RENUNGAN HARIAN
Bacaan Setahun: Yesaya 1-4
Nas: "Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu." (Matius 13:44)
Harta Karun
Seorang asisten rumah tangga (ART) yang rajin menemukan sarang walet majikannya. Ia berpikir bahwa sarang walet itu adalah sampah. Dibuangnyalah barang itu ke tempat sampah, padahal majikannya membelinya dengan harga mahal. Begitu sang majikan mengetahui bahwa sarang walet itu dibuang oleh ART, majikan pun marah besar. ART berusaha mencarinya, tapi sudah tidak bisa menemukannya kembali.
Yesus mengumpamakan Kerajaan Surga itu adalah seperti harta yang sangat mahal yang ditemukan orang di ladang. Namun, bedanya dengan kisah sebelumnya, tokoh dalam kisah Yesus mengerti nilai besar mutiara terpendam tersebut. Dia rela menjual seluruh harta miliknya demi untuk membeli ladang berharga itu. Perumpamaan Yesus ini menggambarkan bahwa di tengah ketidakpedulian sebagian besar orang, ada orang yang masih begitu menghargai hal Kerajaan Surga. Dalam hal ini, Kerajaan Surga berarti Yesus sendiri dan firman Tuhan dalam Alkitab. Saking berharganya Kerajaan Surga, orang rela kehilangan segala milik-Nya demi memperoleh Kerajaan Surga itu.
Orang percaya seharusnya menghargai Yesus dan pengurbanan-Nya. Darah Kristus yang dicurahkan-Nya di atas kayu salib sangatlah mahal. Kita perlu menjaga harta milik ini sebaik-baiknya. Caranya adalah menjaga iman kita dan setia merenungkan firman-Nya. Kekudusan hidup juga harus dijaga. Bila diperlukan, kita juga mendahulukan Kerajaan Surga dibanding mempertahankan harta duniawi yang kita miliki. --HEM/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Yesaya 5-8
Nas: Kami katakan ini karena kami dengar bahwa ada orang di antara kamu yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. (2 Tesalonika 3:11)
Tak Kerja? Jangan Makan!
Bekerja adalah salah satu tanggung jawab yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa. Dengan bekerja, seseorang memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya serta orang-orang yang dikasihinya. Bekerja juga memiliki beberapa fungsi lain, misalnya: menambah pengalaman, mengembangkan kemampuan, membangun jaringan pertemanan, sebagai wadah aktualisasi diri, dan lain-lain.
Sayangnya, ada orang yang tidak suka bekerja alias bermalas-malasan. Mereka menjalani hidup yang tidak tertib serta justru sibuk mengurusi perkara orang lain. Hasilnya, mereka menjadi beban bagi orang lain. Bahkan, ternyata ada juga alasan yang terkesan rohani untuk tidak bekerja. Misalnya, karena percaya bahwa rezeki itu sudah diatur Tuhan maka kita pasif atau menunggu saja. Jemaat di Tesalonika bahkan sangat bersemangat menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya, sehingga mereka berpikir tidak perlu lagi bekerja karena semua harta dunia akan binasa pada akhirnya.
Dalam surat ini, Rasul Paulus menegaskan bahwa setiap orang percaya harus bekerja dengan giat. Paulus telah mengajarkan hal ini, serta meneladankannya kepada mereka. Ia dengan keras memperingatkan mereka bahwa "jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" (ay. 10). Selagi Tuhan memberi kita kemampuan, hidup kita harusnya produktif dan berguna. Janganlah kita menjadi beban bagi orang lain. Malahan kita dapat memberkati orang lain dengan membagikan apa yang kita hasilkan. Inilah salah satu contoh perbuatan baik yang dapat kita lakukan sebagai pengikut Kristus. --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Yesaya 9-12
Nas: Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus. (Bilangan 11:34, TB)
Kuburan Orang Rakus
Membaca kisah bagaimana Allah menghukum bangsa Israel, khususnya mereka yang memiliki nafsu rakus, pernah membuat saya berpikir, "Apakah kesalahan mereka begitu fatalnya, sehingga Allah harus berurusan dengan mereka dengan cara sekeras itu?" Namun, setelah membaca dengan cermat akan kisah ini, juga mengerti bahwa 10 homer setara daging seberat lebih dari dua ton, saya mencoba memahami mengapa Allah menindak mereka begitu keras di Kibrot-Taawa.
Kibrot-Taawa, lokasi ini rasanya tepat jika disebut kuburan para orang rakus, seperti disebutkan dengan jelas dalam Alkitab. Penamaan tempat itu terjadi setelah Allah memukul bangsa Israel dengan tulah sangat besar, yang melenyapkan para orang rakus itu. Sebelumnya, mereka mengumpulkan daging puyuh selama dua hari satu malam, lalu menyebarkannya ke sekeliling perkemahan sambil menikmati daging itu (ay. 32-33). Hukuman Allah pun datang selagi daging masih ada di mulut mereka, menandakan kesabaran Allah sudah habis melihat perbuatan mereka yang dianggap-Nya jahat.
Sebenarnya kebiasaan makan di luar kontrol, yang kerap disamakan dengan "rakus" dalam kehidupan keseharian kita, memang tak bisa disepelekan. Sering kali orang yang rakus berfokus pada kepuasan diri sendiri, enggan memedulikan orang lain, bahkan terkesan melupakan fakta medis bahwa takaran perut manusia itu ada batasnya. Nafsu rakus jika dikaitkan dengan materi atau jabatan, juga tak kalah membahayakan, yang sedapat mungkin perlu kita hindari sebelum menjadi jerat dan merusak hidup kita. --GHJ/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Yesaya 13-17
Nas: Jadi, nyatalah bahwa Tuhan tahu bagaimana menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman. (2 Petrus 2:9)
Seorang Diri
Berada di lingkungan yang saling mendukung tentu sangat menyenangkan. Pikiran tenang, kehidupan terasa nyaman. Namun, apa jadinya jika prinsip kebenaran Tuhan yang kita hidupi ternyata ditolak oleh orang-orang sekitar kita? Berjuang mempertahankan kebenaran di lingkungan yang gemar bertutur tak sopan, bahkan berani nekat berlaku jahat tentu membuat jiwa yang benar merasa tersiksa.
Begitulah yang dialami Nuh! Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela (lih. Kej. 6:9). Sementara orang-orang sezamannya cenderung melakukan kejahatan. Namun, Nuh bertahan meski sendiri. Begitu pun Lot! Ia menjalani hidup dalam kebenaran menurut kehendak Allah. Namun, ia harus terus-menerus menderita karena tinggal di lingkungan orang yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka. Nuh dan Lot sama-sama harus berjuang seorang diri, demi ketaatan mereka kepada Tuhan. Meski demikian, perjuangan Nuh dan Lot mendapat balasan dari Tuhan. Mereka beroleh keselamatan, saat semua orang dibinasakan.
Dari kisah Nuh dan Lot jelaslah bagi kita bahwa kasih karunia Allah pasti menyelamatkan orang saleh dari pencobaan yang harus dihadapinya. Namun, malanglah orang yang menolak panggilan Tuhan karena mereka tak terelakkan dari kematian. Tak perlu menunggu kehidupan di langit dan bumi yang baru, perkenanan Tuhan atas umat yang setia menjadikan hidup kita di dunia ini pun berlimpah berkat. Tidak melulu berkat materi, melainkan kepuasan sejati, kedamaian hati yang sanggup menumbuhkan rasa syukur tiada henti. Karena itu, bertahanlah dalam kekudusan, sekalipun kita hanya seorang diri. --EBL/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Yesaya 18-22
Nas: Lalu Daud berkata kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya, "Apa yang akan dilakukan kepada orang yang membunuh orang Filistin itu dan menyingkirkan penghinaan dari Israel? Siapa orang Filistin yang tak bersunat itu, sehingga ia menghina pasukan Allah (1 Samuel 17:26)
Mengandalkan Tuhan
Pasukan Israel di bawah pimpinan Raja Saul sedang dilanda ketakutan. Pada sisi lembah di seberang mereka, Goliat yang berperawakan raksasa melontarkan ancaman setiap pagi dan petang selama 40 hari (ay. 16). Mereka terintimidasi dengan tubuhnya yang tinggi besar. Senjatanya yang lengkap. Kemampuan perangnya yang terlatih. Suaranya yang lantang menggelegar. Ancamannya yang mengerikan serta penuh penghinaan. Para prajurit Israel yang terlatih pun ciut dibuatnya. Goliat sedang menanti satu orang penantang dari Israel. Siapa yang kalah maka ia dan bangsanya menjadi budak sang pemenang.
Ketika Daud mendengar ancaman itu, ia menunjukkan tanggapan berbeda. Bukannya gentar, ia justru heran, sekaligus marah. Goliat tidak menakutkan baginya. Ia justru mengidentifikasinya sebagai orang "yang tak bersunat", yaitu orang yang tidak memiliki tanda perjanjian dengan Allah. Lancang sekali ia menantang Allah serta menghina umat-Nya. Daud tidak terpengaruh dengan segala pamer kekuatan yang dilakukan Goliat. Ia menujukan pandangannya pada Allah Yang Maha Kuasa, yang memegang perjanjian dengan umat-Nya, yang juga telah membuktikan penyertaan-Nya dalam kehidupan Daud sendiri. Daud pun bertindak. Melalui keahliannya yang sederhana, ia membinasakan Goliat dan mengalahkan pasukan Filistin.
Saat berhadapan dengan monster dan raksasa persoalan, janganlah kita terpaku pada masalah lalu diliputi ketakutan dan keputusasaan. Sebaliknya, mari berfokus pada Tuhan dan kuasa-Nya. Andalkanlah Dia. Maka kita akan mampu mengatasinya. Dialah yang memampukan kita menjadi pemenang atas berbagai persoalan. --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Yesaya 23-27
Nas: "Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: Kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah gentar dan kecut hatimu, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi." (Yosua 1:9)
Memimpin dengan Keberanian
Menjadi pemimpin kristiani adalah sebuah panggilan. Kalau Tuhan memberi kepercayaan, kita baru bisa menjalankan kepemimpinan dengan keteguhan hati. Kalau bukan Tuhan yang memanggil, kita berpotensi memimpin dengan hati galau dan tidak memiliki kemantapan hati. Mengambil keputusan yang salah dapat terjadi pada siapa saja. Namun, kalau Tuhan menyertai, hikmat Tuhan juga akan menyertai. Asal kita peka akan kehendak-Nya. Selain itu, kita juga perlu menjalankan kekuasaan dengan adil dan tulus.
Selain takut dan hormat kepada Tuhan, juga kasih kepada sesama, pemimpin hendaknya memiliki keberanian. Pemimpin pasti menghadapi berbagai tantangan, baik dari sesama rekan dan anggota, maupun dari serangan orang-orang luar. Itulah yang Yosua sadari ketika dia menerima tongkat estafet kepemimpinan dari Musa kepadanya. Karena itu, Yosua berkali-kali mendapat firman yang berulang dari Tuhan. Yosua harus menguatkan dan meneguhkan hati ketika menjalankan panggilan ini. Tentu Yosua merasa rendah diri. Dibanding Musa yang Tuhan sertai dengan berbagai mukjizat yang spektakuler, Yosua bukanlah siapa-siapa. Dia hanya seorang sesepuh yang Tuhan izinkan untuk memasuki tanah Kanaan bersama Kaleb.
Jika saat ini Anda dipercaya untuk memimpin, bertautlah kepada Tuhan. Anda perlu menguatkan dan meneguhkan hati menghadapi segala tantangan. Pengambilan setiap keputusan juga ada risikonya. Kiranya Tuhan mengaruniakan hikmat dan kebijaksanaan kepada Anda untuk melaksanakan kehendak-Nya di atas bumi ini. --HEM/www.renunganharian.net
* * *
MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar