RENUNGAN HARIAN
RENUNGAN SENIN
Bacaan: KISAH PARA RASUL 2:41-47
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 28-31
Nas: Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. (Kisah Para Rasul 2:41)
Pertobatan dan Sukacita Besar
Suatu ketika, seorang yang dikenal berilmu tinggi dan sangat berpengaruh jatuh sakit. Sesuai dengan permohonannya, dimintalah seorang hamba Tuhan datang untuk mendoakannya. Sebelum mendoakan, ia terlebih dahulu memberitakan tentang Yesus, yang berkuasa atas segala penyakit. Singkat cerita, setelah didoakan ternyata orang itu sembuh. Demi melihat kuasa Allah dinyatakan, orang ini lalu bertobat. Ia pun memberi diri dibaptis beserta semua orang di desanya, setelah mereka melihat terjadinya perkara yang ajaib.
Pertobatan besar juga pernah terjadi tak lama setelah Roh Kudus memenuhi orang-orang percaya di Yerusalem. Petrus yang dipenuhi Roh Allah berkhotbah, bersaksi, dan menantang para pendengarnya untuk bertobat serta memberi diri dibaptis, sebagai bukti kesungguhan pertobatan mereka (Kis. 2:38-40). Hasilnya, dalam sehari terjadi pertobatan hingga jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Peristiwa ini sekaligus menjadi bukti betapa luar biasa karya Allah, melalui kuasa Roh Kudus yang menjamah hati manusia sehingga mereka bertobat.
Pertobatan dalam jumlah besar memang mendatangkan sukacita. Namun, jangan kesampingkan pertobatan yang dialami oleh satu atau dua orang, karena setiap pertobatan akan membuat seisi surga bersorak! Ingatlah pula akan fakta sejarah kehidupan, di mana Allah menjamah hati manusia lewat beragam cara, termasuk melalui cara yang tak pernah terpikirkan. Oleh karenanya, kita pun perlu bersiap setiap hari, supaya Allah pun dapat memakai kita untuk membawa jiwa-jiwa percaya kepada-Nya. --GHJ/www.renunganharian.net
* * *SETIAP PERTOBATAN AKAN MENDATANGKANSUKACITA BESAR BAGI SEISI SURGA.
* * *
RENUNGAN SELASA
Bacaan: KISAH PARA RASUL 16:1-12
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 32-34
Nas: Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: Ada seorang Makedonia berdiri di situ dan memohon kepadanya, "Menyeberanglah ke Makedonia dan tolonglah kami!" (Kisah Para Rasul 16:9)
Tolonglah Kami!
Suatu malam, seorang pria sedang berjalan pulang ketika mendengar suara lirih dari gang sempit. Ia ragu, tapi suara itu makin jelas didengarnya, "Tolong ...." Pria itu berjalan ke arah datangnya suara dan menemukan seorang kakek yang tergeletak tak berdaya. Ia pun langsung menolongnya. Kakek itu menangis sambil berkata, "Banyak orang lewat, tapi hanya kamu yang mendengar dan menolongku."
Bacaan hari ini menceritakan perjalanan misi Paulus yang kedua. Ia bertemu Timotius dan mengajaknya ikut dalam pelayanan. Dalam perjalanan, Paulus beberapa kali dicegah oleh Roh Kudus untuk pergi ke wilayah tertentu. Hingga ia mendapat penglihatan tentang seorang pria Makedonia yang berseru, "Tolonglah kami!" Seruan itu bukan hanya sekadar permintaan, tapi jeritan jiwa yang haus akan Injil, seruan pertolongan. Dan Paulus tidak mengabaikannya. Ia segera mengubah rencana perjalanannya dan pergi ke Makedonia karena tahu bahwa seruan itu datang dari Tuhan (ay. 10). Mereka menyadari bahwa jika Tuhan sudah berbicara maka mereka harus taat.
Di sekitar kita hari ini banyak suara serupa yang mungkin kita dengar dengan jelas. Kita mendengar tentang tetangga yang kesepian, rekan kerja yang kesulitan, atau teman yang kehilangan harapan. Mereka tidak selalu berkata langsung, tapi sikap dan ekspresi mereka mungkin sedang berseru, "Tolong saya!" Apakah kita peka? Tuhan sering kali menyampaikan kehendak-Nya melalui kebutuhan orang lain. Ketika kita bersedia membuka mata dan hati, kita sedang menyatakan kehadiran Tuhan yang menjawab doa mereka. --SYS/www.renunganharian.net
* * *KADANG, PANGGILAN TUHAN KEPADA KITA TIDAK TERDENGAR SEBAGAI SUARADARI LANGIT, TAPI DALAM BENTUK KEBUTUHAN ORANG-ORANG DI SEKITAR KITA.
* * *
RENUNGAN RABU
Bacaan: KISAH PARA RASUL 16:13-15
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 35-36
Nas: "Jika kamu berpendapat bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku." Ia mendesak sampai kami menerimanya. (Kisah Para Rasul 16:15)
Anugerah yang Memberkati
Paulus dan Silas, atas tuntunan Allah melalui penglihatan, menuju daerah Makedonia. Maka sampailah mereka di Filipi, kota pertama di daerah Makedonia. Filipi adalah kota perantauan orang Roma. Pada hari Sabat, mereka mencari dan menemukan tempat ibadah orang Yahudi di luar kota. Mereka duduk dan berbicara dengan perempuan-perempuan yang beribadah di situ, salah satunya Lidia, perempuan penjual kain ungu, kain yang cukup mahal pada waktu itu.
Tuhan memberi anugerah kepada Lidia sehingga ia percaya. Namun, ia tidak sendiri, ia membawa seisi rumahnya untuk dibaptis. Anugerah keselamatan yang telah diterimanya sungguh membawa sukacita. Sebagai ucapan syukur atas keselamatan itu maka Lidia mengajak Paulus dan Silas agar bersedia menumpang di rumahnya. Ia tidak berbasa-basi saja, bahkan ia sampai memohon dan membujuk mereka. Menerima Paulus dan Silas di rumahnya tentunya menunjukkan keramahtamahan, kemurahan hati, perhatian, dan pengorbanan Lidia di tengah kesibukannya sebagai pengusaha. Kebaikannya sangat berarti bagi pelayanan Paulus dan Silas dalam memberitakan Injil dengan segala keterbatasan mereka di daerah yang asing.
Tindakan apa yang kita lakukan sebagai dampak keselamatan yang telah kita terima? Tindakan Lidia hanya salah satu contoh. Bagaimana sikap kita terhadap orang-orang di sekitar kita yang belum mengenal Kristus? Bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang telah membawa kita mengenal Kristus? Biarlah anugerah keselamatan yang kita terima membawa berkat bagi sesama, bukan hanya untuk diri sendiri. --ANT/www.renunganharian.net
* * *KASIH-NYA MEMAMPUKAN KITA MEMBAGIKAN KASIH-NYA BAGI SESAMA.
* * *
RENUNGAN KAMIS
Bacaan: MATIUS 5:13-16
Bacaan Setahun: Ezra 1-3
Nas: "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga." (Matius 5:16)
Dilihat Orang
Kebaikan itu bersifat menular. Ia dapat menciptakan efek domino positif yang memicu lebih banyak orang melakukan tindakan yang baik. Saat seseorang berbuat baik dengan tulus, ia sendiri akan mengalami kebahagiaan, begitu juga dengan orang yang menerima tindakan tersebut. Besar kemungkinan bahwa ia pun akan mengerjakan kebaikan kepada orang lain. Akhirnya, akan terjadi suatu rantai kebaikan yang semakin panjang dan berdampak luas.
Karenanya, diperlukan orang-orang yang menjadi teladan dalam berbuat baik. Kebaikan mereka dapat menjadi pemicu atau inspirasi bagi orang lain untuk turut mengerjakan hal-hal yang baik. Itulah yang diperintahkan Tuhan Yesus kepada para pengikut-Nya. Dia menegaskan bahwa salah satu tanggung jawab kita ialah menjadi terang dunia. Seperti pelita yang dinyalakan untuk menerangi sekitarnya, demikian juga kehadiran setiap pengikut Kristus. Fungsinya terlihat. Kehadirannya berdampak. Keberadaannya menolong orang lain menjalani hidup yang lebih baik. Kesaksian hidupnya bahkan terpancar hingga ke tempat yang jauh, seperti kota di atas gunung yang terlihat cemerlang di malam gelap.
Tentu saja bahwa Yesus tidak mendorong kita untuk suka pamer kebaikan di depan orang lain. Kita berbuat baik bukan untuk membuat orang lain terkesan, lalu memuji diri kita. Namun, kita berbuat baik karena memang itulah jati diri serta panggilan kita sebagai umat Allah. Kita tidak malu mengakui serta menunjukkan kesaksian hidup yang baik sebagai anak-anak Allah. Hasilnya, tindakan kebaikan itu akan menuntun orang-orang memuliakan Tuhan, yang merupakan sumber kebaikan itu sendiri. --HT/www.renunganharian.net
* * *KITA BERBUAT BAIK BUKAN UNTUK MEMBUAT ORANG LAIN TERKESAN,SEBAB MEMANG DEMIKIANLAH SEHARUSNYA HIDUP YANG DIJALANI UMAT TUHAN.
* * *
RENUNGAN JUMAT
Bacaan: LUKAS 15:11-24
Bacaan Setahun: Ezra 4-7
Nas: "Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku ...." (Lukas 15:18)
Ingat untuk Pulang
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita lupa diri. Bukan karena kehilangan ingatan, melainkan karena kehilangan arah batin. Seperti si bungsu, kita pergi jauh dari rumah Bapa, mengira bahwa kebebasan adalah melepaskan diri dari Bapa, dan yang kemudian kita temukan adalah kehampaan, kelaparan (ay. 14-16). Lupa diri-yakni memisahkan diri dari Bapa, Sang Sumber Hidup-selalu berujung pada kehampaan batin dan kelaparan jiwa.
Lupa diri mengintai kita melalui banyak kesempatan: ketika kita menilai diri dari keberhasilan semata, kala suara sekitar lebih kita dengarkan daripada suara kebenaran, saat kita begitu sibuk hingga tak punya waktu untuk Tuhan. Kita bekerja keras, berlari mengejar pengakuan, lalu diam-diam kehilangan damai.
Kehampaan batin dan kelaparan jiwa membuat si bungsu teringat rumah Bapanya, menyadari dirinya, dan memutuskan untuk pulang. "Aku akan bangkit dan pergi kepada Bapaku" (ay. 18). Ia tahu Bapanya akan selalu menerimanya.
Sesungguhnyalah, tiap kali kita lupa diri, Tuhan berharap kita ingat untuk pulang. Pulang bukan berarti mundur, tetapi menemukan kembali arah sejati perjalanan hidup, mengenali siapa sebenarnya diri kita: bukan budak kesibukan, bukan bayangan ambisi, melainkan anak terkasih yang dirindukan oleh Bapa.
Maka, mari kita menengadah kepada Bapa, dan berkata seperti si bungsu, "Aku akan bangkit dan pergi kepada Bapaku." Pulang, untuk menemukan kembali diri kita yang hilang, untuk menemukan kembali arah sejati perjalanan hidup yang sempat kita lupakan. --EE/www.renunganharian.net
* * *LUPA DIRI ADALAH KEHILANGAN ARAH BATIN. DAN PULANG ADALAHMENEMUKAN KEMBALI ARAH SEJATI PERJALANAN HIDUP.
* * *
RENUNGAN SABTU
Bacaan: MATIUS 21:28-32
Bacaan Setahun: Ezra 8-10
Nas: "Lalu orang itu pergi kepada anak yang lain dan mengatakan hal yang sama. Anak itu menjawab: Baik, Bapa. Namun, ia tidak pergi." (Matius 21:30)
Tetap Dibuatkan Teh
Salah satu kebiasaan istri saya adalah dia tetap melakukan apa pun yang saya minta dalam kondisi selelah apa pun. Pernah saya lelah saat pulang malam karena perjalanan dari luar kota, istri juga lelah karena mengurusi anak, saya minta dibuatkan teh panas. Meski capai, saya tetap dibuatkan teh. Di malam berbeda, hujan deras turun. Istri saya minta tolong dibelikan wedang ronde di warung langganan. Karena warung itu tidak terdaftar di aplikasi daring, saya keluar naik sepeda motor menerjang hujan untuk membelikan. Kenapa kami berdua tetap mau melakukan hal-hal yang diminta pasangan? Karena mengasihi.
Dalam perumpamaan dua orang anak, salah satu pesan yang Yesus sampaikan adalah orang yang percaya melakukan kehendak Tuhan (ay. 31). Tidak semua perintah Tuhan secara daging mau kita kerjakan, karena itu tidak kita sukai atau membuat kita harus berkorban, atau hasilnya dinikmati orang lain. Kita tetap mau melakukannya karena percaya kepada Tuhan, kita mau menyenangkan hati Tuhan. Meski fisik lelah, banyak masalah, harus menunda kesenangan atau hobi tertentu, kita tetap mau mengasihi Tuhan melalui orang-orang sekitar yang butuh dikasihi, baik mereka minta secara langsung atau tidak meminta.
Saat kita mengasihi Tuhan, kita memikirkan dan melakukan apa yang menyenangkan Tuhan, sekalipun itu mungkin tidak menyenangkan kita. Kita mau mengasihi seseorang, selelah apa pun jasmani dan rohani kita. Kita tetap setia melakukan perintah-Nya, sekalipun kondisi sedang sulit dan penuh tekanan. --RTG/www.renunganharian.net
* * *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar