JADWAL SEPEKAN JPA
Pages - Menu
Halaman
Sabtu, 25 Oktober 2025
WARTA EDISI 26 OKTOBER 2025
Jumat, 24 Oktober 2025
RENUNGAN EDISI 26 OKTOBER 2025
RENUNGAN HARIAN
Bacaan Setahun: Markus 12-13
Nas: Salmon mempunyai anak, Boas dari Rahab; Boas mempunyai anak, Obed dari Rut; Obed mempunyai anak; Isai. (Matius 1:5)
Perempuan-Perempuan Bermasalah
Ketika memilih pemimpin negara, kita tentu menginginkan yang terbaik. Semua hal, dari yang umum sampai hal detail, pasti ditelisik habis. Kita ingin tahu bagaimana kebiasaan kesehariannya, gaya kepemimpinannya, kemampuannya, dan rekam jejaknya. Tidak cukup dengan itu. Kita juga ingin tahu siapakah ayah ibunya, keturunan siapakah dia, dan dari manakah dia berasal. Kita tidak ingin ada cacat, meskipun kadang kita harus berkompromi dengan satu dua kelemahan.
Berbeda dengan pilihan Allah kita. Nenek moyang Yesus penuh dengan orang bermasalah. Mereka tidaklah sempurna. Uniknya, Matius menyebutkan secara khusus beberapa nama perempuan. Ada Rahab, Rut, juga istri Uria. Kita tahu Rahab adalah pelacur dari Yerikho. Rut lebih baik, karena dia setia pada Naomi, mertuanya, dan beribadah kepada Allah Israel. Meskipun demikian, Rut adalah perempuan Moab. Yang menarik juga adalah Batsyeba yang disebut istri Uria, bukan istri Daud. Sekalipun Daud juga disebut sebagai salah seorang nenek moyang Yesus. Hal ini sekaligus mengingatkan pembaca tentang dosa Daud yang keji.
Di mata Tuhan tidak ada seorang pun yang sempurna selain anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus. Meskipun demikian, Ia tetap memilih mereka yang cacat dan memiliki banyak kelemahan. Bahkan perempuan berdosa pun dihargai-Nya. Karena itu, orang percaya seharusnya tampil percaya diri. Tuhan telah memilih kita sebagai anak-anak-Nya. Tuhan membuat diri kita mampu berdiri tegap di hadapan orang. --HEM/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Markus 14
Nas: Kalau engkau bersih dan jujur, tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu. (Ayub 8:6)
Terlalu Cepat Bicara
Tidak ada yang salah dengan pandangan Bildad yang mengatakan bahwa Allah dengan segala jalan-jalan-Nya adalah adil dan benar. Namun, Bildad sesungguhnya tidak benar-benar memahami apa yang dialami oleh Ayub. Ia terlalu terkesan tergesa-gesa untuk memberikan pandangan dan nasihatnya kepada Ayub. Ya, Allah tidak mungkin membengkokkan keadilan dan kebenaran, tetapi apakah hal itu berarti bahwa orang-orang yang bersih dan jujur jalannya dijamin akan terhindar dari bencana? Sebaliknya, apakah orang-orang yang mengalami berbagai masalah adalah mereka yang tidak peduli kepada Allah?
Penderitaan hebat yang dialami Ayub sesungguhnya bukan diakibatkan oleh hubungannya dengan Allah. Penderitaannya terjadi karena pekerjaan Iblis yang oleh Allah diizinkan untuk menguji iman Ayub. Sayangnya, Bildad tidak memahami hal ini sehingga ia hanya melihat pada satu sisi bahwa derita yang dialami Ayub adalah karena dosa. Tentu Bildad akan menjadi lebih bijak dan tidak tergesa-gesa seandainya ia bisa sedikit menahan dirinya untuk bersedia lebih banyak mendengar, memperhatikan, dan menyelidiki dengan teliti, sebelum ia mengambil sebuah kesimpulan.
Kiranya pengalaman Bildad menjadi pelajaran penting bagi hidup kita untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, atau malah menghakimi orang yang sedang ditimpa musibah dengan pembenaran-pembenaran perkataan kita. Mari belajar untuk menahan diri. Belajar untuk bersedia mendengarkan dan memahami situasi buruk yang dialami seseorang agar kita tidak terlalu cepat mengeluarkan pendapat yang sebenarnya keliru. --SYS/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Markus 15-16
Nas: Firaun menyuruh menaikkan Yusuf ke dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf, "Hormat!" Demikianlah Yusuf diangkat Firaun menjadi pemegang kuasa atas seluruh tanah Mesir. (Kejadian 41:43)
Orang Besar
Sang motivator berteriak di hadapan seluruh peserta seminar, "Siapa bercita-cita menjadi orang besar?" Serempak semuanya angkat tangan. "Nah, sekarang siapa bersiap menghadapi kesukaran besar?" kembali sang motivator berteriak. Hanya beberapa gelintir peserta angkat tangan. "Ah, sayang sekali!" sang motivator menepuk dahinya, "Sedikit saja dari Anda yang nantinya menggapai cita-cita itu."
Orang-orang besar dilahirkan dari kesukaran besar. Tidak terkecuali mereka yang tercatat di dalam Alkitab. Kita ambil satu contoh, yakni Yusuf. Hari itu, seusai menuturkan makna mimpi, Yusuf diangkat oleh Firaun sebagai penguasa nomor dua atas negeri Mesir (ay. 40). Yusuf menjadi orang besar, dan sebelumnya juga ia menghadapi kesukaran besar. Saudara-saudaranya sendiri menjualnya ke negeri yang jauh sebagai budak (Kej. 37:28). Istri tuannya kerap merayunya untuk berzina, dan selalu ditolaknya. Namun, suatu hari saat ia menolak, perempuan itu memfitnahnya telah berbuat tidak senonoh, dan kemudian ia dipenjarakan (Kej. 39:17-20). Terhadap seluruh kesukaran itu, Yusuf menyatakan dirinya siap. Kesiapannya ditunjukkan dengan setiap hari tekun bekerja sehingga baik di rumah tuannya maupun di penjara, selalu ia menjadi orang kepercayaan (Kej. 39:4, 22).
Kesukaran membentuk ketahanan dan kekuatan. Tidak heran jika sesudahnya lahir orang-orang besar. Mengerti akan kebenaran ini, jangan kita menjadi tawar hati jika saat ini dihadapkan pada kesukaran besar. Meneladani Yusuf, mari tetap tekun melakukan bagian kita (bekerja dan berdoa). Sadari tangan Tuhan sedang membentuk kita menjadi "orang besar". Saat akhirnya kita keluar dari kesukaran, kita akan mendapati diri kita lebih tangguh, lebih bijaksana, juga lebih beriman kepada Tuhan. --LIN/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Lukas 1
Nas: Jadi, berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera. (Efesus 6:14-15)
Sabuk Kebenaran
Pada abad pertama Masehi, kota Efesus merupakan pusat perdagangan dan kebudayaan yang penting di Kekaisaran Romawi. Kota ini terkenal dengan adanya Kuil Artemis, salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno, dan masyarakatnya yang melakukan penyembahan kepada Dewi Yunani dan Kaisar. Dalam lingkungan yang dipenuhi dengan berbagai pengaruh budaya dan kepercayaan, Paulus menulis surat kepada jemaat di Efesus, menguatkan mereka untuk tetap berakar pada ajaran Kristus. Surat Efesus ditulis dengan tujuan memberi penguatan dan nasihat rohani bagi orang-orang percaya yang hidup di tengah tantangan iman.
Di dalam Efesus 6:14, Paulus menyatakan, "Jadi, berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan." Kebenaran di dalam Kristus di sini diumpamakan sebagai ikat pinggang seorang prajurit, yang berfungsi untuk menjaga semua bagian pakaian perang tetap pada tempatnya. Dalam konteks rohani, kebenaran adalah landasan utama yang menjaga seluruh kehidupan iman kita tetap kokoh. Tanpa kebenaran, iman kita akan mudah tergoyahkan oleh berbagai doktrin palsu dan godaan duniawi.
Mengenakan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari berarti hidup dengan integritas dan kejujuran di segala situasi. Ini mencakup kejujuran, kesetiaan, ketulusan dalam pelayanan, dan menjaga moralitas yang tinggi meskipun tidak ada yang melihat. Dalam dunia yang sering kali memutarbalikkan nilai-nilai, mengenakan kebenaran menjadi tanda kesetiaan dan pengabdian kita kepada Kristus. Setiap keputusan kecil yang kita buat berdasarkan kebenaran akan memperkuat iman kita dan membawa dampak positif bagi orang-orang di sekitar kita. --STP/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: MAZMUR 105:1-6
Bacaan Setahun: Lukas 2-3
Nas: Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, perbincangkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! (Mazmur 105:2)
Perbincangan yang Bermakna
Banyak orang yang dapat menghabiskan berjam-jam, bahkan sepanjang hari, untuk berbincang tentang berbagai topik, mencakup hobi, peristiwa politik, skandal artis, bisnis atau berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Sebagian perbincangan itu memang berguna serta menolong orang lain untuk mengetahui sesuatu. Namun, mungkin juga tidak berdampak apa-apa, selain hanya menghabiskan waktu begitu saja.
Dengan dorongan Roh Allah, Pemazmur mengajak serta menantang kita untuk memperbincangkan perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib. Kita dapat menceritakan kehebatan Allah melalui lagu pujian atau mazmur. Kita dapat menyaksikannya melalui kegiatan peribadatan bersama dalam komunitas orang beriman. Namun, kita juga ditantang untuk memperkenalkan nama-Nya kepada bangsa-bangsa yang belum mengenal-Nya. Hendaknya kita menjadikannya topik perbincangan dengan orang lain. Kita diperintahkan untuk berani bersaksi melalui perkataan tentang bagaimana Allah telah menebus, menyelamatkan, memelihara, serta memberkati kita.
Percakapan yang demikian tentu saja dapat menuntun orang-orang untuk semakin mengenal Tuhan, mengagumi serta menaati Dia. Perbincangan kita pun bukan hanya kata-kata kosong yang segera bisa hilang tanpa bekas, melainkan perbincangan yang bermakna, yang dapat memberkati orang lain serta meneguhkan mereka dalam mengikut Tuhan. Memperbincangkan karya Allah di dalam kehidupan kita seharusnya menjadi gaya hidup yang perlu kita latih dan pelihara. Tindakan ini bukan hanya mengingatkan kita tentang karya Allah di masa lalu, tetapi berguna untuk membimbing serta meneguhkan kita di masa kini, serta menjadi pedoman yang akan membangun iman kita untuk masa depan. --HT/www.renunganharian.net
* * *
RENUNGAN SABTU
Bacaan: ROMA 11:11-24
Bacaan Setahun: Lukas 4-5
Nas: Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, sedangkan engkau tegak dalam iman. Janganlah sombong, tetapi takutlah! (Roma 11:20)
Takut yang Kudus
Adalah biasa jika petani mencangkokkan cabang yang baik ke pohon yang akarnya kuat. Tujuannya tentu untuk menghasilkan buah yang baik. Tak sekali pun petani mencangkokkan cabang liar secara sembarangan agar tidak merusak pohon dan kualitas hasil panennya. Namun, berbeda dari kebiasaan manusia, Tuhan mencangkokkan cabang yang liar pada Pohon Zaitun Sejati.
Ya, bangsa-bangsa bukan Yahudi (termasuk kita) yang sesungguhnya tidak memiliki hak istimewa diberi kesempatan untuk dipersatukan di dalam Kristus. Tuhan bermurah hati, memberi kesempatan hidup dalam pohon anugerah-Nya kepada bangsa-bangsa yang semestinya mati binasa. Hasilnya, setiap pribadi yang dicangkokkan pada Kristus menerima kepenuhan-Nya, mendapat aliran sari-sari makanan dari-Nya.
Atas anugerah istimewa ini Paulus berpesan agar setiap kita, sebagai cabang yang dicangkokkan ini tidak jemawa. Sebab, tanpa aliran sari makanan dari Sang Akar Zaitun Sejati kita bukan siapa-siapa, tidak bisa melakukan apa-apa, tidak berarti apa-apa. Alih-alih merasa aman dan sombong, Paulus mengingatkan agar kita memiliki rasa takut yang kudus kepada Tuhan.
Bukan rasa takut yang penuh kecemasan kalau-kalau Allah tidak setia kepada janji-Nya. Sebab Tuhan kita setia dalam janji kasih, keadilan, dan kebenaran-Nya. Namun, takut yang kudus adalah perasaan segan dan hormat, menaruh penghargaan mendalam kepada Tuhan. Kagum kepada otoritas dan kemuliaan-Nya, dinyatakan dalam sikap taat: hidup setia dalam reksa-Nya, meninggalkan segala bentuk tabiat dosa. --EBL/www.renunganharian.net
* * *
MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!
Sabtu, 18 Oktober 2025
WARTA EDISI 19 OKTOBER 2025
JADWAL SEPEKAN JPA
RENUNGAN EDISI 19 OKTOBER 2025
RENUNGAN HARIAN
Bacaan Setahun: Matius 26
Nas: Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:4)
Kesepian
Salah satu faktor penyebab fenomena bunuh diri adalah kesepian dan isolasi sosial. Sekalipun kesepian tidak selalu menjadi penyebab orang bunuh diri, tetapi diakui bahwa di beberapa daerah yang memiliki kondisi geografis yang terpencil, membuat warganya merasa terisolasi, terutama bagi kaum lanjut usia atau mereka yang ditinggalkan keluarga.
Di dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan (ay. 1). Itu semua adalah karya dan teladan yang sudah Kristus lakukan bagi kita, umat yang percaya kepada-Nya. Ketika semuanya itu tidak dinyatakan maka kesatuan di antara umat manusia sesungguhnya hanyalah kesatuan yang semu. Faktanya, banyak perkumpulan yang hanya didasarkan pada kesamaan kepentingan, kesamaan ego masing-masing anggotanya.
Sebagaimana nasihat Paulus kepada jemaat Filipi, umat Kristen semestinya saling memiliki kesatuan sebagai saudara seiman. Ada kesehatian, sama-sama mengarahkan hati dan pikiran kepada Kristus. Hidup berdasar pada firman-Nya dan satu kasih. Mengasihi sesama sebagaimana mengasihi diri sendiri. Menyingkirkan sifat egosentris dan individualistis. Karena itu, alih-alih mementingkan diri sendiri, baiklah kita saling peduli. Artinya, berbalas-balasan dalam kebaikan dan kasih. Bukan hanya senang didengar, melainkan juga mau mendengar. Bukan hanya mau menerima, melainkan juga rela berbagi. Dengan demikian tidak ada lagi yang kesepian dan sendirian dalam menanggung pergumulan. --EBL/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Matius 27-28
Nas: Sebab itu, kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, manusia batiniah kami diperbarui dari hari ke hari. (2 Korintus 4:16)
Fisik yang Merosot
Pertambahan usia menjadi momen yang dinantikan semasa muda. Namun, bagi orang-orang yang memasuki usia senja, tak jarang mulai muncul keresahan karena mendapati ciri-ciri fisik yang melemah atau merosot. Penyakit mulai muncul, fisik juga tak sekuat biasanya, dan layanan medis menjadi salah satu tempat yang mulai kerap dikunjungi untuk berobat. Bagaimana orang percaya dapat menyiapkan diri terhadap datangnya masa itu?
Nas renungan hari ini mengingatkan kita mengenai keterbatasan manusia, yang semakin lama akan merosot seiring bertambahnya usia. Namun, hendaknya fakta hidup ini jangan sampai menggentarkan kita karena ada sisi lain yang masih mungkin dibaharui: manusia batiniah atau manusia roh. Tanpa mengabaikan pentingnya merawat diri dan menjaga kesehatan jiwa, hendaknya kita tidak mengabaikan kondisi manusia batiniah kita. Perkuatlah lewat persekutuan dengan Tuhan, membaca dan mengimani kebenaran firman-Nya, serta arahkanlah hidup kita pada masa kekekalan.
Ingatlah bahwa sekuat apa pun manusia berupaya meniadakan tanda-tanda penuaan, kemerosotan manusia lahiriah sebenarnya tak dapat dihindari. Namun, sebelum semuanya terlambat, mari kita mulai memberi perhatian pada kekuatan manusia batiniah, sambil mengingat bahwa yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (ay. 18). Mulai hari ini, mari beri perhatian lebih untuk memperkuat manusia batiniah, karena kelak itulah yang akan kita bawa saat menghadap Allah sebagai persiapan memasuki masa kekekalan. --GHJ/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Markus 1-3
Nas: Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis. (1 Timotius 3:7)
Di Dalam dan Di Luar
Sebagai seorang pendeta jemaat, saya sangat senang ketika anggota-anggota jemaat yang saya layani bersedia mengambil bagian dalam pelayanan. Sungguh, ini adalah sesuatu yang mulia! (ay. 1). Para pelayan Tuhan tentunya diharapkan menjalani hidup yang baik dalam komunitas umat Allah. Namun, ternyata itu tidak cukup.
Walaupun teks 1 Timotius 3 ini utamanya berbicara tentang syarat yang harus dimiliki oleh pengawas jemaat (Yun: episkopos, pemimpin dalam pelayanan), tetapi tuntutannya sebenarnya berlaku juga bagi setiap orang Kristen. Yaitu, hendaknya ia memiliki kualitas karakter yang terpuji, baik itu di dalam rumah maupun di luar rumah. Ia bukan orang yang bertopeng, berpura-pura alias munafik. Melainkan seorang yang sungguh memiliki integritas. Hidupnya utuh. Karakternya tulus, tidak dibuat-buat. Ia menjadi orang yang kualitasnya sama baiknya, di mana pun ia berada. Dengan demikian, ia akan punya nama baik, termasuk di luar jemaat, ketika berelasi dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah.
Nama baik diperoleh dari perilaku dan perbuatan baik yang dikerjakan oleh seseorang secara konsisten. Bukan hanya satu atau dua kali. Nama baik tidak hadir begitu saja. Tetapi lahir dari hidup yang dijalani dengan berkualitas. Berdampak baik bagi orang lain. Menjadi berkat bagi sesama. Bukan hanya di lingkungan komunitas seiman. Akibatnya, orang-orang bukan Kristen pun akan menunjukkan rasa hormat atas hidup yang dijalaninya. Semua orang akan melihat bahwa itu merupakan buah imannya. Kiranya setiap pengikut Kristus mencerminkan buah hidup yang demikian, baik di dalam maupun di luar gereja. --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Markus 4-5
Nas: "Kita teringat pada ikan yang kita makan di Mesir tanpa bayar, pada mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih." (Bilangan 11:5)
Keliru Mengingat
Peristiwa yang terjadi dalam keseharian secara spontan terekam dalam pikiran, membentuk ingatan. Maka, tidak sekonyong-konyong kita melupakan sebuah peristiwa, kecuali kita pikun karena sudah tua. Saat ini, banyak juga orang yang sudah tua, tetapi masih memiliki ingatan yang baik. Ingatan membuat kita mampu mengenang masa lalu, contohnya saat pertama kita mengenal Kristus atau pertemuan pertama dengan pasangan.
Dari Mesir, bangsa Israel berangkat menuju Kanaan, melewati padang gurun. Selama perjalanan, mereka kerap meneriakkan keluhan terhadap Tuhan. Salah satunya perihal mereka tidak bisa makan daging (ay. 4). Saat itu, mereka beranggapan tinggal di Mesir lebih baik daripada mengikuti kehendak Tuhan. Mengejutkan, karena selama di Mesir mereka diperbudak! Setiap hari mereka disuruh membuat sejumlah batu bata, dan kalau tidak selesai, mereka akan dipukul (lih. Kel. 5:14). Tentunya bangsa Israel tidak memiliki masalah dengan ingatan, hanya mereka keliru mengingat. Mereka mengingat Mesir bukan sebagai penjara penuh siksaan, melainkan negeri idaman di mana mereka bebas menikmati ikan, mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih (ay. 5). Terkenang aneka bahan makanan, bukan rasa sakit dan tangisan, bukan juga perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan oleh Tuhan demi membebaskan mereka.
Anak-anak Tuhan semestinya adalah orang-orang yang paling bahagia di dunia ini. Idealnya senantiasa terdengar ucapan syukur dari mulut mereka. Jika justru kita kerap mengeluh, sangat mungkin kita juga telah keliru mengingat. Kita mengenang hanya kesukaran dan masalah. Mulai hari ini, mari memenuhi ingatan dengan kebaikan Tuhan. Maka keluhan akan berhenti, juga hati merasakan sukacita. --LIN/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Markus 6-7
Nas: Begitulah diperbuat Absalom kepada semua orang Israel yang hendak masuk menghadap raja untuk mencari keadilan. Demikianlah Absalom mencuri hati orang Israel. (2 Samuel 15:6)
Kepentingan Siapa?
Suatu kali saya bertanya kepada guru konseling saya mengenai kata-kata yang saya sampaikan kepada konseli. Apakah saya boleh mengatakannya seperti itu? Bukannya menjawab boleh atau tidak, guru saya justru bertanya balik kepada saya, "Itu untuk kepentingan siapa?" Masih bingung dengan pertanyaannya, kembali saya bertanya hal yang sama. Dia pun mengulang kembali pertanyaan yang sama. Setelah itu, saya baru mengerti, rupanya guru saya ingin menyadarkan saya bahwa saya berbicara untuk kepentingan saya sendiri.
Alkitab mengisahkan Absalom seolah melakukan kebaikan buat orang Israel yang sedang beperkara hukum. Kala itu, Absalom mencegat setiap orang yang mau mengadukan perkaranya kepada raja untuk meminta keadilan. Setelah Absalom berhasil memancing kasus yang sedang dihadapi oleh mereka, dia pun memberi kesan seakan raja tidak peduli. Lalu berandai-andai bahwa dirinya akan adil kalau dirinya menjadi hakimnya. Bermodalkan wajah dan fisik yang sempurna serta perilaku yang tampak seakan sopan dan rendah hati, dia pun memikat hati orang Israel. Padahal dia sedang merancang kudeta terhadap ayahnya sendiri, Daud. Kata-kata dan perilakunya bukanlah untuk kepentingan rakyat.
Sebagai orang percaya, kita wajib memeriksa diri. Apakah kita tulus melakukan segala sesuatu untuk kebaikan orang lain dan untuk Tuhan? Untuk kepentingan siapakah kita melakukan apa yang sedang kita kerjakan? Satu hari nanti, ketulusan hati dan kebaikan kita akan diuji. Mereka yang tulus akan dikasihi Tuhan dan sesama. --HEM/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: 2 KORINTUS 10:1-11
Bacaan Setahun: Markus 8-9
Nas: Kami mematahkan setiap siasat orang dan merobohkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. (2 Korintus 10:5)
Overthinking dan Rumination
Seorang ibu tidak mengizinkan anaknya mengambil studi lanjut jurusan kependetaan. Alasannya, pendeta selalu disorot oleh jemaat. "Saya takut anak saya diperlakukan buruk. Tidak dihargai dan selalu dikomentari. Saya khawatir anak saya tidak kuat."
Berapa banyak orang yang dipusingkan/berpikir berlebihan (overthinking) karena komentar buruk orang lain? Bahkan menghabiskan waktu untuk memikirkannya berulang-ulang dan menjadi khawatir (rumination)? Pada akhirnya mereka menjadi cemas, stres, kehilangan produktivitas karena sulit fokus, kehilangan rasa percaya diri, bahkan mengalami depresi karena terjebak dalam pikiran negatif tanpa solusi.
Paulus pernah menghadapi perlawanan dari rasul-rasul palsu di Korintus. Pandangan miring, iri hati, dan usaha untuk menjatuhkan dirinya ia terima di sana. Salah satu cara yang ditempuh Paulus guna menyikapi fitnahan itu adalah dengan mengelola pikirannya sendiri, supaya tetap sejalan dengan kehendak Kristus.
Paulus menyadarkan bahwa pikiran merupakan medan pertempuran, tempat kita bergelut dengan kecemasan sendiri. Termasuk, ketika mendengar pandangan miring dari orang lain sekalipun kita berniat melakukan kehendak Tuhan dalam kasih dan kebenaran. Bagaimana sikap kita menghadapi kemungkinan seperti ini? Adakah kita berusaha mematahkan siasat dan keangkuhan yang menghalangi kita dalam mengenal Allah dengan menaklukkannya kepada Kristus? Atau malah sebaliknya, kita tertawan dalam sikap overthinking dan rumination yang tak berkesudahan dan menghancurkan? --EBL/www.renunganharian.net
* * *
MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!





















