RENUNGAN HARIAN
RENUNGAN SENIN
Bacaan: LUKAS 22:1-6
Bacaan Setahun: Ulangan 30-31
Nas: Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan, bagaimana mereka dapat membunuh Yesus, sebab mereka takut kepada orang banyak. (Lukas 22:2)
Takut Pandangan Orang
Istilah "permufakatan jahat" mengemuka ketika banyak kasus aneh dialami oleh orang-orang yang tak bersalah, didakwa, dan dipenjarakan. Permufakatan semacam itu terjadi di antara orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka berniat memperkarakan Yesus demi mempertahankan pengaruh mereka sebagai pemuka agama yang dihormati. Namun, karena takut pada reaksi orang banyak, mereka mencari cara untuk menghindari pandangan negatif masyarakat. Momentum pun datang melalui Yudas Iskariot yang menyatakan bersedia menyerahkan Yesus.
Mungkin mereka tidak menyadari bahwa mereka telah menentang Allah. Dengan cara-cara licik, melalui fitnah keji dan dengan menggunakan uang kepada Yudas serta ancaman terhadap Pilatus. Pilatus pun akhirnya menyerah karena takut pandangan orang. Sebab, hal ini dapat berdampak pada kedudukannya. Padahal, Pilatus juga telah diperingatkan oleh Tuhan melalui mimpi istrinya (Mat. 27:19). Jika Pilatus takut kepada orang Farisi, orang Farisi takut kepada pandangan orang banyak. Rasa takut mereka kepada manusia melampaui takut kepada Allah.
Ketika kita berhadapan dengan situasi untuk mempertahankan kebenaran, kita juga cenderung mengalah demi menyenangkan orang. Di titik inilah, kesetiaan kita kepada Tuhan diuji. Dapatkah kita berucap seperti Rasul Petrus, "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah" (Kis. 4:19). Ucapan Petrus ini terjadi ketika Petrus dan Yohanes diancam untuk tidak lagi memberitakan kebangkitan Kristus. --HEM/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN SELASA
Bacaan: 1 KORINTUS 10:1-13
Bacaan Setahun: Ulangan 32-34
Nas: Allah itu setia dan tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. (1 Korintus 10:13)
Mari Merendahkan Ego
Siapakah yang kita jadikan tuan dalam hati kita? Pertanyaan ini patut kita renungkan dalam hidup sebagai orang percaya. Karena sekalipun kita mengaku bahwa Yesus adalah Tuan dalam hati, tetapi pengakuan tersebut seakan menguap ketika pergumulan datang.
Paulus mengingatkan jemaat Korintus tentang bagaimana nenek moyang mereka dahulu menjalani hidup sebagai umat Allah. Walaupun mereka menjadikan Allah sebagai Tuan dalam hati, tetapi sikap mereka kerap menunjukkan hal yang sebaliknya. Mereka kerap meninggalkan Allah karena sibuk dengan keinginan sendiri. Contohnya, ketika mereka ingin "allah" yang kelihatan, mereka membuat patung lembu emas. Ketika tidak puas dengan makanan yang Allah berikan, mereka bersungut-sungut. Kenyataannya, sumber pergumulan mereka adalah keinginan-keinginan mereka sendiri yang tidak terpuaskan. Memang, perjalanan di padang gurun merupakan pergumulan tersendiri. Namun, pergumulan itu adalah pergumulan biasa yang sesungguhnya bertujuan untuk memperteguh iman, sebab dalam pergumulan itu Allah pasti menolong dan memberikan jalan keluar.
Disadari atau tidak, sering kali ego kitalah yang menjadi tuan atas hati kita. Kita merasa tidak puas atas hidup kita sehingga memaksakan berbagai keinginan yang justru mendatangkan pergumulan. Maka, marilah kita merendahkan hati, menjadikan Yesus sebagai Tuan atas hati kita dan memercayakan hidup kita kepada-Nya. Sebab, sekalipun hidup tidak lepas dari pergumulan, tetapi Yesus menyertai hidup kita sehingga kita dapat melewati setiap pergumulan. --ZDP/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN RABU
Bacaan: ULANGAN 8:11-14
Bacaan Setahun: Yosua 1-4
Nas: Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan Tuhan, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini. (Ulangan 8:11)
Jangan Melupakan Tuhan!
Kesuksesan adalah berkat, tetapi juga ujian. Banyak orang berseru kepada Tuhan di masa sulit, tetapi lupa bersyukur dan berpegang kepada-Nya saat hidup mulai nyaman. Ulangan 8 menasihati bangsa Israel agar tidak melupakan Tuhan setelah mereka masuk Tanah Perjanjian, menikmati kelimpahan, dan berhasil.
Tuhan tahu hati manusia mudah terpikat pada kenyamanan. Saat segala sesuatu berjalan lancar-pekerjaan stabil, keluarga damai, keuangan cukup-ada godaan besar untuk merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan. Kita bisa jadi terlalu sibuk menikmati hasil, sampai lupa pada Sang Pemberi berkat. Kemakmuran bisa membuat manusia merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan. Padahal, justru dalam masa keberhasilan kita harus semakin melekat kepada Tuhan. Bukan hanya karena berkat-Nya yang kita nikmati, tetapi karena Dialah sumber kehidupan. Tanpa Tuhan, semua keberhasilan akan kosong dan rapuh. Kita diingatkan agar dalam masa keberhasilan atau kelimpahan, kita tetap bersyukur, rendah hati, dan sadar bahwa semua berasal dari anugerah Tuhan, bukan semata-mata hasil jerih payah kita.
Ingatlah bahwa keberhasilan sejati bukan hanya pencapaian duniawi, tetapi hidup yang tetap setia dan taat pada Tuhan dalam segala musim. Berhasil dalam hidup, tetapi gagal mengandalkan Tuhan adalah kerugian terbesar. Mari kita belajar seperti Daud, yang berkata, "Sebab dari-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu" (1Taw. 29:14). Dalam setiap keberhasilan, mari tunduk dan bersyukur, sebab hanya oleh anugerah-Nya kita dapat berdiri. --DSK/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN KAMIS
Bacaan: GALATIA 1:1-5
Bacaan Setahun: Yosua 5-8
Nas: ... yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita. (Galatia 1:4)
Menghidupi Kebebasan Sejati
Di zaman Perjanjian Baru, Galatia dipengaruhi oleh beragam budaya dan ajaran. Jemaat di situ hidup dalam tarik-menarik antara Injil Kristus dan ajaran lain. Berbagai ajaran itu berusaha memikat mereka agar kembali pada hukum dan tradisi lama yang kaku. Situasi ini menimbulkan kebingungan jemaat.
Serupa itu pula zaman kita. Dipengaruhi oleh beragam pandangan, kini banyak orang merasa bingung tentang makna kebebasan sejati. Banyak yang memahaminya sebagai kesempatan untuk berbuat sesuka hati. Kebebasan dianggap identik dengan mengumbar keinginan. Padahal, itu justru mendatangkan belenggu baru berupa ketergantungan yang merusak diri.
Karena itu, Paulus menegaskan kepada jemaat Galatia (juga kita) bahwa kebebasan sejati hanya ada di dalam Kristus. Mengapa? Karena Ia telah menyerahkan diri-Nya untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa. Itulah inti Injil: bukan manusia yang membebaskan (menyelamatkan) dirinya, melainkan karya penebusan Kristus di salib. Karena itu, kebebasan sejati bukanlah izin untuk hidup semau gue. Melainkan, sebuah kesempatan untuk hidup dalam kasih dan kebenaran, selaras kehendak-Nya.
Kini, atas nama kebebasan, media digital tak henti menyodorkan aneka kenikmatan instan, popularitas, dan kebanggaan diri. Semuanya tampak menawan. Namun, sesungguhnya itu tidak membuat kita bebas. Justru sebaliknya, kita kian diperbudak oleh godaan dan hiruk pikuk dunia. Hanya Kristus yang sanggup memberikan kebebasan sejati. Sebab, Ia bukan hanya membebaskan kita dari rasa bersalah, tetapi juga dari kuasa dosa yang membelenggu. Mari kita menghidupi kebebasan sejati. --SAP/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN JUMAT
Bacaan: DANIEL 5
Bacaan Setahun: Yosua 9-11
Nas: Dalam keadaan mabuk anggur, Belsyazar menitahkan orang membawa peralatan emas dan perak yang telah diambil oleh Nebukadnezar, ayahnya, dari dalam Bait Suci di Yerusalem, supaya raja dan para pembesarnya, para istri dan para gundik mereka minum darinya. (Daniel 5:2)
Awas Mabuk!
Mabuk alkohol mengakibatkan berbagai dampak buruk. Kepala terasa pening, bertindak di luar kesadaran alias lupa diri, mengalami perubahan suasana hati, penurunan koordinasi hingga hilang ingatan, bahkan mengalami kerusakan otak. Berbagai tindakan yang berbahaya atau memalukan bisa terjadi di luar kendali saat seseorang mabuk.
Belsyazar merupakan keturunan Nebukadnezar, raja Babel, yang terkenal. Suatu kali, ia mengadakan perjamuan mewah untuk para pembesarnya. Dalam kemabukannya, ia memerintahkan agar semua peralatan emas dan perak yang dulu dirampas oleh leluhurnya dari Bait Allah di Yerusalem, dipergunakan dalam perjamuan itu sambil mengagungkan berhala-berhala mereka. Tindakan itu menunjukkan tidak adanya rasa hormat atau takutnya kepada Allah Israel, padahal ia sudah tahu kehebatan perbuatan Allah kepada leluhurnya (ay. 22). Lalu malam itu juga, Allah menjatuhkan penghakiman-Nya. Belsyazar dibunuh oleh pasukan musuh dan Kerajaan Babel pun berakhir dalam sejarah.
Menjaga pikiran untuk tetap waras tidaklah mudah. Banyak situasi pelik nan rumit yang bisa datang kapan saja dan menantang kita untuk tetap dapat berpikir jernih. Namun, membiarkan diri diperbudak oleh kemabukan atau oleh berbagai perilaku buruk lainnya sama saja memasukkan leher sendiri ke dalam jerat yang mematikan. Alih-alih dikendalikan oleh kemabukan akan sesuatu, hidup kita seharusnya dipimpin oleh Roh Allah. Kita menyerahkan diri dalam tuntunan firman-Nya, sehingga perkataan dan segala tindak tanduk kita akan mencerminkan hidup yang menunjukkan rasa hormat kepada Tuhan. --HT/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN SABTU
Bacaan: MAZMUR 69
Bacaan Setahun: Yosua 12-15
Nas: Sebab Tuhan mendengarkan orang miskin, dan tidak memandang hina orang-Nya yang tertawan. (Mazmur 69:33)
Kesalehan dan Penderitaan
Sekalipun hidup saleh, Daud mengalami tekanan dan kesulitan yang nyaris membuatnya putus asa. Penderitaannya bukan hanya secara fisik atau batin, melainkan juga secara sosial. Daud menghadapi banyak tantangan dari manusia. Banyak orang memusuhinya tanpa sebab yang jelas. Mungkin ada yang cemburu, menganggapnya sebagai ancaman, atau ada intrik politik.
Kesalehan tidak memberi jaminan bebas dari penderitaan, malah sering mengundang perlawanan. Ya, hidup benar bukan berarti hidup mudah. Kesalehan sejati justru sering diuji melalui tekanan dan penderitaan. Bahkan tantangan yang dihadapi Daud datangnya dari orang-orang terdekatnya. Ia ditolak oleh saudaranya sendiri, dihina oleh sesama bangsanya.
Daud sangat terluka, tetapi tidak menemukan penghiburan dari manusia. Karena itu, Daud berseru kepada Tuhan, memohon belas kasih-Nya. Daud menyerahkan pembalasan terhadap musuh-musuhnya kepada Tuhan. Daud juga berkomitmen tetap memuliakan Tuhan di tengah penderitaannya. Sebab, ia yakin bahwa Tuhan mendengar orang miskin dan tidak menolak orang yang mencari Dia. Buahnya, penderitaan Daud justru menjadi berkat yang menguatkan jutaan orang hingga kini (termasuk kita) melalui Mazmurnya.
Jika Tuhan mengizinkan penderitaan terjadi, tak perlu bertanya "mengapa". Bukankah Alkitab berulang kali menegaskan bahwa orang benar akan menghadapi kesulitan? Hal yang terpenting adalah senantiasa berpegang teguh kepada Tuhan dalam segala keadaan. Karena bagi orang percaya, penderitaan hanyalah jalan menuju kemuliaan. --EBL/www.renunganharian.net
* * *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar