RENUNGAN HARIAN
Bacaan Setahun: Amsal 24-26
Nas: Akuilah Dia dalam seluruh hidupmu. (Amsal 3:6)
Sindiran Euripides
Panggung Medea-drama Yunani kuno karya Euripides-menampilkan krisis berat. Manusia tak berdaya. Saat itulah, dengan alat pengerek, dewa Yunani dihadirkan di panggung. Oleh kehadiran dewa, krisis teratasi, semua kembali aman terkendali. Begitu hidup terpulihkan, dewa tak lagi diperlukan. Maka, dewa pun dikerek keluar dari panggung.
Euripides tak hendak berbicara tentang dewa yang bisa didatangpergikan sesuka hati. Lewat Medea, Euripides menyindir kita tentang bagaimana kita memperlakukan Tuhan.
Sadar atau tidak, kita suka menjadikan Tuhan sebagai apo mekhanes theos, dewa yang didatangpergikan dengan alat pengerek (seperti dalam Medea). Tuhan kita hadirkan dalam hidup hanya ketika kita menghadapi kesulitan. Begitu hidup kembali normal, Dia kita kerek keluar dari panggung kehidupan. Saat kesulitan menerpa, kita mohon Tuhan hadir menolong. Namun, begitu kesukaran berlalu dan situasi aman terkendali, kita keluarkan Tuhan dari panggung hidup kita agar Dia tidak mencampurtangani manajemen hidup kita. Euripides benar, kita suka menjadikan Tuhan sebagai apo mekhanes theos.
Kitab Amsal berkata, "Akuilah Dia dalam seluruh hidupmu." Sabda itu mengingatkan kita agar tak hanya dalam kesesakan dan ketakberdayaan kita mencari Tuhan, tetapi agar dalam tiap hal dan tiap keadaan kita mengakui kedaulatan Tuhan, agar dalam tiap pemikiran, tiap pengambilan keputusan, tiap tindakan, di tiap sisi hidup, kita memberlakukan kehendak-Nya, agar kita tidak menjadikan Tuhan sebagai apo mekhanes theos. --EE/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN SELASA
Bacaan: 1 KORINTUS 2:1-5
Bacaan Setahun: Amsal 27-29
Nas: Sebab, aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. (1 Korintus 2:2)
Pesan Tunggal
Eugene Peterson terkenal sebagai penerjemah Alkitab dalam bahasa kontemporer, The Message. Saat pemakamannya, anaknya, Leif, menyatakan bahwa ayahnya hanya memiliki satu pesan. Selama ini ia "mengelabui" setiap orang seakan-akan ia menyampaikan pesan baru dalam setiap khotbah atau bukunya. Rahasia itu, kata Leif, sudah diketahuinya sejak kecil. Sebelum ia tidur, ayahnya sering ke kamarnya dan berbisik, "Allah mengasihimu. Dia pembelamu, berdiri di pihakmu. Dia mengejar kamu, mencari kamu. Dia tidak akan pernah menyerah."
Paulus melayani di tengah-tengah bangsa Yahudi dan bangsa Yunani. Bangsa Yahudi menyukai hikmat, sedangkan bangsa Yunani senang membahas filsafat "kata-kata yang indah". Sebagai orang terpelajar, mestinya tidak sulit bagi Paulus untuk memikat orang Yahudi dengan kehebatan hikmatnya dan orang Yunani dengan kecakapannya berfilsafat. Namun, ia memilih berfokus pada satu pesan utama: berita Injil tentang Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.
Ia menulis banyak surat, banyak berkhotbah, banyak berbincang langsung dengan bermacam orang, dan ia senantiasa menyampaikan berita Injil-dengan berbagai cara, contoh, dan sudut pandang. Ia menyampaikan beragam berita, tetapi pesan tunggalnya berfokus pada identitas Yesus Kristus dan perbuatan-Nya dalam menebus umat manusia dan menyatakan Kerajaan Allah.
Kita pun dipanggil untuk bersaksi dan memberitakan Injil. Apakah berita dan kesaksian kita berfokus pada Yesus Kristus, Dia yang disalibkan? --ARS/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN RABU
Bacaan: MARKUS 10:13-16
Bacaan Setahun: Amsal 30-31
Nas: Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menyentuh mereka, tetapi murid murid-Nya memarahi orang-orang itu. (Markus 10:13)
Menyambut Anak-Anak
Dalam berbagai kegiatan orang dewasa, kehadiran anak-anak sering dianggap sebagai gangguan. Sebisa mungkin mereka dijauhkan. Kalaupun mereka tetap hadir, mereka diharapkan bersikap tertib. Padahal anak-anak memang biasanya aktif, bergerak ke sana ke mari, bahkan tidak jarang bersikap rewel dan membuat kebisingan. Sepertinya itulah yang juga ada dalam benak murid-murid Yesus ketika ada yang membawa anak-anak agar Yesus menjamah mereka. Para murid itu bahkan memarahi mereka. Kehadiran anak-anak itu bisa menginterupsi Yesus yang sedang mengajar banyak orang.
Melihat itu, Yesus juga marah. Namun, kemarahan-Nya bukanlah kepada anak-anak itu. Bukan pula kepada orang tua yang membawa mereka. Dia ternyata marah kepada para murid-Nya yang menghalangi anak-anak datang kepada-Nya. Ternyata, Dia menyambut anak-anak itu dengan penuh kasih. Dia memeluk mereka, lalu memberkati mereka. Yesus bahkan mengajarkan bahwa tiap orang harus menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, yakni dengan penuh ketulusan dan iman.
Memang ada kegiatan tertentu yang tidak memperbolehkan kehadiran anak-anak. Namun, untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat umum, misalnya kegiatan peribadatan di gereja, sering kali hak-hak anak tidak mendapat perhatian. Memang, orang tua seharusnya mengajarkan kedisiplinan serta bagaimana berperilaku yang pantas bagi anak-anak. Namun, setiap orang hendaknya memandang anak-anak sebagai pribadi yang berharga. Mereka juga berhak mendapat perlakuan yang baik dan penuh kasih. Kiranya mereka menyaksikan dan mengalami kasih Kristus melalui sikap dan perlakuan kita terhadap mereka. --HT/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN KAMIS
Bacaan: MATIUS 8:1-4
Bacaan Setahun: Pengkhotbah 1-4
Nas: Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. (Matius.8:3 TB)
Penerimaan, Baru Pemulihan
Kisah penyembuhan orang kusta dalam nas hari ini bisa berlangsung lebih singkat, menjadi "Yesus berkata ...." Benar. Cukup dengan perkataan-Nya yang penuh kuasa, Yesus sanggup menyembuhkan orang sakit kulit tersebut. Namun, mengapa Yesus memilih untuk mengulurkan tangan-Nya dan menyentuh orang itu terlebih dahulu?
Pada masa itu kusta adalah penyakit paling ditakuti. Orang yang dijangkiti gejala kusta harus mendatangi imam (Im. 13-14). Setelah memastikan penyakitnya, imam akan menyatakannya sebagai orang najis. Ia tidak boleh tinggal lagi bersama keluarganya, tetapi harus bergabung di perkampungan orang kusta, di luar kota. Jika bertemu dengan orang normal, ia harus memberi peringatan dengan berteriak, "Najis! Najis!" Ia juga tidak diperkenankan mengikuti ibadah. Ia menjadi orang buangan. Sampah masyarakat. Tersisih secara sosial dan secara ritual.
Yesus memahami kondisi tersebut, tetapi Dia tidak ikut menjatuhkan penghakiman. Sebaliknya, Dia berempati dan berbelas kasihan pada orang kusta itu. Dia pun menyentuhnya: mengagetkan orang banyak karena melanggar norma dan tradisi, tetapi pasti menghangatkan hati orang kusta itu. Sentuhan penerimaaan itu tentulah sangat bermakna bagi si kusta, menyingkirkan rasa ketersisihan yang ditanggungnya selama ini. Ia kembali diperlakukan sebagai sesama manusia dan dipulihkan martabatnya-bahkan sebelum ia sembuh.
Yesus memperlihatkan pola untuk memperlakukan orang-orang yang tersisih dalam masyarakat. Yang pertama dan terutama, kita perlu menerimanya sebagai sesama manusia. Dalam kasus si kusta, ia sembuh seketika. Namun, ada pula penyakit atau pergumulan hidup yang memerlukan proses panjang untuk mengatasinya. Penerimaan, bukan penghakiman, akan menjadi dasar untuk mendampingi orang tersebut secara efektif. --ARS/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN JUMAT
Bacaan: EFESUS 6:1-9
Bacaan Setahun: Pengkhotbah 5-8
Nas: Hai Bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Efesus 6:4)
Mendidik Tanpa Amarah
Erno pernah mengalami kemarahan luar biasa, ayahnya membakar buku-buku bacaan favoritnya, yang dibelinya dari hasil menyisihkan uang saku selama berbulan-bulan. "Mengapa ayah menuding buku-buku bacaan itu sebagai penyebab menurunnya nilai sekolah, padahal bukan itu penyebabnya?" protes Erno dalam hati tanpa bisa melawan karena ayahnya dikenal keras dan pemarah. Amarah itu pun sempat menetap cukup lama dalam dirinya, sebelum ia memutuskan untuk mengampuni ayahnya.
Tanpa sadar, terkadang seorang bapak dapat dikuasai amarah dalam upaya mendidik anak, sehingga membangkitkan kemarahan anaknya. Kemarahan juga bisa muncul ketika hukuman terlalu keras, terutama jika kekerasan fisik terjadi, yang dapat memunculkan sakit hati, kepahitan, bahkan dendam dan kebencian dalam diri anak. Firman Tuhan hari ini menasihatkan agar para bapak jangan sampai membangkitkan kemarahan dalam diri anak. Namun, anak perlu dididik dalam ajaran dan nasihat Tuhan-termasuk hal yang berkaitan dengan hidup dalam kasih, menguasai diri, dan mengendalikan amarah.
Tampaknya dua perkara ini saling melengkapi, karena baik bapak maupun anak perlu membangun suatu harmonisasi, supaya jangan sampai ada kemarahan yang menetap dalam kehidupan berkeluarga. Ketika seorang bapak diharapkan dapat mendidik anak dengan cara yang tepat, maka seorang anak juga perlu bekerja bertumbuh dalam ajaran firman Tuhan, sehingga buahnya dapat terlihat lewat perilaku yang baik. Sudahkah kita mengupayakan ini dalam keluarga yang kita kasihi? --GHJ/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN SABTU
Bacaan: KELUARAN 14:1-14
Bacaan Setahun: Pengkhotbah 9-12
Nas: Ketika diberitahukan kepada raja Mesir bahwa bangsa itu telah lari, berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu. Mereka berkata, "Apa yang telah kita perbuat ini, sampai-sampai kita melepaskan orang Israel dari perbudakan kita?" (Keluaran 14:5)
Dua Alasan
Firaun meragukan keputusannya sesudah diberitahu bahwa bangsa Israel telah meninggalkan Mesir. Terpikir olehnya mengapa membiarkan bangsa itu pergi, padahal tenaga mereka sangat dibutuhkan bagi pembangunan di Mesir (ay. 5). Lekas ia memerintahkan untuk mengejar mereka. Di sisi sana, bangsa Israel meragukan keputusannya sesudah melihat pasukan Mesir mengejar mereka. Terpikir oleh mereka lebih baik diperbudak di Mesir daripada tewas di padang gurun (ay. 12).
Firaun ragu karena ia tidak taat kepada Tuhan. Sebelumnya, Tuhan memintanya untuk membiarkan bangsa Israel pergi. Namun, ia berkeras hati menahan mereka di negerinya. Sesudah 10 tulah berlalu, tidak juga ia bertobat. Tidak juga ia mengakui keperkasaan Tuhan. Sementara itu, bangsa Israel ragu karena mereka tidak percaya kepada Tuhan. Sebelumnya, Tuhan menyatakan hendak menuntun mereka menuju tanah Kanaan. Dia berjanji memberikan sebuah negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya (Kel. 3:8). Namun, justru mereka menuduh Musa, hamba-Nya, berniat mematikan mereka (ay. 11). Sesudah 10 tulah berlalu, tidak juga iman mereka bertumbuh. Tidak juga hati mereka diyakinkan bahwa Tuhan sungguh-sungguh menggenapkan janji-Nya.
Tidak percaya dan tidak taat, dua alasan ini juga kerap mendasari keraguan akan keputusan kita. Terpikir, benarkah tindakan mengampuni seseorang yang selalu berperilaku buruk terhadap kita? Benarkah terus berharap di saat situasi terlihat tidak lagi berpengharapan? Setiap kali hal-hal seperti itu terjadi, ingatlah "10 tulah", yakni segala yang telah Tuhan lakukan! Tuhan tidak pernah keliru bertindak, maka mari kita taat! Tuhan selalu menepati janji-Nya, maka mari kita percaya. --LIN/www.renunganharian.net
* * *
MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar