RENUNGAN HARIAN
Nas: Daniel bertekad untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja. Ia pun meminta kepada pemimpin pegawai istana agar diizinkan untuk tidak menajiskan dirinya. (Daniel 1:8)
Komitmen kepada Allah
Komitmen kepada Allah bukan hanya soal kata-kata, tapi tindakan nyata. Ia diuji ketika tidak ada yang melihat, ketika tekanan datang, dan ketika keputusan kita membawa konsekuensi. Namun, Allah setia menopang mereka yang setia kepada-Nya.
Di usia muda, Daniel bersama teman-temannya dibawa ke istana Babel untuk dididik sesuai budaya asing dan dijauhkan dari akar iman mereka. Mereka dibawa ke sana karena Kerajaan Yehuda dikalahkan oleh Nebukadnezar, raja Babel. Namun, di tengah kemewahan istana dan tekanan untuk menyesuaikan diri, Daniel mengambil keputusan penting: ia berketetapan dalam hatinya untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja. Ini bukan sekadar tentang makanan, tetapi soal hati yang tidak ingin menyerah kepada sistem dunia yang bertentangan dengan Allah. Komitmen Daniel adalah cermin dari integritas seorang anak Tuhan yang tidak mudah terbawa arus. Ia tidak menunggu situasi ideal untuk taat. Ia tidak beralasan karena masih muda atau karena jauh dari rumah. Ia memilih untuk setia di tengah tantangan, bahkan jika itu berarti risiko kehilangan kenyamanan atau nyawanya. Komitmen seperti ini tidak muncul tiba-tiba, tetapi lahir dari hati yang sudah lebih dahulu mengenal dan mengasihi Allah.
Kita pun hidup di zaman di mana nilai-nilai iman sering dikaburkan oleh tawaran dunia. Godaan untuk kompromi datang lewat hiburan, relasi, pekerjaan, dan bahkan cita-cita pribadi. Namun, seperti Daniel, kita dipanggil untuk berketetapan hati membuat keputusan setiap hari untuk tetap hidup kudus dan berkenan di hadapan Allah. --DSK/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Ulangan 11-13
Nas: Sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit." (Markus 9:31)
Relasi di dalam Kasih
Manusia adalah makhluk sosial, yang berarti bahwa manusia selalu membutuhkan relasi dengan sesamanya. Meski begitu, tidak semua manusia membangun relasi berdasarkan hubungan yang seimbang. Ada relasi yang dibangun atas dasar hierarki, superioritas, atau bahkan hal untung dan rugi, yang menjadi tujuan dari sebuah relasi. Relasi demikian tentu hanya akan memunculkan konflik, di mana muncul rasa ingin saling mengalahkan.
Ada dua hal yang Yesus tunjukkan dari pesan penderitaan yang akan dijalani-Nya. Pertama, Yesus menunjukkan bagaimana manusia justru menyukai konflik daripada kedamaian. Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dibunuh. Yesus menunjukkan adanya penolakan manusia atas kehadiran-Nya, yakni mereka yang merasa rugi atas kehadiran-Nya. Kedua, sekalipun manusia dapat menolak pribadi Anak Manusia, tetapi manusia tidak dapat menolak kuasa karya Allah melalui hadirnya Anak Manusia itu. Dengan mengatakan mengenai kebangkitan-Nya, Yesus menunjukkan bahwa karya Allah tidak menyerah atas luka, tidak melihat untung dan rugi dari relasi dengan manusia, melainkan tetap merengkuh dan memberikan keselamatan sebagai wujud nyata kasih bagi kehidupan.
Yesus menunjukkan bahwa relasi dalam kehidupan sejatinya untuk saling menguatkan, membangun, mendorong, dan menolong. Maka dalam menjalin sebuah relasi, marilah kita tidak menjadi seorang toksik bagi sesama, melainkan penuh kasih yang menyalurkan berkat Tuhan dan membangun kehidupan. --ZDP/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: LUKAS 15:11-32
Bacaan Setahun: Ulangan 14-16
Nas: Anak sulung itu marah dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuk dia. (Lukas 15:28)
Amarah Si Sulung
Sang adik berlaku durhaka. Ia menuntut hak warisnya saat sang bapa masih hidup, sama saja ia menginginkan kematian bapanya. Lalu ia pergi berfoya-foya dan menjalani hidup yang cemar. Setelah bangkrut, ia kembali. Berharap diterima bekerja sebagai pelayan. Namun, sang bapa malah menyambutnya dengan pesta sukacita dan memulihkan statusnya sebagai anak yang terkasih. Si sulung protes keras. Ia menolak ikut berpesta. Baginya, adiknya itu pantas ditolak serta dibiarkan melarat.
Protes si sulung sepertinya masuk akal. Karena sang adik sudah menerima hak warisnya maka ia tak lagi punya hak di rumah itu. Selama ini, dialah yang bekerja keras mengurus dan bertanggung jawab atas usaha bapanya. Semua harta yang tersisa adalah bagian warisannya. Ia pun marah terhadap kebaikan ayahnya. Baginya, tindakan bapanya adalah kebodohan, serta memalukan. Ia pun tetap bergeming sekalipun sang bapa membujuknya.
Amarah si sulung menunjukkan betapa ia tidak mengenal ayahnya. Tak mengerti kerinduan dan isi hatinya. Hatinya juga jauh dari bapanya. Ia merasa diri benar karena hidup menaati bapanya. Namun, ketaatan itu ia lakukan karena terpaksa. Sebagai kewajiban. Bukan lahir dari hati yang mengasihi sang bapa atau tanda hormat kepadanya. Parahnya, anak sulung itu ternyata adalah saya dan semua orang yang sering merasa diri benar sehingga merasa berhak menolak kehadiran para pendosa. Sang Bapa, yang adalah Allah sendiri, menghendaki agar saya juga mengalami kasih dan kebaikan-Nya, serta rela berbagi kasih dan sukacita itu dengan anak-anak-Nya yang lain. Sukacita-Nya seharusnya menjadi sukacita kita juga. --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: ROMA 11:11-24
Bacaan Setahun: Ulangan 17-20
Nas: Jadi, apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan engkau sebagai tunas liar telah dicangkokkan sebagai gantinya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah, .... (Roma 11:17)
Cabang yang Dicangkokkan
Di zaman Palestina kuno, pohon zaitun merupakan simbol kehidupan yang sangat berharga. Pohon ini bisa hidup ratusan tahun. Akarnya menjalar kuat menembus tanah berbatu. Minyak yang dihasilkannya dipakai untuk makanan, penerangan, bahkan pengurapan kudus.
Paulus memakai gambaran pohon zaitun tersebut untuk menjelaskan relasi yang unik antara umat Israel dan bangsa-bangsa lain. Ada cabang yang patah, ada cabang liar yang dicangkokkan. Namun, keduanya tetap bergantung pada satu sumber: akar pohon yang penuh getah, yaitu Allah sendiri (ay. 17).
Itu mengingatkan bahwa hidup umat beriman tidak pernah berdiri sendiri. Boleh jadi kita merasa kuat, pintar, atau berhasil. Namun, sesungguhnya kita hanyalah "cabang" yang bisa hidup karena bersatu dengan akar. Karena itu, Paulus menegur jemaat Roma agar tidak sombong-sebab cabang bukan yang menanggung akar, melainkan akar yang menanggung cabang (ay. 18). Ini adalah teguran bagi siapa pun yang merasa lebih rohani, lebih layak, atau lebih penting daripada orang lain. Sesungguhnya, kita semua adalah penerima kasih karunia, yang dicangkokkan ke dalam Pohon Kehidupan (Allah).
Sering kali kita lupa bahwa segala sesuatu bersumber dari kasih setia Tuhan. Kita mudah berbangga atas prestasi, kedudukan, atau pelayanan yang berhasil. Lalu, kita menganggap orang lain kurang penting. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk belajar rendah hati. Sebab, kita dipanggil bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk hidup saling menopang. Sehingga kita semua menjadi cabang yang menghasilkan buah: kasih, sukacita, serta damai sejahtera. --SAP/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: YOHANES 7:53-8:11
Bacaan Setahun: Ulangan 21-23
Nas: Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Namun, Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. (Yohanes 8:6)
Sengaja Dicari Kesalahannya
Dengan dalih memikirkan omzet perusahaan yang tidak menutup biaya operasional, seorang rekan kerja menyalahkan kinerja Doni, seorang staf pemasaran. Doni mengakui, memang omzet penjualannya menurun. Doni berusaha meningkatkan omzet dengan menambah pelanggan baru. Setelah meningkat, rekannya mencari-cari lagi kesalahannya. Katanya, percuma banyak pelanggan, kalau setiap orderan transaksinya kecil. Doni kembali berusaha, dan berhasil mendapatkan beberapa pembeli yang sekali order transaksinya besar.
Seseorang bisa tidak suka kepada kita, mencari-cari kesalahan kita dan pasti ketemu. Kita mungkin menjadi marah dan ingin membalas, tetapi mari meneladani Yesus. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi benci kepada Yesus karena menganggap Dia musuh. Mereka membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zina dan meminta pendapat-Nya (ay. 4-5). Mereka tidak tertarik kepada kebenaran, tetapi pada pembenaran diri. Di mata mereka, wanita malang ini bukan manusia, melainkan sebuah perangkap untuk menjebak Yesus (ay. 6). Mereka tidak tertarik pada keadilan atau belas kasih, tetapi memojokkan Yesus.
Suatu ketika kita bisa berhadapan dengan orang yang tidak suka atau benci pada kita, lalu menyerang, salah satu bentuknya adalah mencari-cari kesalahan kita. Respons kita sebaiknya tetap tenang, memperbaiki diri, dan tidak perlu dendam. Mari kita bertumbuh makin baik. Jangan menjadi orang yang hanya memikirkan kesalahan orang lain tapi tidak memikirkan kesalahannya sendiri. --RTG/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: MARKUS 4:35-41
Bacaan Setahun: Ulangan 24-27
Nas: Pada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka, "Marilah kita bertolak ke seberang." (Markus 4:35)
Bertolak ke Seberang
Apakah yang Anda harapkan dari menjadi pengikut Yesus? Apakah untuk mendapat hidup yang damai, tenang, mudah? Jika demikian, mungkin kita telah salah dalam menempatkan harapan. Sebab, sesungguhnya Yesus mengajak kita untuk bertolak ke seberang.
Yesus mengajak para murid untuk bertolak ke seberang danau. Namun, perjalanan mengikut Yesus itu justru membawa mereka pada situasi hidup dan mati karena terpaan badai. Kondisi tersebut membuat mereka panik dan kembali mengandalkan diri mereka sendiri. Sekalipun sebagian dari mereka dahulunya adalah nelayan yang semestinya telah banyak mengalami badai serupa, tetapi semakin mereka mengandalkan kekuatan mereka, justru mereka semakin tidak berdaya. Dalam kekalutan, akhirnya mereka menggugat Yesus.
Setelah Yesus meneduhkan badai tersebut, Ia berkata kepada mereka, "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" Ya, inilah arti sesungguhnya dari ajakannya untuk bertolak ke seberang. Ia mengajak mereka untuk menyeberangi lautan kemanusiawian mereka yang terbatas, untuk menyandarkan hidup pada iman kepada-Nya. Iman menjawab dan meneduhkan segala perkara, sebab Yesus selalu berdiri untuk meredakan badai bagi mereka.
Hidup manusia tidak bisa lepas dari pergumulan. Dalam segala pergumulan itu, janganlah kita tenggelam dalam kemanusiawian kita. Bersandarlah kepada Yesus, sebab Dia selalu berdiri di depan kita untuk meredakan setiap badai dan memberi keteduhan dalam hidup. --ZDP/www.renunganharian.net
* * *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar