RENUNGAN EDISI 14 SEPTEMBER 2025 - JPA CHANNEL

JPA CHANNEL

JPA VISION 2026 " Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang "

MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

Breaking News


Cari Blog Ini

Sabtu, 13 September 2025

RENUNGAN EDISI 14 SEPTEMBER 2025

 RENUNGAN HARIAN




RENUNGAN SENIN
Bacaan: MATIUS 11:25-30

Bacaan Setahun: Yehezkiel 28-30

Nas: "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat kelegaan." (Matius 11:29)


Dengan Kesediaan Tulus

Tuhan bersabda, "Belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati." Kata "karena" dalam ayat ini diterjemahkan dari kata Gerika, hoti. Selain berarti "karena", hoti juga berarti "bahwa". Jadi, sabda di atas juga berarti, "Belajarlah dari-Ku bahwa Aku lemah lembut dan rendah hati." Kita dipanggil tak hanya untuk belajar sesuatu dari Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati, tetapi dipanggil untuk lemah lembut dan rendah hati (seperti Tuhan). Apa artinya?

Menolak, memberontak, setidaknya dalam hati, terjadi jika kita memikul kewajiban dengan terpaksa. Namun, lemah lembut dan rendah hati dalam memikul kewajiban adalah tanda kesediaan yang tulus. Dan, itulah yang Tuhan lakukan. Dengan tulus, bahkan total, sampai mati, Tuhan mewujudnyatakan cinta-Nya kepada kita. Maka, "Belajarlah dari-Ku bahwa Aku lemah lembut dan rendah hati" adalah panggilan agar kita meneladan Kristus: mewujudnyatakan cinta dengan kesediaan yang benar-benar tulus.

Kesediaan yang tulus itu membuat jiwa kita tenang. Bukan karena perjuangan mewujudnyatakan cinta membuat hidup jadi mudah, tetapi karena kesediaan tulus itu membuat kita selalu sadar betapa Tuhan telah mengasihi kita begitu rupa hingga hidup mewujudnyatakan cinta kita hayati sebagai wujud syukur kita atas kasih Tuhan yang besar tiada tara.

Demikianlah, ikut Tuhan adalah hidup memikul kewajiban cinta. Dan, ketenangan yang Tuhan janjikan bukan ketenangan tanpa salib, melainkan ketenteraman jiwa karena menjalani hidup yang bermakna, meski konsekuensinya bisa saja tak ringan. --EE/www.renunganharian.net

* * *
KESEDIAAN TULUS DAN TOTAL DALAM MENJALANI HIDUP
YANG BERMAKNA MEMBERI KITA KETENANGAN JIWA.

* * *






RENUNGAN SELASA
Bacaan: FILIPI 3

Bacaan Setahun: Yehezkiel 31-33

Nas: Tetapi, apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap kerugian karena Kristus. (Filipi 3:7)


Tergantung Tujuan

Seorang karyawan rela kerja lembur demi mendapat banyak uang. Seorang pembalap rela menghabiskan uang demi memodifikasi mobilnya. Hana rela terus-menerus berdoa sampai dianggap mabuk oleh Imam Eli demi mendapatkan seorang anak. Abraham rela mempersembahkan anak semata wayangnya, demi ketaatannya kepada Allah.

Setiap kerelaan didasari oleh tujuan. Demi mencapai tujuan, seseorang menjadi rela mengorbankan sesuatu yang bernilai besar. Begitu pula yang terjadi pada kehidupan Paulus. Ia yang seorang Farisi dan ahli Taurat, rela meninggalkan pencapaiannya pada masa lalu demi menjadi pengikut Yesus. Karena tujuannya adalah Yesus, segala hal lain di luar Yesus rela ia korbankan. Yang dahulu dipandang sebagai keuntungan, kini dianggap kerugian, layaknya sampah.

Bukan perjuangan yang mudah untuk meninggalkan kejayaan masa lalu. Bukankah tidak sedikit orang yang gemar menceritakan secara berulang pencapaian yang pernah mereka dapatkan? Padahal, tujuan hidup pribadi yang berani mengaku beriman semestinya adalah Tuhan Yesus Kristus, bukan yang lain. Karena itu, segala hal di luar Dia, yang bersifat jasmani/kedagingan, tak lebih dari sekadar sarana. Meminjam istilah Paulus, segala sesuatu yang bersifat kedagingan adalah "sampah". Bisa digunakan sebagai pupuk, tetapi bukan tujuan yang diharapkan untuk dituai. Inilah pentingnya mengintrospeksi diri, agar tidak salah menentukan tujuan. Supaya kita tidak hanya mengumpulkan sampah, melainkan harta surgawi yang bernilai kekal dalam perkenanan Tuhan. --EBL/www.renunganharian.net

* * *
MENIMBUN SAMPAH MENIMBULKAN MASALAH.
MENGOLAH SAMPAH MENGUBAHNYA MENJADI BERKAT. MANA TUJUAN KITA?

* * *





RENUNGAN RABU
Bacaan: YUNUS 4

Bacaan Setahun: Yehezkiel 34-36

Nas: "Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?" (Yunus 4:11, TB)


Menilai dengan Benar

Tahukah kita, tidak semua orang bisa menjadi nasabah prioritas sebuah bank. Dia harus memiliki tabungan dengan jumlah tertentu. Menjadi seorang nasabah prioritas akan mendapatkan berbagai kemudahan dan layanan khusus. Seorang nasabah prioritas dinilai sepenuhnya dari seberapa banyak simpanan yang dimilikinya di bank tersebut.

Allah sedang mengajar Yunus mengenai nilai seorang manusia di mata Allah. Yunus berharap seluruh penduduk kota Niniwe dibinasakan oleh Tuhan lantaran dosa mereka yang sudah menumpuk. Setelah memberitakan firman Tuhan yang membuat seisi kota bertobat, Yunus duduk di sebuah ketinggian dan menanti penghukuman tiba. Namun, Tuhan mengajar melalui peristiwa pohon jarak yang mengering dan digerek seekor ulat dalam sehari saja. Pohon itu memberi kenyamanan buat Yunus dari terik matahari dan panas udara. Yunus merasa sayang untuk sebuah pohon jarak yang tidak ditanamnya. Terlebih Allah sayang kepada seluruh penduduk Niniwe dan mau supaya mereka bertobat. Allah memandang mereka berharga, berbeda dengan Yunus yang menganggap mereka layak dibinasakan. Kata "sayang" (ay. 11) yang ditulis menunjukkan bukan sekadar perasaan suka, tapi perhatian yang sungguh-sungguh dan melakukan apa pun untuk orang yang dikasihi.

Alkitab mengatakan, jika satu orang berdosa bertobat maka seisi sorga bersukacita (Luk. 15:7). Yunus belajar untuk memahami isi hati Tuhan dalam memandang seorang manusia. Bagaimana dengan kita hari ini? Adakah kita memandang sesama seperti halnya Yunus atau seperti Kristus? Biarlah kita belajar melihat sesama seperti halnya Kristus, karena satu orang berdosa sangat berharga bagi Allah untuk diselamatkan. --DSK/www.renunganharian.net

* * *
APA GUNANYA SEORANG MEMPEROLEH SELURUH DUNIA,
TETAPI IA KEHILANGAN NYAWANYA?

* * *





RENUNGAN KAMIS
Bacaan: MARKUS 13:1-13

Bacaan Setahun: Yehezkiel 37-39

Nas: Ketika Yesus keluar dari Bait Allah, seorang murid-Nya berkata kepada-Nya, "Guru, lihatlah betapa besarnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu!" (Markus 13:1)


Kagum Sewajarnya

Bait Allah di Yerusalem adalah bangunan yang sangat megah pada zamannya. Ditopang dengan batu-batu pilihan berukuran besar yang dipahat dengan indah. Banyak bagiannya juga disalut dengan emas. Hasilnya adalah sebuah bangunan megah dengan arsitektur yang mengagumkan. Bangunan itu pun menjadi kebanggaan umat Israel, sekaligus menjadi pusat peribadatan mereka. Karena bait itu menjadi tanda kehadiran Allah di tengah umat-Nya.

Sayangnya, kekaguman bangsa Israel terhadap Bait Allah tidak selaras dengan ketaatan mereka kepada Dia. Pada akhirnya, mereka hanya sebatas mengagumi kemegahan gedung itu. Peribadatan mereka justru menjadi ajang menyombongkan diri, serta menjadi topeng untuk menutupi kejahatan. Mereka melupakan esensi atau hakikat keberadaan Bait Allah, yang seharusnya menjadi sarana bertemu dengan Allah, serta buahnya terlihat dalam kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai firman-Nya.

Yesus pun menubuatkan kehancuran bait itu, seolah hendak menegaskan bahwa itu hanyalah bangunan biasa. Bersifat sementara. Tidak kekal. Bisa hancur. Perkataan Yesus ini menjadi teguran agar para murid-termasuk kita semua-tidak hanya berfokus pada pengagungan hal-hal duniawi atau lahiriah, tetapi pada sesuatu yang bernilai kekal, yang tidak dapat hancur atau binasa. Sampai batas yang wajar kita bisa saja terpesona dengan kemolekan fisik, keindahan bangunan, kekayaan yang melimpah, jabatan yang tinggi, atau teknologi super canggih. Namun, kita perlu ingat bahwa semua itu tidak kekal. Hanya Allah saja yang kekal. Dialah seharusnya menjadi pusat hidup dan kekaguman kita. Kehendak-Nyalah yang seharusnya menjadi dasar hidup kita. --HT/www.renunganharian.net

* * *
PRIBADI ALLAH YANG KEKAL SERTA KEHENDAK-NYA
SEHARUSNYA MENJADI PUSAT HIDUP SERTA RASA KAGUM KITA.

* * *




RENUNGAN JUMAT
Bacaan: KELUARAN 17:1-7

Bacaan Setahun: Yehezkiel 40-42

Nas: Tempat itu dinamai Masa dan Meriba, karena orang Israel telah berbantah dan mencobai Tuhan dengan mengatakan, "Apakah Tuhan ada di tengah-tengah kita atau tidak?" (Keluaran 17:7)


Meragukan Tuhan

Ketika menghadapi kesulitan dan krisis, kadang-kadang kita lupa akan mukjizat pemeliharaan Tuhan yang pernah kita alami di masa lalu. Kita lalu mengomel panjang pendek. Bahkan mungkin mulai mempertanyakan maksud Tuhan. Di dalam keputusasaan kita, beberapa orang mulai berpikir atau mengatakan, "Mengapa Tuhan tidak menolong saya? Mengapa saya dibiarkan menderita seperti ini?"

Saat Musa membawa orang Israel dari perbudakan di Mesir, mereka melalui padang gurun. Di sana tidak ada air. Mereka lalu mengancam melempari batu kepada Musa. Bahkan mereka juga mempertanyakan keberadaan Tuhan. Perilaku mereka ini adalah mencobai Tuhan. Padahal mereka baru saja diberi makan manna dan burung puyuh oleh mukjizat Tuhan yang ajaib. Sebelum itu, Tuhan membebaskan Israel dari penderitaan akibat perbudakan yang berat di Mesir dengan sepuluh tulah. Lalu memimpin Israel dengan penyertaan kehadiran-Nya melalui tiang awan dan tiang api. Juga membelah laut agar umat Israel dapat menyeberang dengan selamat. Lalu membinasakan Firaun dan bala tentaranya saat mereka berusaha menyeberangi laut dengan mengembalikan aliran air untuk menenggelamkan mereka.

Umat percaya perlu belajar pada peristiwa Masa dan Meriba. Kesulitan yang kita hadapi saat ini tidaklah sebanding dengan mukjizat yang pernah Tuhan lakukan dalam kehidupan kita. Kita perlu belajar percaya sepenuhnya kepada penyertaan Tuhan. Jangan sampai kita mencobai-Nya. --HEM/www.renunganharian.net

* * *
MARI BELAJAR PERCAYA PENUH KEPADA PENYERTAAN TUHAN.
JANGANLAH KITA MENCOBAI-NYA.

* * *





RENUNGAN SABTU
Bacaan: KOLOSE 3:5-17

Bacaan Setahun: Yehezkiel 43-45

Nas: Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. (Kolose 3:12)


Sensitivitas

Sensitivitas dapat membuat seseorang segera mengambilkan minum saat mendengar teman terbatuk. Atau, segera pamit saat bertamu, hanya karena melihat tuan rumah melirik jam dinding. Orang dengan sensitivitas tinggi, atau Highly Sensitive Person (HSP), cenderung lebih peka terhadap rangsangan dari lingkungan dan memiliki respons yang lebih kuat terhadap situasi-situasi yang intens.

Tidak hanya menanggalkan marah, geram, dan kejahatan (ay. 8), jemaat Kolose diajar supaya memiliki belas kasih, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Karena itu, sensitivitas diperlukan agar umat mudah memahami sesama. Sensitivitas menolong umat menjadi lebih memiliki empati, kreatif, dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Malangnya, memiliki sensitivitas tinggi mudah membuat orang terpengaruh oleh suasana hati orang lain. Hal ini berpotensi untuk merusak pengalaman mereka karena berlebihan dalam memikirkan orang lain. Mereka rentan terhadap kecemasan, depresi, stres, dan kelelahan secara emosional.

Mengingat hakikat orang percaya adalah kasih maka semestinyalah kita memiliki sensitivitas untuk dapat menyatakan kepedulian terhadap sesama. Namun demikian, kita perlu mengolah rasa peka supaya tidak meracuni diri sendiri manakala kita mendengar, melihat, atau menerima stimulus negatif. Di sinilah peran kesabaran. Kita harus tahan, tenang, dan tidak mudah patah hati menghadapi tantangan. Izinkan selalu damai sejahtera Kristus memerintah atas kita sehingga hikmat Tuhan senantiasa memenuhi hati. --EBL/www.renunganharian.net

* * *
ASAHLAH KEPEKAAN HATI UNTUK MENJADI PRIBADI YANG PEDULI,
BUKAN UNTUK MENJADI PRIBADI YANG MUDAH TERSINGGUNG.

* * *





MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

&
JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Suatu Umat Yang Layak Bagi-Nya "
( LUKAS 1:17c )


Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

#KeluargaJPA​​​ #TuhanBekerja​​​ #JPABerdampak​​​ #GPdI​​​ #GPdIJPA​​​ #Praise​​​ #Renungan2025 #MembangunKarakterIlahi #JPAVision #multimediaJPA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WARTA EDISI 1 FEBRUARI 2026

 JADWAL SEPEKAN  MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK " & JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan S...

Post Bottom Ad

Halaman