RENUNGAN HARIAN
RENUNGAN SENIN
Bacaan: 2 RAJA-RAJA 5
Bacaan Setahun: Amos 1-5
Nas: Gehazi, hamba Elisa, abdi Allah itu, berkata, "Sesungguhnya tuanku terlalu baik hati kepada Na'aman, orang Aram ini, dengan tidak menerima persembahan yang dibawanya. Demi Tuhan yang hidup, sesungguhnya aku akan berlari mengejar dia dan akan menerima sesu (2 Raja-raja 5:20)
Korupsi Gehazi
Sebagai pelayan Nabi Elisa, Gehazi telah mendampingi sang nabi dalam mewartakan firman Tuhan serta telah menjadi saksi mata terhadap berbagai mukjizat yang Allah perbuat melalui Elisa. Seharusnya pengalaman itu membuat Gehazi memiliki sikap takut akan Tuhan serta menghormati nabi-Nya. Namun, ternyata tidak otomatis demikian.
Na'aman, panglima raja Aram, telah mengalami kesembuhan dari penyakitnya setelah Elisa menyuruhnya mandi tujuh kali di Sungai Yordan. Ia pun memberikan persembahan yang sangat besar jumlahnya sebagai tanda syukurnya. Namun, Elisa menolaknya. Elisa hendak mengajar Na'aman bahwa kesembuhan yang ia alami bukanlah karena jasanya, melainkan karena Allah sendiri. Sebagai hasilnya, Na'aman dengan rela mempersembahkan dirinya kepada Allah dengan berkomitmen menjadi penyembah-Nya (ay. 17). Elisa pun melepasnya kembali ke negerinya.
Namun, Gehazi merasa bahwa Nabi Elisa telah bertindak terlalu baik kepada sang panglima. Dengan kesadaran penuh, bahkan mengatasnamakan Tuhan, ia mencari keuntungan sendiri. Ia mengarang cerita bohong serta memperalat nama Elisa untuk mendapatkan keuntungan dari Na'aman. Sungguh suatu tindakan licik dan jahat. Gehazi mungkin lupa bahwa Allah yang selama ini ia layani adalah Allah yang Maha Tahu. Atau, godaan harta dunia telah membutakannya. Ia lupa bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Ia bersama anak cucunya pun menderita penyakit yang tadinya dialami Na'aman. Sungguh menyedihkan dan mengerikan. Kiranya pelajaran mahal yang dialami Gehazi berbicara dengan kuat ke dalam hati kita agar kita tidak mengikuti jejaknya. --HT/www.renunganharian.net
* * *TAK PEDULI SEBERAPA BANYAK KITA TELAH MENYAKSIKAN KARYA TUHAN,KITA TETAP HARUS WASPADA AGAR TIDAK TERJERAT PADA GODAAN DUNIA.
* * *
RENUNGAN SELASA
Bacaan: YOSUA 22:9-34
Bacaan Setahun: Amos 6-9
Nas: Kemudian orang Israel mengutus Pinehas bin Eleazar, ke tanah Gilead, kepada bani Ruben, bani Gad, dan suku Manasye yang setengah itu. (Yosua 22:13)
Konfirmasi Lebih Dahulu
Seseorang pernah meminjam uang kepada saya dan berjanji membayarnya. Pada tanggal jatuh tempo, dia tidak ada kabar. Saya tunggu tiga hari, tak ada kabar juga, maka saya WhatsApp (WA). Hanya centang satu, saya telepon nomor tidak aktif. Prasangka buruk muncul di pikiran dan saya katakan kepada istri. "Jangan berprasangka buruk, coba datangi rumahnya dan cari tahu, " saran istri. Saya turuti saran itu. Sesampainya di rumahnya, dia ada. Ternyata telepon seluler dan sepeda motornya rusak, anaknya sakit, dan dia tak punya uang.
Bani Ruben, bani Gad, dan suku Manasye yang setengah itu pergi ke tanah Gilead dan mendiami tanah milik mereka sesuai yang dijanjikan Tuhan (ay. 9). Saat mereka sampai di Gelilot, mereka mendirikan mezbah yang besar (ay. 10). Hal ini terdengar oleh orang Israel, lalu prasangka buruk muncul sehingga berkumpullah segenap umat Israel di Silo, untuk maju memerangi mereka (ay. 12). Untung saja, mereka lebih dulu mengutus Imam Pinehas beserta sepuluh pemimpin untuk meminta konfirmasi. Ternyata, ketiga suku ini tak ada niat berpaling dari Tuhan. Mereka mendirikan mezbah untuk bukti bagi keturunan Israel berikutnya (ay. 27). Hal ini dipandang baik oleh orang Israel sehingga perang saudara urung terjadi (ay. 33).
Biasakan konfirmasi lebih dulu saat kita mendapat kabar buruk yang belum jelas kepastiannya. Kita sendiri pasti tidak nyaman saat dicurigai padahal belum diklarifikasi. Jangan gemar berprasangka buruk agar kita tidak melakukan tindakan bodoh dan merugikan diri sendiri serta orang lain. --RTG/www.renunganharian.net
* * *BIASAKAN KONFIRMASI LEBIH DULU SAAT KITAMENDAPAT KABAR BURUK YANG BELUM JELAS KEPASTIANNYA.
* **
RENUNGAN RABU
Bacaan: 1 RAJA-RAJA 21:1-16
Bacaan Setahun: Obaja 1, Yunus 1-4
Nas: Lalu Ahab masuk ke dalam istananya dengan hati kesal dan gusar karena perkataan yang diucapkan Nabot, orang Yizre'el itu, kepadanya, "Aku tidak akan memberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku." (1 Raja-raja 21:4)
Penyebab Ketidakbahagiaan
"Puji Tuhan!" ucap seorang wanita sesudah menutup percakapan di telepon. Wajahnya tampak riang. Baru saja pihak swalayan langganannya memberitahu bahwa ia mendapat hadiah undian berupa panci penggorengan. Ia menelepon sahabatnya dan bercerita tentang hal itu. "Aku juga, " kata sahabatnya, "Aku dapat kalung emas seberat lima gram." Seketika wajah wanita itu berubah cemberut.
Hal serupa terjadi pada Ahab sesudah Nabot menolak bertransaksi dengannya. Ia merasa tidak senang karena terpikir olehnya, sebagai raja, ia belum mendapat segala yang terbaik dari negeri itu. Di samping istananya masih terdapat sebuah kebun anggur yang subur, yang cocok untuk dijadikan kebun sayur. Namun, si pemilik tidak bersedia menjual atau menukarnya dengan alasan kebun itu merupakan bagian dari milik pusaka nenek moyangnya. Terlihat Ahab masuk ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar. Ia berbaring sambil menelungkupkan wajahnya dan tidak mau makan. Izebel, istrinya yang kejam, bergegas mengambil tindakan demi mengembalikan kebahagiaan suaminya. Ia merancang siasat untuk memfitnah Nabot sehingga Nabot dihukum mati. Maka dengan leluasa Ahab mengambil kebun anggur itu.
Sekarang jelas terbentang penyebab ketidakbahagiaan. Seseorang merasa tidak senang bukan karena dirinya tidak diberkati oleh Tuhan, melainkan ia menimbang berkat milik orang lain yang lebih besar atau lebih baik dari miliknya. Atau singkatnya dikatakan, ia melirik ke kiri dan ke kanan. Sementara yang dilirik merasakan hal yang sama, dan akhirnya mereka semua tidak bahagia. Kita jangan seperti itu. Jangan rela kehilangan kesenangan hanya karena lirikan. Sadari berkat dalam genggaman tangan sudah merupakan takaran terbaik dari Tuhan. --LIN/www.renunganharian.net
* * *KITA AKAN MENJADI ORANG-ORANG YANG BERBAHAGIA KETIKA KITA DAPATMENSYUKURI BERKAT TUHAN DALAM GENGGAMAN TANGAN KITA.
* * *
RENUNGAN KAMIS
Bacaan: 1 YOHANES 2:7-17
Bacaan Setahun: Mikha 1-7
Nas: Sebab, semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup, tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. (1 Yohanes 2:16)
Rip Current dan Pikatan Dunia
Rip current secara sederhana dapat diartikan sebagai arus deras yang tercipta oleh pertemuan dua gelombang air laut, yang ketika kembali ke laut dapat menyeret manusia ke tengah laut. Keberadaan rip current ini sering menjadi penyebab terjadinya korban jiwa saat bermain di pantai, tetapi jarang disadari oleh masyarakat awam. Namun, keberadaan rip current ini sebenarnya bisa dicermati, bahkan dapat dilihat cukup jelas ketika dipantau dari atas, sehingga dapat dihindari dan tidak sampai terseret olehnya.
Pikatan dunia ini bekerja mirip dengan cara rip current menarik manusia ke tengah laut, melalui tiga perkara ini: keinginan mata, keinginan daging, dan keangkuhan hidup. Lihat saja betapa banyak manusia yang telah terpikat oleh ketiga perkara duniawi tadi, lalu tanpa sadar hidupnya lebih mengasihi dunia ini-tetapi kasih kepada Bapa Surgawi sudah tidak ada dalam diri mereka (ay. 15). Semakin lama pikatan dunia ini melekat, akan semakin sukar melepaskan diri, seperti seorang yang hanyut karena terbawa arus laut tapi tidak tahu cara melepaskan diri.
Nah, mencermati nasihat Yohanes tadi, kita dapat mengerti kunci melepaskan diri dari pikatan duniawi, yakni dengan mengarahkan hidup untuk mengasihi Bapa Surgawi. Dengan hidup mengasihi Allah, kita dapat "melihat dari atas" dengan lebih jelas sehingga kita tak hanya dapat mengenali pikatan duniawi apa saja yang dapat membahayakan kita, tetapi dapat menghindarinya tanpa harus terseret ke dalamnya. Maukah kita menjalani kehidupan seperti ini? --GHJ/www.renunganharian.net
* * *JANGAN PERNAH ANGGAP REMEH PIKATAN DUNIA SUPAYA KITATIDAK TERSERET OLEHNYA DAN MENGALAMI KEMATIAN ROHANI.
* **
RENUNGAN JUMAT
Bacaan: 1 KORINTUS 9:19-27
Bacaan Setahun: Nahum 1-3
Nas: Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh mahkota yang abadi. (1 Korintus 9:25)
Finisher Medal
Medali pada umumnya hanya akan diberikan kepada para juara dalam perlombaan. Namun, dalam cabang olahraga lari maraton, setiap pelari yang mencapai garis finis di bawah waktu yang ditentukan akan mendapatkan medali. Medali ini dikenal dengan istilah finisher medal atau medali penamat. Hal ini dilakukan sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan mereka berlari dalam jarak yang jauh.
Paulus menyemangati jemaat Korintus untuk berjuang dalam iman hingga mencapai garis finis dan beroleh finisher medal, yakni mahkota abadi. Sebab, di dalam Kristus mahkota abadi pun menjadi milik setiap orang yang setia berjuang hingga "mencapai garis finis". Paulus meneladankan perjuangan dirinya yang "berlari sekuat tenaga dalam perlombaan rohani" itu dengan tujuan yang pasti. Ibarat pertandingan tinju, ia tidak asal-asalan memukul tanpa sasaran. Paulus tidak memakai haknya sebagai rasul untuk mencari keuntungan sekalipun hal itu menuntut adanya disiplin pribadi dan kerelaan untuk hidup berkekurangan. Paulus mengambil prinsip inkarnasi Kristus yang rela merendahkan diri demi menunjukkan empati kepada orang-orang yang dilayaninya. Bahkan melalui sikap Paulus yang sepertinya tidak konsisten (bdk. ay. 19-22), sesungguhnya ia tengah membangun jembatan untuk membawa orang mengenal Kristus tanpa memancing permusuhan.
Meraih mahkota yang abadi tentu menjadi kerinduan kita. Jika demikian, mari berjuang hingga garis finis dengan menerapkan prinsip Kristus yang mampu menguasai diri, rela merendahkan diri, dan memiliki empati. --EBL/www.renunganharian.net
* * *UNTUK MENCAPAI GARIS FINIS DAN MENERIMA MAHKOTA ABADI,PASTIKAN SETIAP LANGKAH HIDUP KITA BERADA PADA JALUR KEBENARAN ILAHI.
* * *
RENUNGAN SABTU
Bacaan: KELUARAN 14:15-31
Bacaan Setahun: Habakuk 1-3, Zefanya 1-3
Nas: Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan sepanjang malam Tuhan menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering. Demikianlah air itu terbelah. (Keluaran 14:21)
Ngeri-Ngeri Sedap
Seorang hamba Tuhan bersaksi, mengikut Tuhan itu rasanya ngeri-ngeri sedap, mengalami banyak kengerian, menghadapi situasi sangat terdesak dan terjepit yang mencekam; tetapi akhirnya terasa sedap saat Tuhan menolong tepat-pas pada waktunya.
Orang Israel mengalami kengerian yang mencekam saat melihat orang Mesir mengejar dan mencapai mereka pada waktu berkemah di tepi laut. Bangsa Israel berkata, apakah karena tidak ada kuburan di Mesir maka Musa membawa mereka untuk mati di padang gurun. Namun, Musa menenangkan bangsa itu untuk jangan takut dan berdiri tetap, melihat keselamatan dari Tuhan. Tuhan menyuruh Musa untuk mengangkat tongkatnya dan mengulurkan tangannya ke atas laut dan membelah airnya sehingga orang Israel berjalan di tengah-tengah laut di tempat kering. Orang Mesir mengejar mereka, menyusul sampai ke tengah-tengah laut. Tuhan berfirman kepada Musa untuk mengulurkan tangan ke atas laut supaya air berbalik dan meliputi orang Mesir, maka menjelang pagi air laut berbalik ke tempatnya. Demikianlah Tuhan mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut.
Saya pun sering mengalami perasaan ngeri-ngeri sedap. Saat mengalami keadaan terdesak-harus membayar tagihan yang jatuh tempo-Tuhan membuka berbagai jalan; terasa begitu sedap saat orang yang menunggak dua tahun kepada kami tanpa kabar, tiba-tiba melunasi tunggakannya; kontrakan kami yang sudah tujuh bulan kosong, tiba-tiba ada orang yang mengontrak. Saat menghadapi situasi terdesak dan terpepet, percayalah Tuhan sanggup menolong tepat, pas pada waktunya sehingga kita mengalami kelegaan dan terasa begitu sedap. --IN/www.renunganharian.net
* * *SAAT TUHAN MENOLONG DAN MEMBUKA JALANPERASAAN NGERI BERUBAH MENJADI SEDAP.
* * *
MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar