RENUNGAN HARIAN
Bacaan: 2 TAWARIKH 28
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 2-5
Nas: Pada waktu itu Raja Ahas mengirim utusan kepada raja negeri Asyur untuk memohon bantuan. (2 Tawarikh 28:16)
Ahas yang Nahas
Ahas benar-benar takut. Pasukan musuh yang jauh lebih kuat sedang dalam perjalanan untuk memeranginya. Lalu Tuhan mengutus Nabi Yesaya untuk meneguhkannya, serta memberinya jaminan perlindungan dari-Nya (Yes. 7). Namun, Ahas tidak mau percaya kepada Tuhan. Ia lebih percaya kepada berhala-berhala pujaannya. Ia bahkan mempersembahkan anak-anaknya sebagai kurban bakaran bagi berhala-berhala itu (ay. 3). Dalam keadaan kalut dan terdesak, ia meminta bantuan kepada raja negeri Asyur. Raja itu pun datang, tetapi bukan untuk mendukungnya, melainkan untuk menekannya (ay. 20). Hartanya dan kekayaan bangsanya pun dirampas (ay. 21). Ahas benar-benar nahas. Ya, raja Yehuda itu sungguh sial, celaka, dan malang.
Kisah Ahas menunjukkan betapa malangnya seseorang yang menaruh sandarannya pada manusia. Saat ia berpikir akan mendapatkan pertolongan, ia justru membuka pintu kepada bahaya yang jauh lebih mengerikan. Saat ia mengira akan mendapatkan kelegaan, ia justru semakin tertekan dan menderita. Saat ia semakin mengandalkan dirinya, ia justru semakin tidak berdaya.
Menyedihkannya, semua kemalangan ini menimpa Ahas akibat pilihan buruk yang dibuatnya sendiri. Dia berubah setia kepada Tuhan. Ia berpaling dari-Nya serta mengira dirinya jauh lebih hebat, lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih berhikmat dari Tuhan. Ia mengabaikan firman-Nya. Ia menolak utusan-Nya. Ketidakpercayaan itu harus ia bayar mahal, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga mengakibatkan kehancuran bangsanya. Karenanya, tetaplah iman kita berpaut pada Allah. Dialah pertolongan yang senantiasa dapat kita andalkan. --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: MATIUS 6:19-21
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 6-8
Nas: "Janganlah mengumpulkan harta bagi dirimu di bumi ... Namun, kumpulkanlah bagimu harta di surga." (Matius 6:19-20)
Berani Tampil Bersahaja
Menurut Kompas.com tanggal 17 Agustus 2025, banyak warga menengah bawah di Amerika membelanjakan penghasilan mereka untuk aksesori mewah, gawai terbaru, mobil baru, dll. Meski berisiko memicu kesulitan finansial, mereka melakukan itu demi terlihat hebat di mata publik.
Di negeri kita pun hal serupa juga ada: orang berutang demi membeli tas bermerek, membeli HP baru meski yang lama masih bagus, menahan kebutuhan pokok demi bisa menikmati kopi bersama kelompoknya di kafe yang instagrammable, dsb. Orang mengutamakan penampilan, bukan kejujuran.
Sebenarnya, tak berani tampil bersahaja adalah hal serius. Ia berinduk ketakjujuran, beranak pemborosan, dan menjadikan kita tawanan pandangan orang lain. Memang, tampil sederhana tidaklah mudah. Dalam masyarakat yang mabuk gengsi, tampil bersahaja adalah tindakan melawan arus. Butuh keberanian untuk menerima diri, dan keyakinan bahwa nilai seseorang tidak terletak pada apa yang tampak di luar tetapi pada apa yang hidup di hati.
Tuhan bersabda, "Janganlah mengumpulkan harta bagi dirimu di bumi ... Namun, kumpulkanlah bagimu harta di surga ...." (ay. 19, 20). Tuhan menunjukkan bahwa orientasi hidup pada tampilan lahiriah adalah wujud kelekatan pada "harta di bumi"-sesuatu yang rapuh dan fana. Sebaliknya, kesahajaan adalah tanda hati yang tertuju kepada "harta di surga"-yang sejati dan bernilai kekal.
Beranilah tampil bersahaja, sebab keindahan sejati tak lahir dari kilau lahiriah, tetapi dari kejujuran dan kesederhanaan, dan kedamaian jiwa adalah milik mereka yang berani menjadi diri sendiri. --EE/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: AYUB 5:1-9
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 9-12
Nas: "Tetapi, aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku. Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan tak terselami, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang jumlahnya." (Ayub 5:8-9)
Memercayakan kepada Allah
Merana, itulah yang dirasakan Ayub setelah berbagai derita yang dialami. Begitu dalam kesedihannya, hingga Ayub tidak dapat berbuat apa pun. Secara imani, ia tidak sanggup untuk menyalahkan Allah. Sekalipun segala harta dan anak-anaknya telah tiada, serta berbagai penyakit dialaminya, juga istrinya mengeluhkan Allah, ia tetap menghormati Allah. Namun, sesungguhnya sisi manusiawinya ingin berteriak untuk melampiaskan perasaannya sehingga ia memilih menyalahkan dirinya sendiri dengan mengutuki hari kelahirannya. Atas sikapnya itu, Elifas menasihatinya untuk mengadukan segala perkara kepada Allah, sebab Allah dapat membuat berbagai hal ajaib untuk menolong umat-Nya.
Sikap iman Ayub memang merupakan sikap yang hebat, tetapi sikap manusiawinya pun merupakan hal yang wajar bagi siapapun yang berduka. Dalam pergumulan itu, nasihat Elifas menunjukkan kekurangan Ayub, di mana ia lupa untuk membawa dan memercayakan pergumulannya kepada Allah. Ayub memang tetap teguh dalam imannya kepada Allah, tetapi dalam sikap iman itu ia justru memilih menanggung pergumulannya seorang diri.
Setiap pergumulan, secara perlahan dan tanpa disadari, akan mengurung hati kita sehingga membuat kita memilih menanggung segala pergumulan seorang diri. Nasihat Elifas menyadarkan kita untuk terus membuka hati dalam setiap pergumulan, untuk mengarahkan hati kepada Allah dan memercayakan hidup kepada-Nya. Sebab Allah mampu merubah yang mustahil dan menyakitkan menjadi sukacita dan kedamaian hidup. --ZDP/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN KAMIS
Bacaan: YOHANES 1:1-18
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 13-17
Nas: Ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya melalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu. (Yohanes 1:7-8)
Tekad untuk Bersaksi
Kehidupan Yohanes Pembaptis menjadi salah satu cerita yang menarik di antara kisah para tokoh Alkitab, khususnya pada masa Perjanjian Baru. Ia tak hanya menjadi sosok penting yang membuka jalan bagi kedatangan Yesus ke dunia ini, tetapi juga mengingatkan akan panggilan yang masih relevan bagi setiap orang percaya pada era modern ini: tekad untuk bersaksi tentang Yesus!
Itulah yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis ketika Allah menghadirkan dia ke dunia sebagai pembuka jalan bagi kedatangan Kristus. Hal yang ditegaskan oleh Rasul Yohanes, sebagai salah satu murid Yesus yang mengemban panggilan yang serupa ketika ia menjadi salah satu Rasul Kristus. Tak ada perintah untuk "menjadikan orang percaya Kristus", tetapi kita hanya diperintah untuk bersaksi, supaya atas kehendak Allah kita dipakai-Nya untuk menyelamatkan jiwa. Bersaksi secara sederhana berarti menceritakan tentang karya Allah, khususnya yang pernah kita alami secara pribadi. Cara yang bisa ditempuh juga beragam, mulai dari bahasa lisan, tulisan, video singkat, siniar, siaran radio, film pendek, dan masih banyak lagi.
Bagi sebagian orang percaya, panggilan untuk bersaksi terasa menakutkan sehingga dapat mengurangi niat dan tekad untuk menceritakan Kabar Baik. Kita mungkin juga masih merasakan ketakutan yang sama. Namun, hari ini mari kita ingat akan setiap perbuatan Allah yang pernah kita alami, lalu izinkan Roh Kudus kembali menggemakan panggilan untuk bersaksi itu dalam diri kita sehingga memunculkan tekad, "Aku harus bersaksi tentang Kristus!" --GHJ/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN JUMAT
Bacaan: MATIUS 28:16-20
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 18-20
Nas: "Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus." (Matius 28:19)
Melambai-lambaikan Tangan
Sebuah mobil yang meluncur seketika berhenti saat seseorang melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Si pengemudi bertanya, "Ada apa?" "Putar balik, Pak, " jawab orang itu, "Jalan di depan longsor. Berbahaya kalau lewat di sana." Sebelum pergi, si pengemudi berulang kali mengucapkan terima kasih karena orang itu telah menyelamatkan nyawanya.
Menjalani kehidupan di dunia ini serupa melakukan sebuah perjalanan. Banyak orang tanpa sadar melangkah menuju kebinasaan. Teramat menyedihkan melihat satu per satu jiwa mereka melayang. Karena itu, sebelum terangkat ke surga, Tuhan Yesus memberikan Amanat Agung-Nya kepada umat-Nya. Dia mengutus kita pergi. Kita ditugaskan untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya, yakni membawa mereka yang belum percaya untuk mengenal Yesus dan menerima Yesus Tuhan sebagai Juru Selamat. Sebagai tanda percaya, mereka dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (ay. 19). Selanjutnya kita mengajar mereka untuk melakukan perintah Tuhan, dalam arti hidup dalam kebenaran (ay. 20). Pendeknya, Tuhan Yesus ingin kita "melambai-lambaikan tangan" kepada orang-orang yang berjalan menuju kebinasaan tadi agar berbelok menuju jalan kehidupan.
"Melambai-lambaikan tangan" kepada seseorang akan menarik perhatian orang itu. Ia mungkin datang dan bertanya, "Ada apa?" Namun, mungkin juga ia tertawa, lalu mengabaikan kita karena menyangka kita berpenyakit jiwa. Demikian ketika kita berbicara tentang Yesus, mereka mungkin menerima. Namun, mungkin juga mereka menghina atau mencemooh kita. Menghadapi adanya kemungkinan kedua, masihkan kita mau "melambai-lambaikan tangan" kita? Masihkah kita bersedia memberitakan Injil? Moga-moga kita menjawab, "Ya." Moga-moga kita rela menanggung ketidaknyamanan demi jiwa-jiwa dapat terselamatkan. --LIN/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN SABTU
Bacaan: KISAH PARA RASUL 6:1-7
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 21-24
Nas: Kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata, "Tidak baik jika kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja." (Kisah Para Rasul 6:2)
Jangan Sampai Terabaikan
Seorang wanita yang berprofesi sebagai perias jenazah mengungkapkan suara hatinya, khususnya ketika pernah menangani jenazah dari keluarga miskin yang ditolak oleh gereja. Mendengar penuturannya, seperti ada kesedihan yang terpancar dari suaranya, sekaligus menyesalkan kurangnya kepekaan gereja kepada kaum papa. Suatu ungkapan kegelisahan yang tampaknya perlu disuarakan dengan kuat ke setiap gereja, terlebih kalau kita mengingat bahwa kaum papa mendapat perhatian dari para rasul pada masa gereja mula-mula.
Para rasul pada zaman gereja mula-mula pernah diprotes karena pelayanan terhadap orang-orang miskin terabaikan. Untunglah kondisi ini tak berlangsung lama karena para rasul merespons dengan menunjuk tujuh orang untuk menjalankan peran diakonia, supaya kebutuhan orang-orang miskin dapat terpenuhi. Ungkapan "tidak baik kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja" juga menunjukkan bahwa keseimbangan tetap diperlukan antara pentingnya umat Allah menerima pengajaran yang sehat dan pelayanan diakonia bagi jemaat yang memang harus mendapat perhatian bersama. Tujuannya jelas, supaya setiap orang dapat terlayani dengan baik, tak hanya dalam perkara rohani.
Sampai hari ini, panggilan Tuhan tetap sama supaya gereja menaruh kepedulian kepada mereka yang terbatas secara ekonomi. Inilah bentuk "kabar baik bagi orang miskin" seperti yang pernah Yesus sampaikan (Mat. 11:5). Suatu cara hidup Ilahi yang telah dimulai pada masa gereja mula-mula, yang perlu terus dipelihara oleh gereja pada akhir zaman ini. --GHJ/www.renunganharian.net
* * *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar