Pages - Menu

Halaman

Sabtu, 26 April 2025

WARTA EDISI 27 APRIL 2025

 JADWAL JPA SEPEKAN












MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
&
JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Suatu Umat Yang Layak Bagi-Nya "
( LUKAS 1:17c )


JPA VISION 2025 " MEMBANGUN KARAKTER ILAHI " | Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!
#GPdI​​​ #GPdIJPA​​​ #Praise​​​ #Warta2025 #MembangunKarakterIlahi #JPAVision2025 #InfoIbadah​​​ #multimediaJPA


Jumat, 25 April 2025

RENUNGAN HARIAN EDISI 27 APRIL 2025

 RENUNGAN HARIAN 




RENUNGAN SENIN

Bacaan: KEJADIAN 1:26-31


Bacaan Setahun: 2 Raja-raja 1-3


Nas: Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (Kejadian 1:27)

Kesetaraan Gender


Kaum perempuan dan pendukung kesetaraan gender berusaha keras memperjuangkan emansipasi antara perempuan dan laki-laki setelah selama berabad-abad kaum perempuan cenderung disisihkan dan direndahkan di dalam masyarakat. Lembaga agama kerap dituding turut mendukung ketidakadilan dan penindasan ini, yaitu dengan cara penafsiran Alkitab yang mendiskriminasikan kaum perempuan.


Akan tetapi, bila kita memperhatikan secara saksama catatan penciptaan manusia, kita justru menemukan penegasan yang sebaliknya. Dalam Kejadian 1:26, penulis menggunakan kata ganti "mereka" (jamak), dan bukan "dia" (tunggal). Artinya, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Ayat 27 memperkuat penegasan itu, "... laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." Inilah dasar utama kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Ayat 26 juga menyatakan, Allah memberikan mandat untuk berkuasa dan membawa misi Allah di dunia ini kepada laki-laki dan perempuan. Kemudian, ayat 28 menyatakan, Tuhan memberkati mereka untuk melaksanakan misi tersebut. Jadi, laki-laki dan perempuan bukan hanya diciptakan secara setara menurut gambar dan rupa Allah, tetapi mereka juga menerima tugas dan panggilan yang setara.


Gereja, dengan demikian, ditetapkan untuk mengedepankan kesetaraan gender. Kita dipanggil untuk memperlakukan kaum perempuan secara terhormat dan bermartabat, serta memberi ruang bagi mereka untuk berkarya berdampingan dengan kaum laki-laki. --ARS/www.renunganharian.net


* * *


GEREJA YANG TIDAK MENGEDEPANKAN KESETARAAN GENDERMENGINGKARI PANGGILANNYA DAN BERJALAN DENGAN TIMPANG.


* * *




RENUNGAN SELASA

Bacaan: KEJADIAN 24:22-33


Bacaan Setahun: 2 Raja-raja 4-5


Nas: Sesudah ia melihat anting-anting itu dan gelang pada tangan saudaranya, ... ia menemui orang itu .... (Kejadian 24:30)



Dipenuhi Diri Sendiri


Ketika Ribka menuturkan perjumpaannya dengan utusan Abraham dan menunjukkan perhiasan emas pemberian utusan itu, Laban menyaksikan semuanya. Tahukah Anda apa yang kemudian ia lakukan? Alkitab mencatat: Melihat perhiasan emas di tangan Ribka, Laban berlari menjumpai utusan Abraham (ay. 30). Anda lihat? Karena emas! Bukan karena utusan itu.


Kecondongan moral seseorang tampak nyata dalam respons spontan orang itu terhadap keadaan. Respons spontan Laban menunjukkan betapa dia menakar segalanya hanya dengan satu ukuran: kepentingannya sendiri. Untuk apa pun yang dijumpainya, Laban akan bertanya, "Keuntungan apa yang bisa aku dapat?" Hati Laban dipenuhi oleh dirinya sendiri.


Melihat perhiasan emas itu, Laban tidak berpikir tentang apa yang perlu disediakan bagi utusan Abraham, tetapi keuntungan yang bisa dia dapat dari tamu itu. Fokus perhatiannya bukan menolong sesama, melainkan mengambil keuntungan dari mereka. Memang, Laban menyambut tamu dermawan itu dengan kata-kata manis, bahkan dengan menyebut nama Tuhan (ay. 31). Namun, itu hanyalah strategi untuk mencapai maksud sebenarnya: memanfaatkan sesama.


Begitulah selalu. Ketika hati dipenuhi diri sendiri, derita sesama atau bencana lingkungan-sekadar menyebut contoh-akan dianggap bukan masalah asalkan kepentingan sendiri terpenuhi. Ketika hati dipenuhi diri sendiri, tiada ruang di sana bagi sesama, tak ada tempat bagi cinta untuk mewarnai hidup. Orang lain tak berarti, dan kebaikan pun mustahil. Itu sungguh serius, bahkan mengerikan. --EE/www.renunganharian.net


* * *


KETIKA HATI DIPENUHI DIRI SENDIRI,TAK ADA TEMPAT BAGI CINTA UNTUK MEWARNAI HIDUP.


* * *



RENUNGAN RABU

Bacaan: MATIUS 26:69-75


Bacaan Setahun: 2 Raja-raja 6-8


Nas: Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedih. (Matius 26:75)



Alasan Petrus Menangis


Yesus ditangkap! Semua murid melarikan diri, termasuk Petrus (Mat. 26:56). Seorang hamba perempuan mengenali Petrus sebagai murid Yesus, tetapi Petrus menyangkalnya. Seorang hamba lain berkata demikian juga, dan kembali Petrus menyangkalnya. Juga orang-orang di situ mengenalinya dari logatnya, dan kali ini pun Petrus menyangkalnya. Katanya, "Aku tidak kenal orang itu." Terdengar suara kokok ayam. Petrus pergi ke luar, lalu ia menangis.


Penyangkalan sangat menyakitkan hati. Terasa seseorang tidak lagi dikasihi maka keberadaannya disangkali. Petrus menangis sesudah tiga kali menyangkal Yesus. Dari sini diketahui bahwa sebenarnya Petrus mengasihi Yesus. Hanya ia takut berhadapan dengan risikonya. Terpikir bagaimana nanti nasibnya andai orang tahu bahwa dirinya adalah murid dari seseorang yang baru ditangkap. Bukankah Petrus mirip dengan kita? Sebenarnya juga kita mengasihi Yesus. Kerap kita tidak melakukan kehendak-Nya karena takut terhadap risiko. Terpikir jika tidak korupsi, nanti gaji tidak cukup. Jika tidak mengumbar kebohongan, nanti produk tidak laku. Jika tidak memberi suap, nanti bisnis akan macet.


Sesudah bangkit, Yesus menjumpai Petrus. Sebanyak tiga kali Dia bertanya perihal kasihnya, kemudian memercayakan tugas penggembalaan domba-domba kepadanya (Yoh. 21:15-17). Semua itu dilakukan-Nya demi menolong Petrus mengatasi ketakutannya. Juga Yesus rindu menolong kita, maka Dia memberikan firman-Nya sebagai pedoman kehidupan. Daripada akal budi dan pengertian diri sendiri, mari belajar mengikuti tuntunan firman Tuhan. Berikutnya didapati si penyangkal berubah berani berkhotbah (Kis. 2:14-40). Demikian setiap kita akan mengalami keberhasilan dan kebahagiaan sejati. --LIN/www.renunganharian.net


* * *


JANGAN LAGI KITA MERASA TAKUT UNTUK MENUNJUKKAN KEPADA DUNIAPERILAKU YANG MENCERMINKAN KASIH KEPADA YESUS.


* * *



RENUNGAN KAMIS

Bacaan: 2 RAJA-RAJA 11:1-3


Bacaan Setahun: 2 Raja-raja 9-11


Nas: Ketika Atalya, ibu Ahazia, melihat bahwa anaknya sudah mati, ia segera membinasakan semua keturunan raja. (2 Raja-raja 11:1)



Ambisi Tak Terkendali


Kursi-kursi di dalam pesawat terbang itu ternyata ada kelasnya. Ada kelas ekonomi, ada kelas bisnis. Karena memilih kelas ekonomi, ya kita harus siap menahan pegal di ruang gerak yang sempit. Sementara di kelas bisnis, kita melihat penumpang di depan sana bisa tidur nyenyak seolah di kamar sendiri. Kenyamanan seperti itu hanya bisa didapat karena ada uang lebih yang dibayarkan ke perusahaan penerbangan. Kita diingatkan: memang uang bukan segalanya, tetapi uang sering dikejar karena uang bisa membeli kenyamanan semacam itu.


Kisah tragis demi kekuasaan politis bukan cerita baru. Setelah Raja Ahazia wafat, ibunda raja, Atalya, naik takhta. Demi kekuasaan, Atalya membinasakan semua keturunan raja termasuk berusaha membunuh cucunya sendiri. Ambisi kekuasaan bisa membuat orang gelap mata, lupa Tuhan dan orang terdekat pun dikorbankan. Ketika ambisi kekuasaan sudah menguasai hati maka ambisi itu sudah menjadi berhala di hati. Ketika kenikmatan duniawi sudah menggantikan posisi Tuhan di hati, kita pasti lupa diri.


Hari ini kita diingatkan bahwa mungkin banyak pilihan salah yang sudah pernah kita buat karena ingin mengejar kenikmatan dan kenyamanan. Demi sebuah kenikmatan sesaat, keluarga, bahkan Tuhan pun dikorbankan. Demi sebuah posisi terhormat, kebenaran pun disingkirkan. Mari mengingat bahwa mengikut Tuhan mau tidak mau perlu disertai dengan keputusan, prioritas, dan nilai-nilai yang baru. Dengan mata gelap, kita tidak akan pernah bisa membuat pilihan yang benar. Tanpa berusaha melepaskan sedikit pun kenyamanan itu, tidak ada lagi tempat bagi Tuhan dalam hidup kita. --SYS/www.renunganharian.net


* * *


DEMI MENGEJAR MIMPI, KADANG KITA LUPA KENYATAAN;MENGEJAR AMBISI, KADANG KITA LUPA KEADAAN.


* * *




RENUNGAN JUMAT

Bacaan: MATIUS 18:21-35


Bacaan Setahun: 2 Raja-raja 12-14


Nas: "Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." (Matius 18:35)



Mengampuni Segenap Hati


Saya pernah mengalami betapa sulitnya mengampuni orang yang menipu saya, lalu menggelapkan uang empat ratus ribu rupiah-nominal yang kini bisa bernilai jutaan rupiah. Selama dua minggu penuh, saya berupaya menagih, baik melalui SMS, menelepon ke ponselnya, bahkan mendatangi ke rumah orang itu, tetapi selalu bisa dielakkannya. Sampai hari ini, uang itu memang tidak kembali, tetapi pelajaran tentang pengampunan segenap hati itu menjadi salah satu perkara yang paling membekas dalam kehidupan saya.


Menutup kisah perumpaan seorang raja yang mengampuni hamba yang berutang banyak kepadanya, Yesus menegaskan akan pentingnya pengampunan yang harus dilakukan dengan segenap hati. Frasa "dengan segenap hati" menunjukkan bahwa ada pengampunan yang dilakukan tidak dengan segenap hati, bahkan dilakukan dengan berpura-pura supaya orang menyangka bahwa pengampunan telah diberikan. Perbandingan antara perilaku hamba yang diampuni, tetapi menolak untuk mengampuni sesama hambanya, tampaknya sengaja disampaikan supaya pendengarnya menangkap pesan, "Kalau kamu sudah diampuni, kamu pun harus mengampuni orang lain yang bersalah kepadamu."


Apa pun yang dilakukan dengan segenap hati akan menghasilkan sesuatu yang baik. Begitu pula ketika pengampunan diberikan dengan segenap hati, terutama kepada mereka yang membutuhkan pengampunan atas kesalahan yang mereka lakukan. Sejatinya tak ada orang yang tidak ingin diampuni, tetapi hanya orang yang hatinya dipenuhi kasih Allah dapat memberi pengampunan segenap hati, bukan berpura-pura mengampuni. --GHJ/www.renunganharian.net


* * *


PENGAMPUNAN YANG DIBERIKAN SEGENAP HATIMENYEMPURNAKAN KASIH ALLAH BEKERJA DI SANA.


* * *




RENUNGAN SABTU

Bacaan: IBRANI 12:1-17


Bacaan Setahun: 2 Raja-raja 15-17


Nas: Sebab, mereka mendidik kita dalam waktu yang singkat sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. (Ibrani 12:10)



Papa Tolong


Saat anak saya Nathan berumur dua tahun, banyak kosakata bisa Nathan ucapkan dengan jelas, salah satunya, "Papa tolong." Pernah dia jatuh saat berjalan, susah payah naik beberapa anak tangga, dan kesulitan mengambil mainannya yang ditaruh di rak, lalu dia berucap, "Papa tolong." Saya sengaja tidak menolongnya, saya biarkan dia bangun sendiri, tetap naik tangga sendiri, dan terus berusaha mengambil mainannya di rak karena saya tahu dia mampu. Kalau saya selalu menolong Nathan dalam semua hal, dia selamanya bergantung kepada orang lain dan tidak mampu.


Kalau kita sebagai orang tua selalu berusaha memberikan didikan yang terbaik untuk anak, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna memberi didikan terbaik menurut Dia bagi kita. Sering Tuhan tidak menolong saat kita kesusahan. Kadang Tuhan tidak langsung menjawab doa kita. Tuhan baru menjawab doa itu setelah sekian lama, salah satu tujuannya agar kita bertekun dalam iman. Dalam segala pergumulan hidup yang berat, susah, menyakitkan, Tuhan melatih kita untuk menguatkan diri, ulet, dan meningkatkan kemampuan diri. Didikan Tuhan yang kita ikuti membuat kita menjadi orang kristiani yang tangguh, beriman, dan menghasilkan buah kebenaran.


Yesus memberikan teladan bertekun dalam iman melalui hidup-Nya (ay. 3), supaya kita jangan lemah dan putus asa. Bersyukurlah Tuhan tidak selalu menolong dan memberikan kita kemudahan karena melalui kesulitan hidup dan usaha untuk menguatkan diri, karakter kita di dalam Kristus dibentuk dan berakar makin kuat. --RTG/www.renunganharian.net


* * *

TUHAN KADANG TIDAK MENOLONG KITADI MASA SUSAH SUPAYA KITA BERTEKUN DALAM IMAN.

* * *



MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

&
JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Suatu Umat Yang Layak Bagi-Nya "
( LUKAS 1:17c )


Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

#KeluargaJPA​​​ #TuhanBekerja​​​ #JPABerdampak​​​ #GPdI​​​ #GPdIJPA​​​ #Praise​​​ #Renungan2025 #MembangunKarakterIlahi #JPAVision #multimediaJPA


Sabtu, 19 April 2025

WARTA EDISI PASKAH KEBANGKITAN YESUS 20 APRIL 2025

 JADWAL JPA SEPEKAN











MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "
&
JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Suatu Umat Yang Layak Bagi-Nya "
( LUKAS 1:17c )


JPA VISION 2025 " MEMBANGUN KARAKTER ILAHI " | Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!
#GPdI​​​ #GPdIJPA​​​ #Praise​​​ #Warta2025 #MembangunKarakterIlahi #JPAVision2025 #InfoIbadah​​​ #multimediaJPA





Jumat, 18 April 2025

RENUNGAN EDISI 20 APRIL 2025

 RENUNGAN HARIAN 



RENUNGAN SENIN
Bacaan: MATIUS 7:12-14

Bacaan Setahun: 1 Raja-raja 6-7

Nas: "Masuklah melalui pintu yang sempit ...." (Matius 7:13)

Menolak Mentalitas Menerabas


Mentalitas menerabas adalah mentalitas yang menolak cara yang benar dan bermoral, dan menggantinya dengan jalan yang sesat apa pun wujudnya (pencurian, pemalsuan, bisnis narkoba, korupsi, gratifikasi, plagiarisme, intimidasi, teror, dll.) untuk meraih sesuatu yang diinginkan (gelar akademik, pekerjaan, jabatan, penyelesaian masalah, keuntungan, dukungan, supremasi, dominasi, dlsb.). Amatlah menyedihkan bahwa manifestasi mentalitas menerabas itu ternyata begitu banyak dan begitu sering terjadi.


Memang, hidup dengan cara-cara tak benar sering lebih mudah, lebih menghasilkan, sementara hidup dengan cara-cara yang benar justru sulit, berat, bahkan kadang amat berisiko. Sebab itulah, Tuhan berkata, "Betapa sempitnya pintu dan sesaknya jalan yang menuju kepada kehidupan!" (ay. 14a). Meski demikian, Tuhan bertitah, "Masuklah melalui pintu yang sempit" (ay. 13a). Apa arti titah itu?


Tuhan menghendaki agar kita mengusahakan segala sesuatu dengan cara yang benar dan bermoral, apa pun konsekuensinya. Tuhan menegaskan bahwa pintu yang kita lalui-yakni cara dan jalan yang kita tempuh untuk meraih sesuatu-adalah hal yang amat sangat penting. Tuhan menghendaki agar pertama-tama dan terutama kita memilih pintu yang sempit-yakni cara dan jalan yang benar-meskipun itu berat dan sangat berisiko.


Dan, kita tahu, titah agar kita memilih pintu yang sempit itu bukan sekadar imbauan. Sabda itu adalah perintah yang tegas dan tak boleh ditawar. Maka tahulah kita bagaimana kita harus menanggapi dan bersikap. --EE/www.renunganharian.net


* * * BERAT DAN SUKARLAH JALANYANG MENGANTAR KITA KE PUNCAK-PUNCAK KEMULIAAN.


* * *



RENUNGAN SELASA

Bacaan: YAKOBUS 1:12-18

Bacaan Setahun: 1 Raja-raja 8-9

Nas: Namun, tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. (Yakobus 1:14)



Pencobaan dari Diri


Sering kita berpikir bahwa kita terjatuh dalam dosa karena serangan Iblis. Beberapa orang mengatakan bahwa ketika mereka sibuk dengan pekerjaan Tuhan, serangan itu semakin kuat terasa. Sebagian orang justru menyalahkan dan marah kepada Tuhan atas kejatuhannya. Pandangan semacam ini muncul karena anggapan bahwa godaan dosa berasal dari luar. Meskipun pendapat demikian ada benarnya, sesungguhnya tidaklah demikian halnya.


Rasul Yakobus mengatakan bahwa dosa itu muncul dari keinginan. Apa yang dari luar sebenarnya tidak akan berdaya jika kita tidak menanggapi godaan tersebut. Dia bahkan menegaskan bahwa Allah tidak mencobai siapa pun (ay. 13). Sebaliknya, kita diberi anugerah yang sempurna oleh Allah yang adalah terang, yaitu semua pemberian yang baik. Dan kepada mereka yang dapat bertahan terhadap pencobaan, Allah telah menyediakan mahkota kehidupan (ay. 12).


Kemarahan kita kepada Allah sangatlah berbahaya. Kita dapat semakin terjerat oleh kekotoran dan kejahatan yang semakin besar. Kita dapat kehilangan relasi yang intim dengan-Nya. Kita pun kehilangan kesempatan menerima firman-Nya yang hidup dan menguduskan. Padahal Yakobus mengatakan bahwa firman Tuhan itu berkuasa menyelamatkan jiwa kita (Yak. 1:21). Karena itu, marah kepada Allah bukan saja tidak ada gunanya, bahkan merugikan diri kita sendiri. Sebaliknya, kita diharapkan cepat mendengar dan lambat marah, serta menerima firman-Nya dengan lemah lembut. --HEM/www.renunganharian.net


* * *BERHENTILAH MARAH KEPADA TUHAN ATAS KEJATUHAN KITA.SEBALIKNYA, MINTALAH TUHAN MENGUATKAN KITAAGAR DAPAT BERTAHAN TERHADAP PENCOBAAN.


* * *




RENUNGAN RABU

Bacaan: YOHANES 7:45-52

Bacaan Setahun: 1 Raja-raja 10-11

Nas: "Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukannya?" (Yohanes 7:51)



Melawan Arus


Mencari posisi aman biasanya dilakukan beberapa orang agar ia terhindar dari hal buruk. Ketika seseorang menjadi bagian dari sebuah kelompok, misalnya, maka ia akan mengikuti apa pun yang diputuskan oleh kelompoknya. Memilih untuk berbeda pendapat atau menentang hanya akan membawa masalah untuk dirinya.


Nikodemus termasuk salah seorang Farisi. Selagi kelompoknya mencari jalan untuk dapat mendakwa Yesus, Nikodemus berusaha membela Yesus. Dengan berani Nikodemus berkata, "Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukannya?" (ay. 51). Nikodemus tahu risiko dari pembelaannya. Meski pada akhirnya Nikodemus harus dibenci dan ditolak, tetapi ia menerima konsekuensi itu sebagai akibat dari tindakannya.


Dalam hidup, tidak jarang kita diperhadapkan sebuah situasi negatif yang terjadi dalam kelompok kita. Di tempat kerja, dalam kelompok masyarakat, atau bahkan di dalam gereja sekalipun, kita acapkali mengalami sebuah situasi yang sama. Ketika sebuah komunitas di mana kita berada menetapkan sebuah aturan yang bertentangan dengan firman Tuhan, apa reaksi kita? Apakah kita memiliki keberanian untuk tetap hidup dalam prinsip kebenaran, walau untuk itu kita harus siap menghadapi segala risikonya? Atau sebaliknya, kita memilih ikut arus sehingga kita tetap aman sekalipun hal itu bertentangan dengan hati nurani kita? --SYS/www.renunganharian.net


* * *DALAM HAL GAYA, BERENANGLAH MENGIKUTI ARUS; SOAL PRINSIP,BERDIRILAH SEPERTI BATU KARANG.-THOMAS JEFFERSON


* * *




RENUNGAN KAMIS

Bacaan: MARKUS 14:32-42

Bacaan Setahun: 1 Raja-raja 12-14

Nas: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang berniat baik, tetapi tabiat manusia lemah." (Markus 14:38)



Antisipasi sebelum Banjir


Rumah tempat kami tinggal rawan banjir karena dekat laut dan jalan lebih tinggi dari rumah. Dalam waktu kurang dari tiga tahun, kami kebanjiran dua kali. Banjir pertama, banyak barang seperti buku-buku, kulkas, dan mesin cuci rusak karena tidak sempat diselamatkan. Butuh lima hari untuk bersih-bersih rumah dan kami harus keluar banyak biaya untuk perbaikan. Banjir kedua, semua barang selamat karena sudah dinaikkan ke tempat lebih tinggi seperti rak dan meja. Kami hanya butuh waktu empat jam untuk bersih-bersih rumah.


Untuk perkara duniawi kita berjaga-jaga dan mengantisipasi masalah yang sewaktu-waktu bisa terjadi karena pernah kita alami. Bagaimana dengan perkara rohani? Sudahkah kita berjaga-jaga dan berdoa agar tidak jatuh ke dalam pencobaan karena daging ini lemah? Yesus tiga kali mengulang kata berjaga-jaga (ay. 34, 37-38) karena ini sangat penting. Kita tidak pernah tahu pencobaan apa yang satu jam lagi atau besok akan terjadi. Dalam kondisi apa pun, Yesus mau kita selalu berjaga-jaga dan berdoa agar tidak jatuh saat pencobaan terjadi. Yesus sanggup menjalani penderitaan salib sampai selesai meski sangat berat karena dia sudah berjaga-jaga dan berdoa.


Roh berniat baik, tetapi daging lemah. Karena itu, kita harus berjaga-jaga. Berdoalah senantiasa sehingga rohani kita mampu bertahan dan setia ikut Yesus saat pencobaan dalam berbagai bentuk menekan. Marilah kita meneladani Yesus yang berjaga-jaga dan berdoa sehingga mampu menghadapi dan menanggung setiap pencobaan yang berat. --RTG/www.renunganharian.net


* * *BERJAGA-JAGALAH DAN BERDOALAHSUPAYA KITA JANGAN JATUH KE DALAM PENCOBAAN.


* * *




RENUNGAN JUMAT

Bacaan: LUKAS 22:39-46

Bacaan Setahun: 1 Raja-raja 15-17

Nas: Ia sangat susah dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. (Lukas 22:44)



Berpeluh Darah


Dunia medis mengenal suatu kondisi yang tergolong langka, yakni di mana seseorang bisa mengeluarkan keringat darah yang disebut hematohidrosis. Salah satu penyebabnya ialah karena seseorang mengalami tingkatan stres yang ekstrem akibat tekanan emosional yang sangat hebat. Inilah yang dialami oleh Yesus Kristus di Taman Getsemani yang gelap dan dingin.


Yesus sungguh menyadari apa yang akan segera dihadapi-Nya. Olok-olok dan menjadi tontonan banyak orang. Saksi-saksi dusta. Pengkhianatan orang-orang terdekat. Penyiksaan brutal dan penderitaan hingga mati. Semua itu digabungkan ibarat minuman dalam satu cawan yang sekarang disuguhkan untuk-Nya. Dia merasa sangat gentar dan ketakutan. Sangat sedih, seperti mau mati rasanya (Mat. 26:38). Itu sebabnya Dia memohon kepada Bapa-Nya untuk melewatkan cawan itu jika sekiranya mungkin. Namun, Dia memilih untuk sepenuhnya tunduk kepada kehendak Sang Bapa. Dia pun rela menempuh jalan penderitaan itu, sebab pengorbanan-Nya itu akan membawa keselamatan bagi orang-orang yang dikasihi-Nya.


Jika kita tidak memahami apa yang ditanggung oleh Tuhan Yesus demi menyediakan keselamatan bagi para pendosa, kita bisa saja menganggapnya sepele, serta kurang menghargai pengorbanan-Nya. Namun, jika kita sungguh memahami betapa besar kasih yang ditunjukkan-Nya, hati kita pun akan melimpah dengan syukur. Kasih kita pun akan semakin bertambah kepada-Nya. Dia memandang kita berharga dan mulia. Maka kita pun hendaknya menjalani hidup yang berharga serta memuliakan nama-Nya. --HT/www.renunganharian.net


* * *KRISTUS MENEBUS KITA DENGAN HARGA YANG SANGAT MAHALAGAR KITA MEMULIAKAN DIA DI DUNIA DAN DI SURGA YANG KEKAL.


* * *




RENUNGAN SABTU

Bacaan: 2 KORINTUS 5:11-21


Bacaan Setahun: 1 Raja-raja 18-20


Nas: Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. (2 Korintus 5:21)



Skenario Terburuk


Saya menemukan gambar kartun dengan tulisan, "Kehidupan ini tidak pernah terlalu buruk, selalu ada kemungkinan bahwa keadaan akan menjadi lebih buruk." Saya tertegun. Suram amat cara pandangnya, pikir saya. Namun, pernyataan itu memancing saya untuk merenung lebih jauh. Benarkah kehidupan ini sesuram itu?


Beberapa waktu kemudian, muncul semacam jawaban: Benar. Kehidupan memang sesuram itu-seandainya keadaan memang berhenti di situ. Nyatanya tidak demikian, bukan? Keadaan bisa saja memburuk, tetapi tidak akan pernah mencapai titik paling buruk. Mengapa? Karena keadaan yang paling buruk sudah ditebus dan ditanggung oleh Tuhan Yesus.


Pernyataan suram di atas akhirnya menolong saya mengapresiasi nas hari ini secara lebih mendalam. Di atas kayu salib, Yesus menanggung skenario terburuk akibat dosa dan pelanggaran umat manusia. Namun, dengan itu pula Dia menghapuskan kemungkinan terburuk dalam hidup kita: alih-alih manusia yang terlaknat dalam dosa, kini kita dibenarkan oleh Allah. Kita dapat hidup dalam hidup yang sepenuhnya baru: merayakan skenario terbaik yang Allah anugerahkan bagi umat tebusan-Nya.


Mungkin kita menghadapi jalan buntu, dan keadaan akan terus buntu jika kita hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Namun, ketika memandang pada salib Kristus, kita akan menemukan terang pengharapan. Mungkin kita putus asa, merasa telah melakukan dosa yang seburuk-buruknya. Namun, di hadapan salib Kristus, tidak ada dosa yang terlalu buruk dan tidak dapat ditebus oleh pencurahan darah-Nya. --ARS/www.renunganharian.net


* * *DI HADAPAN SALIB KRISTUS, KESURAMAN DAN KEBURUKAN BERLALU,DAN MEREKAHLAH TERANG DAN PENGHARAPAN YANG BARU.


* * *



MOTTO JPA : " KELUARGA JPA - TUHAN BEKERJA - JPA BERDAMPAK "

&
JPA VISION : " Mempersiapkan Bagi Tuhan Suatu Umat Yang Layak Bagi-Nya "
( LUKAS 1:17c )


Komunitas Warga GPdI JPA secara online! Anda bebas membicarakan semua tentang GPdI JPA, memberikan komentar, kesaksian, informasi, ataupun kiritikan untuk GPdI JPA agar lebih baik!!

#KeluargaJPA​​​ #TuhanBekerja​​​ #JPABerdampak​​​ #GPdI​​​ #GPdIJPA​​​ #Praise​​​ #Renungan2025 #MembangunKarakterIlahi #JPAVision #multimediaJPA