RENUNGAN EDISI 23 AGUSTUS 2025 - JPA CHANNEL

JPA CHANNEL

JPA VISION 2026 " Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang "

MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

Breaking News


Cari Blog Ini

Sabtu, 23 Agustus 2025

RENUNGAN EDISI 23 AGUSTUS 2025

 RENUNGAN HARIAN




RENUNGAN SENIN
Bacaan: KELUARAN 1

Bacaan Setahun: Yeremia 23-25

Nas: Tetapi, bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, sehingga mereka membiarkan bayi-bayi itu hidup. (Keluaran 1:17)


Sifra dan Pua

Seorang karyawan yang baik kadang-kadang berada dalam posisi sulit ketika mempunyai atasan yang memintanya untuk melakukan sesuatu yang tidak benar dalam perusahaan. Jika ia mengikuti atasannya tentu hati nuraninya memberontak, tetapi jika ia tidak mengikuti bisa jadi ia akan mengalami banyak masalah, bahkan mungkin akan dipecat.

Sifra dan Pua adalah dua bidan di Mesir yang diperintahkan oleh Firaun, raja Mesir, untuk membunuh bayi laki-laki orang Ibrani saat mereka membantu persalinan perempuan Ibrani. Firaun saat itu takut karena jumlah orang Ibrani yang semakin banyak. Siapa yang berani melawan Firaun? Bisa jadi mereka akan mati kalau melawan Firaun. Namun, alangkah mengejutkan bahwa mereka disebutkan takut akan Allah, mereka berada di pihak Allah, sehingga mereka memilih yang benar dan tidak melakukan perintah Firaun. Mereka membiarkan bayi-bayi itu hidup dan karena apa yang mereka lakukan itulah, Allah berbuat baik dan membuat mereka berumah tangga.

Hidup kita selalu dihadapkan dengan banyak pilihan dan keputusan, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, studi, pekerjaan, ataupun pelayanan. Terkadang tidak mudah memutuskan pilihan yang benar karena banyaknya tekanan dari luar yang menekan begitu kuat untuk melakukan yang salah. Biarlah Sifra dan Pua menginspirasi kita bahwa takut akan Allah saja yang mendasari setiap pilihan dan keputusan kita, dan mengatasi setiap ketakutan kita. --ANT/www.renunganharian.net

* * *
TAKUT AKAN ALLAH PASTI MENDORONG KITA MEMILIH
DAN MEMUTUSKAN YANG BENAR.

* * *







RENUNGAN SELASA
Bacaan: YESAYA 36

Bacaan Setahun: Yeremia 26-29

Nas: "Atau mungkin engkau berkata kepadaku: Kami mengandalkan Tuhan, Allah kami ...." (Yesaya 36:7)


Pantas Diandalkan

Sanherib, raja Asyur, heran terhadap sikap penduduk Yerusalem yang sampai hari itu tidak mau menyerah. Apakah mereka mencoba mengandalkan Mesir, ah sia-sia! Mesir hanya ibarat tongkat bambu yang patah (ay. 6). Atau mereka hendak mengandalkan Allah, ah sia-sia juga. Bukankah ada juga para ilah di negeri-negeri lainnya yang sebelumnya ia taklukkan, seperti Hamat, Arpad, dan Sefarwaim (ay. 19-20)? Ia yakin, Yerusalem juga takkan terluput dari tangannya.

Kemudian, secara tiba-tiba, sebanyak 185.000 tentara Asyur terbunuh di perkemahan mereka. Sanherib yang pongah kembali pulang ke negerinya. Tidak berapa lama ia sendiri dibunuh oleh anak-anaknya (lih. Yes. 37:36-38). Maka itu, artinya terluputlah Yerusalem dari tangannya. Sanherib oh Sanherib, ia tidak menyadari negeri yang sedang diancamnya empunya kekuatan yang amat dahsyat. Alasannya, mereka mengandalkan yang pantas diandalkan. Namanya ialah Tuhan, Allah Israel atau disebut Tuhan, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Dia tidak dapat disamakan dengan para ilah lain karena Dia hidup. Sungguh, pada-Nya ada kekuatan untuk membela dan menyelamatkan.

Kehidupan di dunia sarat akan pergumulan. Terkadang pergumulan dapat terasa amat berat. Di luar sana orang-orang tertekan, susah hati, bahkan menjadi depresi, tetapi tidak dengan kita. Alasannya seperti penduduk Yerusalem, kita tahu mengandalkan yang pantas diandalkan. Kita mengerti kita dapat berdoa memohon pertolongan kepada Tuhan. Dia Allah yang hidup sehingga Dia dapat bertindak bagi kita. Di tengah pergumulan, tetap hati terasa tenteram karena percaya, bersama Tuhan, kita pasti berkemenangan. Sungguh, pada-Nya ada jawaban bagi apa pun rupa pergumulan kita. --LIN/www.renunganharian.net

* * *
KEMENANGAN ATAS SEBUAH PERGUMULAN SUDAH PASTI KITA DAPATKAN
KETIKA KITA MENGERTI UNTUK MENGANDALKAN TUHAN.

* * *






RENUNGAN RABU
Bacaan: LUKAS 5:1-11

Bacaan Setahun: Yeremia 30-31

Nas: Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." (Lukas 5:4)


Menebar Jala

Setiap kali berjumpa orang baru, ia yang adalah seorang pemimpin komunitas rohani, selalu menceritakan keluh kesahnya. Ia merasa prihatin karena anggotanya semakin sedikit yang mau aktif bersekutu. Namun, setiap kali mendapat masukan dan saran, Ia selalu menjawab, "Ah, itu sudah pernah saya lakukan, tetapi tidak berhasil."

Apa jadinya jika Simon memberikan jawaban serupa kepada Tuhan Yesus saat Ia memintanya menebarkan jala? Ya, Simon tidak akan pernah mendapatkan sejumlah besar ikan. Beruntung, sekalipun telah sepanjang malam ia bekerja keras tanpa hasil, ia tidak menolak perintah Yesus. Sebaliknya, karena Yesus menyuruhnya, ia patuh: mau menebarkan jala lagi. Simon rela mengulang lagi karena Tuhan Yesus menghendakinya. Kepatuhan Simon membuahkan hasil luar biasa, sampai ia harus memanggil perahu lain untuk datang membantunya.

Iman membutuhkan kepatuhan. Tidak peduli seberapa keras kita harus berjuang, Tuhan mau kita patuh kepada-Nya. Tanpa perbantahan, pantang menyerah, dan putus asa. Mungkin, kita diperhadapkan dengan panggilan yang sulit, melelahkan, bahkan menantang bahaya. Sekalipun teramat berat, bertekun dalam menjalankan tugas dan melakukan yang terbaik adalah tanggung jawab setiap orang percaya. Sekalipun, tidak tertutup kemungkinan kita mengalami kekecewaan. Pengalaman Simon mengajarkan kepada kita bahwa bagian kita adalah melakukan tugas yang Tuhan berikan. Tetap setia menebarkan jala meski tampaknya tidak segera menangkap apa-apa. Percayakan hasilnya kepada Tuhan saja. --EBL/www.renunganharian.net

* * *
DENGAN KEKUATAN SENDIRI KERJA KERAS KITA SIA-SIA,
BERSAMA BAPA SETIAP USAHA KITA DIBERKATI-NYA.

* * *






RENUNGAN KAMIS
Bacaan: 2 TAWARIKH 10

Bacaan Setahun: Yeremia 32-34

Nas: "... Kelingkingku lebih besar daripada pinggang ayahku!" (2 Tawarikh 10:10)


Eskalasi Konflik

Awalnya, Yerobeam adalah seorang pegawai Salomo. Namun, konflik kemudian terjadi dan Salomo berusaha membunuhnya. Yerobeam pun lari ke Mesir (1Raj. 11:26-40). Rehabeam, anak Salomo, menjadi raja setelah Salomo meninggal. Yerobeam dan orang Israel datang pada Rehabeam dengan maksud mengakhiri konflik. Jika dikabulkan, Yerobeam dan orang-orangnya bersedia menjadi hamba Rehabeam.

Namun, bukannya mengikuti nasihat dari para tua-tua yang mendampingi Salomo selama hidupnya, Rehabeam malah mengikuti perkataan orang-orang muda yang sebaya dengan dia dengan mengatakan raja akan menambah tanggungan dengan menghajar mereka dengan cambuk berduri besi (ay. 11, 14). Hal ini ibarat api kecil yang dapat dipadamkan dengan sedikit air, tetapi ternyata malah diguyur dengan bensin. Konflik pun tak terelakkan dan di sinilah awal orang Israel memberontak terhadap keluarga Daud (ay. 19).

Eskalasi konflik seperti kisah di atas terjadi karena mengabaikan nasihat yang lebih berkualitas, tinggi hati karena menganggap diri sendiri lebih dari orang lain, dan mengutamakan emosi dalam membuat keputusan. Efek negatifnya dapat mewabah melintasi generasi. Karenanya, hindari eskalasi konflik dengan kerendahhatian (Ams. 18:12) dan berusaha mendapatkan perdamaian (Mzm. 34:15) sehingga dapat dicapai solusi tanpa tragedi. --HC/www.renunganharian.net

* * *
SEDAPAT-DAPATNYA, KALAU HAL ITU BERGANTUNG PADAMU,
HIDUPLAH DALAM DAMAI DENGAN SEMUA ORANG!-ROMA 12:18

* * *






RENUNGAN JUMAT
Bacaan: KEJADIAN 11:1-9

Bacaan Setahun: Yeremia 35-37

Nas: Mereka juga berkata, "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Marilah kita mencari nama supaya kita tidak terserak ke seluruh bumi." (Kejadian 11:4)


Menara

Setelah peristiwa air bah di zaman Nuh, manusia kembali beranak bercucu dan seluruh bumi pernah memiliki satu bahasa dan satu logat. Mereka sepakat membangun satu kota dengan menara yang menjulang ke langit. Tujuannya ialah untuk "mencari nama", yakni untuk meninggikan diri alias suatu tanda keangkuhan. Mereka mengira bahwa melalui suatu bangunan tanda kekuatan serta kemasyhuran dapat membuat mereka tetap bersatu sehingga mereka tidak terserak ke seluruh bumi. Ini merupakan pemberontakan terhadap Allah, sebab sejak awal Allah telah memerintahkan agar manusia memenuhi bumi serta menaklukkannya, tentunya dengan melahirkan generasi-generasi yang menaati Allah (Kej. 1:28, bdk. Mal. 2:15).

Allah pun menentang kesombongan mereka dengan mengacaubalaukan bahasa mereka. Yang tadinya saling mengerti menjadi asing satu sama lain. Munculnya berbagai bahasa menjadi penghambat komunikasi mereka. Pembangunan menara keangkuhan itu pun terhenti. Orang-orang pun terserak ke berbagai penjuru. Kesombongan manusia ternyata hanya menghasilkan kekacauan, perselisihan, serta kehancuran.

Sekalipun situasinya jelas sangat berbeda, tetapi bisa dikatakan bahwa saat ini pun, semua orang sedang membangun menara mereka. Menara ini tidak selalu berbentuk bangunan. Namun, bisa saja berupa ragam pencapaian yang ingin diraih di berbagai bidang. Persoalannya, apakah segala pencapaian itu diniatkan menjadi ajang kesombongan diri? Atau menjadi sarana yang menunjukkan kehebatan Allah dalam segala aspek hidup kita? Kiranya segala cita-cita, impian, dan pencapaian kita bertujuan meninggikan nama Tuhan, sebab Dia sajalah yang memampukan kita menggapainya. --HT/www.renunganharian.net

* * *
SEPATUTNYALAH ALLAH BERADA DI PUNCAK TERTINGGI
DARI SETIAP MENARA PENCAPAIAN DI DALAM HIDUP KITA.

* * *






RENUNGAN SABTU
Bacaan: 1 TAWARIKH 5

Bacaan Setahun: Yeremia 38-41

Nas: Maka Allah Israel menggerakkan hati Pul, yakni Tilgat-Pilneser, raja Asyur. Raja itu mengangkut mereka ke pembuangan: orang Ruben, orang Gad dan suku Manasye yang setengah itu. Ia membawa mereka ke Halah, Habor, Hara dan sungai negeri Gozan; mereka di san (1 Tawarikh 5:26)


Bertahan Puluhan Tahun

Sudah empat puluh tahun bekerja di perusahaan bandeng, cerita seorang supir kepada saya saat menunggu barang pesanan bosnya disiapkan. Dia bercerita, sejak lulus SMP dia ikut bos sebagai pegawai serabutan, setelah itu jabatannya naik sedikit sebagai bagian gudang. Beberapa tahun di gudang, dia dipercaya sebagai tukang kirim dan tukang tagih. Setelah usaha bos dilanjutkan anaknya, dia dipercaya sebagai supir pribadi. Bulan depan dia mengundurkan diri karena faktor usia dan ingin momong cucu.

Kita bersemangat dan memuji orang-orang yang terbukti kesetiaannya dalam berbagai hal. Kalau kita melihat ke diri kita, apakah kita setia dalam hal iman kepada Yesus Kristus? Tidak sedikit orang mengawali imannya dengan hebat, tetapi karena tidak memeliharanya dengan benar sesuai firman Tuhan, dia menjadi lemah iman, menyimpang, dan akhirnya berubah setia. Hal inilah yang dialami suku Ruben, suku Gad, dan setengah suku Manasye. Alkitab mencatat mereka hebat dalam berperang (ay. 18). Saat mereka percaya kepada Tuhan, dalam peperangan Tuhan mengabulkan permintaan mereka (ay. 20). Namun setelah diberkati, mereka berubah setia dan berzina dengan mengikuti segala allah bangsa-bangsa negeri yang telah dimusnahkan Allah dari depan mereka (ay. 25).

Tantangan iman dalam berbagai bentuk bisa datang kapan saja, untuk itu mari kita senantiasa menjaga hati. Baik di masa susah maupun masa enak, fokus kita hendaknya tetap kepada Tuhan, kita tetap setia melakukan firman-Nya. Kita mau tetap setia sampai Tuhan memanggil kita pulang. --RTG/www.renunganharian.net

* * *
MEMELIHARA IMAN DENGAN SELALU MELAKUKAN FIRMAN-NYA MEMAMPUKAN
KITA SETIA KEPADA TUHAN SAMPAI DIA MEMANGGIL KITA PULANG.

* * *






MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

&
JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Suatu Umat Yang Layak Bagi-Nya "
( LUKAS 1:17c )


Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

#KeluargaJPA​​​ #TuhanBekerja​​​ #JPABerdampak​​​ #GPdI​​​ #GPdIJPA​​​ #Praise​​​ #Renungan2025 #MembangunKarakterIlahi #JPAVision #multimediaJPA






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WARTA EDISI 1 FEBRUARI 2026

 JADWAL SEPEKAN  MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK " & JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan S...

Post Bottom Ad

Halaman