RENUNGAN HARIAN
Bacaan Setahun: Mazmur 119
Nas: Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna. (Roma 12:2)
FOMO
Salah satu kamus gaul zaman sekarang adalah FOMO, kepanjangan dari fearing of missing out, yang artinya perasaan takut atau cemas ketinggalan momen, tren, atau aktivitas tertentu. Perasaan ini bisa muncul ketika melihat orang lain sedang mengunjungi satu tempat wisata yang sedang digemari banyak orang, makan di kafe yang sedang ramai dibicarakan orang, memakai pakaian model tertentu, membahas berita yang sedang viral, dan lain-lain, sementara ia sendiri belum melakukan kegiatan tersebut. Media sosial, menjadi wadah yang mempertontonkan semua ini semakin menambah kecemasannya. Alat ukur dari orang-orang yang mengalami fomo adalah tindakan atau perilaku orang-orang di sekitarnya.
Rasul Paulus mengingatkan kita agar jangan mengikuti gaya hidup dunia. Yang seharusnya menentukan perilaku kita ialah firman Tuhan. Itulah yang mengubah serta membarui akal budi kita. Hasilnya, kita mampu mengenali kehendak Allah. Kita jadi mengerti apa yang baik dan yang berkenan bagi Tuhan, dan kita melakukannya. Nilai-nilai hidup serta perbuatan kita pun akan berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, tetapi kita tidak menjadi takut dan cemas karenanya. Kita bahkan diharapkan menjadi model atau panutan, sehingga orang-orang lainlah yang akan meniru serta mengikuti teladan kita.
Sebagai pengikut Kristus, kita harus berani menjalani hidup yang berbeda. Tentunya dengan berpegang pada nilai-nilai kebenaran dan kasih. Menjunjung tinggi kekudusan dan kejujuran. Serta, tidak berkompromi dengan dosa dan kejahatan. Kristus memang memanggil kita untuk berbeda dengan dunia, dengan menjalani kehendak-Nya. --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Mazmur 120-125
Nas: Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ, dan karena Ia tahu bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya, "Maukah engkau sembuh?" (Yohanes 5:6)
Menemani yang Sendirian
Pria itu telah lama menanti di tepi kolam Betesda, tetapi kesempatan untuk sembuh tidak pernah ia dapatkan. Mengapa? Karena, seperti yang ia katakan kepada Tuhan, ia tak punya siapa-siapa (ay. 7), tak ada yang peduli, tak ada yang menolong, tak punya siapa pun untuk berbagi beban hidup. Hari-hari penuh derita ia jalani sendirian.
Tuhan tahu semua itu. Maka, kepada pria malang yang sendirian memikul derita itu, pria yang tak punya siapa pun untuk berbagi beban hidup itu, kepadanya Tuhan datang dan bertanya, "Maukah engkau sembuh?" (ay. 6). Tuhan tidak memaksa pria itu. Tuhan menawarkan pertolongan, dan menyilakan pria itu memutuskan apakah ia menerima uluran tangan Tuhan, atau menolak.
Di bumi yang telah tua ini, banyak orang seperti pria malang di kolam Betesda itu: didera persoalan hidup, dan tak punya siapa-siapa. Seandainya di antara mereka ada seseorang yang kita tahu, sikap Tuhan Yesus di atas adalah teladan agar kita datang kepada sesama yang sendirian memikul beban itu.
Boleh jadi, kita tak bisa mengatasi masalah orang itu. Bahkan, sedikit meringankan pun belum tentu kita bisa. Meski demikian, Tuhan mendorong kita untuk hadir di sisi sesama yang menanggung beban. Untuk apa? Kita hadir untuk menguatkan hati dan semangatnya dalam memikul beban hidup. Meski tak terucapkan, kehadiran kita baginya seolah mengatakan, "Kamu tidak sendirian. Aku di sini menemanimu."
Berbahagialah orang yang bersedia hadir bagi sesama yang sendirian memikul beban karena hati Tuhan ada di dalam hatinya. --EE/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN RABU
Bacaan: 2 PETRUS 1:3-9
Bacaan Setahun: Mazmur 126-132
Nas: Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia yang telah memanggil kita untuk kemuliaan dan kebaikan-Nya. (2 Petrus 1:3)
Hidup Berkelimpahan
Seorang ibu bersusah payah menyediakan dan memasak makanan sehat dan lezat bagi keluarganya. Namun, anak bungsunya malah meminta mi instan, bakso keliling, atau memesan makanan via aplikasi daring. Sangat menjengkelkan, bukan?
Allah menyediakan secara berlimpah segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup yang saleh. Hidup yang saleh ini disebut juga hidup yang berkelimpahan (Yoh. 10:10) atau hidup yang kekal (Yoh. 17:3). Berkat yang limpah ruah itu tidak lain segala berkat rohani di dalam surga (Ef. 1:3). Olehnya kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi: hidup dalam pengenalan akan Allah dan persekutuan yang erat dengan-Nya, menikmati dan merayakan kasih dan anugerah-Nya, serta memancarkan terang kebajikan-Nya ke dalam dunia ini. Hidup yang saleh ini akan melepaskan kita dari cengkeraman hawa nafsu duniawi.
Akan tetapi, betapa sering kita bersikap seperti anak bungsu tadi. Kita mengabaikan berkat berlimpah itu, membiarkannya menganggur, dan mengejar berkat yang lebih rendah kualitasnya. Akibatnya, kita merasa tidak berkelimpahan-karena kita mengharapkan kelimpahan menurut keinginan pribadi dan kesenangan duniawi. Atau, kita merasa berkelimpahan, tetapi dengan tolok ukur yang salah-kalau sukses secara finansial atau keadaan mulus tanpa masalah, misalnya.
Untuk itu, kita perlu memperbarui akal budi agar memiliki sikap dan cara pandang yang benar tentang kelimpahan. Kelimpahan ilahi tidak dipengaruhi kondisi lahiriah seperti susah-senang, sehat-sakit, atau kaya-miskin. Kelimpahan ini tersedia sampai ke dalam kekekalan. --ARS/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN KAMIS
Bacaan: FILIPI 4:4-9
Bacaan Setahun: Mazmur 133-139
Nas: Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. (Filipi 4:7)
Damai Sejahtera Allah
Sambil menangis, seorang ibu menceritakan dirinya yang sering dimaki kakak kandungnya sendiri. "Saya janda. Bukan orang kaya. Saya bekerja serabutan demi anak-anak saya. Hidup kami sangat sederhana. Namun, saya tidak pernah menyinggung kehidupannya, apalagi meminjam uangnya. Semua saya lakukan demi menjaga hubungan yang baik dengannya. Bukankah aneh kalau dia yang kaya, apa-apa serba punya, tetapi selalu iri sama saya!"
Menengok latar belakang sang ibu, saya paham mengapa hal itu bisa terjadi. Ibu itu rajin beribadah di gereja. Rajin mengikuti persekutuan. Ia seorang yang tenang pembawaannya, cenderung murah senyum dan ramah. Melihat sepintas, orang akan mengira dirinya hidup berkecukupan tanpa pergumulan.
Bukankah iman Kristen mengakui bahwa damai sejahtera tidak dapat dibeli dengan kekayaan dan jabatan? Keintiman dengan Tuhan dan rasa syukurlah yang memberikan ketenangan dan kedamaian sejati. Sehingga orang beriman tetap dapat menunjukkan keteguhan iman sekalipun dalam penderitaan. Damai sejahtera Tuhan inilah yang sangat mungkin menjadi sumber iri hati bagi mereka yang mengandalkan harta dunia. Sebab, mereka lebih percaya bahwa sumber kebahagiaan adalah melimpahnya kekayaan. Faktanya, di luar Tuhan, sekalipun berlimpah harta dunia, sangat mungkin orang mengalami ketidakpuasan batin, kekosongan spiritual, lemah tanpa harapan. Betapa beruntungnya pribadi yang bersatu dengan Kristus. Karena damai sejahtera Allah yang tak dimengerti oleh manusia menjaga hati dan pikiran mereka. --EBL/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN JUMAT
Bacaan: YOSUA 14:6-15
Bacaan Setahun: Mazmur 140-145
Nas: "Mungkin saja Tuhan menyertai aku untuk menghalau mereka, seperti difirmankan Tuhan." (Yosua 14:12)
Iman Kaleb
Sebuah biji jatuh di tanah yang subur. Biji bertunas, lalu menjadi tanaman muda. Tanaman itu terus bertumbuh hingga menjadi pohon yang besar, tinggi, dan kokoh. Firman Tuhan ibarat benih, dan hati kita ialah media pertumbuhannya. Diharapkan kita memiliki hati yang subur. Saat ditaburkan firman Tuhan, kita menjadi beriman kepada Tuhan. Iman tidak mati, sebaliknya, terus bertumbuh seperti iman Kaleb.
Kaleb diikutsertakan oleh Musa dalam misi pengintaian tanah Kanaan. Berdiam di situ keturunan Enaq, orang-orang raksasa. Kaleb dan salah seorang rekannya, Yosua, mengatakan bahwa mereka dapat menduduki negeri perjanjian karena penyertaan Tuhan (Bil. 14:6-9). 45 tahun berlalu, kaki mereka telah menjejak negeri itu. Kaleb teringat Musa pernah menjanjikan sebuah pegunungan, yakni Hebron sebagai milik pusaka dari Tuhan. Di situ tepatnya kediaman keturunan Enaq, orang-orang raksasa. Kaleb meminta izin Yosua yang telah menjadi pemimpin Israel untuk menduduki Hebron. Ia mengatakan bahwa ia dapat mengambil alih Hebron karena penyertaan Tuhan (ay. 12). Di sinilah kita menyaksikan pertumbuhan iman Kaleb. Sebelumnya ia mengajak orang Israel untuk bersama menghadapi raksasa. Kini ia sendiri hendak menjadikan markas raksasa sebagai tempat tinggalnya.
Iman Kaleb mempertontonkan kepada dunia akan semakin berkurangnya ketakutan dan semakin bertambahnya keberanian. Tidakkah kita rindu memiliki iman yang bertumbuh seperti itu? Terbayang nanti kita tidak lagi digentarkan oleh persoalan. Firman Tuhan mengambil peranan penting dalam pertumbuhan iman. Maka mulai saat ini, mari renungkan setiap firman Tuhan yang kita baca atau dengarkan. Simpan dalam hati dan yakini bahwa semuanya itu adalah kebenaran yang pasti terjadi dalam kehidupan kita. --LIN/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN SABTU
Bacaan: 2 SAMUEL 7:1-3
Bacaan Setahun: Mazmur 146-150
Nas: Raja berkata kepada Nabi Natan, "Lihatlah, aku tinggal dalam rumah dari kayu aras, padahal Tabut Allah tetap berada dalam tenda." (2 Samuel 7:2)
Menempatkan Allah di Dalam Hati
Daud memahami betul bahwa seluruh perjalanan hidup yang telah dilaluinya, baik itu suka maupun duka, sampai menjadi raja dan menetap di Yerusalem, senantiasa berada di dalam tuntunan dan perlindungan Allah. Nampak bahwa Daud menghayati hadirnya Allah dalam kehidupannya. Namun, segala berkat Allah yang diterimanya itu juga memunculkan kesedihan di dalam hatinya. Ia tahu betul bahwa semua yang didapatkannya adalah berasal dari Tuhan semata, masakan tabut Allah justru diam di dalam tenda. Oleh karenanya, maka Daud mempunyai inisiatif untuk membangun rumah untuk Tabut Allah, dan menyampaikan keinginan hatinya tersebut kepada Nabi Natan.
Inisiatif Daud ini muncul atas dasar kesadaran dirinya bahwa ia bukanlah apa-apa di hadapan Allah, bahwa segala sesuatu yang dimilikinya berasal dari Allah, bahwa seluruh perjalanan hidupnya berada dalam naungan Allah. Artinya, sikap hati Daud ini muncul karena ia selalu menempatkan Allah di dalam hatinya, dan menyertakan Allah dalam hidupnya.
Sejak semula Allah sendirilah yang memberikan hidup kepada kita maka Allah sendiri pulalah yang akan menyertai dan memampukan kita menghadapi setiap permasalahan dalam hidup. Maka yang patut direnungkan adalah bagaimana respons kita terhadap penyertaan Allah? Sebagaimana Daud ajarkan, marilah kita menempatkan Allah di dalam hati kita dan berserah kepada-Nya. Dalam sikap demikian, tumbuhlah rasa syukur akan melimpahnya berkat Allah. --ZDP/www.renunganharian.net
* * *
MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar