RENUNGAN HARIAN
RENUNGAN SENIN
Bacaan: FILIPI 2:1-11
Bacaan Setahun: 2 Samuel 4-7
Nas: Yang walapun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manu (Filipi 2:6-7)
Di Sana Kita Mendengar
Karena dosa-dosa, kita semua dikuasai kebinasaan. Kita tidak mampu membebaskan diri. Hanya ada satu jalan yang memungkinkan kita bisa selamat, yakni jika Tuhan berkenan turun menyelamatkan kita. Dan, itulah yang Tuhan lakukan: Kristus, Allah Yang Maha Tinggi itu, mengosongkan diri, menanggalkan kemuliaan-Nya, merendahkan diri menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.
Karya Kristus yang mengosongkan diri itu menunjukkan kepada kita bahwa hanya yang tinggi yang bisa turun demi yang rendah, hanya yang kuat yang bisa mengalah bagi yang lemah. Karya Kristus itu juga menyadarkan kita pada kenyataan bahwa hanya yang mampu berjalan cepat yang bisa menunggu; hanya yang bebas yang bisa mengikatkan diri.
Apa arti semua itu bagi kita?
Di sekitar kita, banyak orang yang hidup jelata di bawah, yang lemah tak berdaya, yang hanya bisa beringsut lambat, yang terpasung pelbagai belenggu. Dalam Kristus yang mengosongkan diri itu, kita mendengar ajakan agar siapa pun ada di tempat tinggi mau turun bagi mereka yang jelata di bawah, agar mereka yang kuat rela mengalahkan diri bagi mereka yang lemah, agar orang yang mampu berlari cepat bersedia menunggu mereka yang hanya bisa beringsut lambat, agar mereka yang bebas bersedia mengikatkan diri pada kewajiban-kewajiban moral demi sesama yang terikat pelbagai belenggu.
Memandang Kristus yang mengosongkan diri itu, tergerakkah kita untuk berbelas kasihan kepada mereka yang patut dibelaskasihani? Tuhan mendengar pengakuan yang kita katakan dalam hati. --EE/www.renunganharian.net
* * *BELAS KASIHAN KEPADA MEREKA YANG LEMAHADALAH TANDA KEAGUNGAN.-MYLES MUNROE
* * *
RENUNGAN SELASA
Bacaan: LUKAS 5:27-32
Bacaan Setahun: 2 Samuel 8-12
Nas: "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat." (Lukas 5:32)
Bukan Kumpulan Orang Suci
Seorang pria berjalan masuk ke dalam ruang kebaktian gereja. Baru pertama kali ia datang ke situ. Pria itu mengambil tempat duduk di deretan paling depan. Seorang jemaat melihatnya, lalu bergegas menemui Pak Pendeta. "Pria itu pemabuk dan penjudi. Aku tahu hal itu karena ia tetanggaku, " lapornya. Pak Pendeta tersenyum. "Tidak apa-apa, Bung, " kata beliau, "gereja bukan kumpulan orang suci."
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut. Mereka mengeluh mengapa Yesus makan di rumah Lewi, si pemungut cukai. Malah di situ diundang pula sejumlah besar pemungut cukai lainnya. Mengapa Yesus berkumpul bersama para pendosa? Yesus menjelaskan bahwa diri-Nya datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa supaya mereka bertobat (ay. 32). Ibarat seorang tabib didatangkan bukan untuk kepentingan orang sehat, tetapi orang sakit (ay. 31). Sebagaimana peranan Yesus, demikian peranan gereja seharusnya. Gereja bukan kumpulan orang suci. Gereja bukan tempat hanya bagi orang-orang rohani. Gereja berdiri terutama untuk menjangkau orang berdosa supaya mereka bertobat.
Jangan kita enggan datang ke gereja saat sadar telah berbuat dosa. Gereja bukan kumpulan orang suci maka tidak harus kita menjadi suci baru boleh berada di gereja. Saat sadar telah berbuat dosa, justru kita harus datang ke gereja supaya bertobat dan dipulihkan. Jangan tolak kehadiran seorang berdosa di dalam gereja. Saat tahu ada seseorang yang berdosa, justru kita harus mengajaknya datang ke gereja supaya ia bertobat dan dipulihkan. --LIN/www.renunganharian.net
* * *GEREJA ADALAH KUMPULAN ORANG BERDOSAUNTUK KEMUDIAN DIUBAHKAN MENJADI ORANG-ORANG SUCI.
* * *
RENUNGAN RABU
Bacaan: LUKAS 10:25-37
Bacaan Setahun: 2 Samuel 13-15
Nas: "Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, menjadi sesama manusia bagi orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu, "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya, "Pergilah dan perbuatlah demikia (Lukas 10:36-37)
Menjadi Sesama
Perumpamaan orang Samaria yang murah hati dipakai Yesus untuk menjawab pertanyaan ahli Taurat. Meski Yesus tahu bahwa ahli Taurat itu hanya mencobai-Nya, Ia tetap menjawab dengan hikmat. Kesempatan itu digunakan Yesus untuk mengungkap bahwa sesama tidak terbatas etnis, status, maupun agama. Yesus tidak hanya menjawab pertanyaan secara intelektual, melainkan juga menyingkap isi hati manusia. Termasuk di dalamnya, motivasi ahli Taurat yang ingin mencari pembenaran diri.
Melalui gambaran orang Samaria-yang biasanya dipandang rendah oleh orang Yahudi-Yesus menjadikannya teladan kasih sejati. Yesus menantang sikap eksklusif orang Yahudi dan pemimpin agama yang menguasai hukum Taurat, tetapi tidak menghidupi kasih. Imam dan Lewi (gambaran hukum dan agama) tidak mampu menyelamatkan. Justru orang asing yang tak dianggap (orang Samaria) yang memberi hidup.
Perumpamaan ini memang tidak menyatakan bahwa Yesus adalah orang Samaria (secara eksplisit). Namun, melalui karakter orang Samaria yang mengasihi secara tuntas tanpa pamrih, gambaran hati Yesus ditunjukkan. Yesus adalah pribadi yang datang menolong yang terluka dan terabaikan. Yesus adalah Sang Penyelamat yang tidak terikat oleh batas agama, budaya, atau status. Yesus datang membawa hidup dan kasih sejati, bukan sekadar hukum. Yesus tidak hanya mengajarkan kasih, melainkan Dia sendirilah kasih itu. Yesus hadir menjadi sesama demi memberi hidup bagi kita, manusia berdosa. Kini, kepada kita Yesus berkata, "Pergilah dan perbuatlah demikian!" --EBL/www.renunganharian.net
* * *KARENA KASIH-NYA, DIA RELA MENJADI SAMA DENGAN MANUSIAAGAR MANUSIA MENGASIHI SESAMANYA.
* * *
RENUNGAN KAMIS
Bacaan: YOHANES 16:16-33
Bacaan Setahun: 2 Samuel 16-18
Nas: "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." (Yohanes 16:33)
Bukan Sekadar Optimisme
Ketika Yesus berbicara kepada para murid, suasana penuh dengan ketegangan. Sebab, bayangan perpisahan, pengkhianatan, dan penderitaan sudah dekat. Para murid gelisah; hati mereka campur aduk antara takut dan tidak percaya terhadap apa yang sedang dan akan terjadi. Dalam situasi seperti inilah Yesus menutup pengajaran-Nya dengan kata-kata yang menenangkan, "Aku telah mengalahkan dunia." Mengapa dalam situasi tegang Yesus malah mengatakan demikian? Tidakkah ucapan itu mengingkari kenyataan?
Jelas, Yesus tidak pernah mengingkari kenyataan. Ia dengan jujur menyatakan bahwa dunia ini penuh penderitaan dan tekanan. Namun, Ia tidak berhenti pada kabar tentang kesulitan. Ia memberikan perspektif baru, yakni ada damai sejahtera yang lahir dari kemenangan-Nya. Inilah inti penghiburan iman kristiani-bukan sekadar optimisme, melainkan kepastian bahwa Kristus sudah menang. Ia menaklukkan kuasa dunia.
Tentu saja, damai sejahtera yang dimaksudkan-Nya bukan berarti bahwa hidup ini tanpa masalah. Murid-murid-Nya tetap menghadapi penolakan dan aniaya. Namun, di balik semua itu, ada kepastian yang menguatkan: mereka tidak berjalan sendirian. Kehadiran Yesus yang telah menang, membuat mereka mampu menghadapi badai yang mengadang.
Begitu pula kita. Hidup sesehari, dengan segala masalahnya, kadang membuat kita hampir menyerah. Namun, janji Yesus tetap sama, "Kuatkanlah hatimu." Sebab, Ia sudah menang. Karena itu, mari kita memandang hidup ini dari perspektif kemenangan Kristus. Saat tertekan, tetaplah teguh. Saat merasa takut, tetaplah percaya. Damai sejahtera-Nya nyata karena Dia sendirilah sumbernya. --SAP/www.renunganharian.net
* * *KEMENANGAN DALAM KRISTUS MENOLONG KITA HIDUP DALAM KESADARANAKAN KEBESARAN DAN KECUKUPAN-NYA.-BETH MOORE
* * *
RENUNGAN JUMAT
Bacaan: YOHANES 12:9-11
Bacaan Setahun: 2 Samuel 19-21
Nas: Sebab, karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus. (Yohanes 12:11)
Kekuatan Sebuah Kesaksian
Tidak jarang kesaksian bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat yang hidup telah berusaha dibungkam. Orang yang telah mengalami anugerah-Nya, mengalami perubahan hidup dan pertolongan-Nya yang ajaib, dapat saja mengalami halangan, tantangan, bahkan mungkin ancaman yang menghambat orang itu untuk bersaksi dengan leluasa.
Adanya berita kebangkitan orang mati tentunya sangat menarik perhatian banyak orang karena merupakan peristiwa yang luar biasa. Lazarus, saudara Marta dan Maria, adalah orang yang telah dibangkitkan Yesus setelah empat hari kematiannya. Kedatangan kembali Yesus ke tempat Lazarus sangat menarik banyak orang Yahudi untuk datang melihat Yesus, Pribadi yang sanggup membangkitkan orang mati, dan juga untuk melihat Lazarus yang telah dibangkitkan.
Lazarus adalah bukti nyata yang menyaksikan ketuhanan Yesus yang berkuasa atas maut, telah membuat banyak orang Yahudi percaya kepada Yesus, meninggalkan agama Yahudi dan pemimpin-pemimpinnya. Kesaksian nyatanya telah mengguncangkan sejumlah besar orang Yahudi dan membawa dampak yang besar sehingga imam-imam kepala berniat untuk membunuh Lazarus juga. Mereka berusaha membungkam dan menghilangkan jejak kesaksian itu dengan berusaha membunuh Lazarus, dengan harapan bahwa kesaksian itu akan berhenti.
Setiap orang percaya adalah saksi Kristus. Sudahkah kita menyaksikan Kristus dan karya-Nya dalam hidup kita? Jika kita telah sungguh mengalami Kristus yang hidup itu maka kita tidak akan tahan untuk diam saja. Marilah kita memohon hikmat dan kesempatan dari Tuhan sehingga kita dipakai-Nya untuk menyaksikan Dia dalam setiap kesempatan. --ANT/www.renunganharian.net
* * *KESAKSIAN KITA DAPAT MENJADI JALAN ORANG LAINUNTUK MENERIMA ANUGERAH-NYA.
* * *
RENUNGAN SABTU
Bacaan: KEJADIAN 42:1-25
Bacaan Setahun: 2 Samuel 22-24
Nas: Mereka berkata seorang kepada yang lain, "Kita benar-benar menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu, karena kita melihat betapa sesak hatinya ketika ia memohon belas kasihan kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kes (Kejadian 42:21)
Dosa yang Mengusik
Saudara-saudara Yusuf yang datang ke Mesir untuk membeli gandum akibat kelaparan hebat yang melanda tanah Kanaan menjadi gemetar ketakutan ketika Yusuf, sebagai penguasa Mesir yang saat itu tidak mereka kenal, memerintahkan agar seorang di antara mereka ditahan di Mesir dan mereka harus membawa adiknya, Benyamin, ikut serta ketika mereka kembali datang. Hal ini seolah menegaskan bahwa kutuk menimpa mereka yang telah menjual Yusuf ke Mesir.
Mungkin kita dapat menyembunyikan dengan sangat rapi dosa yang telah kita lakukan di masa lalu, bahkan tidak ada seorang pun yang menyinggungnya, tetapi cepat atau lambat dosa yang tidak kita selesaikan di hadapan Tuhan itu dapat terkuak kembali hingga hati kita menjadi sedemikian risau dan tidak ada damai sejahtera di hari-hari yang kita jalani. Lebih baik kita segera menyelesaikan perkara kita di hadapan Tuhan dengan mengakui kejahatan yang kita lakukan dan segera bertobat, daripada membiarkannya berlarut-larut dengan membenarkan diri hingga akhirnya tidak ada rasa aman dalam hidup kita.
Menutupi pelanggaran mungkin dapat kita lakukan sekian lama, tetapi ketakutan yang amat sangat dapat tiba-tiba muncul ketika timbul suatu kejadian yang membuat hidup kita menjadi ruwet hingga kita berpikir bahwa inilah pembalasan Tuhan atas dosa yang telah kita perbuat. Oleh karena itu, rengkuhlah kasih karunia-Nya yang akan membersihkan segala dosa kita sekarang juga! --KSD/www.renunganharian.net
* * *SELESAIKAN SEGERA DOSA YANG KITA PERBUAT DI HADAPAN TUHANSEHINGGA HARI-HARI ANDA PENUH DAMAI SEJAHTERA.
* * *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar