RENUNGAN HARIAN
Bacaan Setahun: Yosua 19-21
Nas: Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk. Jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama dia, dan ia bersama Aku. (Wahyu 3:20)
Membuka Hati
Jemaat Laodikia berlimpah secara materi. Karena itu mereka merasa nyaman dan aman. Mereka berpuas diri secara rohani. Malangnya, Tuhan justru menganggap mereka suam-suam kuku. Tidak berapi-api dalam iman dan tidak menyadari kebutuhan akan Tuhan. Mereka melarat, malang, miskin, buta dan telanjang (ay. 17). Karena itu, Tuhan menasihatkan mereka untuk "membeli emas yang telah dimurnikan dalam api", yakni kekayaan rohani yang sejati dari Tuhan, "pakaian putih", yakni hidup yang benar di hadapan Allah, dan "minyak pelumas mata", yakni kepekaan rohani untuk melihat kebenaran.
Yesus menggambarkan diri sebagai seorang yang mengetuk pintu, menanti sang pemilik rumah membukanya. Yesus menunggu untuk dapat masuk ke dalam hati jemaat, untuk menegur mereka supaya membuka hati dan bertobat. Hal ini menggambarkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas sehingga Yesus tidak memaksa masuk. Barulah ketika mereka mau membuka hati untuk-Nya, saat itulah hubungan kasih yang akrab secara pribadi terjalin.
Tuhan senantiasa mengetuk pintu hati kita melalui firman, doa, teguran, juga krisis dalam hidup. Namun, pilihan ada di tangan kita, untuk membuka hati atau menolak-Nya. Ingatlah, membuka hati kepada Tuhan memungkinkan kita menerima hidup yang sejati. Hidup damai, bermakna, dan memiliki tujuan. Kesembuhan dan pemulihan. Juga menghasilkan buah dalam kehidupan. Dan kesemuanya itu hanya akan terjadi ketika kita bersekutu dengan-Nya dalam ketaatan iman. Dan iman berawal dari pertobatan karena ada hati yang terbuka bagi Tuhan. --EBL/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Yosua 22-24
Nas: Kembalilah, hai Israel, kepada Tuhan, Allahmu, sebab engkau telah tersandung karena kesalahanmu. (Hosea 14:1)
Tersedia Jalan Pulang
Pada zaman Hosea, bangsa Israel hidup dalam suasana keseharian yang kian jauh meninggalkan Allah. Mereka mengumbar kesenangan, mencari kekuatan pada bangsa asing, dan menyembah berhala. Kota-kota mereka dihiasi dengan kuil-kuil kafir yang serba megah. Mereka benar-benar mengabaikan keberadaan Allah, yang telah membawa mereka keluar dari perbudakan. Namun, di tengah pengkhianatan itu, suara nabi terdengar jelas: masih ada jalan untuk kembali kepada Allah.
Firman Tuhan melalui Hosea mengungkapkan sebuah harapan dan kesempatan. Allah tidak menutup pintu bagi umat yang berdosa. Sebaliknya, Ia mengundang, "Kembalilah, hai Israel" (ay. 2). Ini bukan sekadar ajakan, melainkan juga janji bahwa Allah hendak menyembuhkan, mengampuni, dan memulihkan mereka. Jalan pulang tersedia. Bukan lewat ritual dan daya upaya lahiriah, melainkan melalui pengakuan hati.
Bacaan Alkitab hari ini menegaskan bahwa yang Allah kehendaki bukanlah korban bakaran, melainkan pengakuan bibir yang jujur (ay. 3). Kata-kata penyesalan yang tulus di hadapan Tuhan, lebih berharga daripada persembahan terbesar sekalipun. Inilah inti pertobatan, kembali dengan hati yang hancur dan mulut yang bersedia mengakui dosa di hadapan Tuhan.
Bagi kita, pesan Hosea sedemikian relevan. Seberapa jauh pun kita telah meninggalkan Tuhan, jalan pulang tetap terbuka. Allah selalu setia menunggu. Ia menanti kesediaan kita untuk datang kepada-Nya dengan membawa kejujuran dan pengakuan. Saat kita bersedia bergegas melangkah untuk pulang, Ia telah siap menyambut dengan senyuman dan pelukan kasih-Nya. --SAP/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Hakim-hakim 1-2
Nas: Bertumbuhlah dalam anugerah dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya. (2 Petrus 3:18)
Bertumbuh Mengenal Kristus
Jika kita menjalin relasi yang benar dengan seseorang maka semakin lama waktu kita mengenalnya, semakin banyak pula hal yang kita ketahui tentangnya. Semakin banyak waktu yang kita habiskan bersamanya, kita pasti akan semakin mengenal karakter, tabiat, kesukaan, hobi, serta kebiasaannya. Kita pun akan semakin memahami apa yang tidak ia sukai serta tidak menyenangkan hatinya.
Kepada orang-orang Kristen mula-mula yang menghadapi berbagai tantangan iman, termasuk penganiayaan dan pengajaran sesat, Rasul Petrus mengirim surat untuk meneguhkan serta mengingatkan mereka agar bersikap waspada, sehingga tidak terseret kepada penyesatan, melainkan berpegang teguh di dalam iman. Namun, bukan berarti mereka hanya bersikap pasif atau bertahan. Namun, juga harus bersikap aktif, yaitu mengalami pertumbuhan rohani. Mereka harus bertumbuh dalam anugerah dan dalam pengenalan akan Tuhan Yesus.
Bertumbuh berarti mengalami pertambahan atau peningkatan dari posisi sebelumnya. Semakin menghayati betapa besar anugerah Kristus yang menyelamatkan mereka. Semakin mengerti isi hati-Nya, serta semakin mencerminkan perilaku yang seturut dengan firman-Nya. Hal ini harusnya tecermin dari bagaimana mereka menjalani hidup setiap hari dalam berelasi dengan orang lain, misalnya semakin terlatih bersyukur, semakin giat melayani sesama, semakin sabar menghadapi orang-orang yang sulit, atau semakin mudah mengampuni. Dan ini berlaku juga buat kita, serta bagi semua pengikut Kristus. Semakin lama menjadi pengikut Kristus, hidup kita seharusnya semakin bergaung dan kesaksian kita semakin kuat untuk memuliakan nama-Nya. --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Hakim-hakim 3-5
Nas: Lalu berkatalah Yesus kepadanya, "Enyahlah, Iblis! Sebab, ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau beribadah!" (Matius 4:10)
Kebenaran atau Pembenaran
Ketika mencobai Yesus, Iblis mengutip sebuah ayat yang tertulis dalam Mazmur 91:11-12, "Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk pada batu" (ay. 6). Lihatlah! Bahkan Iblis pun tahu Alkitab. Iblis mengambil ayat dengan benar.
Meski demikian, Yesus menolak perintah Iblis, pun dengan mengutip sebuah ayat yang lain (ay. 7), yang tertulis dalam Ulangan 6:16. Yesus tidak tergoda dengan pembenaran rohani yang dilakukan Iblis. Sebab, sekalipun Iblis mengambil ayat yang benar, ia mencabut konteks dan tujuan asli ayat tersebut. Sekalipun Mazmur 91 berbicara tentang perlindungan Tuhan, tujuannya bukan untuk membenarkan tindakan nekat yang mencobai Tuhan. Sebaliknya, dengan ayat yang dikutip-Nya, Yesus menunjukkan bahwa firman harus dipahami secara utuh, bukan sepotong-sepotong. Hanya dengan mengutip satu ayat tentu tidak dapat dipakai untuk membenarkan tindakan yang bertentangan dengan prinsip kebenaran Tuhan.
Setiap ayat yang tertulis di dalam Alkitab adalah kebenaran dari Tuhan yang saling terkait satu dengan yang lain. Karena itu, ayat Alkitab harus dipahami secara utuh dan kontekstual. Dengan demikian, tujuan dari membaca Alkitab semestinya adalah mengetahui kebenaran. Sehingga kita terbuka untuk diubahkan jika nyata-nyata keyakinan awal kita bertentangan dengannya. Jangan sampai kebenaran Alkitab diputarbalikkan demi mencari pembenaran untuk mendukung setiap pandangan, keyakinan, bahkan niat jahat kita. --EBL/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Hakim-hakim 6-7
Nas: Akan tetapi, sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami! Kami ini tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu. (Yesaya 64:8)
Melewati Proses
Seorang perajin tembikar menceritakan sulitnya proses pembuatan setiap tembikar. Tanah liat harus dipilih, dibersihkan dari batu dan kotoran, kemudian dibasahi, ditekan, diputar, dibentuk, dibakar dalam api dua kali, lalu diberi lapisan glasir. Seorang pemuda bertanya, "Mengapa bejana ini harus dibakar dua kali?" Perajin itu menjelaskan, "Kalau hanya dibakar sekali, bentuknya belum kuat. Namun, setelah dua kali dibakar, barulah ia tahan lama dan berguna. Proses inilah yang membuatnya berharga."
Dari firman Tuhan, kita membaca tentang umat Israel yang menyadari posisi mereka di hadapan Tuhan. Sebuah pengakuan bahwa mereka hanyalah tanah liat, dan Tuhan adalah Sang Penjunan (pembentuk bejana). Sebuah bentuk ketergantungan dan penyerahan penuh kepada kehendak Tuhan. Tanah liat tidak bisa membentuk dirinya sendiri. Ia harus rela dibentuk, diolah, dan melalui proses yang kadang menyakitkan. Namun, hasilnya adalah karya tangan Tuhan yang unik, bernilai, dan sesuai dengan tujuan-Nya.
Tuhan tidak membentuk karakter kita dalam sekejap, tetapi melalui waktu, tekanan, dan ujian iman. Ketika kita berserah, Tuhan memakai semua pengalaman itu untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat, dan semakin serupa dengan-Nya. Mungkin saat ini kita sedang berada dalam "tungku pembakaran" yang membuat kita merasa panas, tidak nyaman, dan ingin menyerah. Namun, Sang Penjunan berkata bahwa proses ini akan membawa hasil kekal jika kita bertahan dan tetap memercayai-Nya. --SYS/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Hakim-hakim 8-9
Nas: Tanpa mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri. (Filipi 2:3)
Fokus Kepentingan Bersama
Sejak semakin intens menggunakan kereta api sebagai moda transportasi harian untuk bekerja, saya mencermati adanya perlakuan khusus dari PT KAI kepada setidaknya empat golongan penumpang, antara lain para lansia, ibu yang membawa anak kecil, wanita hamil, dan penyandang disabilitas. Melalui kebijakan itu, saya melihat adanya pengajaran penting mengenai hidup yang tidak egois, dengan mengedepankan kepentingan orang lain melebihi kepentingan pribadi.
Menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi hendaknya menjadi perhatian dari umat Allah, tak hanya menjadi jargon atau sekadar teori tanpa tindakan nyata. Paulus dan para rasul lain pun meneladankan hal ini, supaya jemaat Tuhan bisa mengerti bahwa ajaran untuk hidup tidak mementingkan diri sendiri berlaku bagi semua orang. Ajaran ini terasa semakin relevan jika kita mengingat kondisi saat ini, di mana manusia cenderung semakin berpusat pada diri sendiri, bahkan bila perlu mengorbankan orang lain asalkan menguntungkan diri sendiri.
Kunci dari pengajaran firman Allah hari ini adalah kerendahhatian. Orang yang tinggi hati cenderung sukar melihat bahwa terkadang dalam hidup ini ada kepentingan orang lain yang juga perlu mendapat perhatian, tak hanya berbicara soal pemenuhan kepentingan pribadi. Sebaliknya, orang yang rendah hati akan cenderung mampu memahami nasihat firman Allah hari ini karena menyadari bahwa keberadaan dirinya tak lepas dari campur tangan Allah, juga peran orang lain yang ada di sekitarnya. Mana yang kita pilih? --GHJ/www.renunganharian.net
* * *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar