RENUNGAN EDISI 22 FEBRUARI 2026 - JPA CHANNEL

JPA CHANNEL

JPA VISION 2026 " Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang "

MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

Breaking News


Cari Blog Ini

Sabtu, 21 Februari 2026

RENUNGAN EDISI 22 FEBRUARI 2026

 RENUNGAN HARIAN



RENUNGAN SENIN
Bacaan: EFESUS 4:25-32

Bacaan Setahun: Bilangan 11-13

Nas: Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, kegaduhan, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. (Efesus 4:31)


Buang, Bukan Pendam

Bayangkan, kita hidup di kota yang penuh keramaian, persaingan, dan tekanan emosi. Nah, seperti itulah lingkungan hidup jemaat Efesus di zaman Paulus. Mereka harus menghadapi tantangan ekonomi dan budaya, juga kehidupan rohani yang menyesatkan. Dalam situasi demikian, gejolak aneka emosi negatif rentan menyelinap dan mengemudikan hidup mereka. Maka, Paulus-melalui sapaan yang penuh kasih dan wawasan bijaksana-mengajak mereka (dan kita) untuk menapaki hidup secara berbeda.

"Buang ...!" Itulah ajakan Paulus dalam Efesus 4:31. Bukan sekadar "kurangi" atau "pendam", melainkan "buang". Ini seperti membuang dan membersihkan kotoran yang menempel di badan. Sebab, kepahitan, kegeraman, kemarahan, kegaduhan, dan fitnah jelas merusak relasi. Lantas, itu semua secara perlahan tapi pasti, akan menggerogoti jiwa kita-melalui luka batin yang belum sembuh atau rasa kecewa.

Karena itu, Paulus tak berhenti pada ajakan, "Buang!" Ia juga menawarkan tindak lanjut konkret, gantilah semuanya itu dengan keramahan, kasih, dan pengampunan (ay. 32). Ini bukan nasihat moral biasa, melainkan panggilan untuk hidup dalam kasih Kristus. Kita diundang untuk hidup penuh damai, bukan sebagai tawanan dari masa lalu, tetapi sebagai pribadi baru yang dipulihkan oleh kasih karunia Allah.

Maka, mari kita memeriksa diri, masih adakah gejolak aneka emosi negatif di ruang batin kita? Tuhan menghendaki agar kita membuangnya-sehingga merasa lega, mampu mengasihi sesama, dan hidup lebih damai. --SAP/www.renunganharian.net

* * *
KEPAHITAN ITU IBARAT KANKER. IA MENGGEROGOTI INANGNYA.
SEDANGKAN AMARAH ITU IBARAT API. IA MEMBAKAR HABIS SEMUANYA.-MAYA ANGELOU

* * *





RENUNGAN SELASA
Bacaan: MAZMUR 23

Bacaan Setahun: Bilangan 14-15

Nas: Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; .... (Mazmur 23:4)


Warna Kasih

Seorang anak kecil meminta kertas gambar kepada ibunya. Anak itu suka warna biru, maka segera sesudah menerima kertas gambar itu, ia menggoresi semua bagiannya dengan pensil warna biru. "Bagus kan, Bu?" katanya sambil menunjukkan hasil karyanya. Sang ibu tersenyum, lalu berkata, "Bagus, Nak."

Kehidupan manusia ibarat sehelai kertas gambar. Pihak yang berkreasi ialah Tuhan. Dia menggoresi semua bagiannya dengan warna kasih. Terlihat di situ bukan satu warna, melainkan beragam. Selain biru, ada juga merah, hijau, hitam, dan ungu. Maksudnya, Tuhan tidak hanya melimpahkan kesenangan, tetapi juga mengizinkan hadirnya pergumulan. Daud mengerti akan kenyataan ini. Maka, saat mendeskripsikan tentang Tuhan sebagai gembala, selain menyebutkan padang berumput hijau, ia menyebut juga lembah kekelaman (ay. 2a, 4a). Didapatinya air yang tenang, didapati juga para lawan (ay. 2b, 5a). Pada warna dari setiap peristiwa tersebut, dilihatnya kasih, yakni Tuhan senantiasa menyertai. Alhasil, Daud tidak merasakan takut setiap kali berjalan dalam lembah kekelaman. Di tengah beratnya tantangan, ia masih dapat menikmati kebaikan Tuhan. Dan ia pun mengambil kesimpulan bahwa kebaikan dan kasih setia belaka mengikutinya seumur hidupnya (ay. 6a).

Situasi kehidupan kita saat ini mungkin tidak menampakkan warna cerah. Terlihat justru warna hitam, coklat, atau abu-abu. Datang bertubi-tubi pergumulan, beberapa bahkan terasa amat berat. Buang kesedihan dari dalam hati dengan mengingat bahwa warna-warna suram tadi juga adalah warna kasih milik Tuhan. Dia senantiasa menyertai kita sehingga di balik semua pergumulan tersebut, kita hanya akan melihat kebaikan. --LIN/www.renunganharian.net

* * *
DALAM KESENANGAN MAUPUN PENDERITAAN,
DI SANA AKAN SELALU KITA TEMUKAN GORESAN KASIH TUHAN.

* * *




RENUNGAN RABU

Bacaan: 1 KORINTUS 13:4-8

Bacaan Setahun: Bilangan 16-17

Nas: Kasih tidak berkesudahan; tetapi nubuat akan berakhir; bahasa lidah akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. (1 Korintus 13:8)


Jika Cinta Sungguh Ada

Rasul Paulus menyatakan bahwa cinta selalu mewujud dalam sikap dan tindakan yang baik: sabar, sopan, rendah hati, murah hati, adil, tidak egois, mengutamakan kebenaran, sanggup memikul segala sesuatu, dan banyak tindakan baik lainnya (ay. 4-7). Dengan kata lain, sikap dan tindakan yang baik-bagaimanapun wujudnya dan berapa pun kadarnya-adalah indikasi, tanda, atau bukti adanya cinta di hati.

Apa arti hal itu bagi hidup sehari-hari?

Jika benar cinta ada di hati kita, tak mungkinlah kita melihat sesama dalam kesulitan dan kita tak tergerak untuk menolong, tak mungkin jugalah kita menganggap kesesakan sesama sebagai peluang untuk memetik keuntungan. Jika benar cinta ada di hati, tak mungkinlah kita sengaja mewariskan bumi yang rusak kepada anak-cucu, tak mungkin jugalah kita tak peduli pada kelestarian alam dan lingkungan hidup. Jika cinta sungguh-sungguh ada di hati kita, tak mungkinlah kita merendahkan sesama, siapa pun mereka. Dan sebagainya, dan seterusnya.

Memang begitulah ihwalnya. Jika cinta sungguh ada di hati, ia akan dengan sendirinya mewujud dalam sikap dan tindakan yang baik. Selalu begitu, tak pernah tidak. Maka, jika situasi memanggil, dan kita punya hal yang diperlukan oleh situasi itu, tetapi tidak ada sikap atau tindakan baik yang kita lakukan sebagai respons terhadap situasi itu, apakah yang dapat kita katakan tentang diri kita sendiri? --EE/www.renunganharian.net

* * *
JIKA CINTA SUNGGUH ADA DI HATI, IA AKAN DENGAN SENDIRINYA
MEWUJUD DALAM SIKAP DAN TINDAKAN YANG BAIK.

* * *






RENUNGAN KAMIS

Bacaan: ESTER 5:9-14

Bacaan Setahun: Bilangan 18-20

Nas: Lalu kata Zeres, istrinya, dan semua sahabatnya kepadanya, "Suruhlah orang membuat tiang setinggi lima puluh hasta, dan besok pagi mintalah kepada raja supaya Mordekhai digantung pada tiang itu ...." (Ester 5:14)


Party Pooper

Party pooper adalah suatu istilah yang menunjuk pada seseorang yang cenderung merusak suasana atau kesenangan dalam suatu acara, terutama acara pesta. Seorang party pooper kerap kali akan mengeluh, mengungkit hal-hal negatif, atau bersikap pesimis sehingga membuat orang lain yang berada di dekatnya merasa tidak nyaman atau merasa bad mood dalam waktu singkat. Semakin cepat kita mengenali orang seperti ini maka semakin cukup waktu yang dapat kita pakai untuk menemukan cara menangkal pengaruh buruk dari setiap tindakannya.

Hari itu Haman pulang dalam kondisi panas hati. Kesenangan dan kebanggaannya terusik ketika melihat Mordekhai menolak untuk menghormatinya. Kehadiran istri dan para sahabat pun tidak mampu meredakan amarah dalam diri Haman, yang lantas menyetujui begitu saja usulan mendirikan tiang untuk menggantung Mordekhai. Rencana keji itu, entah bagaimana, malah dianggap sebagai hal yang baik oleh Haman. Untunglah Allah segera bertindak menyelamatkan Mordekhai, lalu rencana keji Haman berbalik mengenai dirinya (Est. 6-7).

Alkitab mengajarkan untuk bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan menangis bersama orang yang menangis (Rm. 12:15). Artinya, tak boleh ada ruang untuk spirit party pooper bertumbuh dan menguasai hidup kita supaya kita dijauhkan dari kemungkinan untuk melakukan perbuatan jahat. Cukuplah pengalaman hidup Haman menjadi pengingat agar kita berhati-hati manakala iri, dengki, benci, dan amarah mulai menyergap tanpa kita harus menjadikannya sebagai pengalaman pribadi sendiri. --GHJ/www.renunganharian.net

* * *
SETIAP ORANG BERHAK MERASAKAN KEBAHAGIAAN,
TAK PERLU TERGODA UNTUK MENGUSIKNYA.

* * *





RENUNGAN JUMAT

Bacaan: 1 KORINTUS 7:3-4

Bacaan Setahun: Bilangan 21-22

Nas: Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya. (1 Korintus 7:4)


Meninggalkan Diri Sendiri

Pesan Rasul Paulus dalam bacaan hari ini memang mengenai kehidupan seksual dalam pernikahan. Namun, pesan tersebut sebenarnya juga berbicara tentang hal yang lebih luas, lebih mendasar, dan lebih menentukan bagi kehidupan pernikahan. Apa itu?

"Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya." Rasul Paulus tak hendak berkata bahwa dalam pernikahan, suami dan istri tidak berwenang atas diri sendiri dan tidak berhak mengambil keputusan untuk diri sendiri. Rasul Paulus tahu benar bahwa suami maupun istri punya otonomi, dan berhak mengambil keputusan sendiri. Namun, Rasul Paulus menasihatkan agar dengan otonomi dan hak itu, suami maupun istri memutuskan dan bertekad untuk memberikan diri bagi pasangan mereka sedemikian rupa sehingga prioritas istri bukan lagi dirinya, tetapi suaminya, dan prioritas suami bukan lagi dirinya, tetapi istrinya.

Dengan kata lain, Rasul Paulus menasihati agar suami dan istri meninggalkan diri sendiri, yakni mematikan hasrat untuk mengutamakan diri sendiri, dan menggantinya dengan tekad untuk mengutamakan pasangan mereka. Itu berlaku tak hanya dalam kehidupan seksual, tetapi dalam semua sisi kehidupan pernikahan.

Beratkah itu? Ah, itu bukan soal berat atau ringan, melainkan soal cinta. Tanpa cinta, semua akan berat, bahkan mustahil. Namun, jika cinta sungguh ada, meninggalkan diri sendiri adalah hal yang dengan sukacita akan dijalani.

Maka kebahagiaan pun datang menghampiri. --EE/www.renunganharian.net

* * *
CINTA SEJATI MENGGESER TIAP HASRAT MENGUTAMAKAN DIRI SENDIRI
DAN MENGGANTINYA DENGAN KESEDIAAN UNTUK MENINGGALKAN DIRI SENDIRI.

* * *





RENUNGAN SABTU

Bacaan: YEHEZKIEL 3:16-21

Bacaan Setahun: Bilangan 23-25

Nas: "Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Apabila engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan benar yang dilakukannya tidak (Yehezkiel 3:20)


Berdalih Sungkan

Mendapat teguran dari salah satu murid Sekolah Minggu, itulah yang saya alami saat mengajar. Saya berterima kasih karena murid ini tidak sungkan menegur, membuat saya sadar dan berubah. Di kesempatan berbeda, saya tahu seorang pendeta melakukan satu kejahatan. Saya diam dengan dalih sungkan. Saya merasa pendeta ini tahu banyak firman Tuhan, biarlah orang lain saja yang menegur, saya merasa tidak sopan kalau menegur dosanya.

Sungkan adalah campuran dari rasa segan, enggan, malu, dan hormat. Sebagai bagian dari sopan santun, bagus kalau kita sungkan. Namun, jangan jadikan sungkan sebagai dalih kita tidak memperingatkan dosa saudara seiman, bahkan pemimpin rohani kita sekali pun, karena dia pun manusia sama seperti kita yang bisa jatuh dalam dosa. Yehezkiel dipanggil Tuhan sebagai penjaga Israel. Salah satu tugasnya adalah Yehezkiel harus memperingatkan orang Israel yang berbuat jahat (ay. 17). Jika Yehezkiel sudah memperingatkan orang jahat itu, dan dia tidak berbalik dari kejahatannya, Yehezkiel menyelamatkan dirinya sendiri. Sebaliknya, kalau Yehezkiel tidak mau memperingatkannya, lalu orang itu mati dalam dosanya, Tuhan menuntut pertanggungjawaban nyawa orang itu dari Yehezkiel (ay. 19-20).

Pada praktiknya tidak mudah menegur dosa seseorang, tetapi mari lakukan apa yang Tuhan perintahkan. Tegurlah dengan penuh kasih tanpa mempermalukan dia di depan umum. Jangan sungkan menegur dosa orang yang kita kasihi agar dia sadar dan bertobat, serta tidak celaka karena dosanya. --RTG/www.renunganharian.net

* * *
MEMPERINGATKAN ORANG YANG BERBUAT DOSA BUKANLAH JAHAT,
MELAINKAN KEHARUSAN AGAR ORANG ITU SADAR DAN BERTOBAT.

* * *





MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
&
JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Suatu Umat Yang Layak Bagi-Nya "
( LUKAS 1:17c )


JPA VISION 2026 : "Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang " | Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

#KeluargaJPA​​​ #TuhanBekerja​​​ #JPABerdampak​​​ #GPdI​​​ #GPdIJPA​​​ #Praise​​​ #Renungan2026 #DalamTerangmukamimelihatterang #JPAVision #multimediaJPA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WARTA EDISI 22 FEBRUARI 2026

 JADWAL SEEPEKAN MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK " & JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan S...

Post Bottom Ad

Halaman