RENUNGAN EDISI 8 FEBRUARI 2026 - JPA CHANNEL

JPA CHANNEL

JPA VISION 2026 " Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang "

MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

Breaking News


Cari Blog Ini

Sabtu, 07 Februari 2026

RENUNGAN EDISI 8 FEBRUARI 2026

 RENUNGAN HARIAN




RENUNGAN SENIN
Bacaan: KEJADIAN 2:15-25

Bacaan Setahun: Imamat 5-7

Nas: Tuhan Allah berfirman, "Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan baginya penolong yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18)


Sendiri di Tengah Keramaian

Kodrat makhluk sosial, manusia saling membutuhkan satu dengan yang lain. Konteks nas renungan hari ini memang terkait kesendirian Adam, yang lantas Allah lengkapi dengan menghadirkan Hawa di sisinya, sekaligus memberkati mereka sebagai pasangan suami-istri. Namun, dalam konteks lebih luas, ayat ini tampaknya juga menjadi awal dari pemahaman bahwa manusia tak bisa benar-benar hidup sendiri. Ia perlu menjalin relasi dengan orang lain jika ingin menjalani kehidupan yang lebih baik.

Akan tetapi, saat ini kita menghadapi fakta soal kemajuan teknologi yang justru membuat manusia seperti terisolasi di tengah keramaian. Interaksi sosial, juga aktivitas fisik mulai tergantikan dengan interaksi semu, khususnya lewat beragam aktivitas via internet. Alhasil, di tengah "keriuhan" aktivitas dunia maya yang terjadi, sebagian orang merasa kesepian. Suasana di meja makan pun tak lagi terasa hangat dan dirindukan karena secara fisik mungkin anggota keluarga hadir, tetapi malah asyik berinteraksi dengan orang lain sambil memegang gawai masing-masing. Sungguh miris dan menyedihkan, bukan?

Jika hari itu Allah bertindak untuk mengatasi masalah kesendirian bagi Adam, kini kitalah yang diharapkan dapat bertindak untuk mengatasi masalah "kesendirian" yang menghinggapi banyak orang pada zaman modern ini. Keputusan yang mungkin bisa dimulai dengan menggunakan gawai seperlunya, lalu kita mulai bangun kembali relasi dan interaksi dengan keluarga atau orang lain yang sedang bersama dengan kita ... mulai hari ini juga. --GHJ/www.renunganharian.net

* * *
BERBAGI TINDAKAN KASIH DAPAT MENJADI
SOLUSI MASALAH KESENDIRIAN PADA MASA KINI.

* * *





RENUNGAN SELASA
Bacaan: YAKOBUS 1:19-27

Bacaan Setahun: Imamat 8-10

Nas: Sebab, jika seseorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia seumpama seseorang yang sedang memandang mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Ia memandang dirinya lalu pergi dan segera lupa bagaimana rupanya. (Yakobus 1:23-24)


Membangun Watak

Sebagian orang Jawa menghidupi pepatah, watuk bisa ditambani, nanging watak digawa tekane pati. Artinya, 'batuk bisa diobati, tetapi watak tidak akan berubah sampai mati'. Paham ini menganggap bahwa watak seseorang tidak akan dapat diubah. Sementara pandangan psikologis mengatakan bahwa kecerdasan emosional (Emotional Quotient/EQ) bisa ditingkatkan sepanjang hidup.

Tidak seperti kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient/IQ) yang bersifat relatif stabil sejak masa remaja dan sulit ditingkatkan secara signifikan setelah dewasa, EQ bisa terus dikembangkan sepanjang hidup. Dan EQ yang terus ditingkatkan ini secara pelan, tetapi pasti akan mengubah watak buruk seseorang. Apalagi jika dilakukan dengan kesadaran, kedisiplinan, dan penyerahan diri kepada Tuhan. Mudahnya, membentuk watak bukanlah hal mustahil di dalam Tuhan.

Yakobus mengingatkan bahwa firman Tuhan bukan sekadar cermin untuk mengenali diri. Firman harus dihidupi, ditanggapi dengan tindakan sehingga membawa perubahan. Kita dapat mengawalinya dengan kesadaran dan pengendalian diri. Mengakui dan menyadari kekurangan diri. Selanjutnya, buka hati untuk dibentuk Tuhan sehingga Roh Kudus leluasa bekerja. Secara khusus dalam hal watak, kita dapat melangkah dengan mengenali dan mengelola emosi, mengembangkan empati terhadap sesama, meningkatkan keterampilan relasional dengan membangun hubungan yang sehat, memotivasi diri berdasarkan nilai-nilai kekal, serta memaafkan dan melepaskan luka (pengampunan dan penyembuhan luka batin). --EBL/www.renunganharian.net

* * *
PERTUMBUHAN ROHANI TERGAMBAR MELALUI KARAKTER,
RELASI, DAN REAKSI KITA TERHADAP HIDUP DAN SESAMA.

* * *




RENUNGAN RABU
Bacaan: RUT 2:5-13

Bacaan Setahun: Imamat 11-13

Nas: Boas menjawab dia, "Telah diceritakan orang kepadaku segala sesuatu yang kaulakukan terhadap ibu mertuamu sesudah kematian suamimu, bagaimana engkau telah meninggalkan ayah dan ibumu serta tanah kelahiranmu, lalu pergi kepada bangsa yang dulu tidak kauken (Rut 2:11)


Mengasihi Dalam Sunyi

Suatu hari yang cerah di ladang milik Boas, Rut memungut sisa jelai. Ini dilakukannya demi menghidupi mertuanya dan dirinya. Rut adalah perempuan asing dari Moab, janda tanpa harta, tanpa status kewargaan, dan tanpa perlindungan. Artinya, ia tak berarti. Namun, hidupnya berbicara lebih nyaring daripada identitasnya. Tanpa banyak kata, ternyata Rut menghidupi kasih dan kesetiaan secara luar biasa!

Boas bersaksi, "Telah diceritakan orang kepadaku segala sesuatu yang kaulakukan terhadap ibu mertuamu ..." (ay. 11). Ini adalah pengakuan Boas atas kasih Rut yang dilakukannya secara diam-diam, tetapi nyata. Tanpa mencari perhatian, Rut menjadi pelaku kasih sejati-kasih yang berani berkorban dan bertahan dalam kesulitan.

Di zaman media sosial sekarang ini, banyak orang berlomba agar disorot dan dihargai. Namun, kisah Rut mengingatkan bahwa kasih yang tulus tidak butuh sorotan. Tuhan melihat apa yang tersembunyi. Justru karena hal itu dilakukan dalam sunyi maka berkenan di hati-Nya.

Rut tidak tahu bahwa kasihnya kelak membawa berkat besar-ia menjadi bagian dari garis keturunan Raja Daud, bahkan Yesus Kristus (Mat. 1:1-17). Ini membuktikan bahwa kasih yang dilakukan dalam sunyi pun dipakai-Nya untuk menggerakkan rencana besar.

Mari kita belajar dari Rut, mengasihi dalam sunyi, serta percaya bahwa Tuhan tidak pernah lalai mewujudkan rencana-Nya melalui kasih yang kita hidupi sepenuh hati. --SAP/www.renunganharian.net

* * *
KASIH TANPA PAMRIH SELALU MAHAL HARGANYA; KETAKUTAN TIDAK MAMPU
MEMBAYARNYA, KESOMBONGAN TIDAK MEMAHAMINYA,
DAN TEMAN-TEMAN TIDAK PERNAH MELUPAKANNYA.-BOB GOFF

* * *




RENUNGAN KAMIS
Bacaan: MATIUS 21:33-46

Bacaan Setahun: Imamat 14-15

Nas: Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. (Matius 21:45)


Tak Sebatas Mengerti

Saat membaca Alkitab atau mendengarkan khotbah, adakalanya saya kesulitan memahami apa yang sedang saya baca atau dengarkan. Lalu saya membaca ulang, tentunya dengan lebih teliti. Kadang saya harus membuka kamus, atau membaca tafsiran atau penjelasan orang lain. Jika memungkinkan, saya mencari waktu untuk bertanya kepada sang pengkhotbah. Tujuannya ialah agar saya sungguh-sungguh mengerti makna dari apa yang saya baca atau dengarkan. Namun ternyata, mengerti saja belumlah cukup. Harus dibarengi dengan tindakan yang sesuai dengan apa yang Tuhan firmankan.

Setelah Tuhan Yesus menyampaikan berbagai perumpamaan, para imam kepala dan orang Farisi akhirnya mengerti maksud-Nya. Dia sedang menyerupakan mereka dengan para petani yang menyewa kebun anggur, tetapi menolak membayar hasil panen yang menjadi bagian dari sang pemilik. Merekalah yang disindir serta ditegur-Nya karena telah berlaku tidak setia kepada Tuhan, tetapi justru merasa benar sendiri. Mereka akan mendapatkan hukuman dari Allah. Ya, mereka sungguh memahaminya. Namun, mereka tidak menyukai pesan itu. Mereka bahkan berusaha menangkap dan membunuh Tuhan Yesus.

Memang, sering sekali ada bagian firman Tuhan sangat menyulitkan bagi kita, bukan karena kita tidak memahaminya. Melainkan karena hal itu tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita tidak suka ditegur, dikritik, atau dikoreksi. Kita merasa ditempeleng atau ditelanjangi. Kejahatan kita ditunjukkan. Pada saat itu, mengerti saja tidaklah cukup. Seharusnya kita rela diubah, mau merendahkan hati serta menaati Tuhan. Itulah langkah terbaik yang seharusnya kita tempuh. --HT/www.renunganharian.net

* * *
SUNGGUH-SUNGGUH MENGERTI FIRMAN TUHAN
SEHARUSNYA DIIKUTI DENGAN KERELAAN UNTUK BERTINDAK MENAATINYA.

* * *




RENUNGAN JUMAT
Bacaan: ROMA 5:1-11

Bacaan Setahun: Imamat 16-18

Nas: Namun, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita. (Roma 5:8)


Melampaui Kasih Bunda

Seseorang berkisah. Sewaktu naik kereta api jarak jauh, duduk di hadapannya seorang ibu. Ibu ini tidak berhenti menciumi bayinya. Di gendongan ibu yang ditutupi selimut hangat, wajah bayi tidak terlihat jelas. Penasaran bagaimana rupa sang bayi, ia terus memperhatikannya. Sampai suatu ketika, selimut tersingkap dan wajah bayi tampak jelas. Ternyata bayi itu buruk rupanya. Namun, seperti itulah kasih bunda. Tidak peduli bagaimanapun rupa wajah sang bayi, sang bunda tetap menyayanginya segenap hati.

Banyak sekali kisah kasih bunda yang mengharukan. Namun, jauh lebih menakjubkan lagi kisah kasih Allah Bapa dan Yesus Kristus kepada kita. Rasul Paulus menggambarkannya secara dramatis. Untuk orang baik, mungkin masih ada orang yang bersedia mati. Namun, lebih sulit orang yang bersedia mati buat orang benar. Karena tidak ada ikatan emosional. Namun, siapakah yang bersedia mati buat menggantikan orang-orang berdosa, jahat, dan fasik seperti kita? Inilah yang justru Kristus lakukan buat kita. Ketika kita masih menjadi musuh Allah, Kristus telah mati buat kita. Kasih sedemikian itu sungguh tidak dapat kita pahami sepenuhnya karena keterbatasan kita.

Kita hanya bisa bersyukur dan memuji Tuhan tanpa henti. Tanpa usaha apa pun dari pihak kita, Kristus telah memperdamaikan kita dengan Allah Bapa melalui kematian Yesus Kristus. Kita bangga di dalam Allah karena kita telah menerima pendamaian itu. Apakah kita masih dapat beralasan untuk tidak mengasihi-Nya segenap hati? --HEM/www.renunganharian.net

* * *
JIKA ALLAH SUDAH SEDEMIKIAN MENGASIHI KITA,
APAKAH KITA TIDAK RINDU MENGASIHI-NYA SEGENAP HATI?

* * *





RENUNGAN SABTU
Bacaan: 1 RAJA-RAJA 17:7-24

Bacaan Setahun: Imamat 19-21

Nas: Tetapi, kata Elia kepadanya, "Jangan takut. Pulanglah, lakukanlah seperti yang kaukatakan. Hanya saja, buatlah lebih dulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari tepung itu dan bawalah kepadaku. Sesudah itu barulah kaubuat bagimu dan anakmu." (1 Raja-raja 17:13)


Berbagi Kehidupan

Ajakan untuk berbagi kepada sesama tentu sudah sering digaungkan. Bahkan ajakan ini tidak pernah berhenti. Hal ini dapat menunjukkan bahwa masih sedikit orang yang menyadari pentingnya berbagi kepada orang lain. Banyak orang yang justru melihat kekurangan dirinya sendiri daripada memahami penderitaan orang lain. Bila mereka berbagi, mereka takut akan kekurangan mereka.

Seperti yang diperintahkan Tuhan, Elia pergi kepada seorang janda di Sarfat untuk menerima roti darinya. Namun, awalnya janda tersebut keberatan untuk membuatkan sepotong roti untuk Elia, sebab yang ia miliki hanyalah persediaan terakhirnya. Bagi janda tersebut, ia ingin makan bersama dengan anaknya untuk terakhir kalinya, sebelum ia mati kelaparan. Ia takut apabila berbagi dengan Elia maka ia tidak akan bisa menikmati makan bersama dengan anaknya. Oleh karenanya, Elia menasihatinya untuk tidak takut dan mengkhawatirkan hidupnya, sebab Tuhan sendirilah yang akan mencukupi hidupnya. Sekalipun secara nalar, ia akan kekurangan makanan bila berbagi dengan Elia. Namun, Elia menunjukkan bahwa penyertaan Tuhan itu melebihi pemahaman manusia.

Ketakutan dan kekhawatiran akan kekurangan yang kita miliki akan membutakan kita untuk melihat berkat Tuhan. Marilah kita menyadari bahwa melalui berkat-Nya, Ia mencukupi seluruh hidup kita. Oleh karenanya, janganlah takut akan kekurangan kita, tetapi berbagilah kepada sesama. Sebab dengan berbagi maka kita mewujudkan kehidupan dari-Nya. --ZDP/www.renunganharian.net

* * *
DENGAN BERBAGI, KITA MEWUJUDKAN KEHIDUPAN.

* * *




MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
&
JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Suatu Umat Yang Layak Bagi-Nya "
( LUKAS 1:17c )


JPA VISION 2026 : "Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang " | Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

#KeluargaJPA​​​ #TuhanBekerja​​​ #JPABerdampak​​​ #GPdI​​​ #GPdIJPA​​​ #Praise​​​ #Renungan2026 #DalamTerangmukamimelihatterang #JPAVision #multimediaJPA





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WARTA EDISI 8 FEBRUARI 2026

 JADWAL SEPEKAN MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK " & JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Su...

Post Bottom Ad

Halaman