JADWAL SEPEKAN JPA
Pages - Menu
Halaman
Sabtu, 29 November 2025
WARTA EDISI 30 NOVEMBER 2025
RENUNGAN EDISI 30 NOVEMBER 2025
RENUNGAN HARIAN
Bacaan Setahun: Roma 1-3
Nas: Tetapi, anak-anak lelaki Eli adalah orang durjana; mereka tidak mengindahkan Tuhan. (1 Samuel 2:12)
Berdosa di Rumah Tuhan
Sebagai imam, Hofni dan Pinehas bertugas memimpin umat Allah dalam kegiatan peribadatan, khususnya dalam mempersembahkan kurban. Jabatan kehormatan ini seharusnya dilakukan dengan memperhatikan aturan yang telah Tuhan tetapkan dengan sangat jelas dalam Taurat Musa. Namun, pada praktiknya mereka melakukannya sesuka hati. Mereka menyalahgunakan jabatan demi kesenangan sendiri, termasuk dengan ancaman kekerasan (ay. 13-16). Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka juga berzina dengan para pelayan Tuhan (ay. 22). Mereka mengabaikan semua teguran serta peringatan dari sang ayah serta dari umat yang mereka layani.
Dosa serta kejahatan memang dapat terjadi di mana saja. Di tempat di mana kebenaran diberitakan, di sana bisa juga terdapat kebohongan. Di mana kasih dikhotbahkan, di sana permusuhan juga bisa terjadi. Bahkan, bisa saja ada orang yang mengatasnamakan Tuhan untuk membungkus kejahatannya. Tidak ada area yang steril dari dosa karena semua manusia memang telah jatuh ke dalam belenggunya.
Hofni dan Pinehas menjalani hidup yang penuh dosa lalu bersikap seolah itu adalah hal yang biasa. Hingga hari ini, banyak orang memiliki pikiran yang sama. Mereka abai terhadap Allah yang benar dan kudus, yang menghendaki umat-Nya menjalani hidup yang berkenan bagi-Nya. Mereka seolah lupa bahwa dosa pasti membawa kita mengalami murka Allah serta menuju kebinasaan kekal. Kedua imam ini pun mendapatkan penghukuman dari Allah. Ya, jika kita terus hidup di dalam dosa, kita akan binasa. Kita harusnya menyadari keberdosaan kita, lalu bertobat, serta belajar menjalani hidup menuruti kehendak Allah, di mana pun kita berada. --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Roma 4-7
Nas: Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah membuat kita lahir kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada hidup yang penuh pengharapan. (1 Petrus 1:3)
Harapan di Dalam Kristus
Kehidupan di dunia sering kali membuat kita merasa lelah dan kehilangan harapan. Keadaan ekonomi, masalah keluarga, penyakit, atau kegagalan dapat menghantam begitu keras hingga kita merasa tidak ada jalan keluar. Kadang kesukaran dan masalah kehidupan tersebut membuat kita kehilangan harapan. Namun, sebagai orang percaya, kita memiliki sumber harapan yang tidak tergoncangkan, yaitu Yesus Kristus.
Surat 1 Petrus ini ditujukan kepada jemaat yang hari itu sedang mengalami kesukaran yang bertubi-tubi. Mereka mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh kerajaan Romawi kepada orang-orang Kristen. Sejarah menunjukkan beberapa Kaisar Romawi dengan bengis menekan, menganiaya, hingga membunuh orang-orang Kristen dengan kejam. Belum lagi kebencian dan perlakuan tidak adil dari para pemimpin dan masyarakat di mana mereka tinggal. Mereka ditekan secara politik, ekonomi, sampai sosial. Bahaya dan kematian senantiasa mengancam. Apa nasihat Rasul Petrus kepada mereka? Dalam 1 Petrus 1:3, Rasul Petrus mengingatkan bahwa kebangkitan Kristus adalah dasar pengharapan kita. Bukan hanya pengharapan akan kehidupan kekal, tetapi juga pengharapan akan penyertaan Tuhan di tengah kesulitan hidup yang kita hadapi sekarang.
Kita diingatkan bahwa Kristus tidak hanya mati untuk dosa-dosa kita, tetapi Ia juga bangkit agar kita memiliki hidup yang baru, yang penuh pengharapan dan tujuan. Harapan dalam Kristus tidak pernah sia-sia karena didasarkan pada janji Allah yang kekal dan tidak berubah. Di tengah kehidupan yang sulit, yang tengah kita jalani, selalu ada pengharapan sejati di dalam Tuhan Yesus. Jadi, jangan menyerah dan berputus asa. --DSK/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Roma 8-10
Nas: Jika demikian, apakah upahku? Upahku ialah ini: Bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak menggunakan hakku sebagai pemberita Injil. (1 Korintus 9:18)
Apa Upahku?
Hati saya tersentuh saat mendengar pengakuan seorang hamba Tuhan yang memutuskan untuk bertahan melayani Tuhan di daerah pedalaman. Hamba Tuhan dengan seorang istri dan dua orang anaknya ini telah bertahun-tahun setia menggembalakan jemaat sederhana yang jumlahnya tidak lebih dari dua puluh orang. Untuk bertahan hidup, beliau memanfaatkan lahan kecil yang ditanami sayur serta persembahan jemaat yang berupa hasil bumi setiap minggunya. Beberapa kali beliau ditawari penggembalaan di kota, dengan iming-iming penghidupan yang lebih layak dan berbagai fasilitas, tetapi selalu ditolaknya. Baginya, tidak ada sukacita yang lebih besar selain memegang teguh komitmen awal untuk setia melayani jiwa-jiwa di pedalaman itu sekalipun tidak ada upah materi yang diperoleh.
Rasul Paulus memakai dirinya sendiri sebagai teladan mengenai prinsip penyangkalan diri dalam melayani Tuhan. Sebagai seorang rasul, sesungguhnya ia memiliki hak upah dari pelayanannya itu. Namun, ia berkomitmen untuk melepaskan hak itu supaya ia tidak membatasi pelayanannya dan menghambat kemajuan Injil. Rasul Paulus membangun prinsip ini dengan ketulusan dan bukan mencari simpati orang lain. Dengan tulus ia berkata, "Upahku adalah bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil."
Sungguh menyukakan hati ketika kita mendapati ternyata masih ada orang yang tidak mendasarkan pelayanannya pada keuntungan atau upah yang bisa diperolehnya. Bagi mereka, masih dipercaya Tuhan untuk melayani adalah upah yang tak ternilai harganya. Bagaimana dengan kita? --SYS/www.renunganharian.net
Bacaan Setahun: Roma 11-13
Nas: Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Efesus 5:16)
Hidup yang Produktif
Suatu ketika saya menghadiri jamuan makan dari seorang dokter yang sudah lansia, tapi masih memiliki kebugaran yang baik. Beliau terlihat masih menyantap hidangan yang biasanya dijauhi oleh para lansia, sembari menceritakan rutinitasnya sebagai dokter. Secara rutin beliau masih praktik di tiga rumah sakit dan masih sempat membaca buku secara rutin. "Produktif sekali hidupnya, bahkan bisa menginspirasi banyak orang untuk menjalani hidup sehat!" gumam saya ketika mendengarkan pengalaman hidup beliau.
Menjaga agar hidup tetap produktif tak hanya milik lansia atau mereka yang memasuki masa purnatugas dalam pekerjaan. Kita yang lebih muda juga perlu menjalani hidup produktif karena sejatinya Tuhan memberikan waktu yang berharga setiap hari. Namun sayang, belakangan ini kita justru melihat ada banyak orang menghabiskan waktu untuk melakukan perkara yang sia-sia, misalkan bermain gim atau bermain media sosial secara berlebihan. Durasi waktu yang terbuang akan lebih bermanfaat jika dipakai untuk melakukan aktivitas lain, seperti pengembangan diri, mengasah keterampilan, atau bersekutu secara pribadi dalam doa dan pembacaan Alkitab.
Bertolak dari nas renungan kita, dorongan agar umat Allah belajar mempergunakan waktu dengan bijak, masih perlu untuk diperhatikan. Tujuannya tak lain agar setiap hari kita dapat menjalani hidup yang produktif, tak sekadar menghabiskan waktu dengan terlihat sibuk, tetapi sebenarnya hidup kita sia-sia belaka. Mari kobarkan semangat untuk hidup produktif setiap hari. --GHJ/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Roma 14-16
Nas: "Sekarang, perhatikanlah mulai hari ini dan selanjutnya: Sebelum batu demi batu disusun untuk Bait Tuhan, bagaimana keadaanmu?" (Hagai 2:15-16)
Mengutamakan Allah
Apakah yang paling kita perhatikan dalam hidup? Tuhan, sesama, ataukah justru diri kita sendiri? Sadarkah bila hal yang paling kita perhatikan dalam hidup adalah hal yang kita utamakan? Maka baiklah apabila kita melihat dan memeriksa diri kita, merenungkan serta mencoba mengoreksi, apabila mungkin kita telah salah dalam mengarahkan hidup.
Memperhatikan, menjadi pesan yang berulang kali Allah sampaikan dalam firman-Nya. "Perhatikanlah keadaanmu, " demikian firman Allah merujuk pada kondisi sebelum dan sesudah batu-batu Bait Allah diletakkan. Sebelum Bait Allah mulai dibangun kembali, segala sesuatu yang mereka buat akan hancur. Allah menghukum mereka karena bukannya memikirkan rumah-Nya, tetapi justru memikirkan diri mereka sendiri dengan mengutamakan rumah dan kebun mereka (Hag. 1:4-6). Allah pun mengajak mereka memperhatikan kondisi mereka setelah Bait Allah mulai dibangun kembali, sekalipun dalam kondisi di mana mereka sudah tidak memiliki apa pun. Dalam ketiadaan tersebut, Allah justru memberikan berkat. Allah menegur mereka yang hanya memikirkan dirinya sendiri ketika mereka masih memiliki. Dengan memberikan ketiadaan, sejatinya Allah mengajak mereka kembali mengingat siapa dan dari mana mereka beroleh hidup, serta sungguh-sungguh mengutamakan Allah dalam hidup.
Seberapa pun besarnya kekuatan kita, kita manusia yang penuh keterbatasan. Untuk itu, marilah kita mengutamakan Allah dalam hidup, sebab Allah memberikan hidup bagi kita dengan mencurahkan berkat-Nya. --ZDP/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: 1 Korintus 1-4
Nas: Apabila kamu menjadi marah, janganlah berbuat dosa: Janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu. (Efesus 4:26)
Marah Tanpa Dosa
Suatu siang, saat berkunjung ke rumah nenek, seorang tetangga tampak sibuk di kebun samping rumahnya. Saya pun bertanya kepada nenek, "Rajin amat panas-panas begini bersih-bersih kebun?" "Itu tandanya dia sedang marah!" sahut nenek. Oh, rupanya ia sedang menyalurkan emosi negatifnya.
Manusia diciptakan dengan berbagai emosi sebagai bagian dari kompleksitasnya. Emosi adalah respons alami terhadap situasi yang sedang dihadapi. Marah adalah salah satu bentuknya. Adalah wajar jika manusia menjadi marah saat merasa tidak dihargai, diperlakukan tidak adil, dikecewakan, mengalami kegagalan atau frustrasi. Namun demikian, marah merupakan emosi yang bersifat negatif sehingga diperlukan hikmat untuk mengelolanya.
Rasul Paulus pun berpesan kepada jemaat supaya jangan berbuat dosa saat kemarahan menguasai hati. Emosi memang harus disalurkan. Namun, emosi negatif, baik kemarahan, kesedihan, atau ketakutan harus tetap disikapi dengan bijaksana. Bagi orang percaya, hal pertama yang dapat dilakukan tentu mengambil waktu untuk berdoa dan bersaat teduh. Selain sebagai wujud iman, doa dan saat teduh dapat menjadi sarana meditasi yang melatih kesadaran untuk menerima emosi tanpa menghakimi. Selanjutnya, kita dapat mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat. Dengan menulis atau berbicara (sharing dengan orang yang dapat dipercaya). Dapat pula dengan melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga. Melalui seni, seperti bermain alat musik atau mendengarkan lagu, dan melalui banyak cara positif lainnya. --EBL/www.renunganharian.net
* * *
MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!
Sabtu, 22 November 2025
WARTA EDISI 23 NOVEMBER 2025
JADWAL SEPEKAN JPA
RENUNGAN EDISI 23 NOVEMBER 2025
RENUNGAN HARIAN
RENUNGAN SENIN
Bacaan: KELUARAN 2:1-10
Bacaan Setahun: Kisah Para Rasul 11-13
Nas: ... ia mengambil sebuah peti pandan dan merekatkannya dengan gala-gala dan tér, lalu meletakkan bayi itu di dalamnya dan menaruh peti itu di tengah-tengah gelagah di tepi Sungai Nil. (Keluaran 2:3)
Strategi yang Cerdik
Orang tua mana yang pasrah saja ketika anaknya akan direnggut dari tangan mereka? Sedapat-dapatnya mereka akan memikirkan berbagai cara untuk mempertahankan sekuat tenaga agar anak itu tetap di tangan mereka. Begitulah pada dasarnya kasih sayang orang tua terhadap anaknya.
Karena perintah Firaun, raja Mesir, agar segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani dilemparkan ke dalam Sungai Nil maka banyak dari orang Ibrani mengalami ketakutan. Satu keluarga dari suku Lewi yang mempunyai anak laki-laki sampai menyembunyikan anaknya selama tiga bulan. Ketika mereka tidak bisa lagi menyembunyikan, mereka tidak hanya pasrah saja, melainkan merencanakan dan menempatkan anaknya dalam peti yang tahan air, meletakkan di tengah-tengah gelagah di tepi Sungai Nil, dan kakak perempuan anak itu mengawasi dari jauh. Ia siap menawarkan ibu penyusu bagi anak itu bila diperlukan, yaitu ibunya sendiri. Ketika anak itu akhirnya diambil putri Firaun, yang mungkin biasa mandi di situ, anak itu disusukan pada ibu penyusu, yakni ibu kandung bayi itu sendiri, sampai ia besar, dibawa kembali kepada putri Firaun, dan ia diberi nama Musa.
Menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati adalah suatu hal yang penting di zaman yang sulit, penuh tantangan, dan jahat ini. Setiap saat kita bisa dihadapkan dalam dilema dan pilihan yang sulit di kampus, pekerjaan, masyarakat, ataupun bisnis kita. Marilah kita meminta hikmat Tuhan untuk bisa cerdik sesuai kebenaran dalam menghadapi tekanan dan masalah yang sulit sekalipun. --ANT/www.renunganharian.net
* * *
HIKMAT TUHAN MEMBUAT KITA TIDAK PASRAH DENGAN KEADAAN.
* * *
RENUNGAN SELASA
Bacaan: 2 PETRUS 1:3-15
Bacaan Setahun: Kisah Para Rasul 14-15
Nas: Karena itu, Saudara-saudara, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan keterpilihanmu makin teguh. Sebab, jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. (2 Petrus 1:10)
Merawat Iman
Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan petani supaya tanamannya berbuah. Mulai dari menyiapkan lahan, menyemai benih, menanam bibit, merawat tanaman dengan menyiram dan memupuk, mengontrol hama pengganggu dan lain sebagainya. Jika seorang petani hanya menanam benih tanpa merawatnya, mustahil tanamannya bertumbuh dengan baik, apalagi menghasilkan buah.
Iman kepada Tuhan pun perlu perawatan. Tidak cukup hanya mengaku sebagai murid Yesus lalu selesai. Iman sebagai dasar kehidupan Kristiani harus dijalankan dengan melakukan perbuatan baik. Memiliki pengetahuan tentang cara hidup yang bijaksana. Belajar menguasai diri. Bertahan dalam kesusahan. Berusaha untuk hidup semakin sesuai dengan kemauan Allah. Belajar mengasihi saudara seiman dan menyatakan kasih kepada semua orang dengan perbuatan. Dengan demikian, barulah iman kita bertumbuh dan terbukti bahwa kita benar-benar mengenal Yesus.
Iman bukanlah sesuatu yang statis. Iman harus bertumbuh. Dan pertumbuhan iman bukanlah sebuah otomatisasi yang dapat berjalan dengan sendirinya tanpa usaha. Iman memerlukan partisipasi aktif. Karena itu, pertumbuhan iman harus diupayakan. Pengakuan atas iman kepada Tuhan harus mendorong kita berusaha mengembangkan kualitas diri dengan citra Kristus. Benar bahwa proses ini tidaklah selalu mudah. Namun, ketika kita tidak bergerak maju, arus dunia akan menghanyutkan kita. Hanya ketika kita berusaha dengan sungguh-sungguh menjalankan iman kepada Tuhan, kita semakin diteguhkan dan dapat mencapai tujuan surgawi. --EBL/www.renunganharian.net
* * *
KESELAMATAN ADALAH PANGGILAN TUHAN, TETAPI ORANG PERCAYA HARUSMENEGUHKAN PANGGILAN DENGAN HIDUP DALAM KETAATAN.
* * *
RENUNGAN RABU
Bacaan: 1 SAMUEL 14:1-23
Bacaan Setahun: Kisah Para Rasul 16-17
Nas: Kekalahan pertama yang ditimbulkan Yonatan dan pembawa senjatanya menewaskan kira-kira dua puluh orang di tempat seluas setengah ladang pembajakan. (1 Samuel 14:14)
Remontada ala Yonatan
Remontada adalah istilah dalam bahasa Spanyol yang berarti pembalikan (Ing.: comeback), yang banyak digunakan dalam olahraga, khususnya sepak bola. Tim yang awalnya tertinggal, bahkan diyakini akan kalah, tetapi berhasil membalikkan keadaan lalu menjadi pemenang, maka remontada sedang terjadi di sana. Remontada menggambarkan semangat juang, pantang menyerah, sekaligus keyakinan bahwa keajaiban masih mungkin terjadi bagi tim mana pun yang menolak untuk menyerah sampai pertandingan selesai.
Jika merenungkan kisah peperangan Yonatan dan hamba pembawa senjatanya, yang dengan nekat mendatangi markas musuh hanya berdua, kita dapat melihat bahwa Allah melakukan remontada melalui mereka. Hari itu Israel baru saja dikalahkan oleh bangsa Filistin, yang berawal dari ketidaktaatan Saul. Mereka dikuasai musuh begitu rupa, sehingga tak satu pun senjata tempaan mereka miliki pada masa peperangan itu (1Sam. 13:17-22). Untunglah Yonatan sebagai putra mahkota menolak untuk menyerah. Mereka memasuki daerah musuh, lalu memerangi mereka dengan meyakini akan penyertaan Allah. Tindakan Yonatan dan hambanya itu pun mengawali perlawanan dari umat pilihan Allah itu, yang mendatangkan kegentaran di pihak musuh.
Semangat remontada memang perlu dikobarkan dalam kehidupan masa kini, di mana kesulitan dan tantangan kerap kali membuat orang berpikir untuk menyerah. Terlebih kita meyakini bahwa Allah menaungi hidup kita, maka sekecil apa pun peluang atau harapan itu, remontada dapat terjadi pula dalam kehidupan kita. Percayalah! --GHJ/www.renunganharian.net
* * *
SEMANGAT PANTANG MENYERAH PERLU DIKOBARKAN,DENGAN MEYAKINI AKAN PENYERTAAN ALLAH.
* * *
RENUNGAN KAMIS
Bacaan: YOHANES 15:1-8
Bacaan Setahun: Kisah Para Rasul 18-20
Nas: "Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan bahwa kamu berbuah banyak dan menunjukkan kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:8)
Hidup yang Berbuah
Memproduksi sendiri sepatu dan sandal dari kulit, berbekal keterampilan menjahit yang dimilikinya dan tabungan dari hasil bekerjanya, seorang ibu kemudian mengajak 25 teman sekerjanya di pabrik yang dahulu terdampak pandemi Covid-19 untuk ikut berwirausaha. Ia bahkan membantu mereka untuk mendapatkan modal melalui sistem pinjaman bersama dan menjamin bahwa cicilan mereka berjalan lancar. Produk hasil jahitannya pun semakin berkembang dan dapat menyejahterakan semuanya.
Hidup terpusat pada diri sendiri tidaklah memuliakan Tuhan. Bahkan sekalipun kita dapat merengkuh seisi dunia, hari-hari kita akan terasa kering dan tidak bermakna. Ketika kita tinggal dalam Tuhan, kita akan selalu termotivasi untuk berarti bagi-Nya dan sesama sehingga tidak ada kekosongan yang menghinggapi kita dan hidup kita pun terus menghasilkan buah. Hendaknya kita menyadari bahwa hidup kita bukanlah untuk pengejaran ambisi pribadi kita semata-mata, melainkan kita yang menemukan peran kita di dunia ini dengan mendekat kepada-Nya, akan fokus untuk berkarya bagi Tuhan dengan kemampuan terbaik yang kita miliki.
Apakah kita telah menyerahkan segenap hidup kita ke dalam tangan Tuhan sehingga melalui diri kita, Dia dapat bekerja dengan luar biasa untuk menjadikan dunia lebih baik? Sadarilah bahwa keegoisan kita tidak akan dapat memuaskan jiwa kita. Hanya dengan senantiasa berjalan bersama Tuhan saja hidup kita akan menjadi penuh arti. --KSD/www.renunganharian.net
* * *
HIDUP YANG KITA SERAHKAN KEPADA TUHAN AKAN SENANTIASA BERBUAHSEHINGGA HARI-HARI KITA TIDAK AKAN HAMPA SERTA PENUHDENGAN SUKACITA DAN DAMAI SEJAHTERA.
* * *
RENUNGAN JUMAT
Bacaan: MATIUS 18:21-35
Bacaan Setahun: Kisah Para Rasul 21-23
Nas: "Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." (Matius 18:35)
Mengampuni Memberikan Kelegaan
Yesus mengajarkan para murid-Nya supaya mereka tidak hanya memberi pengampunan sebanyak 7 kali, tetapi sebanyak 70 kali 7 kali. Yesus tahu bahwa bagi manusia, memberi pengampunan merupakan hal yang berat. Maka sesungguhnya Yesus bukan hendak menekankan perihal jumlah, tetapi apa yang menjadi dasar dari pengampunan. Pengampunan menjadi hal yang berat dilakukan apabila manusia mengejar kepuasan, di mana pengampunan baru diberikan setelah puas membalas dendam. Sebaliknya, pengampunan bisa menjadi hal yang mudah apabila yang diharapkan adalah kelegaan dalam hatinya.
Yesus menegaskan pengajaran-Nya dengan memberi perumpamaan tentang seorang tuan yang mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya, di mana pada akhirnya sang tuan menghukum hambanya karena tidak mengampuni kawannya sementara ia sendiri sudah diampuni. Yesus mengatakan bahwa Bapa di surga akan berbuat demikian juga terhadap kamu apabila kamu tidak mengampuni saudaramu. Dengan menggambarkan Bapa di surga sebagai sang tuan, Yesus menunjukkan bahwa sesungguhnya hal mengadili dan memberikan hukuman adalah hak Sang Bapa, bukan hak manusia. Bagian manusia adalah memberikan pengampunan, sebagaimana manusia telah diampuni oleh Sang Bapa.
Terhadap setiap perlakuan buruk orang lain, Yesus mengajak kita untuk mengingat bahwa kita telah diampuni oleh-Nya. Maka marilah kita belajar merelakan luka dengan memberikan pengampunan, dan menyerahkan bagian penghakiman kepada Allah sehingga hati kita dilegakan dengan damai sejahtera. --ZDP/www.renunganharian.net
* * *
PENGADILAN DAN PENGHUKUMAN ADALAH HAK ALLAH.BAGIAN MANUSIA ADALAH MEMBERIKAN PENGAMPUNAN,SEBAB ALLAH PUN TELAH MENGAMPUNI MANUSIA.
* * *
RENUNGAN SABTU
Bacaan: KELUARAN 23:1-9
Bacaan Setahun: Kisah Para Rasul 24-26
Nas: "Jangan menerima suap, sebab suap membutakan pandangan yang jernih dan memutarbalikkan perkara orang yang benar." (Keluaran 23:8)
Buta meski Melihat
Praktik suap menyuap tak lagi terdengar asing di telinga kita. Sebuah perkara yang sulit pun akan menjadi mudah dengan suap. Sebuah fakta pun bisa diputarbalikkan dengan suap. Karena suap, seorang yang tak bersalah akhirnya menanggung hukuman. Sungguh perilaku yang sangat merugikan, bukan? Praktik suap menyuap rupanya juga terjadi dalam hidup umat Israel.
Dalam mengatur kehidupan dan tanggung jawab sosial orang Israel, masalah suap juga ditulis menjadi sebuah peraturan. Suap adalah uang atau barang yang diberikan di luar aturan resmi untuk mencapai tujuan tertentu. Allah jelas menyatakan bahwa suap berbahaya karena "membutakan pandangan yang jernih dan memutarbalikkan perkara orang yang benar" (ay. 8). Suap merupakan praktik ketidakadilan karena ada orang yang diuntungkan secara tidak benar dan di dalamnya sering terjadi penipuan dan dusta. Penerima suap memperkaya diri sendiri dengan mengabaikan keadilan dan hukum. Allah melarang suap dalam kehidupan sosial orang Israel untuk membangun kehidupan bersama yang adil dan rukun serta untuk menerapkan peraturan-peraturan yang ditetapkan Allah sendiri.
Suap, dalam bentuk apa pun, jelas tidak dikenan Allah. Mari mengingat bahwa saat ini kita hidup di waktu di mana praktik suap menyuap dianggap sebagai hal yang wajar. Tidak sedikit orang telah dibutakan demi keuntungan pribadi dan tidak lagi peduli dengan sesamanya. Sebagai umat tebusan-Nya, Allah menghendaki kita untuk menolak setiap praktik yang merugikan orang lain. Kiranya firman-Nya selalu menerangi hati kita terhadap setiap praktik yang membutakan hati. --SYS/www.renunganharian.net
* * *
MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!






















