JADWAL SEPAKAN JPA
Pages - Menu
Halaman
Sabtu, 27 September 2025
WARTA EDISI 28 SEPTEMBER 2025
RENUNGAN EDISI 28 SEPTEMBER 2025
RENUNGAN HARIAN
RENUNGAN SENIN
Bacaan: 2 RAJA-RAJA 5
Bacaan Setahun: Amos 1-5
Nas: Gehazi, hamba Elisa, abdi Allah itu, berkata, "Sesungguhnya tuanku terlalu baik hati kepada Na'aman, orang Aram ini, dengan tidak menerima persembahan yang dibawanya. Demi Tuhan yang hidup, sesungguhnya aku akan berlari mengejar dia dan akan menerima sesu (2 Raja-raja 5:20)
Korupsi Gehazi
Sebagai pelayan Nabi Elisa, Gehazi telah mendampingi sang nabi dalam mewartakan firman Tuhan serta telah menjadi saksi mata terhadap berbagai mukjizat yang Allah perbuat melalui Elisa. Seharusnya pengalaman itu membuat Gehazi memiliki sikap takut akan Tuhan serta menghormati nabi-Nya. Namun, ternyata tidak otomatis demikian.
Na'aman, panglima raja Aram, telah mengalami kesembuhan dari penyakitnya setelah Elisa menyuruhnya mandi tujuh kali di Sungai Yordan. Ia pun memberikan persembahan yang sangat besar jumlahnya sebagai tanda syukurnya. Namun, Elisa menolaknya. Elisa hendak mengajar Na'aman bahwa kesembuhan yang ia alami bukanlah karena jasanya, melainkan karena Allah sendiri. Sebagai hasilnya, Na'aman dengan rela mempersembahkan dirinya kepada Allah dengan berkomitmen menjadi penyembah-Nya (ay. 17). Elisa pun melepasnya kembali ke negerinya.
Namun, Gehazi merasa bahwa Nabi Elisa telah bertindak terlalu baik kepada sang panglima. Dengan kesadaran penuh, bahkan mengatasnamakan Tuhan, ia mencari keuntungan sendiri. Ia mengarang cerita bohong serta memperalat nama Elisa untuk mendapatkan keuntungan dari Na'aman. Sungguh suatu tindakan licik dan jahat. Gehazi mungkin lupa bahwa Allah yang selama ini ia layani adalah Allah yang Maha Tahu. Atau, godaan harta dunia telah membutakannya. Ia lupa bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Ia bersama anak cucunya pun menderita penyakit yang tadinya dialami Na'aman. Sungguh menyedihkan dan mengerikan. Kiranya pelajaran mahal yang dialami Gehazi berbicara dengan kuat ke dalam hati kita agar kita tidak mengikuti jejaknya. --HT/www.renunganharian.net
* * *TAK PEDULI SEBERAPA BANYAK KITA TELAH MENYAKSIKAN KARYA TUHAN,KITA TETAP HARUS WASPADA AGAR TIDAK TERJERAT PADA GODAAN DUNIA.
* * *
RENUNGAN SELASA
Bacaan: YOSUA 22:9-34
Bacaan Setahun: Amos 6-9
Nas: Kemudian orang Israel mengutus Pinehas bin Eleazar, ke tanah Gilead, kepada bani Ruben, bani Gad, dan suku Manasye yang setengah itu. (Yosua 22:13)
Konfirmasi Lebih Dahulu
Seseorang pernah meminjam uang kepada saya dan berjanji membayarnya. Pada tanggal jatuh tempo, dia tidak ada kabar. Saya tunggu tiga hari, tak ada kabar juga, maka saya WhatsApp (WA). Hanya centang satu, saya telepon nomor tidak aktif. Prasangka buruk muncul di pikiran dan saya katakan kepada istri. "Jangan berprasangka buruk, coba datangi rumahnya dan cari tahu, " saran istri. Saya turuti saran itu. Sesampainya di rumahnya, dia ada. Ternyata telepon seluler dan sepeda motornya rusak, anaknya sakit, dan dia tak punya uang.
Bani Ruben, bani Gad, dan suku Manasye yang setengah itu pergi ke tanah Gilead dan mendiami tanah milik mereka sesuai yang dijanjikan Tuhan (ay. 9). Saat mereka sampai di Gelilot, mereka mendirikan mezbah yang besar (ay. 10). Hal ini terdengar oleh orang Israel, lalu prasangka buruk muncul sehingga berkumpullah segenap umat Israel di Silo, untuk maju memerangi mereka (ay. 12). Untung saja, mereka lebih dulu mengutus Imam Pinehas beserta sepuluh pemimpin untuk meminta konfirmasi. Ternyata, ketiga suku ini tak ada niat berpaling dari Tuhan. Mereka mendirikan mezbah untuk bukti bagi keturunan Israel berikutnya (ay. 27). Hal ini dipandang baik oleh orang Israel sehingga perang saudara urung terjadi (ay. 33).
Biasakan konfirmasi lebih dulu saat kita mendapat kabar buruk yang belum jelas kepastiannya. Kita sendiri pasti tidak nyaman saat dicurigai padahal belum diklarifikasi. Jangan gemar berprasangka buruk agar kita tidak melakukan tindakan bodoh dan merugikan diri sendiri serta orang lain. --RTG/www.renunganharian.net
* * *BIASAKAN KONFIRMASI LEBIH DULU SAAT KITAMENDAPAT KABAR BURUK YANG BELUM JELAS KEPASTIANNYA.
* **
RENUNGAN RABU
Bacaan: 1 RAJA-RAJA 21:1-16
Bacaan Setahun: Obaja 1, Yunus 1-4
Nas: Lalu Ahab masuk ke dalam istananya dengan hati kesal dan gusar karena perkataan yang diucapkan Nabot, orang Yizre'el itu, kepadanya, "Aku tidak akan memberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku." (1 Raja-raja 21:4)
Penyebab Ketidakbahagiaan
"Puji Tuhan!" ucap seorang wanita sesudah menutup percakapan di telepon. Wajahnya tampak riang. Baru saja pihak swalayan langganannya memberitahu bahwa ia mendapat hadiah undian berupa panci penggorengan. Ia menelepon sahabatnya dan bercerita tentang hal itu. "Aku juga, " kata sahabatnya, "Aku dapat kalung emas seberat lima gram." Seketika wajah wanita itu berubah cemberut.
Hal serupa terjadi pada Ahab sesudah Nabot menolak bertransaksi dengannya. Ia merasa tidak senang karena terpikir olehnya, sebagai raja, ia belum mendapat segala yang terbaik dari negeri itu. Di samping istananya masih terdapat sebuah kebun anggur yang subur, yang cocok untuk dijadikan kebun sayur. Namun, si pemilik tidak bersedia menjual atau menukarnya dengan alasan kebun itu merupakan bagian dari milik pusaka nenek moyangnya. Terlihat Ahab masuk ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar. Ia berbaring sambil menelungkupkan wajahnya dan tidak mau makan. Izebel, istrinya yang kejam, bergegas mengambil tindakan demi mengembalikan kebahagiaan suaminya. Ia merancang siasat untuk memfitnah Nabot sehingga Nabot dihukum mati. Maka dengan leluasa Ahab mengambil kebun anggur itu.
Sekarang jelas terbentang penyebab ketidakbahagiaan. Seseorang merasa tidak senang bukan karena dirinya tidak diberkati oleh Tuhan, melainkan ia menimbang berkat milik orang lain yang lebih besar atau lebih baik dari miliknya. Atau singkatnya dikatakan, ia melirik ke kiri dan ke kanan. Sementara yang dilirik merasakan hal yang sama, dan akhirnya mereka semua tidak bahagia. Kita jangan seperti itu. Jangan rela kehilangan kesenangan hanya karena lirikan. Sadari berkat dalam genggaman tangan sudah merupakan takaran terbaik dari Tuhan. --LIN/www.renunganharian.net
* * *KITA AKAN MENJADI ORANG-ORANG YANG BERBAHAGIA KETIKA KITA DAPATMENSYUKURI BERKAT TUHAN DALAM GENGGAMAN TANGAN KITA.
* * *
RENUNGAN KAMIS
Bacaan: 1 YOHANES 2:7-17
Bacaan Setahun: Mikha 1-7
Nas: Sebab, semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup, tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. (1 Yohanes 2:16)
Rip Current dan Pikatan Dunia
Rip current secara sederhana dapat diartikan sebagai arus deras yang tercipta oleh pertemuan dua gelombang air laut, yang ketika kembali ke laut dapat menyeret manusia ke tengah laut. Keberadaan rip current ini sering menjadi penyebab terjadinya korban jiwa saat bermain di pantai, tetapi jarang disadari oleh masyarakat awam. Namun, keberadaan rip current ini sebenarnya bisa dicermati, bahkan dapat dilihat cukup jelas ketika dipantau dari atas, sehingga dapat dihindari dan tidak sampai terseret olehnya.
Pikatan dunia ini bekerja mirip dengan cara rip current menarik manusia ke tengah laut, melalui tiga perkara ini: keinginan mata, keinginan daging, dan keangkuhan hidup. Lihat saja betapa banyak manusia yang telah terpikat oleh ketiga perkara duniawi tadi, lalu tanpa sadar hidupnya lebih mengasihi dunia ini-tetapi kasih kepada Bapa Surgawi sudah tidak ada dalam diri mereka (ay. 15). Semakin lama pikatan dunia ini melekat, akan semakin sukar melepaskan diri, seperti seorang yang hanyut karena terbawa arus laut tapi tidak tahu cara melepaskan diri.
Nah, mencermati nasihat Yohanes tadi, kita dapat mengerti kunci melepaskan diri dari pikatan duniawi, yakni dengan mengarahkan hidup untuk mengasihi Bapa Surgawi. Dengan hidup mengasihi Allah, kita dapat "melihat dari atas" dengan lebih jelas sehingga kita tak hanya dapat mengenali pikatan duniawi apa saja yang dapat membahayakan kita, tetapi dapat menghindarinya tanpa harus terseret ke dalamnya. Maukah kita menjalani kehidupan seperti ini? --GHJ/www.renunganharian.net
* * *JANGAN PERNAH ANGGAP REMEH PIKATAN DUNIA SUPAYA KITATIDAK TERSERET OLEHNYA DAN MENGALAMI KEMATIAN ROHANI.
* **
RENUNGAN JUMAT
Bacaan: 1 KORINTUS 9:19-27
Bacaan Setahun: Nahum 1-3
Nas: Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh mahkota yang abadi. (1 Korintus 9:25)
Finisher Medal
Medali pada umumnya hanya akan diberikan kepada para juara dalam perlombaan. Namun, dalam cabang olahraga lari maraton, setiap pelari yang mencapai garis finis di bawah waktu yang ditentukan akan mendapatkan medali. Medali ini dikenal dengan istilah finisher medal atau medali penamat. Hal ini dilakukan sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan mereka berlari dalam jarak yang jauh.
Paulus menyemangati jemaat Korintus untuk berjuang dalam iman hingga mencapai garis finis dan beroleh finisher medal, yakni mahkota abadi. Sebab, di dalam Kristus mahkota abadi pun menjadi milik setiap orang yang setia berjuang hingga "mencapai garis finis". Paulus meneladankan perjuangan dirinya yang "berlari sekuat tenaga dalam perlombaan rohani" itu dengan tujuan yang pasti. Ibarat pertandingan tinju, ia tidak asal-asalan memukul tanpa sasaran. Paulus tidak memakai haknya sebagai rasul untuk mencari keuntungan sekalipun hal itu menuntut adanya disiplin pribadi dan kerelaan untuk hidup berkekurangan. Paulus mengambil prinsip inkarnasi Kristus yang rela merendahkan diri demi menunjukkan empati kepada orang-orang yang dilayaninya. Bahkan melalui sikap Paulus yang sepertinya tidak konsisten (bdk. ay. 19-22), sesungguhnya ia tengah membangun jembatan untuk membawa orang mengenal Kristus tanpa memancing permusuhan.
Meraih mahkota yang abadi tentu menjadi kerinduan kita. Jika demikian, mari berjuang hingga garis finis dengan menerapkan prinsip Kristus yang mampu menguasai diri, rela merendahkan diri, dan memiliki empati. --EBL/www.renunganharian.net
* * *UNTUK MENCAPAI GARIS FINIS DAN MENERIMA MAHKOTA ABADI,PASTIKAN SETIAP LANGKAH HIDUP KITA BERADA PADA JALUR KEBENARAN ILAHI.
* * *
RENUNGAN SABTU
Bacaan: KELUARAN 14:15-31
Bacaan Setahun: Habakuk 1-3, Zefanya 1-3
Nas: Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan sepanjang malam Tuhan menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering. Demikianlah air itu terbelah. (Keluaran 14:21)
Ngeri-Ngeri Sedap
Seorang hamba Tuhan bersaksi, mengikut Tuhan itu rasanya ngeri-ngeri sedap, mengalami banyak kengerian, menghadapi situasi sangat terdesak dan terjepit yang mencekam; tetapi akhirnya terasa sedap saat Tuhan menolong tepat-pas pada waktunya.
Orang Israel mengalami kengerian yang mencekam saat melihat orang Mesir mengejar dan mencapai mereka pada waktu berkemah di tepi laut. Bangsa Israel berkata, apakah karena tidak ada kuburan di Mesir maka Musa membawa mereka untuk mati di padang gurun. Namun, Musa menenangkan bangsa itu untuk jangan takut dan berdiri tetap, melihat keselamatan dari Tuhan. Tuhan menyuruh Musa untuk mengangkat tongkatnya dan mengulurkan tangannya ke atas laut dan membelah airnya sehingga orang Israel berjalan di tengah-tengah laut di tempat kering. Orang Mesir mengejar mereka, menyusul sampai ke tengah-tengah laut. Tuhan berfirman kepada Musa untuk mengulurkan tangan ke atas laut supaya air berbalik dan meliputi orang Mesir, maka menjelang pagi air laut berbalik ke tempatnya. Demikianlah Tuhan mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut.
Saya pun sering mengalami perasaan ngeri-ngeri sedap. Saat mengalami keadaan terdesak-harus membayar tagihan yang jatuh tempo-Tuhan membuka berbagai jalan; terasa begitu sedap saat orang yang menunggak dua tahun kepada kami tanpa kabar, tiba-tiba melunasi tunggakannya; kontrakan kami yang sudah tujuh bulan kosong, tiba-tiba ada orang yang mengontrak. Saat menghadapi situasi terdesak dan terpepet, percayalah Tuhan sanggup menolong tepat, pas pada waktunya sehingga kita mengalami kelegaan dan terasa begitu sedap. --IN/www.renunganharian.net
* * *SAAT TUHAN MENOLONG DAN MEMBUKA JALANPERASAAN NGERI BERUBAH MENJADI SEDAP.
* * *
MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!
Sabtu, 20 September 2025
WARTA EDISI 21 SEPTEMBER 2025
JADWAL SEPEKAN JPA
RENUNGAN EDISI 21 SEPTEMBER 2025
RENUNGAN HARIAN
Bacaan Setahun: Daniel 1-3
Nas: "Tidakkah aku boleh mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?" (Matius 20:15)
Akibat Iri
Sari yang sudah dua tahun bekerja di sebuah perusahaan, selama ini merasa senang dan puas dengan penghasilan yang diterimanya. Suatu saat masuk karyawan baru dan Sari mengetahui penghasilan karyawan baru ini lebih besar dari penghasilan yang diterimanya selama ini. Ia menjadi gusar dan tidak puas lagi dengan penghasilannya.
Dalam perumpamaan ini, seorang tuan rumah pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Pukul sembilan, dua belas, tiga petang, dan lima petang ia keluar lagi dan menyuruh orang-orang yang menganggur untuk pergi ke kebun anggurnya. Ketika hari malam, tuan itu menyuruh mandornya memanggil pekerja-pekerja itu dan membayarkan upah mereka. Datanglah pekerja-pekerja yang mulai bekerja pukul lima dan menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datang yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar maka mereka bersungut-sungut kepada tuan itu.
Sering kali kita bersungut-sungut bukan karena berkat yang kita terima tidak cukup, tetapi karena iri melihat berkat orang lain. Jangan iri dengan berkat dan kemurahan hati yang diterima orang lain sehingga membuat kita tidak bersyukur dan malah menjadi tidak puas dengan berkat yang kita terima. Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang (Ams. 14:30). --IN/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Daniel 4-6
Nas: Yesus berkata kepada mereka, "Hati-hati dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki." (Matius 16:6)
Ragi Orang Farisi
Kaum Farisi dan kaum Saduki menganggap pandangan mereka adalah satu-satunya yang benar. Semua yang berbeda apalagi bertentangan dengan pandangan mereka akan mereka anggap sebagai pandangan sesat, sebagai ancaman terhadap keyakinan, posisi sosial, serta kepentingan mereka, dan karenanya harus ditolak, dibungkam, disingkirkan. Mereka tak ragu mengajak, memanipulasi, dan mengintimidasi orang lain untuk mengikuti mereka menegakkan yang salah.
Memang, di antara mereka ada juga orang yang terbuka dan jujur. Begitu melihat bahwa sikap dan pandangan mereka ternyata salah, mereka meninggalkan yang salah, lalu merangkul yang benar. Nikodemus, Yusuf Arimatea, dan Saulus (yang kemudian bernama Paulus) adalah contoh dari kelompok ini. Namun, sebagian besar dari mereka memilih mempertahankan dan menegakkan yang salah, juga meskipun mereka telah melihat yang benar. Hanas dan Kayafas adalah dua di antara yang banyak itu.
Kita tahu, memilih yang benar adalah kewajiban moral semua orang sepanjang waktu. Sejak dulu sampai sekarang, kewajiban itu menjadi kewajiban siapa pun, termasuk kita. Namun, "ragi orang Farisi" itu-yakni kecenderungan untuk memilih dan menegakkan yang salah meski telah melihat yang benar-masih terus menari-nari di sekitar kita dan tak henti menggoda sampai hari ini.
Berhati-hatilah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Sabda itu adalah peringatan amat penting yang harus kita indahkan, agar kita selalu berhati-hati dalam memilih sesuatu untuk kita yakini dan kita ikuti. --EE/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Daniel 7-9
Nas: Kami telah mendengar tentang keangkuhan Moab, alangkah angkuhnya dia, tentang kecongkakan, keangkuhan dan kepongahannya, tentang bualannya yang hampa. (Yesaya 16:6)
Buah Kesombongan
Seorang teman menceritakan bagaimana ia terkena GERD (gangguan sistem saluran pencernaan di mana asam lambung naik ke kerongkongan). "Saya mengalami GERD akibat kesombongan sendiri, " ujarnya. "Setiap kali ada jajanan viral menawarkan tingkat kepedasan, saya selalu mencoba dengan memilih level tertinggi. Saya ingin mendapat pengakuan melalui keberanian saya menyantap makanan pedas."
Kesombongan sanggup menggiring orang menuju kepada kebinasaan. Karena keangkuhan, Moab, yang terkenal dengan ladang dan kebun anggurnya, dinubuatkan mengalami kehancuran. Tuhan akan mengubah sukacita mereka menjadi ratapan, kemuliaan dan keramaian mereka yang besar menjadi kehinaan. Sebab, Moab tidak mau menerima nasihat yang baik. Mereka merasa diri terlalu bijaksana untuk dinasihati. Mereka enggan tunduk kepada Allah, pun abai terhadap peringatan yang disampaikan-Nya kepada mereka. Oleh karena itu, hukuman Tuhan atas Moab tidak terelakkan. Bahkan dikatakan pula bahwa orang Moab bersusah payah menaiki bukit pengorbanan ke tempat ibadat mereka untuk berdoa, tetapi tidak ada hasilnya. Yesaya, sang nabi pun tidak dapat berbuat apa-apa kecuali meratapi kehancuran yang pasti menimpa semua daerah pedalaman Moab yang indah itu.
Adakah kesombongan, gengsi, dan harga diri menghalangi pertobatan kita? Menutup mata hati kita dari penglihatan akan kuasa, kebesaran, dan kasih Tuhan? Baiklah kisah Moab ini menjadi pelajaran untuk kita renungkan. Supaya kita jangan dibutakan oleh kesombongan dan berakhir dalam kebinasaan. --EBL/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Daniel 10-12
Nas: Terguncanglah hati raja lalu ia naik ke ruang atas pintu gerbang dan menangis. Sambil berjalan, ia berkata demikian, "Anakku Absalom, Anakku, Anakku Absalom! Andai saja aku yang mati ganti engkau, Absalom, Anakku, Anakku!" (2 Samuel 18:33)
"Ah, Anakku!"
Ketika suatu kali melintasi pekuburan, saya tertegun melihat satu makam. Seseorang sepertinya baru saja mengunjunginya. Di atasnya terdapat tiga buket besar mawar merah segar yang indah. Saya menduga, barangkali di masa hidupnya, almarhum adalah penyuka bunga. Lalu saya teringat pernyataan ini, "Orang mati menerima lebih banyak bunga daripada orang hidup, karena penyesalan lebih kuat daripada rasa syukur." Ya, banyak orang gagal menunjukkan cintanya selagi orang-orang terkasih mereka masih hidup.
Pengalaman Raja Daud menunjukkan kepedihan ini. Amnon, putranya, telah mencemari Tamar, putri Daud dari istrinya yang lain. Ketika Daud mengetahui kejahatan itu, ia sangat marah, tetapi tidak bertindak apa pun. Hal itu membuat Absalom, saudara seibu Tamar, menjadi dendam, lalu menyusun siasat untuk membunuh Amnon. Kemudian Absalom melarikan diri selama tiga tahun (2Sam. 13). Salah satu sahabat Daud berusaha mendamaikan mereka dengan memohon agar Absalom diizinkan kembali ke Yerusalem. Namun, selama dua tahun Daud tidak pernah menemui anaknya itu (2Sam. 14:28). Absalom dipenuhi dendam serta kepahitan kepada ayahnya. Ia pun merancang kudeta, tetapi berakhir dengan kematiannya.
Ketika Daud mendengar kematian Absalom, ia menangis penuh kepedihan. Berkali-kali ia berkata, "Anakku, Absalom! Anakku, Anakku!" Ia bahkan ingin mati ganti anaknya itu. Daud mengaku betapa ia mengasihi sang anak, ketika anaknya tak dapat lagi mendengar kata-katanya. Sesalnya sudah terlambat. Kiranya kita tidak menempuh jalan penyesalan itu, dengan rela menunjukkan kasih, penghargaan, atau pengampunan kepada orang-orang terkasih kita, di saat mereka masih ada bersama kita. --HT/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan Setahun: Hosea 1-7
Nas: Aku juga menetapkan Aholiab bin Ahisamakh, dari suku Dan, untuk membantunya. Aku telah mengaruniakan keahlian kepada semua ahli itu, sehingga mereka dapat membuat segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu, .... (Keluaran 31:6)
Keterampilan Menata
Kantor tempat saya bekerja mempunyai tiga gudang di satu gedung bertingkat empat. Dalam sehari, kadang bisa tiga sampai empat truk barang datang dari pabrik. Kepala gudang kami memiliki keterampilan menata barang. Dia tahu di bagian mana barang-barang besar dan kecil diletakkan. Pernah saat empat truk datang nyaris bersamaan untuk mengedrop barang, dia dan tim menata barang di lantai satu dengan cepat dan sesuai tempatnya.
Setiap orang pasti mempunyai keterampilan yang berguna. Keterampilan itu penting bagi Allah. Spesifikasi-Nya terhadap pekerjaan sangatlah detail. Perintah Allah pada Musa tentang pembangunan Kemah Suci adalah salah satu contoh bagaimana Allah ada bersama keterampilan kerja yang dimiliki seseorang. Kalau kita perhatikan Keluaran 26, Allah sangat spesifik, mulai dari ukuran, bahan, sampai jumlah. Musa sebagai pemimpin bangsa Israel tahu yang Allah mau, dan yang mengerjakan Kemah Suci adalah Bezale'el dan Aholiab bersama tim mereka. Kemah Suci dan segala perlengkapannya berhasil dibuat karena ada orang-orang yang sudah diperlengkapi Allah dengan keterampilan mau mengerjakannya sampai selesai dengan sepenuh hati.
Sebuah pekerjaan besar dan rumit selalu bisa dikerjakan orang-orang terampil yang mau bekerja sama dan sepenuh hati. Apa pun keterampilan kita sekarang, bersyukurlah dan pakailah keterampilan pemberian Allah itu sepenuh hati. Jadilah seorang ahli karena kita selalu menggunakan keterampilan dengan maksimal sehingga hasil kerja kita sangat memuaskan dan terbaik. --RTG/www.renunganharian.net
* * *
Bacaan: 1 SAMUEL 7:2-17
Bacaan Setahun: Hosea 8-14
Nas: Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan menempatkannya di antara Mizpa dan Yesana. Ia menamainya Eben-Haezer, katanya, "Sampai di sini Tuhan telah menolong kita." (1 Samuel 7:12)
Bersyukur di Persimpangan
Hidup manusia ibaratnya sebuah perjalanan. Dalam perjalanan hidup tersebut, kita dapat mengalami keberhasilan, tetapi juga kegagalan; ada kalanya kita merasa senang, tetapi juga ada waktunya kita kecewa dan bersedih. Pertanyaannya, seberapa sering kita mencoba berhenti sejenak dan bersyukur? Ataukah kita hanya berjalan sambil melihat ke belakang dan menyesalinya?
Setelah memenangkan peperangan melawan orang Filistin di Mizpa, Samuel mendirikan sebuah batu di persimpangan antara Mizpa dan Yesana. Ia menamai batu itu Eben-Haezer, ungkapan pengakuan bahwa, "Sampai di sini Tuhan telah menolong kita." Mengapa di persimpangan? Persimpangan menunjukkan sebuah titik batas tempat orang berhenti untuk melihat arah jalan-jalan yang akan dilalui selanjutnya. Artinya, Samuel menjadikan persimpangan itu sebagai sebuah simbol dari perjalanan hidup. Samuel berharap bangsa Israel akan terus mengingat dan melihat bahwa Tuhan selalu menuntun perjalanan hidup mereka selama ini, mengingat dan melihat semua berkat yang telah Tuhan berikan, dan bersyukur kepada-Nya, serta melanjutkan perjalanan hidup mereka sesuai dengan arah tuntunan Tuhan.
Perjalanan hidup kita tentu akan menjumpai titik-titik persimpangan tertentu. Ada kehilangan dan pencapaian, ada keberhasilan dan kegagalan, dsb. Dalam setiap titik persimpangan tersebut, Tuhan selalu menolong kita. Maka, marilah kita luangkan waktu untuk berhenti sejenak dan bersyukur kepada-Nya dengan mengingat dan menghayati bahwa hidup kita selalu berada dalam tuntunan tangan Tuhan. --ZDP/www.renunganharian.net
* * *
MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!





















