenap hati. Dan kalau Tuhan izinkan, turut meminum cawan pahit sebagaimana diri-Nya. --HEM/www.renunganharian.net

* * *
MENJADI PENGIKUT TUHAN DITUNTUT
UNTUK RELA MENJADI HAMBA YANG MELAYANI.

* * *






RENUNGAN JUMAT
Bacaan: WAHYU 3:14-22

Bacaan Setahun: Yeremia 10-13

Nas: "Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu bahwa engkau melarat, malang, miskin, buta, dan telanjang." (Wahyu 3:17)


Kemerosotan Rohani

Ketika seseorang dalam keadaan mati, ia sudah pasti tidak akan mampu merasakan apa-apa lagi, ia tidak lagi membutuhkan makanan atau minuman, dan ia tidak akan pernah lagi bertumbuh! Sebaliknya, seorang yang hidup, ia dapat merasakan apa itu kekurangan, merasakan lapar dan haus. Itu sebabnya ia selalu membutuhkan makan dan minum agar ia dapat bertumbuh.

Demikianlah dengan kemerosotan rohani. Seseorang merosot rohaninya ketika ia sudah tidak lagi memerlukan firman Tuhan, tak lagi membutuhkan Tuhan, tidak bertumbuh. Kondisi inilah yang melanda jemaat di Laodikia. Jemaat Laodikia dikenal kaya dan kelebihan harta benda dan hal ini membuat mereka tidak lagi membutuhkan Tuhan. Kita pun ingat tentang peringatan Musa kepada orang-orang Israel, "... dan engkau makan serta menjadi kenyang, maka berhati-hatilah supaya jangan engkau melupakan Tuhan, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan" (Ul. 6:11-12). Rupanya rasa nyaman dan hidup berkelimpahan bisa membuat hati melupakan Tuhan. Dan ketika seseorang merasa diri kaya dan tak lagi membutuhkan Tuhan, itulah tanda-tanda kemerosotan rohani.

Peringatan kepada jemaat di Laodikia ditulis untuk mengingatkan kita hari ini. Apakah rasa haus dan lapar akan Tuhan itu selalu melanda hati kita setiap hari? Apakah kerinduan untuk selalu bersekutu dengan Tuhan tetap berkobar dalam hati kita? Atau sebaliknya, kita telah merasa kenyang dan nyaman dengan apa yang kita miliki saat ini sehingga kita tidak lagi membutuhkan Tuhan dan firman-Nya? Mari kita memeriksa hati kita. --SYS/www.renunganharian.net

* * *
KETIKA TAK ADA LAGI RASA LAPAR, TAK ADA LAGI HASRAT MENCARI TUHAN,
ITULAH TANDA KEMEROSOTAN ROHANI.

* * *





RENUNGAN SABTU
Bacaan: YEHEZKIEL 24:15-27

Bacaan Setahun: Yeremia 14-17

Nas: "Hai anak manusia, lihat, Aku hendak mengambil darimu dia yang sangat kaucintai, seperti kena tulah, tetapi janganlah meratap ataupun menangis, dan janganlah mengeluarkan air mata." (Yehezkiel 24:16)


Kematian Istri Yehezkiel

Saudara saya menangis saat peti mati istrinya diturunkan ke liang lahat, itulah reaksi yang saya lihat. Istri saudara saya meninggal karena sakit, kedua anaknya masih kecil dan sangat membutuhkan seorang ibu. Saya mengenal saudara ini orangnya tegar, masalah sesulit apa pun dia tidak pernah mengeluh apalagi menangis. Namun, dia akhirnya menangis karena kesedihan dan kehilangan orang terdekatnya.

Wajar kita menangis saat kehilangan orang yang paling kita cintai. Namun, hal berbeda dialami Yehezkiel. Tuhan melarang Yehezkiel meratap atau menangis (ay. 16), Tuhan menyuruh Yehezkiel diam-diam saja mengeluh, jangan mengadakan ratapan kematian, dan jangan makan roti perkabungan (ay. 17). Yehezkiel mendapat peringatan dari Tuhan sebelum istrinya mati, dan Yehezkiel dengan patuh mengikuti instruksi Tuhan yang sulit (ay. 18) sehingga orang-orang kemudian bertanya (ay. 19). Tuhan menggunakan kematian istri Yehezkiel sebagai tanda bagi orang Yehuda bahwa Dia adalah Tuhan dan Dia setia kepada firman-Nya. Mereka akan merasakan penderitaan luar biasa akibat dosa-dosa mereka, dan segala kenikmatan mereka akan diambil (ay. 25).

Tuhan adalah penguasa hidup kita, Dia tidak perlu izin kita untuk mengambil nyawa seseorang, termasuk orang yang paling kita kasihi. Pasti sulit dan berat dijalani, tetapi jangan pernah menyalahkan Tuhan, apalagi meninggalkan-Nya. Bagian yang bisa kita lakukan adalah tetap rendah hati dan tetap setia mengikut Tuhan sama seperti yang dilakukan Yehezkiel. --RTG/www.renunganharian.net

* * *
KITA TETAP MAU RENDAH HATI, TAAT, DAN SETIA KEPADA TUHAN
MESKI HARUS KEHILANGAN ORANG YANG PALING KITA CINTAI.

* * *







MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

&
JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Suatu Umat Yang Layak Bagi-Nya "
( LUKAS 1:17c )


Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

#KeluargaJPA​​​ #TuhanBekerja​​​ #JPABerdampak​​​ #GPdI​​​ #GPdIJPA​​​ #Praise​​​ #Renungan2025 #MembangunKarakterIlahi #JPAVision #multimediaJPA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WARTA EDISI 1 FEBRUARI 2026

 JADWAL SEPEKAN  MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK " & JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan S...

Post Bottom Ad

Halaman