RENUNGAN EDISI 15 FEBRUARI 2026 - JPA CHANNEL

JPA CHANNEL

JPA VISION 2026 " Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang "

MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

Breaking News


Cari Blog Ini

Sabtu, 14 Februari 2026

RENUNGAN EDISI 15 FEBRUARI 2026

 RENUNGAN HARIAN




RENUNGAN SENIN
Bacaan: 1 YOHANES 4:7-21

Bacaan Setahun: Imamat 24-25

Nas: Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Sebab, ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. (1 Yohanes 4:18)


Mengasihi yang Tersisih

Sejak selalu menjadi objek kebencian seorang tetangga, seorang ibu dikucilkan oleh banyak tetangga yang lain. Sekalipun mereka paham bahwa ibu itu sesungguhnya tidak bersalah, mereka lebih memilih untuk mengikuti perlakuan si tetangga. Rupanya, reputasi "menakutkan" dari perilaku buruk si tetangga telah berhasil mengintimidasi banyak orang di sekitarnya.

Berbeda dengan sebagian orang yang lebih memilih jalan damai sekalipun tak adil, Yesus tidak pernah menjauhi orang dengan alasan mereka dibenci atau dikucilkan oleh banyak orang, bahkan orang yang berkuasa sekalipun. Alkitab menuliskan bahwa Yesus mau duduk makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa (Luk. 5:29-32). Yesus juga berbicara dengan perempuan Samaria di sumur yang bahkan membuat murid-Nya merasa heran (Yoh.4:1-42). Yesus juga membela perempuan yang hampir dirajam karena perzinaan (Yoh. 8:1-11). Yesus menunjukkan bahwa kasih tidak tunduk pada tekanan sosial. Yesus mengajarkan bahwa kasih sejati melihat martabat ilahi dalam diri setiap orang.

Kiranya kasih yang dari Allah mendorong kita untuk tidak lagi hidup dalam ketakutan, termasuk di dalamnya takut akan penolakan sosial. Sebaliknya, kasih mendorong kita memiliki keberanian untuk memperlakukan setiap orang-terlebih lagi mereka yang tertindas, dijauhi, dan dianggap rendah (termarginalkan/tersisih)-dengan hormat dan kebaikan, melampaui rasa takut kita menghadapi orang yang bersikap buruk. Sebab, kasih bukan hanya soal perasaan, melainkan tindakan nyata cerminan hati Tuhan. --EBL/www.renunganharian.net

* * *
HIDUP DALAM KASIH ADALAH BUKTI HIDUP BERSAMA ALLAH.

* * *




RENUNGAN SELASA
Bacaan: AMSAL 4:20-23

Bacaan Setahun: Imamat 26-27

Nas: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari sanalah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23)


Hati yang Terjaga

Andre sempat kesal ketika hendak turun dari Commuter, tetapi ada orang yang mendesak masuk tanpa memberi kesempatan penumpang yang akan turun lebih dahulu. Sempat ada perkataan kasar dari mulutnya, tetapi tak lama Andre merasa ada suara lembut bergema dalam hatinya, "Kok bisa cepat sekali omong sekasar itu, ya?" Andre pun segera menyadari bahwa Roh Kudus sedang berbicara dalam sanubarinya, untuk menegur sekaligus mengingatkan agar Andre dapat lebih menguasai diri. "Sebenarnya aku dapat menyampaikan pesan yang sama, tetapi dengan cara yang lebih halus, " sesal Andre tak lama berselang.

Reaksi spontan atas suatu peristiwa biasanya merupakan cerminan isi hati, juga kebiasaan yang membentuk karakter seseorang, yang terlihat lewat sikap, ucapan, maupun tindakannya. Itulah sebabnya, nasihat agar menjaga hati dengan penuh waspada masih terasa relevan sampai hari ini. Kewaspadaan menjadi kunci dalam hal ini karena mudah sekali hati ini tersusupi oleh amarah, dendam, hingga kepahitan yang dapat mengakar dan merusak kehidupan orang percaya. Firman Tuhan juga menasihati orang percaya agar tidak menjauhkan hidupnya dari anugerah Allah, supaya akar pahit jangan sampai muncul dan menguasai (Ibr. 12:15).

Kita memang tak dapat mengatur perilaku orang lain, tetapi perihal penguasaan diri dan menjaga hati dari segala bentuk hal yang dapat mencemari, sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita. Mari pastikan kondisi hati kita agar tetap baik, supaya reaksi spontan kita juga menghasilkan perilaku yang baik. --GHJ/www.renunganharian.net

* * *
HATI YANG TERJAGA DENGAN BAIK DAPAT BERDAMPAK POSITIF
BAGI SIKAP DAN PERILAKU.

* * *




RENUNGAN RABU
Bacaan: YAKOBUS 3:1-12

Bacaan Setahun: Bilangan 1-2

Nas: Sebab, kita semua tersandung dalam banyak hal. Siapa tidak tersandung dalam perkataannya, ia orang yang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. (Yakobus 3:2)


Tali Kekang

Bagi seorang penunggang kuda, tali kekang menjadi hal yang penting agar ia bisa mengendalikan kudanya ke arah yang dikehendakinya. Tanpa tali kekang, kuda itu akan berlari tanpa arah dan bisa membuat kerusakan. Sebuah tali kendali mungkin terlihat sederhana, tetapi yang dikendalikan bisa saja merupakan sesuatu yang besar dan bernilai.

Yakobus menggambarkan sebuah kendali berupa "kekang" pada mulut kuda dan "kemudi yang amat kecil" pada kapal besar. Konsep ini digunakan untuk mengingatkan kita akan pentingnya mengendalikan hidup kita dengan lidah sebagai "kekang" atau "kemudi". Dibandingkan dengan bagian-bagian tubuh yang lain, lidah mungkin dianggap sebagai bagian tubuh yang kecil. Namun, sekalipun kecil, ia sanggup melakukan hal-hal yang besar. Lidah itu seperti api! Jika dikendalikan dengan bijak, ia adalah sahabat yang begitu baik. Namun, jika lepas kendali, hutan seluas apa pun bisa dihancurkannya. Demikianlah kekang atas lidah amat menentukan jalan hidup kita.

Saat merenungkan peringatan Yakobus ini, kita diingatkan bahwa masalah yang diangkat bukan karena perkataan baik yang tidak dapat diucapkan, tetapi lebih pada perkataan jahat yang tidak dapat dikendalikan. Jadi, sangatlah bijak saat kita tidak berbangga diri bila dapat mengucapkan banyak perkataan-perkataan yang baik dan menyenangkan. Dan sebaliknya, kita perlu banyak berjuang untuk menghentikan dan mengendalikan sebanyak mungkin kata-kata negatif dan terdengar tidak menyenangkan. Apa pun yang terucap dari mulut kita, itulah yang menentukan arah langkah kita. --SYS/www.renunganharian.net

* * *
LIDAH TIDAK MEMPUNYAI TULANG,
TAPI IA MAMPU MENGUATKAN ATAU MEMATAHKAN PERASAAN.

* * *




RENUNGAN KAMIS
Bacaan: LUKAS 22:24-38

Bacaan Setahun: Bilangan 3-4

Nas: "... jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu." (Lukas 22:32)


Setelah Insaf

Ketika suatu pertengkaran terjadi, kita sering berharap agar konflik itu bisa dibereskan sesegera mungkin. Namun, harapan sering kali jauh dari kenyataan. Tak jarang pertengkaran itu justru melebar ke mana-mana, berlarut-larut dan mengakibatkan luka yang semakin dalam. Jika kedua belah pihak tidak bersedia memperbaiki diri, atau tidak berinisiatif untuk mencari solusi damai, pertengkaran akan merusak, bahkan memutus hubungan yang sebelumnya terjalin dengan baik.

Pada malam sebelum Yesus ditangkap lalu kemudian disalibkan, para murid-Nya justru sibuk bertengkar. Mereka mempersoalkan siapa yang dapat dianggap terbesar di antara mereka. Sungguh memprihatinkan! Mereka bukannya fokus pada sengsara yang dihadapi Kristus, malah sibuk dengan diri sendiri. Sangat egois. Mereka justru berebut pengakuan tentang siapa yang perannya paling penting sehingga ia pantas menjadi pemimpin setelah Yesus tak lagi bersama mereka. Petrus bahkan sesumbar bahwa ia rela mati bersama Yesus.

Entah apa yang Yesus rasakan saat itu. Ia lalu mengajar mereka bahwa untuk menjadi pemimpin, mereka harus rela melayani. Merendahkan diri. Menganggap yang lain lebih utama. Begitulah murid-murid Kristus seharusnya menjalani hidup. Dan Yesus memberi mereka waktu untuk merenungkannya. Kelak, setelah mereka mengerti, mereka akan insaf. Bertobat. Berbalik ke jalan yang seharusnya. Saat momen itu terjadi, Yesus memerintahkan agar Petrus menguatkan para murid lainnya. Walau ditujukan pada Petrus, tetapi pesan ini berlaku bagi kita semua agar menyadari kebenaran perintah Kristus lalu rela berdamai serta berkomitmen melayani Dia. --HT/www.renunganharian.net

* * *
KRISTUS SABAR MENANTI HINGGA KITA INSAF
LALU KEMBALI KE JALAN-NYA DENGAN SESAL PENUH MAAF.

* * *





RENUNGAN JUMAT
Bacaan: YESAYA 42:5-9

Bacaan Setahun: Bilangan 5-6

Nas: "Aku, Tuhan, telah memanggil engkau dalam kebenaran, telah memegang tanganmu; Aku telah menjaga engkau dan menjadikan engkau perantara perjanjian bagi umat manusia, terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta ...." (Yesaya 42:6-7)


Membuka Mata yang Buta

Ada seorang pensiunan guru yang di masa tuanya aktif membimbing para remaja di kampungnya. Ia sedang menolong seorang remaja yang terperangkap dalam pergaulan buruk. Dengan setia ia memberikan pendampingan lewat teladan hidupnya yang jujur dan penuh kesabaran. Lambat laun anak itu menyadari kesalahannya dan berubah. "Pak Guru memberi saya mata untuk melihat hidup yang benar, " kata anak itu. Tanpa banyak kata, keteladanan hidup sang guru telah membuka mata anak itu yang selama ini "buta".

Nabi Yesaya menubuatkan sosok Hamba Tuhan, yang akan datang untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa dan membuka mata orang-orang buta; bukan hanya kebutaan fisik, tetapi juga kebutaan rohani (ketidakmampuan melihat kebenaran Allah). Nubuatan itu digenapi dalam diri Yesus Kristus. Keteladanan hidup-Nya selama di dunia dan kesetiaan-Nya hingga mati di kayu salib, telah membuka mata manusia yang dibutakan oleh dosa hingga melihat terang kebenaran dan keselamatan dari Allah.

Kita hidup di tengah dunia yang sesak oleh kerusakan moral, banyak orang mengalami kebutaan rohani. Mereka tidak tahu arah, tidak mengenal kebenaran, dan berjalan dalam kebinasaan. Dan sebagai orang yang telah dicelikkan Kristus, kita dipanggil untuk menjadi terang yang membuka mata hati orang-orang yang buta akan kebenaran. Bukan hanya lewat kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata: integritas, kepedulian, dan kasih. Keteladanan hidup kita adalah "mata" bagi mereka yang belum melihat terang Kristus. --SYS/www.renunganharian.net

* * *
HIDUP YANG MENCERMINKAN KRISTUS ADALAH TERANG YANG MEMBUKA
MATA HATI MEREKA YANG MASIH BUTA AKAN KEBENARAN.

* * *




RENUNGAN SABTU
Bacaan: GALATIA 5:16-26

Bacaan Setahun: Bilangan 7

Nas: Kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (Galatia 5:23)


Penguasaan Diri yang Bertumbuh

Dahulu Johny begitu mudah tersinggung, bahkan dengan hal-hal sepele seperti soal makanan, janji yang mendadak dibatalkan, menunggu kedatangan orang terlalu lama, atau ketika situasi tak berlangsung sesuai keinginan. Nah, seiring dengan bertambahnya usia, Johny mulai berpikir bahwa tersinggung atau marah karena hal-hal sepele tidak hanya sia-sia, tetapi juga menandakan penguasaan diri yang lemah. Pemahaman baru ini membuat Johny mulai berubah, bahkan kini ia bisa dengan santainya merespons keadaan yang dahulu bisa memantik emosinya dengan cepat.

Salah satu cara menakar pertumbuhan dalam penguasaan diri sebenarnya tidak sulit. Cukup bandingkan reaksi kita sekarang terhadap hal-hal yang dahulu membuat kita cepat marah, tersinggung, atau sakit hati. Jika kita mulai bisa bereaksi dengan positif, artinya penguasaan diri kita bertumbuh. Sebaliknya jika reaksi masih sama, bahkan cenderung negatif, berarti kita masih perlu berjuang dalam penguasaan diri. Sasaran kita penguasaan diri yang semakin matang, seperti buah matang yang terasa nikmat, begitu pula kelak buah dari penguasaan diri kita pun dapat dinikmati oleh orang lain, bahkan mereka akan memuliakan Allah karenanya.

Nah, mengakhiri renungan ini, mari lakukan evaluasi diri secara cepat terkait hal-hal di mana kita merasa masih berjuang dengan penguasaan diri. Mintalah kasih karunia Tuhan supaya kita dimampukan untuk bertumbuh dalam penguasaan diri, karena buah dari penguasaan diri itu selalu mengarah pada kebaikan, baik bagi kita maupun orang lain. --GHJ/www.renunganharian.net

* * *
PENGUASAAN DIRI BUTUH PROSES BERTUMBUH,
TETAPI BUAHNYA AKAN TERASA NIKMAT.

* * *





MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
&
JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Suatu Umat Yang Layak Bagi-Nya "
( LUKAS 1:17c )


JPA VISION 2026 : "Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang " | Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

#KeluargaJPA​​​ #TuhanBekerja​​​ #JPABerdampak​​​ #GPdI​​​ #GPdIJPA​​​ #Praise​​​ #Renungan2026 #DalamTerangmukamimelihatterang #JPAVision #multimediaJPA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WARTA EDISI 15 FEBRUARI 2026

 JADWAL SEPEKAN  MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK " & JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan S...

Post Bottom Ad

Halaman