RENUNGAN EDISI 10 MEI 2026 - JPA CHANNEL

JPA CHANNEL

JPA VISION 2026 " Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang "

MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

Breaking News


Cari Blog Ini

Sabtu, 09 Mei 2026

RENUNGAN EDISI 10 MEI 2026

 RENUNGAN HARIAN




RENUNGAN SENIN
Bacaan: KISAH PARA RASUL 7:54-60
Bacaan Setahun: 1 Tawarikh 9-11
Nas: Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. (Kisah Para Rasul 7:54)

Tertusuk
Seorang bapak tidak pernah hadir ibadah setiap kali hamba Tuhan tertentu menyampaikan firman Tuhan karena ia pernah merasa tertusuk dengan firman yang disampaikan oleh hamba Tuhan tersebut.
Dalam Alkitab dikisahkan, orang-orang memberikan respons yang berbeda terhadap firman Tuhan yang disampaikan. Saat Petrus berkhotbah, hati mereka yang mendengar perkataan Petrus sangat terharu dan bertanya kepada Petrus, apa yang harus diperbuat. Petrus menjawab agar mereka bertobat dan memberi diri dibaptis. Mereka menerima perkataannya itu dan memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. (Kis. 2:37-41). Sebaliknya, ketika anggota-anggota Mahkamah Agama mendengar perkataan Stefanus-yang penuh dengan karunia dan kuasa-sangat tertusuk hati mereka. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. Mereka berteriak-teriak dan serentak menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. (ay. 54, 57-58).
Bagaimana respons kita saat mendengar firman Tuhan? Jangan mudah tertusuk dan menyambut dengan kertak gigi, sebaliknya mudahlah terharu dan terimalah firman Tuhan dengan rendah hati, mau dikoreksi dan bertobat. Jadilah tanah yang baik, orang yang mendengar firman Tuhan itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat (Mat. 13:23). --IN/www.renunganharian.net
* * *
JADILAH ORANG YANG MENYAMBUT FIRMAN DENGAN TERHARUDAN BERTOBAT, JANGAN DENGAN TERTUSUK DAN KERTAK GIGI.
* * *



RENUNGAN SELASA
Bacaan: AMSAL 25:16-28
Bacaan Setahun: 1 Tawarikh 12-14
Nas: Bagaikan kota yang roboh temboknya, demikianlah orang yang tak dapat mengendalikan diri. (Amsal 25:28)

Retakan Tembok Batin
Di zaman kuno, tembok kota bukan hanya lambang kekuatan, tapi perlindungan utama bagi warga di dalamnya. Tembok yang kokoh membuat musuh berpikir dua kali sebelum menyerang sebuah kota. Yerikho, misalnya, pernah menjadi kota yang disegani karena temboknya yang besar dan kuat-lalu Tuhan meruntuhkannya dengan cara yang ajaib. Namun, bayangkan jika tembok itu tak pernah dibangun. Kota itu akan menjadi sasaran empuk-dirampas, dijarah, diacak-acak.
Kitab Amsal 25:28 menegaskan, "Bagaikan kota yang roboh temboknya, demikianlah orang yang tak dapat mengendalikan diri." Ini gambaran yang tepat. Memang, kita bagaikan membuka pintu bagi kehancuran, bila tanpa pengendalian diri: amarah yang tak terkendali, nafsu yang mendominasi, kata-kata yang menyakiti, kebiasaan buruk yang terus terjadi. Semua itu seperti retakan di tembok batin, yang pelan tapi pasti akan meruntuhkan hidup kita.
Di tengah dunia yang penuh hiruk-pikuk oleh godaan digital, tekanan hidup, kelelahan emosional-pengendalian diri merupakan sebuah keharusan. Kita memerlukan disiplin rohani untuk membangun tembok batin guna melindungi hati, pikiran, dan kewarasan hidup.
Tembok batin itu dibangun lewat doa yang tekun, pembacaan firman, saat teduh bersama Tuhan, dan persekutuan yang saling menopang. Roh Kudus akan memberi kita kekuatan untuk mengendalikan diri, memilih yang benar, dan tetap teguh ketika musuh jiwa menyerang. Ingatlah, hidup kita berharga. Maka, jangan biarkan tembok pengendalian diri kita roboh. Jagalah dengan waspada. --SAP/www.renunganharian.net
* * *
JIKA KAMU KEHILANGAN PENGENDALIAN DIRI,SEGALANYA AKAN HANCUR.-JOHN WOODEN
* * *



RENUNGAN RABU
Bacaan: KISAH PARA RASUL 18:1-26
Bacaan Setahun: 1 Tawarikh 15-17
Nas: Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat. Namun, setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan lebih tepat menjelaskan kepadanya Jalan Allah. (Kisah Para Rasul 18:26)

Bekerja dengan Iman
Priskila dan Akwila bukanlah pengkhotbah besar atau tokoh terkenal. Mereka hanyalah suami istri yang bekerja sebagai pembuat kemah. Namun, di balik kesederhanaan mereka, Tuhan menaruh hati yang besar untuk melayani sesama. Mereka membuka rumahnya, menerima Paulus, dan dari sana berita Injil meluas. Bahkan ketika mereka bertemu Apolos, seorang pengkhotbah fasih, tetapi belum memahami keselamatan secara utuh, mereka tidak menghakiminya di depan umum. Dengan kasih, mereka mengundangnya ke rumah dan menjelaskan jalan Allah dengan sabar dan lembut.
Apa yang ditunjukkan Priskila dan Akwila menunjukkan bahwa melayani Tuhan tidak selalu dilakukan di mimbar, tetapi juga di tempat kerja, di rumah, atau dalam percakapan sehari-hari. Priskila dan Akwila bekerja dengan tangannya, tetapi juga melayani dengan hati. Mereka tidak memisahkan pekerjaan dan iman, keduanya berjalan bersama untuk memuliakan Tuhan. Iman mereka bukan teori, tetapi nyata dalam tindakan membangun, meneguhkan, dan mengajar orang lain tentang kebenaran Allah.
Belajar dari Priskila dan Akwila, saya diingatkan bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan dengan iman dapat menjadi ladang pelayanan. Di tempat kerja, di rumah, atau di mana pun kita berada, Tuhan bisa memakai kita untuk menguatkan dan menuntun orang lain kepada kebenaran. Yang kita butuhkan bukanlah sebuah mimbar, tetapi hati yang setia dan telinga yang peka terhadap kehendak Allah. --SYS/www.renunganharian.net
* * *
MELAYANI TUHAN BUKAN SOAL MIMBAR, TETAPI TENTANG KESETIAANMENYATAKAN KEBENARAN DI MANA PUN KITA BERADA.
* * *



RENUNGAN KAMIS
Bacaan: LUKAS 5:27-32
Bacaan Setahun: 1 Tawarikh 18-21
Nas: Kemudian Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya. Sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama mereka. (Lukas 5:29)

Menjadi "Jembatan"
Ketika akan berpindah ke tempat baru, terkadang kita akan mencari orang yang berasal dari tempat baru itu. Dari orang itu, kita mendapat banyak informasi mengenai tempat itu seperti: keadaan, kebiasaan, budaya, dan lainnya. Kita pun dapat dikenalkan dengan orang-orang di sana sehingga tidak kesulitan dalam berinteraksi. Orang ini telah menjadi "jembatan" bagi kita.
Setelah Lewi, seorang pemungut cukai, mengikut Yesus, ia mengadakan perjamuan besar untuk Yesus. Lewi tentunya bersyukur bahwa Yesus berkenan memanggilnya, orang yang terpinggirkan, sehingga karena sukacitanya, ia mengadakan perjamuan. Hal yang menarik adalah ia tidak hanya mengundang Yesus saja, tetapi di situ ada teman-teman lamanya, sesama pemungut cukai dan orang-orang berdosa, yang ikut makan.
Lewi telah memberikan dirinya menjadi "jembatan" bagi banyak pemungut cukai dan orang-orang berdosa untuk dapat berjumpa dengan Yesus melalui perjamuan makan itu. Tentunya bukan hal yang mudah bagi orang-orang yang terpinggirkan karena statusnya, untuk dapat berelasi dengan Yesus. Dan ternyata hal ini menjadi cemoohan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang beranggapan bahwa Yesus tidak pantas makan bersama dengan mereka.
Di sekitar kita ada banyak orang yang belum mengenal Yesus, malu, takut, atau tidak tahu bagaimana cara mengenal Yesus. Mereka sedang menanti-nantikan siapa yang akan menolong mereka. Marilah kita yang telah mengenal Dia, menyediakan diri menjadi "jembatan" bagi mereka untuk berjumpa dan mengenal Yesus, dengan menceritakan kasih Kristus kepada mereka. --ANT/www.renunganharian.net
* * *
JADILAH "JEMBATAN" UNTUK BANYAK ORANG KEPADA YESUS.
* * *



RENUNGAN JUMAT
Bacaan: LUKAS 10:1-20
Bacaan Setahun: 1 Tawarikh 22-24
Nas: "Meskipun demikian, janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga." (Lukas 10:20)

Sukacita yang Utama
Sebagai seorang Kristen, kita pasti bergembira ketika ambil bagian dalam pelayanan yang membawa hasil yang baik. Misalnya, kita memimpin pujian dalam ibadah yang memberkati banyak jemaat. Kita memberitakan Injil dan menuntun orang-orang kepada Kristus. Kita melakukan pelayanan pelepasan serta menolong orang yang kerasukan roh jahat. Kita berdoa dan orang-orang sakit mengalami kesembuhan dan pemulihan. Serta beragam jenis pelayanan yang membuat kita bangga menjadi pengikut Kristus. Namun, dari semua itu, manakah yang seharusnya menjadi sukacita yang terbesar bagi seorang Kristen?
Selain memilih dua belas murid, Tuhan Yesus juga memilih tujuh puluh murid lainnya. Ia menetapkan mereka untuk pergi mendahului-Nya ke tempat-tempat yang akan dikunjungi-Nya. Mereka diberi beberapa instruksi dan larangan dalam menjalankan misi itu. Mereka juga diberi otoritas untuk melakukan berbagai mukjizat. Setelah itu, mereka kembali berkumpul. Ini semacam evaluasi pelayanan. Pengalaman mereka membuktikan bahwa kuasa Allah terpancar nyata dalam pelayanan mereka. Bahkan setan-setan pun takluk kepada mereka. Tak heran mereka diliputi kegembiraan.
Namun, dari semua pengalaman itu Tuhan Yesus mengingatkan bahwa sukacita mereka tidak boleh didasarkan pada perbuatan diri sendiri. Bukan pada prestasi pelayanan. Melainkan pada apa yang hanya dapat dikerjakan Allah sendiri bagi manusia berdosa. Yaitu, Dia menebus dan menyelamatkan kita. Dia menuliskan nama kita dalam Kitab Kehidupan di surga. Ya, merayakan keselamatan yang dianugerahkan-Nya itulah yang sepatutnya jadi sumber sukacita kita dalam melakukan berbagai pelayanan di dunia ini. --HT/www.renunganharian.net
* * *
KITA HANYA AKAN MENGALAMI SUKACITA YANG SEJATIDI SAAT KITA BERSANDAR PADA PERBUATAN-PERBUATAN ALLAH BAGI DIRI.
* * *


RENUNGAN SABTU

Bacaan: IBRANI 12:1-17

Bacaan Setahun: 1 Tawarikh 25-27

Nas: Jagalah supaya jangan ada seorang pun kehilangan anugerah Allah, agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang. (Ibrani 12:15)


Waspadai Akar Pahit!

Hak kesulungan melambangkan berkat rohani dan tanggung jawab kepemimpinan keluarga. Namun, Esau rela menjualnya kepada Yakub demi sepiring makanan. Ia tidak berpikir panjang dengan mempertimbangkan dampaknya. Ia hanya berpikir perkara duniawi, mengutamakan kenikmatan sesaat. Karena itu penulis kitab Ibrani membahasakan tindakan Esau ini dengan istilah cabul. Sebab, Esau mencemari atau menghina hal-hal rohani, tidak hormat terhadap kekudusan. Pilihannya yang gegabah itu pun membawa penyesalan mendalam tetapi tidak dapat dipulihkan. Dalam kemarahannya, Esau dendam terhadap Yakub, dan rusaklah kesatuan mereka sebagai keluarga.

Kisah Esau ini menjadi peringatan supaya kita jangan kehilangan anugerah Allah. Bukan berarti bahwa Allah mencabut keselamatan secara sewenang-wenang. Namun, respons kita yang gagal hidup dalam kasih karunia Allah itulah yang dapat membuat kita kehilangan anugerah-Nya. Dengan kata lain, kita dapat kehilangan kasih karunia Allah karena sikap hati kita sendiri yang menjauh, mengabaikan, atau menolaknya dengan berlaku dosa, memendam kepahitan dan hidup dalam ketidaktaatan.

Kita harus senantiasa waspada, berjaga-jaga terhadap hal-hal kecil dalam hati, yang berpotensi merusak. Kita perlu membersihkan hati secara rutin dari luka atau kepahitan yang belum beres. Cepat berdamai dan melepaskan pengampunan, supaya tidak berkembang menjadi akar pahit. Sebab akar pahit tidak hanya merusak diri-sendiri, melainkan dapat menjalar kepada orang lain, menghasilkan pertengkaran dan perpecahan. --EBL/www.renunganharian.net

* * *
LIBATKANLAH TUHAN DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN
SUPAYA JANGAN BERAKHIR PADA PENYESALAN YANG TAK TERPULIHKAN.

* * *





MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
&
JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Suatu Umat Yang Layak Bagi-Nya "
( LUKAS 1:17c )


JPA VISION 2026 : "Di Dalam Terang-Mu, Kami Melihat Terang " | Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

#KeluargaJPA​​​ #TuhanBekerja​​​ #JPABerdampak​​​ #GPdI​​​ #GPdIJPA​​​ #Praise​​​ #Renungan2026 #DalamTerangmukamimelihatterang #JPAVision #multimediaJPA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WARTA EDISI 10 MEI 2026

 JADWAL SEPEKAN  MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK " & JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan S...

Post Bottom Ad

Halaman