RENUNGAN EDISI 5 OKTOBER 2025 - JPA CHANNEL

JPA CHANNEL

JPA VISION 2026 " Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang "

MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

Breaking News


Cari Blog Ini

Sabtu, 04 Oktober 2025

RENUNGAN EDISI 5 OKTOBER 2025

 RENUNGAN HARIAN





RENUNGAN SENIN

Bacaan: AMSAL 26:13-16


Bacaan Setahun: Zakharia 1-7


Nas: Pemalas berkata, "Ada singa di jalan! Ada singa di tengah lapangan!" (Amsal 26:13)

Malas


Kemalasan menjadi tantangan bagi manusia sepanjang masa. Bagi orang malas, selalu ada alasan yang sempurna untuk menunda melakukan sesuatu atau untuk menghindari suatu pekerjaan. Padahal semua orang tahu, sikap bermalas-malasan hanya akan menghasilkan hal-hal negatif. Malas belajar akan menghasilkan kebodohan. Malas bekerja akan mengakibatkan kemiskinan. Malas berpikir akan membuat hidup berkutat dalam keadaan yang begitu-begitu saja. Intinya, hidup seorang pemalas pastilah tidak produktif.


Kitab Amsal menggambarkan perilaku para pemalas dengan sangat jelas. Berdalih bahwa ada bahaya di jalan atau di luar rumah (ay. 13) sehingga ia tidak ke mana-mana, hanya seperti pintu yang berputar pada engselnya (ay. 14). Generasi zaman sekarang menyebutnya mager alias malas gerak, yang hobinya adalah rebahan. Mengerjakan hal mudah yang merupakan kebutuhan diri sendiri pun tidak bisa ia lakukan dengan cekatan. Ironisnya, ia menganggap dirinya lebih bijak dari orang lain (ay. 16). Dan tentu saja, ia hebat dalam menemukan begitu banyak alasan untuk tetap malas.


Sejujurnya, semua orang pasti pernah diserang rasa malas. Namun, janganlah sifat malas menjadi kebiasaan, watak, ataupun sifat yang melekat pada diri kita. Allah kita ialah pribadi yang aktif. Dia menghendaki anak-anak-Nya hidup secara produktif serta memaksimalkan segenap potensi yang Dia berikan bagi kita. Melalui hidup yang menghasilkan berbagai buah yang baik, kita dapat memberkati banyak orang, serta memuliakan Allah. Tentunya, bekerja keras perlu diseimbangkan dengan istirahat, berlibur, atau kegiatan rekreasional lainnya. --HT/www.renunganharian.net


* * *


SIFAT MALAS TIDAK AKAN PERNAH MENUNTUN KITAKEPADA HIDUP YANG MEMULIAKAN TUHAN.


* * *




RENUNGAN SELASA

Bacaan: KEJADIAN 41:1-45


Bacaan Setahun: Zakharia 8-14


Nas: Firaun berkata lagi kepada Yusuf, "Dengan ini aku memberi engkau kuasa atas seluruh tanah Mesir." (Kejadian 41:41)



Belum Sampai Akhir


Seorang anak kecil melihat kakaknya membaca novel. Anak itu datang menemui ayahnya dan bertanya apakah ayahnya tahu isi cerita novel itu. "Ya, " jawab ayahnya, "isinya membahagiakan." "Tetapi kulihat kakak menitikkan air mata, " ia memprotes. Ayahnya tersenyum, lalu berkata, "Itu karena kakak belum sampai pada akhirnya."


Dalam Alkitab ada banyak kisah untuk disimak. Salah satunya kisah Yusuf. Saat muda, Yusuf mendapat dua mimpi yang menerangkan bahwa kelak ia menjadi penguasa (Kej. 37:7, 9). "Membahagiakan, " itulah kesimpulan mengenai kisah Yusuf. Mengherankan karena membaca bagian berikutnya membuat kita menitikkan air mata. Tertulis di sana Yusuf dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya (Kej. 37:28). Yusuf bekerja keras, tetapi yang ia dapatkan adalah ketidakadilan. Istri tuannya memfitnahnya sehingga ia dipenjara (Kej. 39:17-20). Kembali Yusuf bekerja keras, pula membantu dua pegawai kerajaan. Sekali lagi, yang ia dapatkan adalah ketidakadilan. Seorang dari mereka yang beruntung, yakni kepala juru minuman, melupakan jasanya (Kej. 40:23). Kita mengaduh, mengeluh mengapa nasib Yusuf seburuk itu. Serupa jawabnya, kita belum sampai pada akhirnya. Dari penjara, Yusuf dipanggil untuk mengartikan mimpi Firaun, raja Mesir (ay. 14). Ia berhasil, lalu diangkat menjadi penguasa seluruh negeri itu (ay. 41). Membahagiakan, bukan?


Mungkin kita sedang merasakan kesengsaraan. Beratnya pergumulan kita alami sampai membuat kita menitikkan air mata. Namun, jangan dulu kita berputus asa. Ingatkan diri sendiri bahwa sekarang belum akhirnya. Karena di dalam Tuhan akan indah pada waktu-Nya. Pasti kesengsaraan berubah menjadi kebahagiaan. --LIN/www.renunganharian.net


* * *


SAAT SAMPAI PADA BAGIAN AKHIR DARI KEHIDUPAN YANG DIRANCANGKANOLEH TUHAN, PASTI SELALU KITA MENDAPATI KEBAHAGIAAN.


* * *




RENUNGAN RABU

Bacaan: 1 KORINTUS 13


Bacaan Setahun: Maleakhi


Nas: Ia menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. (1 Korintus 13:7)



Menemukan Makna


Banyak kali harga tindakan mulia adalah derita. Meski begitu, banyak orang tak ragu bertindak mulia: orang tua rela menderita demi anak-anak, para petugas medis mewakafkan hidup demi para penderita Covid-19, seorang guru perempuan di NTT rela berjalan kaki tiap hari melintasi hutan dan sungai demi para muridnya. Mereka rela menderita demi hal mulia yang mereka perjuangkan.


Apa yang membuat mereka rela menanggung derita begitu rupa? "Kiat untuk tahan menderita adalah menemukan makna pada penderitaan itu, " kata Friedrich Nietzsche. Anda setuju?


Memang, menemukan dan meyakini makna derita yang dialami adalah pijakan kokoh untuk menanggung derita. Namun, ada catatan penting: Tak semua tindakan benar dan baik. Makna yang melandasinya bisa salah dan jahat. Artinya, tak semua makna memadai untuk diyakini. Bukankah makna-pijakan kokoh untuk diyakini itu-haruslah sesuatu yang benar, yang baik, yang bermoral?


Alkitab berkata, kasih itu "sabar menanggung segala sesuatu" (ay. 7c). Cinta memampukan orang melakukan hal-hal mulia dan memikul konsekuensinya: David Livingstone rela menempuh semua kesulitan demi mewartakan Kristus di pedalaman Afrika abad XIX, dokter Sitanala rela menanggung risiko terinfeksi kusta demi para penderita kusta di Indonesia, Chanee Kalaweit, orang Prancis, rela tinggal di hutan Kalimantan demi pelestarian satwa liar. Dan banyak lagi.


Anda lihat? Makna yang benar, yang memampukan orang menanggung derita, adalah cinta: cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada sesama ciptaan. --EE/www.renunganharian.net


* * *


MAKNA-YAKNI PIJAKAN KOKOH UNTUK DIYAKINI ITU-HARUSLAH SESUATU YANG BENAR, YANG BAIK, YANG BERMORAL.


* * *




RENUNGAN KAMIS

Bacaan: KOLOSE 3:5-17


Bacaan Setahun: Matius 1-4


Nas: Di atas semuanya itu: Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. (Kolose 3:14)



Satu Sendok Kasih


Menambahkan satu sendok bumbu tertentu ke dalam masakan menjadikan masakan tersebut berbeda. Jika memang takaran bumbu itu tepat maka akan dihasilkan makanan yang semakin lezat sehingga terasa nikmat untuk disantap. Ya, satu sendok bumbu dapat mengubah cita rasa makanan.


Kita bisa membayangkan kasih sebagai salah satu dari bumbu yang dapat kita tambahkan dalam berelasi dengan sesama. Satu sendok kasih ditambahkan kepada setiap tindakan kita. Mungkin terlihat sepele, tapi hasilnya pasti berbeda. Menjadi semakin baik, manis, hangat, damai, dan tenteram. Saat berhadapan dengan orang-orang yang menjengkelkan, tambahan satu sendok kasih menolong kita mampu bersabar atau mengampuni (ay. 13). Kita bahkan bisa menegur mereka dengan kasih, bukan dengan kebencian atau amarah. Saat ada ancaman perpecahan, tambahan satu sendok kasih bisa menjadi perekat yang mempersatukan. Saat perilaku egois mulai muncul, tambahan satu sendok kasih akan mendorong kita untuk mulai memperhatikan kepentingan orang lain. Satu sendok kasih bisa menolong kita untuk tidak melemahkan semangat orang lain, melainkan memberi mereka dorongan.


Mengibaratkan tindakan mempraktikkan kasih seperti halnya menambahkan satu sendok bumbu mungkin bisa membuat kita lebih mudah melakukannya. Tidak harus membayangkan suatu tindakan yang spektakuler dan penuh pengorbanan, tetapi dimulai dengan tindakan-tindakan yang kecil. Cukup satu sendok. Namun, ketika kita mampu melakukannya maka kasih Allah yang mengalir di dalam kita akan tersalurkan kepada banyak orang. Karenanya, mari tambahkan satu sendok kasih dalam setiap perkataan dan perbuatan kita. --HT/www.renunganharian.net


* * *


SEKALIPUN TINDAKAN KASIH YANG KITA PERBUAT TAMPAKNYA KECIL,TETAPI DAMPAKNYA BISA MENGHASILKAN HAL-HAL YANG TIDAK KERDIL.


* * *




RENUNGAN JUMAT

Bacaan: 1 SAMUEL 15:1-23,


Bacaan Setahun: Matius 5-6


Nas: 1 SAMUEL 16:14-23 "Mengapa engkau tidak mendengarkan suara Tuhan? Mengapa engkau menyambar jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan?" (1 Samuel 15:19)



Mendengarkan Membangun Hubungan


Mendengar artinya menangkap suara dengan telinga. Misal, saat joging saya mendengar suara burung. Mendengarkan artinya menangkap suara dengan sungguh-sungguh. Contoh, saya duduk diam mendengarkan istri "curhat". Orang yang mendengarkan saat seseorang berbicara bisa menangkap utuh pesan yang disampaikan dan mendapatkan respek dari lawan bicaranya. Sebaliknya, orang yang selalu berfokus pada dirinya sendiri dan bicara tentang diri dan kepentingan sendiri, jarang mengembangkan hubungan dengan orang lain.


Allah mau kita menjadi orang Kristiani yang mendengarkan firman-Nya, fokus kepada-Nya, membangun hubungan yang kuat dengan-Nya. Hubungan Allah dengan Saul rusak, padahal Allah yang menunjuk Saul sebagai raja Israel, berawal dari Saul sendiri yang tidak mendengarkan suara Allah. Allah perintahkan Saul menumpas habis bangsa Amalek (ay. 3), tapi yang dilakukan Saul dan rakyat Israel berbeda dengan apa yang Allah perintahkan (ay. 9). Di waktu berbeda, Saul mau mendengarkan ide dari para hambanya untuk mencari seorang yang pandai main kecapi. Saat roh jahat menganggunya, Daud memainkan kecapi, sehingga roh jahat itu undur dan Saul merasa lega.


Mendengarkan suara Tuhan melalui Alkitab yang setiap hari kita renungkan, mendengarkan sesama bercerita sesuatu kepada kita, membuat kita mampu merespons dengan tepat. Ketika kita menjadi pendengar yang mendengarkan, kita membantu orang lain, kita mengembangkan hubungan yang kuat, dan mampu memenuhi kebutuhan diri sendiri dan orang yang kita dengarkan. --RTG/www.renunganharian.net


* * *


ALLAH MAU KITA MENDENGARKAN FIRMAN-NYA, BERFOKUS KEPADA-NYA,DAN MEMBANGUN HUBUNGAN YANG KUAT DENGAN-NYA.


* * *




RENUNGAN SABTU

Bacaan: 2 KORINTUS 8:1-15

Bacaan Setahun: Matius 7-8

Nas: Mereka memberikan lebih banyak daripada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Tuhan, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. (2 Korintus 8:5)


Milik Tuhan

Saya mengenal seorang pria yang gemar menolong. Ia rutin membagikan sebagian harta miliknya untuk siapa pun yang membutuhkan. Kebiasaannya adalah datang tiba-tiba. Supaya tidak merepotkan tuan rumah, katanya. Dalam suatu perbincangan, saya menanyakan motivasinya melakukan kebiasaan itu. Ia menjawab, "Seluruh harta saya adalah milik Tuhan. Saya hanya pengelola. Saya harus mengelola harta itu sesuai kehendak Dia yang memilikinya. Selain itu, saya pun adalah milik-Nya. Saya tidak akan dibiarkan-Nya berkekurangan karena Dia akan senantiasa memelihara kehidupan saya."

Kepada jemaat di Korintus, Paulus memberikan kesaksian tentang teladan iman jemaat Makedonia. Jemaat Makedonia memiliki kerelaan untuk memberi sekalipun mereka sendiri berada dalam berbagai penderitaan. Bahkan pemberian mereka melampaui kemampuan. Bagaimana mereka menumbuhkan kemurahan hati seperti ini? Pertama, jemaat Makedonia memberi diri mereka kepada Allah.

Memberi diri kepada Tuhan berarti merendahkan hati untuk menaati seluruh kehendak-Nya. Meninggalkan segala nafsu dan keinginan diri. Inilah fondasi dasar yang semestinya dibangun setiap orang percaya. Penyerahan diri kepada Tuhan secara utuh juga memungkinkan kita menyadari bahwa segala yang ada pada kita adalah kepunyaan-Nya. Karena itu, memberi diri kepada Tuhan akan diikuti dengan kerelaan, bahkan kerinduan untuk memberi segala milik kita bagi pekerjaan Tuhan. Sebab, saat menggunakan harta milik kita sesungguhnya kita sedang memberikan kepada Tuhan kepunyaan-Nya sendiri. --EBL/www.renunganharian.net

* * *
SELURUH HARTA KITA ADALAH MILIK TUHAN. MEMAKAINYA UNTUK PEKERJAAN
TUHAN SAMA HALNYA MEMBERI KEPADA TUHAN HARTA MILIK-NYA SENDIRI.

* * *




MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

&
JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Suatu Umat Yang Layak Bagi-Nya "
( LUKAS 1:17c )


Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

#KeluargaJPA​​​ #TuhanBekerja​​​ #JPABerdampak​​​ #GPdI​​​ #GPdIJPA​​​ #Praise​​​ #Renungan2025 #MembangunKarakterIlahi #JPAVision #multimediaJPA






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WARTA EDISI 1 FEBRUARI 2026

 JADWAL SEPEKAN  MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK " & JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan S...

Post Bottom Ad

Halaman