RENUNGAN EDISI 20 JULI 2025 - JPA CHANNEL

JPA CHANNEL

JPA VISION 2026 " Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang "

MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

Breaking News


Cari Blog Ini

Sabtu, 19 Juli 2025

RENUNGAN EDISI 20 JULI 2025

 RENUNGAN HARIAN






RENUNGAN SENIN
Bacaan: MARKUS 1:14-15

Bacaan Setahun: Amsal 4-6

Nas: Kata-Nya, "Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Markus 1:15)


Jalan Sempit Hidup Pertobatan

Kehadiran Yesus yang memanggil umat untuk bertobat sejatinya merupakan antitesis dari peristiwa sebelumnya, yakni penangkapan Yohanes. Ia ditangkap karena menyuarakan panggilan pertobatan yang mana tidak menyenangkan hati para petinggi agama dan penguasa negara, mereka yang merasa jalan kekuasaan dan kenikmatan hidupnya diganggu oleh Yohanes.

Selanjutnya, penangkapan Yohanes semestinya menimbulkan ketakutan di tengah-tengah umat, bahkan juga mematikan pengharapan mereka, sehingga lebih baik menuruti para penguasa daripada mati. Meski begitu, Yesus memilih jalan terjal dan berbahaya yang berseberangan dengan para penguasa. Dengan menyuarakan panggilan pertobatan, Yesus menunjukkan bahwa jalan sempit dan terjal bukanlah jalan kematian, melainkan jalan kehidupan. Panggilan-Nya menegaskan bahwa menjadi umat-Nya harus berani menjadi berbeda dari dunia, yakni berani menyuarakan suara kebenaran dalam kebaikan dan sukacita.

Ada sebuah lagu, demikian, "Di dalam dunia, ada dua jalan, lebar dan sempit, mana kau pilih? Yang lebar api, jiwamu mati, tapi yang sempit, hidup berseri." Lagu sekolah Minggu ini sejatinya menggambarkan hidup kita. Banyak orang percaya yang lebih memilih diam, atau bahkan mengikut arus karena takut dibenci apabila menyuarakan kebenaran. Maka marilah kita mengingat bahwa panggilan pertobatan Yesus adalah panggilan untuk mau berubah dan mengubahkan dalam kebenaran. Memang bukan jalan yang lebar dan nyaman, tetapi di jalan sempit itulah ada kehidupan. --ZDP/www.renunganharian.net

* * *
JALAN YANG LEBAR ATAU SEMPIT? SEMUA KEMBALI PADA PILIHAN KITA.
NAMUN, HANYA DI DALAM YESUS ADA KEHIDUPAN.

* * *




RENUNGAN SELASA
Bacaan: 1 SAMUEL 30:9-25

Bacaan Setahun: Amsal 7-9

Nas: ... "Karena mereka tidak pergi bersama kita, kita tidak akan memberikan kepada mereka apa pun dari jarahan yang kita ambil. Namun, anak istri mereka masing-masing boleh mereka bawa pergi!" (1 Samuel 30:22)


Merasa Paling Berjasa

Ketika Daud dan pasukannya sedang pergi, orang Amalek datang dan merampasi harta milik mereka, menawan semua penduduk, serta membakar habis kota mereka. Daud dan pasukannya sangat terpukul dan berduka. Setelah meminta tuntunan Tuhan, Daud pun membawa 600 pasukan untuk menyelamatkan keluarga mereka. Namun, dalam perjalanan, 200 orang menjadi begitu lelah dan lemah, sehingga tidak turut berjuang. Syukurnya, Daud dan 400 pasukannya berhasil mengalahkan musuh serta membebaskan semua tawanan.

Mereka bergembira merayakan kemenangan itu. Semua tawanan kembali bebas. Mereka bahkan beroleh jarahan yang besar. Lalu beberapa orang mulai mempermasalahkan peran orang lain. Menurut mereka, orang yang tak ikut berjuang hingga akhir tidak pantas diberi hasil rampasan itu. Namun, Daud tidak membenarkan usul itu. Ia mengingatkan bahwa kemenangan itu adalah berkat perlindungan Tuhan. Lagi pula, mereka yang tak ikut berjuang hingga akhir bukan karena malas, takut, atau hanya cari aman. Mereka tinggal di belakang juga untuk menjaga barang-barang. Maka Daud memperhitungkan bagian yang sama untuk mereka. Ini bahkan menjadi hukum perang bagi Israel sejak saat itu.

Ketika kita bekerja bersama-sama, bisa saja kita merasa bahwa diri kitalah yang paling berkontribusi. Paling berjasa. Paling berjuang. Lalu kita mulai menjelekkan bahkan meniadakan peran orang lain. Padahal mereka juga sudah bekerja semampu mereka. Sikap ini tentunya memicu perpecahan. Daud mengajar kita untuk menghargai peran setiap orang, dengan mengingat bahwa Tuhan sendirilah yang memampukan kita memperoleh keberhasilan tersebut. --HT/www.renunganharian.net

* * *
MERASA DIRI PALING BERJASA LALU MENGERDILKAN PERAN ORANG LAIN ADALAH
SIKAP YANG HARUS KITA HINDARI AGAR PERSEKUTUAN TETAP UTUH TERJALIN.

* * *





RENUNGAN RABU
Bacaan: MATIUS 13:24-30

Bacaan Setahun: Amsal 10-12

Nas: "Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku." (Matius 13:30)


Sabar, Belum Saatnya!

Perjuangan hidup orang benar tak jarang membawa mereka pada penderitaan dunia. Bertahan dalam iman hasilnya justru kehilangan kesempatan meraih kesenangan dan kenikmatan. Ujung-ujungnya, rasa lelah muncul dan membuat mereka mempertanyakan keberadaan Tuhan. "Jika Tuhan sungguh ada, mengapa dibiarkan-Nya aku menderita?" "Jika Tuhan sungguh ada, mengapa ada kejahatan?"

Melalui perumpamaan lalang di antara gandum kita diajak belajar memahami tata kerja Tuhan atas dunia. Awalnya, Tuhan menabur benih yang baik. Namun, sementara benih Kerajaan Surga tumbuh, tumbuh pula benih kejahatan dari musuh (Iblis). Ketika hamba-hamba (malaikat) menawarkan diri mencabut lalang itu, sang tuan (Tuhan) melarang, sebab mungkin saja ada gandum ikut tercabut. Mudahnya, jika Tuhan memberikan penghukuman kepada si jahat di masa kini, ada kemungkinan orang benar pun turut terkena imbas. Sebagai gambaran, lihat saja saat bencana alam terjadi. Bukankah orang benar dan orang jahat sama-sama dapat menjadi korban?

Karena itulah, Tuhan membiarkan lalang tumbuh di antara gandum. Selama di dunia, kejahatan akan selalu ada di antara kita. Karena itu, berakarlah kuat di dalam Tuhan, supaya kita tetap teguh berdiri di antara lalang. Jika kita rindu Tuhan segera menegakkan keadilan-Nya, bagian kita adalah segera berbuah. Sebab Ia akan menuai bila bulir-bulir gandum telah siap dituai dan mengumpulkannya ke dalam lumbung. Selama Tuhan masih memberi waktu, berarti selama itulah kita harus bersabar dan senantiasa berbuah bagi kemuliaan-Nya. --EBL/www.renunganharian.net

* * *
BERBUAHLAH LAYAKNYA BULIR-BULIR GANDUM YANG MASUK
KE LUMBUNG-NYA, BUKAN LALANG YANG MASUK API PEMBAKARAN.

* * *





RENUNGAN KAMIS
Bacaan: KOLOSE 3:22-25

Bacaan Setahun: Amsal 13-15

Nas: Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima warisan yang menjadi upahmu. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. (Kolose 3:24)


Upah Kesetiaan

Suatu ketika, saya bersama istri membahas rencana memberi kenaikan upah kepada asisten rumah tangga yang sudah membantu kami selama bertahun-tahun. Kesetiaan orang tersebut dalam membantu keluarga kami menjadi poin utama pertimbangan kami. Akhirnya, kami pun sepakat menentukan nomimal yang akan kami berikan pada bulan berikutnya sebagai upah atas kesetiaan yang memang sudah seharusnya dihargai.

Dalam nas renungan hari ini, kita mengerti bahwa Allah menghendaki adanya perspektif yang benar dari para hamba, supaya mereka bekerja dengan motivasi yang benar-bekerja dengan taat dan segenap hati, seperti untuk Tuhan, bukan manusia (ay. 22-23). Nasihat yang diikuti janji berkat bahwa ada upah yang menanti, karena Kristus menyediakan upah sebagai penghargaan atas kesetiaan umat-Nya. Bagaimana seandainya kita yang berada di posisi tuan atau pihak yang memberi upah? Tentu harapannya kita tidak sekadar menuntut kesetiaan, ketaatan, dan loyalitas, tetapi kita perlu berupaya untuk menjadi tuan yang baik dalam pemberian upah.

Hal kesetiaan mungkin dapat menjadi salah satu faktor pertimbangan pemberian upah yang lebih, mengingat pada masa sekarang kesetiaan semakin jarang didapati dalam dunia kerja. Para pegawai, buruh, asisten rumah tangga, atau siapa pun yang berhak atas pemberian upah, layak diberi penghargaan atas kesetiaan yang telah ditunjukkan, meskipun tak harus berupa uang. Kristus adalah teladan kita sebagai tuan yang baik, maka kita pun perlu belajar menjadi tuan yang baik bagi sesama. --GHJ/www.renunganharian.net

* * *
KETIKA DUNIA MENGANGGAP REMEH KESETIAAN,
DALAM TUHAN KESETIAAN HARUSLAH MENDAPAT PENGHARGAAN LEBIH.

* * *




RENUNGAN JUMAT
Bacaan: KEJADIAN 25:29-34

Bacaan Setahun: Amsal 16-18

Nas: Kata Yakub, "Bersumpahlah dulu kepadaku." Esau pun bersumpah kepadanya dan menjual hak kesulungannya kepada Yakub. (Kejadian 25:33)


Masakan Kacang Merah

Esau pulang dari berburu di padang. Badannya letih, perutnya lapar. "Biarlah aku makan sedikit dari yang merah-merah itu karena aku lelah, " katanya kepada Yakub, adiknya yang sedang memasak (ay. 30). Yakub setuju, tetapi ia meminta diberikan kepadanya hak kesulungan sebagai gantinya. Menarik, Esau bersedia melakukannya. Dengan sumpah ia menyerahkan hak kesulungannya (ay. 33). Ia tidak peduli dengan harga yang terlalu tinggi, asalkan pada saat itu juga keinginannya terpenuhi.

Kita mungkin menyebut Esau sebagai orang bodoh. Bisa-bisanya ia membiarkan dirinya diperdaya oleh adiknya. Sebuah kebenaran diungkapkan saat ini ialah bahwa dosa mengambil tempat yang sama dengan masakan kacang merah. Iblis menawarkan kenikmatan sesaat dari tindakan kejahatan yang kemudian harus dibayar dengan kesengsaraan panjang. Sudah banyak kita melihat contohnya dalam kehidupan ini. Sebuah kebohongan selamanya melenyapkan kepercayaan, korupsi berakhir pemecatan, perselingkuhan mendatangkan kehancuran rumah tangga. Tidak sepadan harga dosa dengan pembayaran yang Iblis tuntut dari kita, dan kita mengerti akan hal itu. Kita paham konsekuensi dari melakukan perbuatan yang dilarang oleh Tuhan. Heran, kita kerap bersedia melakukannya. Kita membiarkan diri sendiri diperdaya oleh Iblis. Bukankah kita juga termasuk "orang bodoh"?

Kebodohan tidak seharusnya dibiarkan melekat. Tidak mengapa jika sebelumnya kita bodoh, tetapi selanjutnya, bertindaklah bijaksana. Jangan lagi terpikat dengan "aroma masakan kacang merah"! Jangan lagi tergiur dengan kenikmatan sesaat dari berbuat dosa. Setiap kali Iblis menggoda, ingatlah betapa panjang kesengsaraan nanti kita alami, dan ujungnya adalah kematian kekal (lih. Rm. 6:23a). --LIN/www.renunganharian.net

* * *
DOSA SELALU MEMBERIKAN KEPADA MANUSIA KESENGSARAAN
YANG LEBIH BESAR DARIPADA KENIKMATANNYA.

* * *




RENUNGAN SABTU
Bacaan: 2 RAJA-RAJA 19:29-37

Bacaan Setahun: Amsal 19-21

Nas: "Oleh karena itu, beginilah firman Tuhan mengenai raja Asyur: Ia tidak akan masuk ke kota ini dan tidak akan melepaskan anak panahnya ke sini. Ia juga tidak akan maju dengan perisai dan tidak akan menimbun tanah menjadi tembok pengepungan." (2 Raja-raja 19:32)


Tetap Berdiri

Kerajaan Yehuda masih berada di bawah Kerajaan Asyur pada masa awal pemerintahan Raja Hizkia, karena sebelumnya Raja Ahas yang telah meninggalkan Allah kemudian memilih tunduk kepada kerajaan Asyur. Raja Hizkia memilih berpaut kepada Allah, membawa kembali kerajaan Yehuda kepada Allah, sehingga Allah menyertainya dengan berbagai kemenangan. Ia memukul orang-orang Filistin, bahkan memberontak kepada kerajaan Asyur.

Meski begitu, hal tersebut tidak lantas membuat kerajaan Yehuda terbebas dari kerajaan Asyur. Kerajaan Yehuda harus mengalami pengepungan tentara Asyur. Para tentara tersebut bukan hanya merendahkan orang Yehuda, tapi juga merendahkan Allah. Apa yang dilakukan Hizkia? Hizkia mengoyakkan pakaiannya sebagai bentuk merendahkan diri di hadapan Allah, dan berdoa kepada-Nya. Sikap Raja Hizkia yang tetap setia kepada Allah sekalipun mengalami pergumulan berat itulah yang mendatangkan hati Allah. Allah menghadirkan keselamatan, di mana Dia tetap menegakkan umat-Nya hingga tidak ada satu pun musuh maupun senjata dapat masuk ke kerajaan Yehuda.

Pergumulan hidup akan tetap kita rasakan, sekalipun kita telah percaya dan menerima Allah dalam hidup. Hal tersebut bukan berarti bahwa Allah tidak menyukai kita, atau bahkan meninggalkan kita. Allah ingin kita setia, sebab Allah pun setia. Dalam sikap setia itulah, Allah tidak akan meninggalkan umat-Nya runtuh, melainkan senantiasa menegakkan hidup umat-Nya dan memberikan jalan keselamatan. --ZDP/www.renunganharian.net

* * *
SETIALAH KEPADA TUHAN APA PUN PERGUMULAN YANG DIALAMI.
TUHAN AKAN TETAP MENEGAKKAN KITA BERDIRI.

* * *







MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

&
JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Suatu Umat Yang Layak Bagi-Nya "
( LUKAS 1:17c )


Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

#KeluargaJPA​​​ #TuhanBekerja​​​ #JPABerdampak​​​ #GPdI​​​ #GPdIJPA​​​ #Praise​​​ #Renungan2025 #MembangunKarakterIlahi #JPAVision #multimediaJPA




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WARTA EDISI 1 FEBRUARI 2026

 JADWAL SEPEKAN  MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK " & JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan S...

Post Bottom Ad

Halaman