RENUNGAN HARIAN
Bacaan: 1 KORINTUS 13
Bacaan Setahun: Bilangan 28-30
Nas: Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. (1 Korintus 13:5)
Melampaui Pementingan Diri
Jemaat di Korintus adalah sebuah komunitas yang penuh talenta. Namun, sekaligus, jemaat itu juga diwarnai persaingan, intrik, dan perpecahan. Mereka sangat mengagungkan berbagai macam karunia rohani. Akan tetapi, mereka kerap kali melupakan inti dari semua karunia rohani itu, yakni kasih.
Karena itu, Paulus memberikan teguran lugas. Sekaligus, ia mengajak jemaat Korintus untuk merenung apa gunanya segala pengetahuan, nubuat, atau kemampuan luar biasa, jika tidak dilandasi kasih? (ay. 1-3). Bagi Paulus, yang paling utama adalah kasih. Dan, kasih yang dimaksudkannya bukan sekadar pengetahuan moral. Kasih adalah buah iman (kepada Allah Yang Maha Kasih) yang terwujud dalam tindak keutamaan kepada sesama dalam kehidupan nyata sehari-hari (ay. 4-7).
Ayat emas hari ini menyoroti salah satu wujud kasih itu, yakni kesanggupan untuk tidak mencari keuntungan diri sendiri dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Mengapa ini penting? Karena, dalam kehidupan nyata jemaat Korintus, sering kali yang terjadi justru sebaliknya. Mereka cenderung terpaku pada pementingan diri ingin diutamakan, ingin dianggap benar, ingin kelihatan hebat, serta mudah sakit hati.
Maka, Paulus mengajak jemaat Korintus (juga kita) untuk melangkah melampaui pementingan diri. Ini berarti kita perlu belajar mengutamakan kebaikan orang lain dan tidak mencari keuntungan pribadi. Inilah ciri kasih agape. Tanpa kasih semacam ini semua talenta dan kehebatan kita tak bermakna. Mari, kita melampaui pementingan diri. Kita membuka diri terhadap karya Roh Kudus. Sehingga melalui hidup kita, kasih-Nya tampak nyata. --SAP/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: YEREMIA 31:1-9
Bacaan Setahun: Bilangan 31-32
Nas: "Dengan menangis mereka akan datang, dengan memohon-mohon mereka akan Kubawa; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di sana mereka tidak akan tersandung; sebab Akulah bapa Israel, dan Efraim anak sulung-Ku." (Yeremia 31:9)
Air Mata Kegirangan
Seorang ibu telah bertahun-tahun berdoa untuk anak lelakinya yang terjerumus dalam pergaulan buruk. Setiap malam ia meratap dalam doa dan berharap anaknya pulang ke rumah. Sampai suatu ketika, anak itu pulang dengan wajah memilukan. Ia memeluk ibunya dan berkata, "Bu, maafkan aku. Aku telah berdosa, aku bertobat." Sang Ibu tidak mampu berkata-kata. Ia hanya menangis. Bukan tangisan duka, melainkan tangisan sukacita. Itu adalah air mata kegirangan, buah dari kesetiaan ibu yang tak pernah berhenti menanti anaknya pulang.
Kitab Yeremia hari ini berisi pesan penghiburan Tuhan bagi umat Israel yang sedang berada dalam pembuangan. Di tengah penderitaan, Tuhan memberikan janji pemulihan. Tuhan akan memimpin mereka pulang dengan penuh kelembutan (ay. 9). Mereka memang datang dengan air mata, bukan air mata kesedihan, melainkan air mata sukacita karena kasih Tuhan yang abadi (ay. 3) dan janji pemulihan-Nya yang nyata. Tuhan tidak hanya menuntun pulang, tapi juga memberi mereka jalan yang aman.
Setiap kita pernah atau sedang menangis. Kita menangis karena kehilangan, pergumulan, atau kegagalan. Namun, Tuhan sanggup mengubah tangisan itu menjadi sukacita. Saat kita kembali kepada-Nya, saat doa-doa dijawab, atau saat pemulihan terjadi, di sanalah kita mengenal makna air mata kegirangan. Tuhan tidak menjanjikan jalan tanpa air mata, tetapi Ia menjanjikan bahwa setiap tetesan air mata kita tidak sia-sia. --SYS/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: KIDUNG AGUNG 8:1-7
Bacaan Setahun: Bilangan 33-34
Nas: Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu ...! (Kidung Agung 8:6)
Meterai Cinta
Meterai atau segel memiliki arti yang beragam, tetapi secara umum digunakan untuk menjamin keaslian suatu benda, menunjukkan kewibawaan, dan juga sebagai tanda kepemilikan. Meterai sering dipakai pada dokumen penting seperti surat-surat, perjanjian, atau benda-benda berharga untuk menunjukkan bahwa benda tersebut berasal dari sumber yang sah dan memiliki otoritas. Pada zaman dahulu, meterai terbuat dari batu berharga, logam, kayu, atau tulang. Sering kali benda ini dibentuk oval atau bulat, dan diukir dengan nama atau simbol tertentu, bahkan dapat dikenakan sebagai cincin.
Ketika sang mempelai meminta kepada kekasihnya agar dirinya ditaruh seperti meterai pada hati dan lengan sang kekasih, maka permintaan ini bermakna sangat dalam. Ia ingin diakui sebagai pemilik hati kekasihnya, yang akan menjaga dan melindunginya. Menyatakan deklarasi komitmen serta kesetiaan yang dilandasi cinta kasih. Ini ia lakukan bukan karena terpaksa, melainkan secara sukarela menyerahkan hatinya untuk dimiliki sepenuhnya oleh sang kekasih. Demikianlah prinsip yang seharusnya berlaku secara timbal balik bagi pasangan yang hendak mengikatkan dirinya di dalam pernikahan. Maka mereka pun akan berikrar setia senantiasa, serta tidak akan membuka celah bagi pihak lain untuk masuk ke dalam relasi pernikahan mereka.
Umat Allah hendaknya menyadari kebenaran ini. Bahwa ketika kita mengikat perjanjian dengan pasangan maka kita secara sukarela menyerahkan diri dan hati kita menjadi milik pasangan kita. Masing-masing pihak seharusnya bertindak sebagai meterai yang akan menjaga kehormatan pasangannya, serta mencintai dan melindunginya sepenuh hati. --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: FILIPI 2:1-11
Bacaan Setahun: Bilangan 35-36
Nas: Melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (Filipi 2:7)
Kumau seperti Tuhan Yesus
Di era media sosial saat ini, banyak orang berlomba menampilkan pencapaian, kepandaian, atau gaya hidupnya. Dunia mengajarkan bahwa semakin kita menonjolkan diri, semakin kita dianggap hebat. Namun, di tengah budaya yang berpusat pada diri sendiri ini, Yesus justru datang dengan teladan yang berbeda-bukan untuk mencari sorotan, melainkan untuk melayani dalam diam. Ia tidak memamerkan kuasa-Nya, padahal Ia adalah Tuhan. Ia memilih merendahkan diri, bahkan rela mati di kayu salib.
Kerendahhatian adalah salah satu karakter Yesus yang paling menakjubkan. Meskipun Dia adalah Tuhan, Ia tidak menuntut hak-Nya, melainkan justru memilih jalan yang paling hina-lahir di kandang, hidup sederhana, bahkan mati dengan cara yang paling memalukan. Ini bukan sekadar tindakan luar, tetapi mencerminkan hati-Nya yang penuh kasih dan taat kepada Bapa. Karena itu, Rasul Paulus menasihati jemaat Filipi yang tengah menghadapi pertengkaran dan perselisihan untuk meneladani Kristus di dalam sikap rendah hati, tidak menonjolkan keakuan diri dan menempatkan orang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.
Belajar rendah hati seperti Yesus dimulai dengan mengenal siapa kita di hadapan Allah: orang berdosa yang telah dikasihi dan diselamatkan oleh kasih karunia. Dari kesadaran inilah lahir hati yang tidak perlu membuktikan diri, tetapi bersedia melayani. Mari kita bertanya, apakah aku bersedia melepaskan keakuanku dan belajar rendah hati seperti Kristus? Rendah hati bukan sekadar sikap, tapi jalan hidup yang memuliakan Tuhan. Kiranya Tuhan menolong kita untuk meneladani kerendahhatian Kristus. --DSK/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: KOLOSE 3:18-23
Bacaan Setahun: Ulangan 1-2
Nas: Hai Istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai Suami-suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. (Kolose 3:18-19)
Cinta Itu Egaliter
"My husband and I divorced over religious differences. He thought he was God, and I didn't, " ujar seseorang (anonim) di internet. Suami saya dan saya bercerai karena masalah keagamaan. Dia menganggap dirinya adalah Tuhan, dan saya tidak. Ujaran itu mengkritik suami otoriter, yang selalu memaksakan kehendak, selalu mau menentukan segalanya, dan ingin istrinya selalu tunduk kepadanya.
Tentu saja tak hanya suami. Istri pun bisa bersikap begitu. Maka, ujaran di atas adalah peringatan bahwa dalam pernikahan, relasi yang ada bisa jadi bukan relasi penuh cinta, bukan relasi egaliter yang mengakui kesetaraan satu sama lain, melainkan relasi yang dipenuhi dan dikendalikan oleh hasrat untuk menguasai, untuk mengendalikan, bahkan menjadikan pasangan sebagai objek. Jelas, itu sama sekali bukan cinta.
Rasul Paulus berpesan, "Hai Istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan" (ay. 18). Pesan ini banyak dimaknai sebagai perintah agar istri tunduk kepada suami. Orang lupa pesan berikutnya, "Hai Suami-suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia" (ay. 19). Orang lupa bahwa esensi seluruh perikop Kolose 3:18-23 (meliputi relasi suami-istri, orang tua-anak, majikan-hamba) sama sekali bukan soal ketundukan pihak satu kepada pihak yang lain, melainkan bahwa semua pihak dan relasi yang ada harus tunduk kepada Tuhan, Sang Cinta.
Demikianlah, relasi suami-istri hendaknya dilandasi cinta, diwarnai kesetaraan dan keadilan karena cinta sejati selalu egaliter, tak pernah tidak. --EE/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: AMSAL 25:17-20
Bacaan Setahun: Ulangan 3-4
Nas: Janganlah kerap kali datang ke rumah sesamamu, supaya jangan ia bosan, lalu membencimu. (Amsal 25:17)
Peringatan Berkunjung
Dahulu sewaktu masih mahasiswa, rumah kontrakan kami pernah didatangi secara rutin oleh Tom, yang sebenarnya juga bagian dari komunitas kami. Awalnya, kedatangan Tom terasa menyenangkan karena sebagai orang sanguine (ceria, ramai, ramah), kehadiran Tom dapat membuat suasana meriah. Namun, kedatangan Tom yang semakin sering, bahkan terbilang tak tahu waktu, suatu ketika mulai dirasa mengganggu. Akhirnya, kami pun mencoba menasihati secara halus agar Tom bisa "tahu diri" ketika berkunjung, terutama ketika masa ujian perkuliahan tiba.
Kedatangan seseorang yang terlalu sering ternyata dapat menimbulkan dampak negatif. Itulah nasihat bernada peringatan dari nas renungan kita hari ini. Ada potensi muncul kebosanan, konflik, bahkan bisa muncul kebencian ketika ada orang datang terlalu sering ke tempat kita. Tampaknya gejala ini sudah terjadi sejak masa lampau sehingga penulis Amsal merasa perlu memberikan nasihat ini, jangan kerap kali datang ke rumah sesamamu. Nasihat yang masih relevan untuk diterapkan, bahkan terhadap orang yang menurut kita sangat dekat sekalipun, tahanlah diri untuk tidak datang terlalu sering ke rumah mereka.
Dalam menjalin relasi dengan sesama, tentu kita tidak ingin orang lain bosan atau membenci kita, bukan? Oleh karenanya, ada baiknya kita jangan sampai mengabaikan nasihat dari penulis Amsal ini. Jika memang harus datang ke rumah orang lain, datanglah seperlunya saja, dengan waktu yang tidak terlalu lama, dan usahakan agar kedatangan kita tidak sampai merepotkan orang yang kita datangi. --GHJ/www.renunganharian.net
* * *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar