RENUNGAN HARIAN
Bacaan Setahun: 1 Timotius 1-6
Nas: Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf, serta bayi yang berbaring di dalam palungan. (Lukas 2:16)
Respons Berita Natal
Menjelang Natal, saya terbiasa mengingat-ingat perayaan dan suasana Natal tahun-tahun, bahkan berpuluh tahun sebelumnya yang telah saya lalui. Saya teringat tokoh yang selalu muncul dalam peristiwa Natal sejak Sekolah Minggu, yaitu gembala dan orang majus.
Kedua tokoh ini memiliki respons yang sama saat mereka menerima berita kelahiran Yesus. Setelah gembala mendengar berita dari malaikat bahwa hari ini telah lahir Juruselamat, yaitu Mesias, Tuhan, di kota Daud, gembala-gembala itu cepat-cepat berangkat ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan dan menjumpai Maria dan Yusuf, serta bayi yang berbaring di dalam palungan (Luk. 2:15-16). Orang-orang majus dari Timur datang ke Yerusalem dan bertanya-tanya di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Mereka telah melihat bintang-Nya di Timur dan datang untuk menyembah Dia.
Orang majus masuk ke dalam rumah itu-tempat bintang yang mereka lihat di Timur itu berhenti-dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, dupa, dan mur (Mat. 2:1-2, 9-11).
Berita Natal mengingatkan kita seberapa besar kerinduan dan usaha kita untuk mencari dan menjumpai Yesus. Yesus bukan lagi sebagai bayi tetapi sebagai Tuhan dalam hidup kita. Sudahkah kita mencari dan menemukan Tuhan setiap hari melalui doa, pembacaan Alkitab dan saat teduh? --IN/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: 2 Timotius 1-4
Nas: Pada hari itu juga engkau harus membayar upahnya sebelum matahari terbenam, karena ia orang miskin dan hidupnya bergantung pada upah itu. Jangan sampai ia berseru kepada Tuhan mengenai engkau dan hal itu menjadi dosa bagimu. (Ulangan 24:15)
Bayar Tepat Waktu
Dalam kitab Taurat, Allah memerintahkan agar umat-Nya memperhatikan orang-orang miskin serta menunjukkan belas kasihan kepada mereka. Umat Allah diminta berempati kepada mereka. Contohnya ialah ketika seseorang menggunakan jasa mereka menjadi pekerja harian, ia wajib membayar upahnya hari itu juga, begitu selesai bekerja. Sebab, bisa saja upah yang diperolehnya itu akan digunakannya untuk mencukupi kebutuhannya beserta keluarganya untuk hari itu. Tidak memberikan hak sang pekerja akan menimbulkan penderitaan baginya, dan Allah menegaskan bahwa itu adalah dosa.
Allah menghendaki agar kita melakukan apa yang telah kita sepakati bersama pekerja kita (bdk. Mat. 20:2). Para pengusaha atau pemberi kerja harus memberikan hak para pekerjanya sesuai perjanjian yang mereka sepakati. Ini mencakup deskripsi pekerjaan, waktu pemberian upah, juga jumlah upahnya. Bahkan termasuk cara memberikannya, yakni dengan rasa hormat dan sikap berterima kasih. Cara memperlakukan para pekerja seharusnya menjadi cerminan perilaku kita sebagai umat Allah.
Di masa kini, upah pekerja dapat dibayarkan per hari, per minggu, per bulan, atau dengan sistem lain yang disepakati bersama. Namun, sayangnya banyak kasus di mana para pekerja tidak memperoleh hak mereka. Waktu gajian terlambat. Jumlah gaji dipotong tanpa kejelasan. Bahkan ada pekerja yang ditipu dan mengalami kerugian berlipat ganda. Kiranya praktik-praktik seperti ini tidak dilakukan oleh orang-orang percaya. Sebaliknya, kita dipanggil untuk memperhatikan hidup orang-orang yang bekerja untuk kita agar mereka juga hidup dengan sejahtera. --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Titus 1-3, Filemon 1-25
Nas: Salmon mempunyai anak, Boas dari Rahab; Boas mempunyai anak, Obed dari Rut; Obed mempunyai anak, Isai; Isai mempunyai anak, Raja Daud. Daud mempunyai anak, Salomo dari istri Uria. (Matius 1:5-6)
Rahab dan Batsyeba
Mencermati kisah-kisah di Alkitab, saya menemukan fakta bahwa Allah kerap memakai orang-orang yang "tidak dipandang" dunia untuk menggenapi rencana-Nya di bumi. Coba perhatikan daftar silsilah Yesus Kristus yang dituliskan oleh Matius, setidaknya kita bisa melihat ada dua nama yang sampai kapan pun akan tercatat dalam sejarah silsilah kelahiran Yesus.
Nama pertama adalah Rahab. Dari berbagai informasi sejarah, nama Rahab mengarah pada sosok wanita sundal yang menyembunyikan Yosua saat mengintai Kanaan. Wanita ini dibenarkan karena perbuatannya pada masa itu, lalu mendapat anugerah dengan munculnya nama Rahab pada daftar silsilah kelahiran Yesus. Nama kedua mengarah pada Batsyeba. Memang namanya tak disebutkan secara eksplisit, tapi ada keterangan bahwa Salomo diperanakkan dari istri Uria. Tampaknya Matius hendak mengarahkan pembaca menyelidiki apa kaitan Salomo, Daud, Uria, yang kisahnya tertulis dalam kitab 2 Samuel. Kita tahu bagaimana rencana keji Daud terhadap Uria, tetapi oleh anugerah Allah, sosok Batsyeba pun "dilibatkan" dalam rencana agung Allah pada kelahiran Yesus, yang harus dilahirkan dari daftar keturunan Daud.
Sebagai Pribadi yang berdaulat, Allah secara bebas dapat memakai siapa saja sebagai alat kemuliaan-Nya. Anugerah Allah pun bekerja melampaui kegagalan dan keterbatasan hidup manusia sehingga mereka yang dipandang hina atau ditolak oleh dunia sekalipun, dapat dipakai-Nya untuk menggenapkan rencana-Nya di dunia. Bukankah ini menjadi kabar yang menggembirakan bagi kita? --GHJ/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Ibrani 1-6
Nas: Setelah diperingatkan dalam mimpi supaya jangan kembali kepada Herodes, pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain. (Matius 2:12)
Melalui Jalan Lain
Sebelum mereka meninggalkan istana, orang-orang majus diinterogasi oleh Herodes. Ia meminta mereka, setelah menemukan Anak itu, memberi kabar kepadanya agar ia dapat menyembah Dia juga. Namun, setelah bertemu dengan Anak itu, mereka diperingatkan dalam mimpi agar tidak kembali kepada Herodes, tetapi pulang melalui jalan lain. Orang-orang majus menaati peringatan itu.
Apakah mereka menyadari bahaya yang mengancam seandainya mereka kembali ke Yerusalem? Matius tidak menjelaskannya. Namun, beberapa ayat kemudian kita membaca tentang pembantaian bayi oleh Herodes yang keji. Secara tersirat Matius memperlihatkan risiko yang diambil oleh orang-orang majus itu ketika mereka memilih untuk tidak menaati perintah Herodes.
Mereka yakin bahwa Anak di rumah bersahaja itu adalah Raja yang lebih agung dan lebih berkuasa daripada Herodes. Yang perintah-Nya lebih patut diikuti. Bahkan sekalipun mereka harus mempertaruhkan nyawa. Mereka pun pulang "melalui jalan lain". Kata jalan di ayat ini tidak hanya mengacu pada jalan secara geografis, tetapi juga mengacu pada jalan hidup (bdk. Mat. 7:13-14; Yoh. 14:6). Perjumpaan dengan Sang Raja nyatanya mengubah jalan hidup mereka secara radikal.
Sejauh mana perjumpaan dengan Allah mengubah dan memengaruhi jalan hidup kita? Bagaimana perjumpaan itu membangkitkan ketaatan dan keberanian kita untuk "melalui jalan lain" meskipun jalan itu menyulitkan kita? --ARS/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Ibrani 7-10
Nas: Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya, "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, " dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. (1 Timotius 1:15)
Yang Paling Berdosa
Semua orang punya masa lalu, termasuk para pengikut Kristus yang paling setia. Ada yang dulunya terjerumus dalam berbagai tindakan kriminal atau hidup bergelimang dosa. Sebagian lain mungkin menjalani masa lalu yang tergolong baik menurut cara pandang manusia serta tidak memiliki catatan kejahatan. Namun, sebenarnya semua orang memiliki satu kesamaan. Kita semua adalah pendosa, dan tak seorang pun yang menjalani hidup yang benar menurut standar Allah (bdk. Rm. 3:10, 23).
Dalam suratnya kepada Timotius, anak rohaninya, Rasul Paulus menggambarkan betapa ia bersyukur atas kasih karunia yang Tuhan limpahkan baginya. Dulunya ia adalah seorang penghujat serta penganiaya pengikut Kristus. Ia melakukan berbagai upaya untuk membinasakan mereka. Ia melakukan itu sebelum ia mengenal Tuhan Yesus. Setelah mengenal-Nya serta memahami karya keselamatan-Nya, ia pun menyebut bahwa dirinya adalah orang paling berdosa yang telah dikasihani dan diselamatkan Tuhan Yesus. Pemahaman ini timbul dari kesadaran serta kerendahan hati dari seseorang yang telah mengalami anugerah Allah. Sebagai tanda syukurnya, ia pun melayani Kristus dengan giat dan setia.
Di hadapan anugerah Allah, kita seharusnya menyadari bahwa kita adalah orang-orang yang pantas dimurkai. Kita adalah pendosa yang patut dihukum serta mengalami kebinasaan. Pengampunan dan kasih-Nyalah yang menyelamatkan kita. Maka hendaknya kita selalu mengingat masa lalu kita dengan mata yang tertuju kepada anugerah Allah sehingga kita selalu rendah hati serta penuh dengan syukur. --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Ibrani 11-13
Nas: Jawab Yesus, "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4)
Sarapan Sehat
Sarapan sangat penting untuk memberi energi dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh guna memulai hari. Selain memberi energi, sarapan dapat meningkatkan konsentrasi, menjaga metabolisme, mencegah makan berlebih (terutama keinginan untuk nyemil makanan yang kurang sehat), juga meningkatkan mood baik, sehingga tidak mudah marah atau kehilangan semangat. Namun, ada sarapan yang dapat mengganggu pencernaan, menyebabkan lonjakan gula darah, atau membuat tubuh cepat lemas. Yakni saat kita sarapan dengan gorengan, makanan tinggi gula, minuman bersoda, dan berbagai makanan olahan yang tinggi garam dan lemak jenuh.
Demikian pula sarapan secara rohani, yang kita konsumsi setiap pagi. Sarapan sehat bagi rohani tak lain mengonsumsi firman Tuhan, untuk mendasari hari baru yang akan kita hadapi. Namun, bukankah di masa kini banyak orang cenderung membuka hari dengan sarapan story media sosial? Padahal, sesuatu yang kita lihat pertama kali di pagi hari sangat memengaruhi mood dan fokus sepanjang hari.
Tuhan Yesus memberi teladan bagi kita untuk memprioritaskan Allah di atas kebutuhan, apalagi sekadar keinginan duniawi. Yesus yang lapar dan butuh makan saja memilih untuk tetap menjaga ketaatan-Nya pada kebenaran kehendak Allah, alih-alih memprioritaskan urusan perut-Nya. Di sini, penguasaan diri yang Yesus lakukan bukan hanya tentang menahan diri, melainkan juga tentang berpegang teguh pada kebenaran Allah. Inilah pentingnya firman, supaya pengendalian diri kita berdasar pada kebenaran kehendak-Nya. --EBL/www.renunganharian.net
* * *
MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar