RENUNGAN HARIAN
Bacaan Setahun: Roma 1-3
Nas: Tetapi, anak-anak lelaki Eli adalah orang durjana; mereka tidak mengindahkan Tuhan. (1 Samuel 2:12)
Berdosa di Rumah Tuhan
Sebagai imam, Hofni dan Pinehas bertugas memimpin umat Allah dalam kegiatan peribadatan, khususnya dalam mempersembahkan kurban. Jabatan kehormatan ini seharusnya dilakukan dengan memperhatikan aturan yang telah Tuhan tetapkan dengan sangat jelas dalam Taurat Musa. Namun, pada praktiknya mereka melakukannya sesuka hati. Mereka menyalahgunakan jabatan demi kesenangan sendiri, termasuk dengan ancaman kekerasan (ay. 13-16). Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka juga berzina dengan para pelayan Tuhan (ay. 22). Mereka mengabaikan semua teguran serta peringatan dari sang ayah serta dari umat yang mereka layani.
Dosa serta kejahatan memang dapat terjadi di mana saja. Di tempat di mana kebenaran diberitakan, di sana bisa juga terdapat kebohongan. Di mana kasih dikhotbahkan, di sana permusuhan juga bisa terjadi. Bahkan, bisa saja ada orang yang mengatasnamakan Tuhan untuk membungkus kejahatannya. Tidak ada area yang steril dari dosa karena semua manusia memang telah jatuh ke dalam belenggunya.
Hofni dan Pinehas menjalani hidup yang penuh dosa lalu bersikap seolah itu adalah hal yang biasa. Hingga hari ini, banyak orang memiliki pikiran yang sama. Mereka abai terhadap Allah yang benar dan kudus, yang menghendaki umat-Nya menjalani hidup yang berkenan bagi-Nya. Mereka seolah lupa bahwa dosa pasti membawa kita mengalami murka Allah serta menuju kebinasaan kekal. Kedua imam ini pun mendapatkan penghukuman dari Allah. Ya, jika kita terus hidup di dalam dosa, kita akan binasa. Kita harusnya menyadari keberdosaan kita, lalu bertobat, serta belajar menjalani hidup menuruti kehendak Allah, di mana pun kita berada. --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Roma 4-7
Nas: Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah membuat kita lahir kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada hidup yang penuh pengharapan. (1 Petrus 1:3)
Harapan di Dalam Kristus
Kehidupan di dunia sering kali membuat kita merasa lelah dan kehilangan harapan. Keadaan ekonomi, masalah keluarga, penyakit, atau kegagalan dapat menghantam begitu keras hingga kita merasa tidak ada jalan keluar. Kadang kesukaran dan masalah kehidupan tersebut membuat kita kehilangan harapan. Namun, sebagai orang percaya, kita memiliki sumber harapan yang tidak tergoncangkan, yaitu Yesus Kristus.
Surat 1 Petrus ini ditujukan kepada jemaat yang hari itu sedang mengalami kesukaran yang bertubi-tubi. Mereka mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh kerajaan Romawi kepada orang-orang Kristen. Sejarah menunjukkan beberapa Kaisar Romawi dengan bengis menekan, menganiaya, hingga membunuh orang-orang Kristen dengan kejam. Belum lagi kebencian dan perlakuan tidak adil dari para pemimpin dan masyarakat di mana mereka tinggal. Mereka ditekan secara politik, ekonomi, sampai sosial. Bahaya dan kematian senantiasa mengancam. Apa nasihat Rasul Petrus kepada mereka? Dalam 1 Petrus 1:3, Rasul Petrus mengingatkan bahwa kebangkitan Kristus adalah dasar pengharapan kita. Bukan hanya pengharapan akan kehidupan kekal, tetapi juga pengharapan akan penyertaan Tuhan di tengah kesulitan hidup yang kita hadapi sekarang.
Kita diingatkan bahwa Kristus tidak hanya mati untuk dosa-dosa kita, tetapi Ia juga bangkit agar kita memiliki hidup yang baru, yang penuh pengharapan dan tujuan. Harapan dalam Kristus tidak pernah sia-sia karena didasarkan pada janji Allah yang kekal dan tidak berubah. Di tengah kehidupan yang sulit, yang tengah kita jalani, selalu ada pengharapan sejati di dalam Tuhan Yesus. Jadi, jangan menyerah dan berputus asa. --DSK/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Roma 8-10
Nas: Jika demikian, apakah upahku? Upahku ialah ini: Bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak menggunakan hakku sebagai pemberita Injil. (1 Korintus 9:18)
Apa Upahku?
Hati saya tersentuh saat mendengar pengakuan seorang hamba Tuhan yang memutuskan untuk bertahan melayani Tuhan di daerah pedalaman. Hamba Tuhan dengan seorang istri dan dua orang anaknya ini telah bertahun-tahun setia menggembalakan jemaat sederhana yang jumlahnya tidak lebih dari dua puluh orang. Untuk bertahan hidup, beliau memanfaatkan lahan kecil yang ditanami sayur serta persembahan jemaat yang berupa hasil bumi setiap minggunya. Beberapa kali beliau ditawari penggembalaan di kota, dengan iming-iming penghidupan yang lebih layak dan berbagai fasilitas, tetapi selalu ditolaknya. Baginya, tidak ada sukacita yang lebih besar selain memegang teguh komitmen awal untuk setia melayani jiwa-jiwa di pedalaman itu sekalipun tidak ada upah materi yang diperoleh.
Rasul Paulus memakai dirinya sendiri sebagai teladan mengenai prinsip penyangkalan diri dalam melayani Tuhan. Sebagai seorang rasul, sesungguhnya ia memiliki hak upah dari pelayanannya itu. Namun, ia berkomitmen untuk melepaskan hak itu supaya ia tidak membatasi pelayanannya dan menghambat kemajuan Injil. Rasul Paulus membangun prinsip ini dengan ketulusan dan bukan mencari simpati orang lain. Dengan tulus ia berkata, "Upahku adalah bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil."
Sungguh menyukakan hati ketika kita mendapati ternyata masih ada orang yang tidak mendasarkan pelayanannya pada keuntungan atau upah yang bisa diperolehnya. Bagi mereka, masih dipercaya Tuhan untuk melayani adalah upah yang tak ternilai harganya. Bagaimana dengan kita? --SYS/www.renunganharian.net
Bacaan Setahun: Roma 11-13
Nas: Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Efesus 5:16)
Hidup yang Produktif
Suatu ketika saya menghadiri jamuan makan dari seorang dokter yang sudah lansia, tapi masih memiliki kebugaran yang baik. Beliau terlihat masih menyantap hidangan yang biasanya dijauhi oleh para lansia, sembari menceritakan rutinitasnya sebagai dokter. Secara rutin beliau masih praktik di tiga rumah sakit dan masih sempat membaca buku secara rutin. "Produktif sekali hidupnya, bahkan bisa menginspirasi banyak orang untuk menjalani hidup sehat!" gumam saya ketika mendengarkan pengalaman hidup beliau.
Menjaga agar hidup tetap produktif tak hanya milik lansia atau mereka yang memasuki masa purnatugas dalam pekerjaan. Kita yang lebih muda juga perlu menjalani hidup produktif karena sejatinya Tuhan memberikan waktu yang berharga setiap hari. Namun sayang, belakangan ini kita justru melihat ada banyak orang menghabiskan waktu untuk melakukan perkara yang sia-sia, misalkan bermain gim atau bermain media sosial secara berlebihan. Durasi waktu yang terbuang akan lebih bermanfaat jika dipakai untuk melakukan aktivitas lain, seperti pengembangan diri, mengasah keterampilan, atau bersekutu secara pribadi dalam doa dan pembacaan Alkitab.
Bertolak dari nas renungan kita, dorongan agar umat Allah belajar mempergunakan waktu dengan bijak, masih perlu untuk diperhatikan. Tujuannya tak lain agar setiap hari kita dapat menjalani hidup yang produktif, tak sekadar menghabiskan waktu dengan terlihat sibuk, tetapi sebenarnya hidup kita sia-sia belaka. Mari kobarkan semangat untuk hidup produktif setiap hari. --GHJ/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Roma 14-16
Nas: "Sekarang, perhatikanlah mulai hari ini dan selanjutnya: Sebelum batu demi batu disusun untuk Bait Tuhan, bagaimana keadaanmu?" (Hagai 2:15-16)
Mengutamakan Allah
Apakah yang paling kita perhatikan dalam hidup? Tuhan, sesama, ataukah justru diri kita sendiri? Sadarkah bila hal yang paling kita perhatikan dalam hidup adalah hal yang kita utamakan? Maka baiklah apabila kita melihat dan memeriksa diri kita, merenungkan serta mencoba mengoreksi, apabila mungkin kita telah salah dalam mengarahkan hidup.
Memperhatikan, menjadi pesan yang berulang kali Allah sampaikan dalam firman-Nya. "Perhatikanlah keadaanmu, " demikian firman Allah merujuk pada kondisi sebelum dan sesudah batu-batu Bait Allah diletakkan. Sebelum Bait Allah mulai dibangun kembali, segala sesuatu yang mereka buat akan hancur. Allah menghukum mereka karena bukannya memikirkan rumah-Nya, tetapi justru memikirkan diri mereka sendiri dengan mengutamakan rumah dan kebun mereka (Hag. 1:4-6). Allah pun mengajak mereka memperhatikan kondisi mereka setelah Bait Allah mulai dibangun kembali, sekalipun dalam kondisi di mana mereka sudah tidak memiliki apa pun. Dalam ketiadaan tersebut, Allah justru memberikan berkat. Allah menegur mereka yang hanya memikirkan dirinya sendiri ketika mereka masih memiliki. Dengan memberikan ketiadaan, sejatinya Allah mengajak mereka kembali mengingat siapa dan dari mana mereka beroleh hidup, serta sungguh-sungguh mengutamakan Allah dalam hidup.
Seberapa pun besarnya kekuatan kita, kita manusia yang penuh keterbatasan. Untuk itu, marilah kita mengutamakan Allah dalam hidup, sebab Allah memberikan hidup bagi kita dengan mencurahkan berkat-Nya. --ZDP/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: 1 Korintus 1-4
Nas: Apabila kamu menjadi marah, janganlah berbuat dosa: Janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu. (Efesus 4:26)
Marah Tanpa Dosa
Suatu siang, saat berkunjung ke rumah nenek, seorang tetangga tampak sibuk di kebun samping rumahnya. Saya pun bertanya kepada nenek, "Rajin amat panas-panas begini bersih-bersih kebun?" "Itu tandanya dia sedang marah!" sahut nenek. Oh, rupanya ia sedang menyalurkan emosi negatifnya.
Manusia diciptakan dengan berbagai emosi sebagai bagian dari kompleksitasnya. Emosi adalah respons alami terhadap situasi yang sedang dihadapi. Marah adalah salah satu bentuknya. Adalah wajar jika manusia menjadi marah saat merasa tidak dihargai, diperlakukan tidak adil, dikecewakan, mengalami kegagalan atau frustrasi. Namun demikian, marah merupakan emosi yang bersifat negatif sehingga diperlukan hikmat untuk mengelolanya.
Rasul Paulus pun berpesan kepada jemaat supaya jangan berbuat dosa saat kemarahan menguasai hati. Emosi memang harus disalurkan. Namun, emosi negatif, baik kemarahan, kesedihan, atau ketakutan harus tetap disikapi dengan bijaksana. Bagi orang percaya, hal pertama yang dapat dilakukan tentu mengambil waktu untuk berdoa dan bersaat teduh. Selain sebagai wujud iman, doa dan saat teduh dapat menjadi sarana meditasi yang melatih kesadaran untuk menerima emosi tanpa menghakimi. Selanjutnya, kita dapat mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat. Dengan menulis atau berbicara (sharing dengan orang yang dapat dipercaya). Dapat pula dengan melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga. Melalui seni, seperti bermain alat musik atau mendengarkan lagu, dan melalui banyak cara positif lainnya. --EBL/www.renunganharian.net
* * *
MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar